Unforgetable October 2012: the sweet one

Meskipun kepala pusing dan badan remuk, syukurlah hati cukup tenang. “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha” jadi sumber kekuatan ibu. Bahwa Allah akan menguji kita dengan ketidaknyamanan, tapi bukan dengan keburukan. Bahwa Allah pasti menyediakan resource untuk menghadapi kesulitan ini. Entah itu dari dalam diri kita, atau dari luar.

Salah satu hikmahnya adalah, jadi banyak merenung. Juga jadi lebih sungguh-sungguh berdoa.

Salah satu hal yang ibu renungkan adalah….

Ibu ingat, sebulan sebelumnya, Umar “marah” sama ibu. Gara-garanya adalah, dia minta dibeliin PS. Ibu bilang boleh, kalau mas Umar udah dapet 30 bintang  dan renking 1. (1 bintang adalah serangkaian “kewajiban” yang harus ia penuhi dalam 1 hari: mandi pagi, pake seragam sendiri, nyiapin buku, makan sendiri, sholat 5 waktu). Yups, itu memang syarat yang berat. Karena ibu sebenarnya gak mau mas Umar punya PS. Nah, mas Umar marah dan bilang begini sama ibu; “Kenapa sih, mas Umar tuh kalau mau mainan apa-apa yang mas Umar inginkan….harus berusaha dulu….susah banget…kalau temen mas Umar mah….langsung dibeliin…”

Malamnya, setelah marahnya reda, ibu “curhat” sama mas Umar…

“Mas, ibu sama abah, dulu kakek-nenek dan yangkung-yangti bukan orang kaya. Ibu baru boleh beli sepatu baru kalau sepatu ibu udah rusak. Ibu dapet sepeda karena ibu dapet NEM tertinggi waktu lulus SD. Kuliah juga ibu sambil kerja. Begitu juga abah. Abah waktu kuliah harus ngasih les, pernah abah enggak punya uang jadi jalan dari cicaheum ke ITB….tapi itu membuat ibu dan abah kuat…. ibu dan abah sering ngobrol… ibu dan abah takuuuuuuut banget anak-anak ibu dan abah jadi anak-anak yang lemah….yang mudah menyerah….yang gak mau berusaha kalau menghadapi kesulitan….karena sekarang ibu dan abah punya uang…ibu dan abah kadang gak bisa nahan…pengen beliian anak-anak  ini-itu, mainan, pakaian, apapun yang Kaka, mas Umar, kaka Hana dan de Azzam inginkan…ibu dan abah seneeeeeeng banget kalau liat wajah anak-anak gembira karena dibeliian apa-apa yang dipengeninnya. tapi ibu dan abah takuuuuuut banget kalau itu membuat anak-anak jadi gak kuat…jadi anak-anak yang mudah menyerah…”

Curhatan itu, benar-benar dari lubuk hati ibu yang paling dalam. Maka….ketika kemudian mengalami situasi dimana kami sekeluarga harus survive tanpa ada yang bantu, satu sisi hati ibu berkata bahwa……mungkin ini adalah jawaban dari kekhawatiran ibu dan abah. Yups… anak-anak sekarang jadi punya tanggungjawab. Memahami proses. Kalau dulu mas Umar tinggal teriak …” teh Ema, mau MILO….mau mie gelas !” ….sekarang, dia harus bikin sendiri. Kalau dulu, Kaka Azka pengen kentang sosis tinggal nunggu, sekarang dia tahu dan mengalami….harus ngupas kentang dulu, melumuri pake terigu, lalu digoreng. Ada proses dan upaya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan….itu pengalaman  mahal yang kami dapatkan.

Satu lagi….suatu saat, saya dan mas yang sedang di luar kota, ber ym ria. Saya bertanya pada mas: “bah, abah nyesel gak…situasi ini terjadi karena ade bekerja”. Saya masih inget jawaban mas: “NGGGGGGAAAAK ! ngapain mikir gitu…dirimu bekerja, adalah keputusan kita bersama. Sekarang kita menghadapi masalah ini, ya kita hadapi bersama”

Ya, dan itu memang bukan sekedar lip service.

Suatu subuh, saya terbangun kesiangan , yaitu saat adzan sudah berkumandang…. terdengar suara piring trang treng trong… siapa ya? si abah? nyuci piring? gak mungkin…. tapi terdengar makin jelas. Ternyata setelah disamperin ke dapur… eh, iya…si abah lagi cuci piring….hehe….kapan lagi coba ngeliyat yang kayak gini 😉 Meskipun setelahnya ibu komplen: “abah kok nyuci piring tapi wastafelnya gak dibersihin?” dan si abah menjawab “Aku kan nyuci piring, bukan nyuci tempat cuci pirinig” ….good answer ! 😉 Btw, tampaknya mesti beli piring nih, mengingat sudah banyak piring yang pecah jadi korban haha….

Catering sabtu minggu ibu minta libur. Biar si ibu refreshing masak dua hari itu….Nah, kalau biasanya sekeluarga ke pasar, maka kali ini yang ke pasar adalah tim Abah, Umar dan Hana. Ibu, Azka dan Azzam beberes di rumah. Pulangnya…banyakan jajanan dan mainan dibanding belanjaan hehe….dasar makshluk mars, konon katanya “pria tak mau bertanya saat tersesat”…. segitu udah ditulis sama ibu apa-apa yang harus dibeli…masiiiih aja pesen pindang bandeng, yang dateng pindang deles. Dan si abah pun keukeuh….”engga ah, itu bandeng kok…” katanya menunjuk si pindang deles. Ga apa-apa lah bah…i still love you hihi….

Ada satu cerita lucu lagi…. Keahlian si abah adalah bikin dadar yang kriuk. Suatu saat, si abah gorengin anak-anak sosis. “de…de….ini indikator matengnya gimana?” kata si abah sambil bawa susuk berlumuran minyak, ke kamar tempat ibu ngelonin Azzam. “Kalau dari baunya sih bah, ini indikasi gosong bah” …wkwkwk…untunglah anak-anak gak keberatan makan sosis plus. Plus karbon hehe….

Jadi inget janji pernikahan….”bersama dan saling mendukung baik dalam suka maupun duka, baik dalam keadaan senang maupun susah” 😉 …. Tapi meng-alam-i, memang cara jitu mengasah empati….

Si abah kini selalu berusaha pulang  setiap hari dari luar kota. Karena keberadaan si abah malam atau pagi, sangat membantu. Suatu malam, ia yang sengaja pulang pergi dalam satu hari dari medan, meng sms dari Jakarta. “Aduh, cuapeeeek banget…. tapi pasti lebih capek dirimu ya de…..sabar ya….” mmmhhhmmm…dukungan yang kayak gini nih…yang bikin seberat apapun situasi yang dihadapi, rasanya optimis;)

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s