Tujuh Tahun Tujuh Bulan

Lima  hari setelah peristiwa tsunami Aceh tahun 2006, tepatnya 31 desember 2006. Siang itu mama dan papa dari Purwakarta datang mengunjungi rumah kontrakan kami di Gg. Gemini Sadang Serang. Mereka datang dengan misi khusus mengantar pengasuh Azka pesanan saya dan Mas. Maklum, saat itu saya sudah resmi diterima sebagai CPNS di Psikopad. Meskipun belum ada panggilan untuk bertugas, namun tanpa ada yang mengasuh Azka yang waktu itu berumur 1,5 tahun, rasanya cemas juga, takut kalau2 panggilan untuk bertugas segera datang. Alhamdulillah mama bilang, ada yang mau kerja dari Cikeris, Bojong, salah satu kecamatan di Purwakarta.

Saya masih bisa membayangkan dengan akurat tampilan si pengasuh yang mama bawa. Memakai kerudung putih, berkulit gelap dan canggung. Tak seperti yang saya bayangkan, anak itu kecil banget. Umurnya 13 tahun, baru lulus SD kata mama. “Ema” katanya menyebutkan namanya sambil mencium tangan saya. Saat itu, mas langsung menarik saya ke kamar. “Kecil banget de…bisa apa dia….aku gak tega…masa kita mempekerjakan anak kecil gitu. Pulangin lagi aja. Kita kasih uang aja….”kata mas. “Tapi kan kita butuh mas….lagian, niatin aja bantu ekonomi keluarganya…kan cuman ngasuh Azka aja…..coba dulu lah…nanti kalau emang ga bisa apa-apa, ya kita cari lagi aja…”.

Tak terbayangkan saat itu, kalau sejak perbicangan itu, teh Ema akan bersama dengan kami, dalam jangka waktu yang lama……menemani setiap sejarah hidup yang keluarga kami lalui, sampai dengan 10 Agustus lalu *berkaca-kaca*…

Rasanya baru kemariiiiin….ibu mengajarkan teh Ema segala macem. Caranya nyuci, cara ngejemur, cara nyetrika, cara nyapu, cara gendong Azka, nyuapin, bacain buku…masak….dari mulai ngajarin nama-nama bumbu, sampai kemaren-kemaren, masakan teh Ema, jauuuuh lebih enak dari masakan ibu. “Practice makes perfect” bukan ?

Yups….teh Ema sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Bukan basa-basi. Ia memang bukan pengasuh biasa. Meskipun tak pernah mem-psikotes-nya, dari observasi ibu yakin IQnya di taraf rata-rata atau rata-rata atas. Ditambah informasi bahwa selama SD dia juara satu terus, pantaslah kalau kemampuan problem solvingnya, untuk masalah yang praktis di lingkup tugasnya…oke banget. Misalnya, sekali aja diajarin, teh Ema tau prosedur kalau anak-anak anget. Ukur pake termometer, suhu berapa harus dikompres, suhu berapa harus dikasih obat…..

Dia bener2 jadi manajer rumah tangga kami untuk urusan teknis. Selama teh Ema ada, urusan pesan dan pasang galon, gas, pulsa listrik, ibu gak pernah pegang. Kalaupun ibu lupa gak ninggalin uang, paling pas gajian teh Ema nyodorin catetan berapa banyak uangnya yang kepake. Teh Ema juga supel. Jauh lebih supel daripada ibu. Tak heran kalau beberapa kali ada yang nganter undangan pernikahan atau khitanan warga luar komplek, dan undangan itu ditujukan untuk …Ema, bukan untuk Pak Basuki ;).

Pokoknya, hidup ibu rasanya nyaman dan sentosa saat ada teh Ema. Kalau kurang apa-apa, wussss….teh Ema melaju dengan motornya. Itu teh motor yang dibeliin si abah buat ibu. Tapi sejak latihan ibu jatoh dan gak mau coba lagi, secara tak tertulis motor itu jadi milik teh Ema hehe…. Kalau jadwal antar-jemput Umar/Azka bentrok, maka teh Ema pun berfungsi menjadi tukang ojek antar jemput sekolah ;). Ibu pengen beli ini-itu ? tenang….teh Ema punya no hape tukang sate, tukang siomay, tukang baso malang….kalau ibu pengen, ntar teh Ema tinggal sms: “mang, jam berapa kira-kira nyampe selaras alam? Ibu nanti mau beli ya…” 😉

Bantuan terbesar tentunya adalah dalam mengasuh anak-anak. Waktu ibu melahirkan mas Umar,  Azka menunggu di luar kamar bersalin sama teh Ema. Waktu ibu nginep 5 malem melahirkan de Hana, Azka dan Umar di rumah sama teh Ema. Begitu pula waktu ibu melahirkan de Azzam. Tiga kali ke luar kota dan dua kali ke luar negeri, ibu tenaaaaang meninggalkan anak-anak dengan teh Ema. Soal menemani bermain anak-anak…? teh Ema jagonya….main layangan….main bulutangkis, engklek, main boneka tangan….teh Ema mau dan bisa mengkreasikan permainan sama anak-anak. Bahkan, Umar bisa sepeda roda duanya diajarin teh Ema. Kalau anak-anak ulang tahun? Pasti teh Ema pun ngasih kado. Dan seringnya, kado teh Ema yang harganya sepersepuluh kado dari ibu dan abah, jadi favorit anak-anak. Tak heran kalau seringkali Kaka, atau Umar, atau Hana, atau tiga-tiganya, nginep di kamarnya teh Ema.

Yups…..yups…teh Ema memang sudah menjadi bagian keluarga kami. Bahkan, dalam beberapa situasi, ibu kadang merasa….sayang teh Ema sama anak-anak lebih dibanding sayang ibu. Yang nelatenin makan Umar waktu Umar belum mau makan nasi ampe umur 4 tahun, teh Ema. Yang ibu inget banget jasa teh Ema adalah, saat ibu harus bed rest total karena plasenta previa saat hamil Hana. Teh Ema yang “take care of” anak-anak, full…..

Karena itulah….ibu, abah dan anak-anak tak lagi menganggap teh Ema orang lain. Ibu tau, kalau ada Shiren Sungkar berkunjung ke Bandung, pasti teh Ema izin untuk nonton atau temu penggemar. Ibu juga bekalin teh Ema dengan keterampilan menjahit plus dibeliin mesin jahitnya. Kalau pergi2….pasti ibu ajak teh Ema. Bukan karena butuh bantuannya ngasuh anak-anak. Tapi juga merasa wajib mengajak dia sebagai bagian dari anggota keluarga. Maka, di tujuh tahun kebersamaan kami, teh Ema udah pernah nginep di berbagai hotel, mengunjungi dufan, ancol, ciater, cipanas, kediri, pangandaran, dll…..Tiap kita ke bioskop pun, teh Ema selalu ikut. Kalau makan malam kluar , selalu kita ajak teh Ema. Jadi teh Ema udah gak aneh sama steaknya Suis yang jadi favorit kami;). Kalau teh Ema ulangtahun pun, kami siapkan kado kejutan. Terakhir, waktu ia ultah yang ke-20, kami siapkan kue ulangtahun kejutan….;)

Dengan dekatnya hubungan kami, maka tak hanya teh Ema yang suka curhat tentang kakak-kakaknya yang jadi TKI di arab sana, tapi ibu pun sering curhat juga, serta minta pertimbangan berbagai hal sama teh Ema.

Tentu, ada juga masa-masa sulit hubungan ibu dengan teh Ema. Yang sangat ibu ingat adalah 2 tahun yang lalu, saat ibu merasa pusing tujuh keliling menghadapi seringnya konflik antara teh Ema sama Azka. Anak 18 tahun sama anak 7 tahun…..sama-sama sensitif, sama-sama gak mau kalah….aduuuuuh…;( untunglah masa itu terlewati sudah…..

Akhhir tahun lalu, akhirnya teh Ema bilang kalau seminggu setelah lebaran akan menikah dan kembali ke kampung halamannya di Bojong sana. Ia akan menikah dengan pujaan hatinya, om Irfan. Ibu baru ketemu 2 kali sama om Irfan. Tapi Hana, udah sering nelpon. Seperti yang terakhir kalinya, dia bolak-balik jalan sambil ngobrol pake hape teh Ema: “om Ilpan lagi di mana? Haaa? Di kandang ayam? Emangnya om Ilpan sekalang udah belubah jadi ayam ya? Makannya jadi jagung dong….” 😉

Tgl 10 lalu, teh Ema pun pamit. Sedih sih…teh Ema mah udah bercucuran air mata. Ibu juga pengen nagis sih…cuman..biasa…si ibu tea gak selalu bisa berlebai ria…Hana, teriak-teriak sambil nangis….”Teh Ema gak boleh nikah, gak boleh pulang ke Bojong!!”….sampai akhirnya, dia ikut nganterin nemenin pak Ayi sopir kami yang mnegantar teh Ema.

Setelah itu,  tiap hari teh Ema nelpon. “Gak kuat kangen mas Umay, de Hana dan si adik” katanya. Biasanya, kalau teh Ema nelpon, Hana malah nangis…”mau ke teh Ema” dan lalu gak mau terima setiap kali teh Ema telpon…..Seminggu terakhir ini Hana udah gak nangis lagi. Malah dia minta nelpon teh Ema. “Halo, teh Ema…..dede tadi ngamuk loh…” lapornya 3 hari lalu….

Hari Minggu nanti kami akan menghadiri pernikahan teh Ema. Kami sudah menyiapkan kado, yaitu album foto berisi foto-foto teh Ema dengan keluarga kami. Setiap kami foto keluarga di Yonas, teh Ema pasti ikut difoto. Sayangnya, foto keluarga dengan Azzam belum sempat. Sebenarnya, foto-foto anak-anak di hape teh Ema ibu yakin jauuuuuuuh lebih banyak. Lha wong tiap ibu datang dari aktivitas, hampir selalu teh Ema ngeliatin foto anak-anak dengan beragam gaya di hapenya.

Memilih-milih foto yang ada teh Ema-nya….ibu jadi berkaca-kaca….begitu banyak peristiwa yang telah kami lalui bersama. Dari Azka kecil, Umar-Hana kecil, Azzam bayi….

Barakallah teh Ema, terima kasih atas bantuan dan kasih sayang yang teh Ema berikan pada ibu dan anak-anak. Semoga Allah membalasnya dengan barokah untuk keluarga yang akan teh Ema bangun…Amiiiin….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s