critical period vs sensitive period

Dalam dunia perkembangan manusia, kita mungkin sering mendengar frase “critical periods”  atau “masa kritis” (biasanya paling sering kita denger di iklan ya..;). Secara umum, biasanya frase ini dimaknai sebagai “waktu dimana stimulasi untuk aspek tertentu perlu dilakukan. Jika waktu tersebut sudah terlewati, ya sudahlah……”. Misalnya, diyakini bahwa usia 0-5 tahun adalah waktu kritis untuk daya ingat anak, sehingga di rentang usia ini, ibu-ibu yang ingin anak-anaknya menjadi hafidz, harus mulai program menghafal AlQur’an bagi anak-anaknya. Karena kalau sudah lewat usia 5 tahun, sudahlah….

Saya lebih sependapat dengan Susan Noelen-Hoeksema dan kawan-kawannya yang menyusun buku “Atkinson& Hilgard’s Introduction to Psychology 15 edition, 2009” yang menyatakan bahwa “critical period” lebih tepat digunakna untuk aspek fisik dalam perkembangan. Sesuai dengan definisinya: “critical periods is crucial time periods in person’s life when spesific events occur if development is to preceed normally” . Keyword dari critical periods adalah “irreversible”.

Sedangkan untuk aspek psikologis, frase yang lebih tepat untuk digunakan adalah “sensitive periods”, yaitu “periods that are optimal for a particular kind of development. If a certain behaviour is not well established during this sensitive period, it may not develop to its full potential”. Misalnya, usia 0-1 tahun adalah sensitive period untuk terbentuknya ikatan emosional-attachment- antara anak dan orangtuanya. Attachment ini diyakini akan menjadi “basic trust” bagi anak untuk menjalani kehidupan di masa depannya. Nah, jika di usia 0-1 tahun ini karena satu dan lain hal ikatan emosionalnya  belum terbentuk, maka jangan ragu untuk memulainya di usia yang lebih lanjut.

Konsep sensitive periods ini juga tampaknya senada dengan penelitian mutakhir di bidang biopsikologi, yang semakin menemukan bukti bahwa otak manusia ini, sangatlah plastis. Dosen biopsikologi saya pernah menceritakan ada pasien yang sebelah otaknya rusak, namun ajaibnya, belahan otak yang satunya, bisa mengcover “tugas” dari belahan otak ynag rusak. Tentu tidak optimal seperti kalau kedua belahan otaknya berfungsi baik, namun… itu menunjukkan bahwa otak itu begitu plastis…. (makanya saya tidak setuju dengan adanya  istilah “tipe otak kanan” – “tipe otak kiri” karena yang saya pahami dari kuliah biopsikologi, dua hemisfer otak kita tuh bekerjasama dengan amat baik dan rumit….)

So…..the good news nya buat aplikasi di dunia parenting adalah…..

It’s never too late to stimulate our childrens !!! Kalau ibu baru tau sekarang, baru dapet ilmu sekarang, jangan menyerah…. jangan pesimis…. kita baru terlambat dalam menumbuhkembangkan dan mengajarkan  sesuatu pada anak kita saat…..otak anak kita sudah mati.

Yang waktu anaknya masih bayi kurang sering meluk, peluk-peluk anaknya sekarang…..yang waktu usia prasekolahnya belum dilatih untuk belajar menahan keinginan, mulai aja sekarang…..

It’s never too late….

Advertisements

4 Comments (+add yours?)

  1. Ira
    Nov 08, 2012 @ 07:53:42

    Setuju Fit….
    lagian melatih otak kanan dan kiri itu cuman dagangan doang apa lagi otak tengah (where the hell is middle brain, there’s only two brain hemispher).
    It’s never too late to stimulate your child.

  2. mita rachmat
    Nov 08, 2012 @ 10:28:03

    cool one 🙂

  3. Fonny
    Nov 14, 2012 @ 11:45:14

    ijin share

  4. irma ruslina
    Mar 06, 2013 @ 12:06:32

    setuju mb fit, biasanya kalau di bidang keilmuan saya, kemampuan otak untuk menyeimbangakn kerusakan disebut neuroplastisitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s