Jangan pernah berhenti ….. berkomunikasi

Komunikasi.

Tidak pernah tidak kita lakukan dalam keseharian kita. Dalam konteks apapun. Dengan beragam cara. Bahkan bayi pun berkomunikasi lewat tangisannya. Namun demikian, komunikasi interpersonal antara dua orang kadang tidak mudah. Meskipun dua orang itu telah berkomitmen dalam sebuah ikatan perkawinan.

Berikut adalah materi “Dinamika Interaksi Antar Pasangan dalam Konflik Marital” dari Prof. Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen, yang sudah puluhan tahun menjadi konselor perkawinan (@Couple Therapy Workshop, July 2012)

Gejala-gejala gangguan komunikasi antarpasangan yang disebabkan oleh benturan-benturan pendapat yang terjadi dalam konflik marital  biasanya salah satu pasangan memutuskan reaksi emosional tertentu yang menyiksa ketentraman batin kedua belah pihak,  yang antara lain dengan cara sebagai berikut.

  • sikap diam, walaupun tetap bersikeras bertahan pada pendapatnya.
  • menurut, namun menyisakan perasaan kesal berlanjut.
  • sikap konfrontatif, spontan dan frontal.
  • sikap submissive (pasif) , tanpa pretensi yang menekan.
  • sikap seolah menurut di hadapan pasangan, namun mempertahankan pendapat dengan cara berperilaku tertentu yang membuat pasangannya “mati kutu”.
  • sikap diam seribu bahasa, namun mengalami ketegangan emosional yang menekan.kedua pasangan memutuskan komunikasi secara total, dengan memanfaatkan anak untuk menjadi perantara bila kebutuhan akan komunikasi tidak terelakan.

Mari kita evaluasi pola komunikasi antara kita dengan pasangan. Hati-hati, jangan-jangan tanpa kita sadari kita mengembangkan salah satu dari pola komunikasi di atas. Atau kita membiarkan pasangan kita “memelihara” salah satu pola komunikasi tidak sehat di atas.

Yups…terkadang, baik istri maupun suami, karena merasa “terbentur” untuk bisa mengkomunikasikan suatu persoalan dengan pasangannya, mengambil langkah diam. “Daripada ribut dan berantem…”. Saya tidak setuju. Karena pola komunikasi seperti itu pastinya gak bikin hepi. Itu hanya akan menjadi bom waktu. Karena pada dasarnya, masalahnya tak diselesaikan. Satu lagi kerugiannya adalah, kita menjadi tidak bisa belajar untuk mengembangkan komunikasi kita dengan pasangan. Pada kenyataannya, keterampilan komunikasi antar pasangan tidak secara otomatis meningkat seiring dengan usia pernikahan. Keterampilan itu harus dilatih.

Coba lagi, cari beragam cara, mungkin perlu diam sebentar….namun jangan pernah berhenti untuk berupaya mengkomunikasikan pikiran, perasaan dan permasalahan kita dengan pasangan. Karena dengan mengkomunikasikannya, berarti kita berupaya melangkah mendekat. Menutup dan berhenti mengkomunikasikannya, berarti kita menjauhkan diri. Kalau masalah sudah bertumpuk, akan sulit mengkomunikasikannya mulai dari mana, sudah tidak tahu lagi ujung pangkalnya. Banyak perceraian terjadi “hanya” karena masalah -masalah “kecil” tak dikomunikasikan dan tak selesai.

Beberapa keterampilan yang bisa dilakukan kalau kita merasa “mentok” berkomunikasi dengan pasangan adalah:

(1) Menggunakan “I feel…” message. Seringkali saat akan mengkomunikasikan sesuatu, kita jatohnya jadi menyerang. Pasti lah pasangan kita tak mau diserang atau disalahkan. Maka, lebih baik gunakan cara komunikasi ini. Misalnya: “waktu tadi abang ngebentak adik, adik merasa sedih” (ups..bias gender ginih…maaf ya, karena penulisnya seorang istri, jadi we contohnya dari sudut pandang istri hehe….)

(2) Kalau mau memberi umpan balik mengenai sikap pasangan yang negatif, ungkapkan dulu hal positif pasangan dalam hal itu. Misalnya : “dulu waktu kita masih awal menikah, adik rajiiiin banget beresin rumah. sekarang jadi gak terlalu rajin. abang kangen adik yang selalu menjaga rumah tetap rapi” (adil kan sayah ngasih contohnya…hehe…)

(3) Cermati waktu dimana pasangan bisa berkomunikasi dengan lebih baik. Nah, ini idividual banget. Memerlukan kepekaan kita. Misalnya, ada beberapa teman yang bisa bicara “heart to heart” setelah selesai melakukan hubungan seksual. Mungkin karena secara fisik, tubuh sedang rileks-rileksnya…Atau ada juga beberapa teman yang paling oke membicarakan sesuatu menjelang tidur, atau di pagi hari, atau selesai sholat….

Intinya…never give up !! kebahagiaan itu, harus kita perjuangkan…termasuk kebahagiaan dalam pernikahan…dan Allah, pastinya menilai upaya kita, dan pasti akan membantu dengan caraNya.

Advertisements

lampu-lampu hijau dan kuning dalam usia pernikahan

  • usia pernikahan 0-5 tahun  : masa penyesuaian. bagi yang tidak sabar menanti saatnya penyesuaian diri berhasil, akan mudah sekali untuk bercerai.
  • usia pernikahan 5-10 tahun : penyesuaian sudah berhasil, perkawinan relatif stabil.
  • usia pernikahan 10-15/18 tahun : baik istri maupun suami masuk ke masa “puber kedua”. Tapi istri biasanya fokus untuk menghadapi anak pertama yang umumnya sudah menginjak remaja. Bila tidak diwaspadai, suami bisa fokus pada remaja lain di luar perkawinan hehe …(wil gituh ;). Tapi istri juga rentan dengan hadirnya pil, sehingga di usia pernikahan ini sering juga terjadi perceraian.
  • usia pernikahan 18/20-40 tahun : masa krisis kembali. Tantangan yang dihadapi: dealing with post power syndrom karena masuk masa pensiun.
  • usia pernikahan 40-lansia : stabil kembali.

Sharing from “Kisaran Kerentanan Relasi Antar Pasangan Pada Usia Perkawinan” oleh Prof Dr. Sawitri Supardi Sadarjoen @Couple Therapy Workshop, July 2012.