Struggle to Surrender : Sajadah Panjang

Sebulan kemarin benar-benar struggling to surrender….

Berjuang untuk menuju satu titik: pasrah. Maka, walaupun di awal bulan ini ada 2 asisten yang datang, di lubuk hati disiapkan ruang agar tidak shock.

Ada sih, exciting karena minggu ini rencananya akan beraktivitas seperti biasa…. Ngantor di biro lagi… udah kangen banget terima klien, diskusi kasus-kasus pelik, diskusi topik disertasi, bikin dokumen ini-itu, mantengin laptop berjam-jam….

Tapi ya…. ketika tadi sore ada kejadian yang membuat kami kembali tanpa asisten, sudah lebih “siap”.

Besok, mau survey daycare di Bandung untuk menitipkan Azzam di hari Senin biar ibu bisa praktek lagi.  Soalnya salah satu perenungan ibu… I LOVE MY JOB !! ibu menjadi ibu yang utuh saat satu kaki di rumah, dan satu kaki di luar. Tanpa salah satunya, ibu merasa stroke sebelah;)

Bada Maghrib tadi, si abah mengumpulkan anak-anak dan membriefing….”anak-anak….kita kan gak ada yang bantu lagi…anak-anak harus bantu ibu ya…minimal mengurus dirinya sendiri…kasian ibu repot sama de Azzam”. dan ibu menyambung; ” ada satu aturan penting di rumah ini: ibu gak boleh marah. dan ibu perlu bantuan anak-anak. Usahakan gak ada yang cemberut atau nangis (ngelirik Azka), gak ada yang marah atau susah kalau disuruh mandi dan sholat (lirik Mas Umar) dan  gak boleh ada yang nangisin adiknya (lirik Hana pastinya;)….Kita harus berusaha jadi oke setiap hari. Kalau ibu langsung marah, berarti ibu oow dan anak-anak oke. Kalau udah 3 kali disuruh atau diingetin anak-anak gak nurut jadi ibu marah, berarti itu bukan salah ibu …jadi ibu oke, anak-anak oow”

Yups, bukankah hidup ini adalah sajadah panjang…… Sajadah yang ini yang harus ibu lalui sekarang…..bukan sajadah yang itu….. Lupakan dulu rencana S3, fokus dulu untuk “take care of my family”. (minimal ada jawaban pasti sekarang kalau bu dekan tanya “kapan akan sekolah S3” ….. “Kalau udah punya pembantu bu” hahahaha…”)

Baiklah, seperti kata Dahlan Iskan….”jangan cengeng” kalau pengen cengeng…tenang….cadangan air mata masih tak terhingga haha…..

Teringat penggalan puisi dari seorang sahabat 11 tahun yang lalu:

……. dan kau berdiri semakin berdiri tegar…..dengan dunia di tangan kirimu dan matahari di tangan kananmu….

Belum mengerti apa maksudnya, tapi semoga itu menjadi doa bagi kondisi sekarang….
Bismillahirrohmanirrohiim….Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha…..

Semangat !!!! *gaya Han Ji Eun*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s