Di rumah, jadi orangtua saja lah…..

“Ah, males aku ngobrol sama mama-papa. Rasanya kayak disidang…..disidang dua profesor killer…gile….” begitu ungkapan si remaja. Yups, orangtuanya memang guru besar dari dua perguruan tinggi terkemuka… “Kalau mau ngomong sesuatu harus logis lah, harus ada alasannya lah…males banget…Ada gak ya, yang mau tukeran ortu ama gua” katanya lagi, cukup mengagetkan.

Mmmmhhhmmm…..salah dua “ujian” dari ortu yang secara pendidikan, sosial dan ekonomi memiliki kedudukan tinggi adalah: (1) punya harapan yang tinggi terhadap anak-anaknya; jadi masalah kalau si anak tak mampu atau tak mau memenuhinya. (2) suka “lupa melepaskan baju” saat berada di rumah.

Maka dari itu, khusus untuk poin kedua; seorang direktur, profesor, komandan militer, dokter, apapun…..kalau sudah di rumah, jadilah ayah, abah, abi, bapak,papa,  dan jadi ibu, ambu, mama, umi,bunda saja… yang memperlakukan anak-anak sebagai anak-anak. Kasih afeksi kalau mereka butuh, mendengarkan kalau mereka ingin bicara… tak perlu memperlakukan anak sebagai mahasiswa, bawahan, atau pasien….;). Apalagi kalau menghadapi anak remaja. Konon, menurut cerita dari beberapa teman yang sudah punya anak remaja, anak se “sweet” apapun, kalau sedang berada di tahap remaja…duh, “nyebelinnya…” minta ampun… Tak pernah mudah menghadapi remaja. Gitu kata buku mah.

Saya ingat, dulu pernah bekerjasama dengan seorang bapak dokter spesialis bedah tulang. Waktu kita mau ngerjain kerjaan di hari sabtu, langsung dia menolak. “Waduh, Sabtu mah jadwal saya main PS sama anak saya uy” katanya. Saya tanya anaknya umur berapa, kelas 2 SMP dan kelas 2 SMA. “Kalau engga gitu, susah bu…untuk bisa tetap dekat dan membuat anak remaja jaman sekarang terbuka ama ortunya. apalagi anak saya dua-duanya laki-laki”. Begitu katanya.. (eh, contoh ini sebenarnya nyambung engga ya, sama topik tulisan ini? Jaka sembung bawa rumah…gak nyambung kayaknya mah …;)

Keinginan untuk berperan sebagai “ibu dan ayah” saja kalau di rumah juga membuat saya tak segan meminta tolong mas untuk melakukan hal-hal yang “remeh-temeh”. “Dirimu di luar boleh jadi doktor lah, pimpro ini itu lah, punya sertifikasi apa lah….tapi di rumah, dirimu adalah si abah” hehe…. Geli juga pernah suatu saat dia bicara panjang lebar sama kliennya dirut sebuah BUMN besar, pake headset sambil….cebokin Hana haha….good 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s