ssssttttt…. jadi “ibu mentari” aja lah….

Saya pernah bertemu seseorang. Ia selalu merasa “tak pernah bisa memberikan yang terbaik untuk ibunya”. Sebenarnya, dalam porsi yang memadai, perasaan ini tentunya wajar bahkan positif. Bukankah ada kisah, walaupun seorang anak memberikan biji matanya pada ibunya, itu tak akan bisa menggantikan kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu pada anaknya.

Sayangnya, perasaan yang dirasakan oleh kenalan saya ini adalah perasaan yang proporsinya amat besar, sampai-sampai ia tak lagi bisa melihat secara rasional batas objektif¬† “telah berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya”. Perasaan cemas tak bisa “membalas” pengorbanan ibunya, begitu amat menguasai dirinya dan mengganggu hari-harinya.

Beberapa kali bertemu, selalu ia mengulang-ulang cerita bagaimana ibunya yang sangat cerdas terpaksa harus mengorbankan laju karirnya karena saat mengandungnya, harus bedrest total…bagaimana ibunya selalu memprioritaskan dirinya dibanding kewajiban lainnya sehingga banyak hal yang ingin dan sebenarnya bisa dicapai ibunya, terpaksa harus “dikorbankan”. Ia pun menceritakan beberapa kejadian yang menunjukkan hal itu, dan menceriterakan bagaimana ibunya sering menyampaikan banyaknya pengorbanan yang ia lakukan untuk memberikan yang terbaik untuknya. Hal inilah yang membuatnya selalu bimbang setiap saat ada kejadian yang terkait ibunya. Ia selalu bimbang, gamang, apakah ia telah berkorban untuk ibunya sebesar pengorbanan ibunya padanya….

Dalam sebuah perbincangan dengan seorang sahabat saya, kami sepakat bahwa salah satu hikmah dibalik kejadian tersebut adalah…. jangan buat anak kita merasa “berhutang” pada kita. Tentu…tentu…tak ada ibu yang sengaja melakukannya… Namun, tanpa sadar, mungkin …. kita telah melakukannya.

Misalnya, ada seorang ibu yang sering menceriterakan pada anaknya betapa anaknya ini “susah hidup”. Saat kecil si anak beberapa kali menderita penyakit yang cukup berbahaya dan membutuhkan perawatan yang telaten. Cerita si ibu itu selalu ditutup dengan kata-kata…”makanya, kamu harus paling sayang sama ibu….”. Saya tahu, sang ibu tak bermaksud apa-apa. Tapi ternyata, seringnya kata-kata itu membuat si anak terbebani. Ia merasa harus “membayar” apa yang telah dilakukan ibunya padanya.

Saya sendiri mencoba mengingat-ingat…dan ya…saya ingat…saya juga beberapa kali bilang pada anak2 saya, misalnya saat sakit, saat saya mendampingi mereka, saya pernah bilang “sebenarnya ibu ada pekerjaan yang pentiiiiiing banget di kampus…tapi ibu lebih memilih menemani Kaka di sini”. Sebenarnya, saat itu niat saya adalah menyampaikan bahwa ia begitu berarti buat saya, sehingga saya meninggalkan hal yang penting. Namun….siapa yang bisa menjamin bahwa persepsi anak kita, berbeda dengan yang kita maksudkan….Apalagi kalau kita secara eksplisit bilang ” ibu teh udah cape gini gitu gini gitu buat kamu, eh kamunya malah bla bla bla” . Hehe….kalau diilustrasikan dengan adegan film luar negeri mah, mungkin si anak teh bilang gini sama ibunya: “i never ask you to do that …it is your own decision” ūüėČ

Saya jadi ingat lagu favorit yang sekarang ini sedang sering didendangkan oleh Hana:

Kasih ibu…Kepada beta…Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi….tak harap kembali…..bagai sang surya¬† menyinari dunia

Nah,¬† begitulah seharusnya seorang ibu. Sebesar apapun “pengorbanan” yang ia lakukan, entah itu mengorbankan cita-citanya, mengorbankan apapun, itu adalah keputusannya. Pontang pantingnya ibu mengasuh anak-anak, galaunya ibu karena harus memendam hasrat dan keinginan yang tak bisa dilakukan karena anak-anak, dll dll…..biarkan itu menjadi “pahala terindah” dan rahasia antara dirinya dan TuhanNya.

Semoga keberkahan dari apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita, membuat anak-anak kita selalu tergerak untuk memanjatkan doa¬† “Robbighfirliii wali-wali dayya warhamhumaaaa kamaaa robbayani soghiiro”. Saat kita masih hidup, terutama saat kita telah wafat nanti….amiiin….