nonton ustadz

Siang itu,terjadi percakapan antara ibu dan  teh Ema.

E : “bu, boleh gak besok Ema minta izin untuk ikut pengajian? ada rajaban bu, di mesjid bawah”

I : “ya boleh atuh….malah ibu seneng kamu ada kemajuan, izinnya ke pengajian, bukan nonton Shiren Sungkar lagi”       (teh Ema ini fans beratnya Shiren Sungkar. Setiap kali Shiren Sungkar ke Bandung, entah itu manggung atau jumpa fans, pasti dia bela-belain dateng….

E: “iya bu, soalnya penasaran pengen  banget liat ustadz XYZ aslinya gimana…kan selama ini nontonnya di TV doang”

I : “bentar…bentar…kamu teh mau dengerin ceramahnya atau mau nonton ustadznya?”

E: (nyengir)….”hehe…iya yah….sebenernya pengen liat ustadznya sih….”

I : “huuuu…dasar…coba nanti ibu cek sepulang dari sana…kamu inget engga isi ceramahnya si ustadz…”

Sorenya…..

E: “bu, bu….liat…tuh ustad XYZ teh…di ****” (menyebutkan salah satu channel TV)

I: (merasa aneh kok sore-sore ada acara dakwah) “mana??”

loh….kok acara infotainment…oh…itu toh ustad XYZ teh…

Tampak di layar kaca si ustadz tengah menunjukkan satu persatu isi koper yang akan dibawanya umroh. “ini baju ihrom, saya bawa dua. ini baju ………. ini cemilan…soalnya saya suka laperan kalau disana….” Dia akhir tayangan, si ustadz berkata; “pemirsa, terima kasih ya, telah mengikuti kegiatan saya sehari ini…bla..bla..bla..”

Yah, ini mungkin memang zaman visual ya….Objek-objek atau subjek-subjek yang secara visual menarik mata jauh lebih disukai. Lihat ustadz XYZ ini. Keren, pakaiannya selalu matching. Indah dipandang mata lah…Waktu ke Bogor beberapa bulan lalu, di depan mobil saya ada mobil alphard dengan nomor mobil “cantik” bertuliskan nama ustadz tersebut.

Cuman…saya agak khawatir…kalau di satu sisi, orang yang menghadiri majlis pengajiannya bukanlah berniat untuk mendengarkan hikmah dan tausyiah si ustadz, melainkan untuk “menonton” fisik dan penampilan serta gaya si ustadz semata. Semoga tak demikian…

Diam-diam, saya rindu seorang ustadz. Yang tak pernah masuk infotainment. Yang tak pernah pake pakaian yang keren. Yang tak pernah “atraktif” dalam menyampaikan ilmu-nya. Pak Quraish Shihab.

Advertisements

Tiga Perceraian

Saya bukan orang yang anti perceraian. Bagaimana mungkin saya anti perceraian; padahal saya sangat yakin, bahwa – bila Allah mensyariatkan sesuatu, tentu ada kebaikan di dalamnya- termasuk dalam perceraian. Meskipun keterangan dalam HR.Abu Daud,2178, Ibnu Majah, 2018 dan Al-Hakim, 2/196 ) menyatakan bahwa “ Perkara halal yang paling dibenci Allah ialah talak (Perceraian)”; yang menurut saya, maknanya adalah  pasangan harus berupaya sekuat tenaga untuk menjadikan pernikahan mereka membawa “kebaikan yang lebih banyak” dibandingkan dengan perceraian. Tapi….sekali lagi….kalau sudah tak tersisa lagi kebaikan dalam sebuah pernikahan, maka perceraian adalah jalan yang HALAL.

Apakah perceraian selalu bermuara pada dampak negatif? terutama pada anak (jika pasangan sudah memiliki anak)?. Kalau jawaban saya “ya”, berarti saya tak pernah baca buku atau jurnal mengenai perceraian. Karena riset-riset terbaru menunjukkan, bukan perceraiannya yang membuat anak bisa memperoleh dampak negatif. Tapi, PERCERAIAN YANG BAGAIMANA?

Berhubung saya pribadi tak menutup kemungkinan dari keputusan “bercerai” -semoga Allah menjauhkan dan menganugerahkan barokah pada keluarga kami-; maka saya banyak belajar dari teman-teman saya yang memutuskan untuk bercerai. Berikut ada 3 kisahnya.

Sebut saja namanya Mawar. Cantik,  berpendidikan tinggi. Namun ia tak beruntung. 10 tahun menikah, suaminya tak pernah menghargai dia. Abuse fisik dan psikologis ia terima bertahun-tahun. Luka fisik hilang bekasnya dalam 1 sampai 2 bulan. Namun luka psikologisnya…… Bertahun-tahun kepercayaan dirinya semakin berkurang…semakin menciut. Di luar, orang melihatnya cantik,  berpendidikan tinggi. Di dalam, ia merasa amat sangat jelek, tak punya apa-apa, amat sangat bodoh. Penghinaan-penghinaan suaminya sukses membuatnya merasa menjadi “noone”. Ia tumbuh menjadi pribadi yang rapuh, ibu yang rapuh, yang “depresi” dan menularkan ke”depresi”annya pada anak-anak. Perlu bertahun-tahun untuk membuatnya memutuskan bercerai dan meyakinkan dirinya bahwa “lebih baik anak-anakku tak memiliki figur ayah dibanding dengan memiliki figur ayah yang tidak baik”. Keputusan telah diambil. Berat memang, namun ia merasa bahwa tak ada kebaikan lagi dalam rumahtangganya. Suami dan ayah yang tak pernah menghargai istri dan anak, komunikasi yang hangat tak pernah tercipta…..”kalau gue cerai, minimal ada kemungkinan anak-anak gue dapet ayah yang lebih baik” katanya. Dan inilah dia. Setahun kemudian. Perlahan, kepercayaan dirinya bangkit kembali seiring dengan penghargaan dari lingkungan. Penghargaan yang memang seharusnya ia dapatkan karena kecemerlangannya. Ia tumbuh menjadi ibu yang kuat. Kesadaran bahwa keputusan bercerai yang ia ambil adalah untuk memberikan “kebaikan” pada anak-anaknya, membuatnya tak pernah kehabisan energi, meski ia seorang single parent. Ia  mulai dari nol bekerja, mengantar anak-anaknya sekolah, meluangkan waktu bersama….Seiring waktu, aura bahagia mulai memancar dari ibu dan dua anak itu saat saya bertemu mereka. Karena keputusan diambil dengan pertimbangan yang jernih, maka ia jelaskan keputusannya pada anak-anak. Ia beri kesempatan anak-anaknya bertemu ayahnya. “Ibu dan ayah berpisah karena kami tak bisa saling membahagiakan. Ayah berpisah dari ibu, tapi ayah tidak berpisah dari kalian” katanya pada anak-anaknya setiap kali mengantar mereka untuk bertemu ayahnya.

Sebut saja namanya Melati. Ia memutuskan berpisah karena merasa suaminya tak adil terhadap dirinya. Karena profesinya, suaminya harus bekerja di luar negeri. Pulang sekian bulan sekali. Maka ia pun mencari hobi …. hobi yang semakin lama dirasa sangat mengasyikkan. Melakukan hobi yang kini menjadi sumber penghasilan untuknya, jauh lebih menyenangkan dibandingkan tinggal di rumah mengasuh anak-anaknya. Sekian tahun, sang suami protes. Menginginkan ia tinggal di rumah dan lebih memperhatikan anak-anak. Ia tak terima. Mengapa suaminya boleh kerja sementara ia tak boleh? Cerai. Akhirnya itu keputusan yang mereka ambil. Ia tak pernah menjelaskan pada ketiga puterinya mengapa “ibu dan ayah” gak pernah di rumah dan  ngobrol barengan lagi. Permintaan puterinya yang berusia 8 tahun untuk “aku mau ibu, ayah, aku dan adik-adik ngobrol bareng kayak dulu. aku pengen tau, aku ini anak broken home ya? ” tak dipedulikannya. Neneknya, yang kini mengasuhnya berupaya memberikan penjelasan kalau “ibu dan ayah suka berantem terus, jadi harus berpisah”. Penjelasan yang tampaknya tak memuaskan baginya, karena ia masih bertanya “kenapa ibu dan ayah engga baikan biar aku bisa tetep tinggal bareng ibu dan ayah?  kalau aku sama adek berantem kan disuruh baikan….”

Sebutlah namanya Kenanga. Kebahagiaan dalam pernikahan tak berpihak padanya. Segera setelah hasil USG menunjukkan bahwa anak yang dikandungnya adalah perempuan, bukan laki-laki; saat itu juga keluarga si suami menginstruksikan si suami untuk menceraikannya. Tragis dan aneh memang rasanya. Tapi itu nyata. Harta, tetap ia dapatkan. Rumah bertingkat, mobil dan beragam fasilitas untuk menunjang tumbuh kembang si anak, tetap ia terima meskipun telah “diceraikan”. Diceraikan karena tak bisa memberikan anak laki-laki ! sesuatu yang berada di luar kontrolnya. Ia selalu tampil dengan senyum manisnya saat berinteraksi dengan orang lain. Namun tanpa ia sadari, ia merasakan setitik kebahagiaan saat si anak  membanting pintu dan tidak mau ditemui ketika si ayah datang mengunjungi. Ia membiarkan ketika dalam gambar keluarga, si anak  tak menggambar ayahnya. Hanya ibu dan dirinya yang ia gambar. Ia merasa puas ketika suatu saat, si anak menggambar  sosok ayah dalam gambar keluarga, namun dengan ukuran yang amat kecil  dan lalu dicorat-coret.

Tanpa menggunakan mikroskop pun, dengan mata telanjang, kita tahu ….. mana perceraian yang membawa kebaikan dan mana perceraian yang membawa keburukan. Mungkin saat ini, ada sebagian istri yang tengah dilanda konflik  karena “sakinah mawaddah wa rohmah” tampak kecil kemungkinannya untuk diwujudkan dengan suaminya saat ini. Mungkin ilustrasi di atas bisa membantu. Untuk saya sendiri, saya memiliki keyakinan bahwa indikator suatu perceraian itu membawa kebaikan, adalah apabila ibu merasa mendapatkan kekuatan untuk berjuang, mendapatkan energi yang tak habisnya untuk memberikan yang terbaik pada anak – sehingga mau bersikap dewasa berkompromi dengan mantan suami menjelaskan dengan cara yang baik pada anak-anaknya-  apabila ibu merasa menjadi “someone” dan “hidup”, meski secara fisik lelah karena harus mencari nafkah…seperti Mawar. Dan untuk Mawar-Mawar  ini, saya doakan semoga mendapatkan pasangan hidup yang jauuuuuuuh lebih baik.

Semoga andaikan skenario bercerai amat sangat terpaksa terjadi pada kita, kita tak seperti Melati-yang tampaknya kurang peduli pada anak; apalagi seperti  Kenanga-yang menggunakan anak sebagai “instrumen” penyalur kebencian pada suami ….

 Robbana hablana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a’yuniw waj’alna lil-muttaqina imama –
” Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenag hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa “.  

(QS; 25 AL-FURQON; ayat 74 ).