Ketika Umar diejek

Setiap kali Umar pulang sekolah dan terlihat sumringah, atau ketika ia tanpa disuruh mengerjakan PR atau mengulang pelajarannya dengan semangat, atau dengan mata berbinar ceritain pengalamannya bersama teman-teman di sekolah hari itu, perasaan ibu gimanaaaa gituh. Enggak sampai pengen bilang wow sambil koprol siiih…. hehe…. cuman seneng banget dan bersyukur.

Itu karena….minggu dan bulan pertama Umar masuk SD, beberapa bulan lalu…ternyata prosesnya tak semulus ketika Kaka Azka masuk SD 4 tahun lalu. Bulan pertama masuk SD, Umar menunjukkan beberapa tanda stress. Diantaranya adalah tics, “gerakan2 kepala/suara yang tidak terkontrol”. Menurut psikologi, tics ini adalah “visible sign of stress”. Dan karena simptomnya muncul tiba-tiba, maka kemungkinan besar itu terkait dengan kejadian faktual yang sedang dialaminya. Puncaknya, ada satu kejadian yang memastikan Umar merasakan stress berat…tapi ibu gak bisa ceritakan di sini, karena ibu janji itu adalah rahasia antara ibu dan mas Umar 😉

Akhirnya ibu evaluasi…mungkin salah satu faktornya adalah ibu yang terlalu menekankan pada mas Umar, bahwa di SD ini berbeda dengan TK. Dengan demikian, sikapnya juga harus berbeda. Padahal justru kalau dari SDnya, proses adaptasi anak TK itu dibuat smooth banget. Dari sisi akademik, sampai sebulan di kelas 1, kegiatannya masih kayak di TK. Mewarnai, menggambar….pake krayon. Gak ada huruf dan angka, apalagi calistung….Demikian pula suasana di kelas, selain ada meja kursi yang bisa diubah susunanya, ada juga karpet bagi yang mau disana. Bu guru Umar selalu menekankan; “anak-anak, di kelas 1 ini yang ibu harap bukanlah anak-anak jadi pinter…tapi yang penting, anak-anak kelas 1 SD itu harus mandiri…makan sendiri, cuci piringnya sendiri, mandi sendiri, pake seragam sendiri, nyiapin buku sendiri….. yang paling mandiri, itu yang paling oke”. Berdasarkan evaluasi itu, akhirnya pendekatan ibu sama Umar diubah jadi lebih afektif dan lebih toleransi…

Salah satu masalah yang tidak ibu temui saat menemani Kaka Azka melewati adaptasi kelas 1 SDnya adalah…..Umar sering diejek oleh teman-temannya…. karena….. dia itu cadel, sama sekali gak bisa bilang “r”. Padahal namanya jelas-jelas mengandung huruf  “r”. Akibatnya, suatu hari dia bilang kalau teman-temannya tidak memanggilnya Umar, tapi “Umal”, “sambil mukanya teh ngejek mas Umal” katanya dengan wajah sedih. Besoknya, dia curhat lagi…. “temen-temen mas Umal bilang gini…kasian deh lu…udah gede belum bisa bilang “r”…

Ibu ingat, beberapa tahun lalu pernah mendapatkan klien anak SD yang mengalami bullying. Oleh karena itu ibu pernah baca beberapa literatur mengenai hal ini. Penanganan terhadap kasus bullying, terutama yang telah berdampak negatif pada anak yang menjadi “korban” memang haruslah komprehensif. Melibatkan intervensi pada si anak yang menjadi “korban” dan  anak yang menjadi “pelaku”, dengan tujuannya masing-masing. Prosesnya harus melibatkan kerjasama antara kedua orangtua, dan pihak sekolah. Makanya, akan lebih baik kalau yang dilakukan adalah tindakan preventif.

Ibu mencoba mengingat2 apa yang harus dilakukan oleh orangtua si korban bullying, seperti yang tengah ibu hadapi. Dalam bayangan ibu, langsung mencuat tiga hal, yang TIDAK AKAN ibu lakukan, yaitu ; (1) mengajarkan Umar untuk balik mengejek anak-anak yang mengejeknya (2) “memarahi” teman-teman yang mengejek Umar (3)”Mengadukan” perilaku teman Umar yang mengejek Umar pada orangtuanya, meskipun ibu mengenal orangtuanya.

Secara normatif, umumnya kita tahu bahwa 3 hal diatas bukanlah problem solving yang baik. Akan tetapi, pada kenyataannya…langkah-langkah itu yang sering pertama mencuat dalam pikiran orangtua yang anaknya mengalami bullying. Setidaknya dari pengalaman-pengalaman ibu.

Terutama untuk point 1, biasanya para ayah yang menyarankan, terutama jika anak yang menjadi korban bullying adalah anak laki-laki. “Laki-laki jangan ngalahan gitu…kalau ada yang ngejek, ejek lagi aja…kalau ada yang mukul, bales pukul aja…atau kalau kamu gak berani, lempar terus lari…harus berani kalau laki-laki !” umumnya itu yang dikatakan para ayah pada anak laki-lakinya…Untuk point 2 dan 3, biasanya ibu2 yang mengambil langkah ini. Yang kalau tak dimanage dengan baik, biasanya hubungan anak-anaknya sudah oke, tinggal emak-emaknya deh yang saling berantem…

Tiga langkah diatas, secara logis sih tampak oke…dan mungkin secara instan menjadi problem solver. Namun, efek sampingnya adalah…menimbulkan masalah yang lain. Anak yang jadi agresif misalnya efekcsamping dari point 1. Oleh karena itu, ibu lebih memilih langkah-langkah yang ibu baca dari literatur2 itu. Intinya adalah, memampukan anak untuk bisa “mengabaikan” ejekan-ejekan itu. Langkah-langkahnya kurang lebih begini:

(1) Ajarkan anak sikap assertif saat menerima ejekan

(2) Ajarkan anak empati agar ia tak melakukan itu pada anak lain

(3) Jaga agar jangan sampai ejekan itu merendahkan kepercayaan diri anak, bantu anak mengenali kekuatan dirinya.

Ibu mencoba melakukan langkah-langkah itu. Langkah ke-0 adalah berusaha menyelami perasaan Umar. Setiap malam, ibu usahakan ngobrol sebelum tidur sama mas Umar. Tanya perasaannya. “Mas Umal sedih…mas Umal teh udah belusaha untuk latihan bilang “l” … ibu juga tau kan, tapi gak belhasil telus” katanya sambil berkaca-kaca. Lalu ibu pun berusaha membantu mas Umar menyadari bahwa itu memang hal yang tidak bisa ia lakukan, bahkan mungkin sampai mas Umar besar pun mas Umar gak akan bisa. Ibu pun ceritakan beberapa teman ibu yang sampai besar tidak bisa bilang “r”, tapi “berhasil”. Ada yang bisa dapet beasiswa sekolah ke luar negeri, ada yang juara lomba bahasa inggris….malah ibu tawarkan kalau mas Umar mau ketemu sama om-tante temen-temen ibu dan abah itu untuk ngobrol.

Selanjutnya, ibu coba memahamkan mas Umar bahwa setiap orang itu punya kelebihan dan kekurangan, gak ada yang semuanya hebat. Ibu bacain lagi tuh cerita “si gajah yang selalu kalah lomba lari”, “perlombaan si elang, si harimau dan si ikan”….bacain cerita “Franklin berbohong”, sampai dengan contoh konkrit Kaka Azka kelebihannya apa, kekurangannya apa…Kaka Hana kelebihannya apa, kekurangannya apa….. serta cerita masa kecil ibu dan abah yang menunjukkan bahwa ibu dan abah pun punya kekurangan dan pernah diejek teman-teman. Waktu ibu tanya mas Umar kelebihannya apa, seperti si Franklin di cerita “Franklin berbohong”, tiba-tiba ia lupa….maka Kaka Azka pun cerita…”kan mas Umar hebat nyusun puzzle…cepet kalau belajar komputer….suka jadi pemeran utama kalau pentas….” seneng deh..liat matanya yang tadinya berkaca-kaca jadi berbinar-binar….”oh iya yah, mas Umar lupa….” katanya….

Langkah selanjutnya…mengajarkan secara konkrit skill saat menghadapi situasi diejek. Nah, ini yang sempet bikin ibu khawatir… waktu ibu memberi contoh beberapa jawaban yang bisa mas Umar bilang, dia bilang gini: “jawaban itu mengandung huruf “r” engga? kalau mengandung huruf “r” mas Umal gak mau, soalnya malah diejek lagi, tambah diejek sama diketawain lagi”. Ibu khawatirt banget karena takutnya, peristiwa ini menghambat dia untuk mengungkapkan gagasan, bahkan dalam situasi belajar. Oleh karena itu ibu terpikir kalau dalam waktu sebulan Umar tidak berhasil mengatasinya, mungkin ibu akan menghubungi gurunya, untuk menanamkan nilai “jangan mengejek” dan “setiap orang punya kelebihan dan kekuarangan ” ini di kelas.

Abahnya bilang, mas Umar harus membuktikan kalau mas Umar lebih baik dari teman yang mengejek mas Umar dengan tidak mengejek lagi dan mendapat nilai yang lebih bagus di pelajaran.

Suatu hari, mas Umar pernah bilang: “mas Umal mau pindah sekolah aja”. Ibu bilang: “boleh…tapi kalau di sekolah yang baru temen-temen ngejek lagi gimana?” Lalu ibu coba bilang dengan bahasa yang mas Umar pahami, bahwa kita tidak selalu bisa membuat orang lain gak mengejek kita…tapi kita bisa membuat kita jadi gak peduli sama ejekan orang lain…

Seminggu…dua minggu…tiga minggu…empat minggu…lima minggu…teruuus prosesnya berlangsung. Sampai Umar gak mengeluh lagi…. suatu saat, ibu tanya..”mas, temen kamu masih ngejek?”..”masih” katanya…”tapi mas Umal cuekin aja…” good…

Sebulan kemudian ibu tanya lagi pertanyaan yang sama , dia bilang…”engga, malah sekalang **** sama *** baik banget sama mas Umal… malah belsahabat sama mas Umal”

hepi ending…..

Semoga pengalaman ini membuatmu menjadi kuat mas….yang jelas, pengalaman ini membuat ibu dan abah jadi banyak belajar….

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Herwindo Iman Adhiwijaya
    Nov 21, 2012 @ 14:28:01

    Sedikit beda cara pandang,
    “tic” di bidang medis ditengarai sebagai “bentuk kecil” epilepsi; betul, sifatnya involunter (gerakan tidak diatur/disengaja)

    Tapi ada kesamaan pemahaman bahwa “tic” akan sering muncul bila stress–non-spesifik–meningkat
    Saya sendiri sering “kambuh” kalau mata lelah lepas jaga malam atau melihat komputer lama-lama

  2. Trackback: Sinetron Indonesia, Film-Film PIXAR, Franklin The Turtle dan Umar Bin Khatab | Fitri Ariyanti's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s