Menguatkan Konsentrasi Anak dengan Belajar di Depan TV

Tanya:

“ibu, untuk menguatkan konsentrasi anak saya, apakah boleh saya melatih dia untuk belajar di depan TV”? (anak: Laki-laki, 1o tahun, kelas 5 SD, taraf kecerdasan rata-rata, oleh guru dikeluhkan kurang konsentrasi).

Jawab:

“Menurut saya tergantung, apakah TVnya menyala atau tidak. Kalau tidak menyala, ya nggak masalah. Kalau menyala, nah itu yang harus dilihat lebih jauh….;)”

Akhir-akhir ini sering terdengar keluhan dari guru atau orangtua, bahwa anaknya (terutama usia SD) mengalami gangguan konsentrasi. Bahkan tidak jarang terdengar ungkapan ibu atau guru: “anak/murid  saya ADHD”.

Dalam tulisan ini, saya mencoba untuk mengulas secara ringkas, mengenai perkembangan kemampuan anak memfokuskan perhatian. Melalui hal ini, diharapkan kita dapat menilai apakah memang perilaku anak kita termasuk mengalami gangguan pemusatan perhatian ataukah tidak.

Dalam referensi, istilah yang dikenal secara umum sebagai  “konsentrasi” adalah atensi, yang pengertiannya menurut Morgan (1989) : “Is the term given to the perceptual processes that select certain inputs for inclusion in our conscious experience, or awareness at any given time”.

Ada dua karakteristik atensi :
(1) Fokus :  situasi / obyek yang sangat disadari
(2) Margin : situasi / obyek lain (yang menyertai), yang cukup disadari

“Tugas” dari atensi adalah:

(1) Menentukan & Memfokuskan   (2) Mempertahankan

(3) (Setelah aktivitas selesai) Berhenti, Memperhatikan –> pindah ke tugas lain

Atensi berkembang melaluai beberapa tahap (Flick, 1998); sebagai berikut :

•Tahap 1 (usia lahir – 1 tahun) : mudah terganggu oleh rangsangan luar, sangat mudah teralihkan perhatiannya
•Tahap 2 (1 tahun – 2 tahun) : Mulai mampu berkonsentrasi pada tugas yang dipilihnya walaupun masih bersifat “tunggal”. Maksud tunggal di sini adalah anak hanya mampu mengerjakan satu hal. Sebagai contoh, dia tidak akan bisa mendengar ibu memanggilnya apabila sedang asyik nonton TV.
•Tahap 3 (2 tahun – 3 tahun) : Konsentrasi masih bersifat “tunggal” bila pindah ke sumber yang berbeda harus dibantu orang dewasa. Pernah lihat ibu guru TK yang menggunakan “genjringan” atau menarik perhatian murid-muridnya agar berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan selanjutnya?nah, itu contoh dari tahapan ini.
•Tahap 4 (3 tahun – 4 tahun) : masih berkonsentrasi tunggal, antara pembicara dan tugas  tapi berjadi spontan tanpa harus dibantu orang dewasa. Anak di usia ini, harusnya sudah bisa mendengar panggilan ibunya saat sedang mengerjakan kegiatan yang disukainya.
•Tahap 5  (4 tahun – 5 tahun) : Mampu dengan “2 saluran” anak dapat paham instruksi verbal berkaitan dengan tugas tanpa harus menghentikan aktivitas untuk melihat pembicara. Konsentrasi masih pendek tapi bisa mengikuti kelompok. Anak akan bisa menjawab pertanyaan, atau ngobrol sambil nonton TV, misalnya.
•Tahap 6 (5 tahun – 6 tahun) :  auditory visual dan saluran (diluar diri) sudah terintegrasi penuh, atensi sudah mapan dan dapat dipertahankan.
•Tahap 7 (7 tahun – 9 tahun): mampu menyeleksi, memfokuskan dan mempertahankan atensi dalam jangka waktu yang panjang à integrasi auditory dan visual lebih kompleks. Dengan kapasitas bereaksi secara berbeda sesuai karakteristik anak.
•Tahap 8 (9 tahun ke atas) : berkembang tajam dan berkesinambungan hingga dewasa.
Pada umumnya, rentang waktu intensitas perhatian anak  adalah sebagai berikut:
•2 tahun  :  7 menit
•3 tahun  : 9 menit
•4 tahun  : 14 menit
• 5 tahun  : 15 menit
Nah….apakah kalau putera puteri kita perkembangan atensinya berada di bawah tahapan  seharusnya ia berada, berarti ia mengaami gangguan konsentrasi?
belum tentu.
Banyak keluhan orangtua seperti ini: “bu, kalau belajar, anak saya susaaaaah banget konsentrasinya. Tapi kalau nonton TV, main game atau main puzzle kesukaannya? wuihh…bisa berjam-jam bu…”. nah, kalau kasusnya seperti ini, maka anak berarti kurang berminat terhadap kegiatan belajar. Karena minat, sangat mempengaruhi perilaku anak terhadap kegiatannya.
So….kembali lagi ke pertanyaan di awal tulisan ini, maka jawaban “seriusnya” adalah:
Anak usia 10 tahun, harusnya kemampuan memfokuskan atensinya sudah matang, secara mandiri. Kalau sudah matang, maka oke lah, boleh belajar sambil liat TV (yang tentu saja menyala) :). meskipun, i’m not sure bagaimana efektifitas pengolahan informasi dalam proses belajarnya. Apalagi kalau yang ditonton adalah tayangan favorit …jangan deeeh…. “multitasking activity” terbukti “decreasing performance” loh…Kalau anak masih berada di tahap perkembangan ateensi tahap 5 ke bawah, sebaiknya kegiatan belajar dikondisikan, tak ada stimulus luar yang bisa “menggoda imannya” 😉
Lalu, kapan anak kita disinyalir mengalami gangguan ADD/gangguan pemusatan perhatian atau ADHD/gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas? Apabila ada tanda-tanda di bawah ini:
-Inattention : kurangnya  pengendalian  pada stimuli yang datang dari luar –>sangat mudah teralih dengan “pendengaran” dan “penglihatan” di luar kegiatannya.
-Impulsive : kurangnya  pengendalian  pada stimuli yang datang dari dalam diri–>mudah teralih, meskipun tidak ada “gangguan dari luar”.
-Hyperactive : reaksi fisik berkelebihan terhadap stimuli, banyak bergerak tak bisa diam tanpa tujuan
NAh, kalau salah satu, salah dua atau salah tiga gejala di atas ditemui (biasanya keluhan dari guru adalah anak melamun, tugas tidak selesai, tidak mau diam, harus selalu diingatkan untuk menyelesaikan tugas)..maka sebaiknya anak dibawa ke psikolog. Nanti akan dilakukan pemeriksaan dan akan dilakukan pula intervensinya kalau memang terbukti anak mengalami gangguan pemusatan perhatian.
Sssst…inattention, impulsive dan hiperactive juga bisa dimiliki oleh orang dewasa loooooh 😉
Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Lululu
    Sep 11, 2012 @ 09:38:12

    eh mbak, tapi aku dulu cuma bisa belajar depan tivi loh… mghapal sambil nonton, buat pe-er sambil nonton, baca sambil nonton…hehehe. alhamdulillah nilai sekolah baik2 saja. malah kalo belajar harus ada temannya (entah itu suara tipi, atau orang tua yg nemenin/ikut belajar). hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s