Bio Psycho Social : terbanglah tinggi, psikologi….

Minggu lalu, Fakultas kami  kedatangan tamu. Seorang Profesor dari Kurume University, Jepang. Prof Akira Tsuda namanya. Beliau adalah profesor biopsikofarmakologi dengan latar belakang eksperimental. Saya berkesempatan menemani profesor sipit (ya iya lah….jepang gituh loh…) yang ramah itu hari Rabu lalu. Saya menemani beliau untuk melihat alat-alat dan fasilitas laboratorium psikologi eksperimen. Dan karena hari itu saya juga membimbing mahasiswa mata kuliah psikologi eksperimen lanjutan, sekalian saya ajak beliau menemui 4 kelompok mahasiswa bimbingan saya.

Sebelum membawa beliau jalan2 ke laboratorium, paginya saya menemani beliau sarapan. Di sana kami berbincang mengenai riset-riset beliau dan gagasan riset saya. Ada satu gagasan yang beliau sampaikan yang menurut saya, keren banget … itu loh, gagasan untuk melihat kompleksitas manusia secara lebih “komprehensif”. BIO-PSYCHO-SOCIAL.  dan bahkan ia menambahkan satu lagi. SPIRITUALITY. LALu beliau pun menunjukkan dan memberikan beberapa paper beliau terkait hal itu. Yang sayangnya….berbahasa jepang…hiks…hiks… Kenapa gagasan ini keren? saya ingat…suhu saya di Pengantar PSikologi, Bang Peter, selalu bilang ke mahasiwa yang kami ajar dalam topik sejarah psikologi: …. “perkembangan psikologi di masa depan itu, memiliki dua sayap. Satu sayap adalah pendekatan biopsikologi, satu sayap adalah pendekatan sosial-indigeneous. Ternyata…. “masa depan” itu telah kita alami kini. Dua sayap itu telah menyatu…menerbangkan psikologi lebih tinggi…lebih tinggi….sehingga pemahaman kita terhadap perilaku makhluk Tuhan yang paling sempurna ini kian lebih lengkap.

Lalu saya pun cerita tentang gagasan riset saya buat S3 nanti. Saya bilang, saya pengen banget “mengawinkan” topik family khususnya attachment dan super khususnya father attachment dengan pendekatan eksperimental. Bla..bla..bla… dengan latar belakangnya. LAlu beliau pun menunjukkan beberapa gagasan yang bisa dilakukan. Dan sudah dilakukan. Misalnya, beliau bilang…. salah satu muridnya, membuktikan konsep attachment (kelekatan emosional) dengan pendektan biopsychology. Prosedurnya adalah…dengan mengukur hormon cortisol (hormon stress) pada bayi. Ternyata eh ternyata…. bayi yang dari observasi dan kuesioner memiliki kelekatan rendah, kadar hormon kortisolnya lebih tinggi dibanding bayi yang dari observasi dan kuesioner tergolong memiliki kelekatan yang tinggi. Buat saya yang kuper….hal ini menarik dan super keren banget……SAya juga cerita salah satu paper yang pernah saya baca, bahwa ayah yang melibatkan diri dalam pengasuhan anaknya ternyata hormon prolaktinnya lebih tinggi dibanding ayah yang tak melibatkan diri. Hormon prolaktin dipercaya sebagai hormon yang bertanggung jawab terhadap “maternal behaviour”…..

Lalu jam 11, kami mulai naik ke lantai 3. Sebelumnya, saya mempertemukan dengan kelompok eksperimen lanjutan bimbingan saya. Saya minta mahasiswa saya mempresentasikan topik penelitiannya. Ada yang tentang “pengaruh mozart efek terhadap tugas spatial”, ada yang “pengaruh emosi positif terhadap kemampuan recalling”…. WOw… tanpa saya duga, beliau terbelalak saat saya bilang mahasiswa itu adalah mahasiswa semester 4. Apalagi saat ada kelompok yang bimbingan dan mempresentasikan reliabilitas alat ukurnya menggunakan spss, beliau terkagum2 lagi……”wow, they are so familiar with statistical analysis using spss…” katanya. Lebih takjub lagi saat melihat laporan yang dibuat mahasiswa tahun lalu…”oh my god, they are very clever…they can make a very good research report like this” katanya berdecak-decak. Begitu saya cerita kalau mahasiswa kita juga sangat memperhatikan informed consent dan belajar membuat protokol penelitian pake format APA…. saya tak bisa melupakan wajah takjubnya…”it’s a very high level compared to my students” katanya….

Dan…bagian paling seru adalah ketika salah satu kelompok eksperimen bimbingan saya yang tengah mengambil data untuk penelitian mereka yang berjudul “pengaruh time pressure terhadap penyelesaian tugas spatial” memberi kesempatan pada beliau untuk jadi subjek penelitian …hua ha..ha..ha.. “i never be a participan..i always be an experimenter” katanya….. sampai-sampai, mahasiswa saya bilang “kapan lagi ya mbak, kita bisa ngerjain profesor hahaha…” SAtu hal lagi yang beliau kagumi dari para mahasiswa adalah….”their english is very good, they are very expressive, i think your student is more ready to go international than my students” katanya…

Saat saya menunjukkan, menjelaskan dan memberi kesempatan beliau mencoba alat-alat di laboratorium pun, ketakjubannya tak menurun. “You have such a very good facilities. You have no more to conduct any kind of experimental studies, because you have a very basic apparatus” katanya. Dan saya pun terbengong-bengong saat di setiap alat dia bilang….ini bisa dipake ngukur ini, ini bisa dipake ngukur itu, bla..bla..bla…

Dalam perbicangan selanjutnya saya amat sangat setuju dengan beliau bahwa…”many people out there doesn’t believe the questionare..so, they need more objective marker to describe behaviour. we can combine psychometry with bio metry. we can prove that our questionare is valid and we have more comprehensive understanding of human behaviour” katanya.

Yups..yups..yups… sudah saatnya kita mempraktekkan siklus ilmu yang tak terputus. praktek-riset-teori-praktek-riset-teori-dst… JAngan ada lagi kotak-kotak klinis-perkembangan-pendidikan-sosial-eksperimen-pio. JAngan ada lagi pengkotakan psikologi-non psikologi. Dan pendekatan BIO-PSYCHO-SOCIAL ini adalah awal yang baik, mari kita terbangkan psikologi dengan dua sayapnya….

Dan buat mahasiswa-mahasiswaku… profesor dari jepang, doktor dari maastricht, jelas2 mengagumi kalian…. Maaf ya, kalau kami suka lupa kalau kalian itu…HEBAT !!!!

 

 

Advertisements

Sayah Bukan Motipator

Di tahun-tahun belakangan ini, muncul sebuah profesi baru: motivator. Kalau dimaknai dari bahasanya, motivator adalah seorang yaag memotivasi. Memotivasi artinya memberikan energi untuk bergerak mencapai apa yang diinginkan. Biasanya, seorang motivator adalah seorang yang memiliki kemampuan orasi yang baik. Biasanya mereka bisa “memukau” orang dengan kata-katanya yang bersemangat dan menanamkan keyakinan pada orang-orang yang sedang dimotivasinya bahwa “kamu bisa mencapai dan melakukan apapun yang kamu mau !!!”

Mmmmhhh… dalam profesi sebagai psikolog, saya sering dihadapkan pada situasi, dimana saya harus berhadapan, dan sayangnya harus “berbeda pendapat” dengan para “motivator” ini. Mereka bukan nama-nama yang kita kenal atau yang sering muncul di TV. Mereka adalah guru dan   orangtua. Yang meyakini bahwa SETIAP ANAK BISA JADI APAPUN. SETIAP ANAK BISA MEMAHAMI APAPUN, SETIAP ANAK BISA MENCAPAI PRESTASI AKADEMIK APAPUN.

Yah, sebut saja saya pesimistis. Tapi saya tidak sependapat dengan kata-kata yang saya cetak dengan huruf kapital di atas. Di awal-awal menjalankan profesi, terus terang saja saya suka agak ragu menyampaikan “keterbatasan” seorang anak pada guru ataupun orangtua. Namun semakin banyak kasus yang saya temui, semakin banyak menemukan bukti yang menunjang pengetahuan dan keyakinan saya, kini saya lebih “argumentatif” dan lebih “assertive” saat saya menyatakan ketidaksetujuan saya terhadap kata-kata di atas.

Saya meyakini bahwa, seperti yang tertulis eksplisit dalam AlQur’an, Allah mencipatakan setiap makhluknya dalam kondisi yang terbaik, namun unik. Untuk menemukan keunikan setiap anak, diperlukan “ilmu alat”. Observasi dari orangtua, maupun alat-alat yang bisa menemukan keunikan tersebut. Karena setiap manusia itu uniklah…saya tak sepakat bahwa : “SETIAP ORANG BISA JADI ENTERPREUNEUR!!!!” Saya juga tidak setuju kalau kalau seorang dengan kecerdasan yang tergolong Cerdas Istimewa (IQ diatas 130, Skala WISC) “BISA JADI APA SAJA YANG DIA MAU. Yups, dia mungkin bisa masuk jurusan apapun lewat UMPTN dengan mudah. Mungkin dia bisa memasuki seluruh jurusan teknik di ITB, atau jurusan kedokteran manapun. Namun, untuk jadi insinyur yang enjoy dan unggul di pekerjaannya? untuk jadi dokter yang happy dengan profesinya? itu memerlukan keunikan lain dari dirinya.

Apalagi kalau bicara mengenai anak berkebutuhan khusus. Sekarang saya siap beradu argumen dengan siapapun yang bilang bahwa “MEREKA PASTI BISA SAMA DENGAN ANAK LAIN” …. tanpa perlu ada upaya pendekatan khusus untuk memahami keunikan mereka dan melakukan upaya sesuai keunikan mereka.

Ada satu contoh kasus yang paling membuat saya yakin. Ini adalah kasus anak dengan kondisi mentally retarded (MR), atau bahasa indonesianya Tuna Grahita. Menurut link http://slbk-batam.org/index.php?pilih=hal&id=71, berikut keterangan mengani tunagrahita ini.


Pengertian tunagrahita sebagai:
1. Kelainan yg meliputi fungsi inelektual umum di bawah rata-rata (Sub-avarage).yaitu IQ 84 kebawah sesuai tes;
2. Kelainan yg muncul sebelum usia 16 tahun;
3. Kelainan yg menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.

Pengertian tunagrahita yang lain,sebagai berikut:
1. Fungsi intelektualnya yg lamban yaitu IO 70 ke bawah
berdasarkan tes inteligensi buku;
2. Kekurangan dalam perilaku adatif.
3. Terjadi pada masa perkembangan,yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.

Penggolongan Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran sebagai berikut:
1. EDUCABLE
Anak pada kelompok ini masih mempunyi kemampuan Dalam akademik setara dengan anak regular pada kelas 5 Sekolah dasar.
2. TRAINABLE
Mempunyi kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri,dan penyesuaian sosial sangat terbatas kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik.
3. lCustodia
Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan Khusus. Dapat melatih anak tentang dasar –dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif.

Penggolongan tunagrahita untuk keperluan pembajaran sebagai berikut:
1. taraf perbatas (borderline) dalam pendidikan disebut sebagai lamban Berajar (slow learner) dengan lQ 70-85.
2. tunagrahita mampu didik (educabie mentally retarded ) dengan iQ 50-75 atau 75.
3. tunagrahita mampu latih (trainabie mentally retarded ) lQ 30 50 atau iQ 35-55.
4. 4.tunagrahita butuh rawat (dependent or protoundly mentally retarded )
Dengan lQ dibawah25 atau 30

Nah, berdasarkan teori yang relatif sama dengan keterangan di atas, ada seorang anak yang setelah diasses IQnya 40, saya sarankan untuk mendapatkan pengetahuan yang bertujuan untuk mengurus diri sendiri. Namun para motivator yang terdiri dari guru dan orangtua menyatakan optimisme mereka bahwa pasti anak ini bisa belajar. “Dia tuh bisa bu, cuman males aja”. Begitu kata mereka. Dan meskipun saya sudah mencoba mendengarkan, berupaya menampilkan data-data yang menunjukkan bahwa anak ini memiliki keterbatasan bl..bla..bla..  di lain sisi ia punya kelebihan bla..bla..bla.. yang bisa dikembangkan (dan itu bukan di area akademik)… dengan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan terhadap anak lainnya….. Beragam teknik konseling yang saya gunakan mental, para motivator itu tetap berkeras memberikan pengajaran yang sesuai dengan umur si anak. Maka, di sekolah yang menyebut dirinya sekolah inklusi itu pun, si anak ini tetap naik kelas. Teruuuuus…sampai dengan ia berada di kelas 3 SMP. Di kelas ini, mereka minta saya asesmen kembali. Saya sediiiiiiih sekali.. Anak ini, bertahun-tahun diajarkan di kelas,  belum juga hafal huruf a sampai z dengan benar. Meunlis juga masih terbalik-balik. Sebaliknya, saat ia haid, ia belum tau bagaimana cara mengurus dirinya. Ia masih sering “kabur” dari lingkungan rumah dan sekolah. Duh….duh…duh…

Bandingkan dengan anak kedua. Sama-sama perempuan. sama-sama berIQ yang tergolong “trainable MR”. Hanya si ibu, ketika mendapatkan informasi tersebut, langsung bisa menerima. Ia pun menjadi paham kenapa anak ini, seluruh tahap perkembangannya jauh lebih lambat dibanding anak lain seusianya, dan mengapa walaupun dengan beragam cara ia mengajarkan pelajaran pada si anak, si anak susah mengerti. Maka, si ibu pun mencari beragam informasi. Sampai ia menemukan sebuah sekolah khusus untuk anak tunagrahita. SLB. Ibu itu mengatakan; “Jujur saya sebenarnya malu bu, kalau ditanya orang, anaknya sekolah di SLB. Tapi saya lihat dan saya pikir, ini sekolah terbaik untuk anak saya”. DAn, si anak pun sekolah di sana. Dengan sistem pendidikan dan guru-guru yang paham betul akan keunikannya. Di sana, ia belajar warna. Tapi tujuannya untuk memberikan pemahaman bahwa kalau ia lihat tanda berwarna merah, itu berarti bahaya. Diajarkan beragam simbol, untuk memahami tanda-tanda yang akan ia lihat dalam kehidupan di kesehariannya. Ia tau kalau lampu merah mobil berhenti, dimana ia harus menyebrang, ia dikenalkan dengan orang-orang yang harus ia mintai bantuan saat tersesat; misalnya satpam dan polisi, ia juga diajarkan mengenai identitasnya, agar kalau tersesat orang bisa membantunya…ia juga diajarkan untuk mengurus dirinya. Makan sendiri, mandi sendiri, berkomunikasi non verbal, tau apa yang harus ia lakukan saat haid…..Cukup. Memang hal-hal itulah yang ia perlukan.

Ia tidak bisa membaca banyak, tak bisa memahami banyak. Tapi ia memahami semua yang ia butuhkan untuk menjaga dirinya. Yups, itulah menurut saya makna dari “optimalisasi potensi”. Memaksimalkan apa yang sudah Allah berikan, untuk mencapai yang terbaik yang ia bisa, sesuai kemampuannya.

Maka, sekali lagi saya menyatakan bahwa saya bukan motivator. Saya tidak akan selalu mengatakan pada semua orang bahwa “ANDA BISA”, “ANAK ANDA PASTI BISA”. Tapi saya akan mengatakan, “APA YANG BISA, DAN APA YANG TIDAK BISA” dilakukan/dicapai. Plus pendekatan yang paling tepat sesuai dengan keunikan anak.

Tanpa mengurangi rasa empati pada ayah-ibu yang harus menghadapi kenyataan bahwa anak-anaknya “tak seperti anak lainnya”. Saya paham, mengatakan bahwa anak kita yang “memiliki kebutuhan khusus” sekolah di tempat yang sama dengan anak lain, di kelas yang sama dengan anak seusianya, itu jauh lebih melegakan dibandingkan mengatakan bahwa anak kita sekolah di sekolah khusus.Tapi saya ingin mengatakan bahwa…”Allah menciptakan mereka dengan kondisi terbaik. Bukan bahwa mereka bisa melakukan dan mencapai semuanya, tapi karena mereka bisa menjadi yang terbaik, sesuai dengan kondisi mereka”.

 

 

 

 

Ingin Jadi Ayah Hebat? Cermati Hal-Hal Berikut…..

Sejak 30 tahun yang lalu, di negara-negara barat sono, para peneliti mulai tertarik untuk meneliti subjek baru dalam konteks pengasuhan anak, yaitu : ayah. Ada dua hal yang mendasari mengapa seorang ayah kini juga disorot. Dua hal tersebut adalah:

(1)  Adanya trend peningkatan jumlah ibu yang bekerja. Di  Amerika, didapatkan data bahwa pada tahun 1950, hanya 12% ibu yang memiliki anak prasekolah yang bekerja. Di tahun 1983 meningkat menjadi 50% dan di tahun 1997, jumlah ibu bekerja dengan anak usia prasekolah adalah 2/3nya (Bureau of Labor Statistic, 1986, 1997). Bekerjanya ibu di luar rumah tidak diimbangi oleh adanya fasilitas pengasuhan anak, sehingga mau tidak mau kemudian ayah dituntut untuk lebih terlibat dalam pengasuhan anak.

(2)  Perkembangan sosial lain yang membuat keberadaan ayah bagi anak-anaknya menjadi sorotan adalah semakin banyaknya keluarga yang tanpa ayah. Data di Amerika menunjukkan bahwa pada tahun 1997, 24% anak tinggal hanya bersama ibunya. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada dampak pada anak sebagai akibat dari ketidakhadiran ayah mereka?

Di Indonesia, saya belum berhasil menemukan data yang komprehensif untuk menggambarkan apakah jumlah ibu bekerja juga menjadi bertambah. Demikian juga mengenai gambaran poin yang kedua (apakah ada yang bisa memberikan info, kira2 data itu bisa saya dapat dari mana? maklum saya mah kuper 😉 Namun dari pengamatan, tampaknya dua fenomena diatas mulai terlihat juga di Indonesia.

Selama 30 tahun tersebut, banyak hasil telah didapat. Telah ada model yang komprehensif mengenai “fatherhood” dan “fathering” . Model psikologis, sosiologis, antropologis, ekonomis, dan model yang interdisipliner.  Salah satu yang sering dipublikasikan adalah mengenai “dampak keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak”. Intinya adalah; keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak berdampak positif pada anak di usia manapun, baik itu pada aspek kognitif (kemampuan problem solving, prestasi akademik, dll dll), emosi (regulasi, awarenes, dll dll) dan sosial (kepercayaan diri, kepekaan, dll dll). Dengan hasil-hasil tersebut, maka gambaran ayah yang “baik” sekarang bergeser ke konsep ayah yang lebih “hangat” dan “afektif” pada anak-anaknya.

Itu di negara2 “western” sonoh. Di Asia, pada International Conference on Fatherhood in 21st Century Asia: Research, Interventions, and Policies di Singapura 3 tahun lalu, disimpulkan bahwa para ayah di Asia masih “tertinggal jauh” dalam kegiatan melibatkan diri dalam pengasuhan anak.

Saya sendiri, meskipun penelitian di Indonesia mengenai dampak keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak belum banyak yang melakukan, tapi  saya meyakini bahwa ayah, memang harus terlibat dalam pengasuhan anak. Tidak saja efeknya buat anak, tapi juga buat si ayah sendiri. Seorang rekan senior saya pernah menyatakan bahwa ia mengkondisikan hubungan yang “romantis” antara ayah dan anak-anaknya. Saya masih ingat kata-kata beliau: “sejelek-jeleknya ibu, dia tuh pasti dicari sama anak, dibutuhkan oleh anak. Tapi ayah? kalau dia tak meng-eksis-kan dirinya buat anak-anaknya, tak akan ada “jejak”nya dalam kehidupan anak”….

Yups…yups…saya meyakini bahwa peng-alam-an dan penghayatan “keayahan” itu, adalah “sesuatu” buat si ayah. Jadi, buat ibu-ibu….memang harus mendorong dan mengkondisikan agar ayah mau melibatkan diri dalam kehidupan putera-puterinya.

Berikut adalah faktor-faktor yang bisa menjadi pendorong, namun juga bisa jadi penghambat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak:

(1)    Kesehatan mental ayah

Ayah yang “sehat mental” akan jauuuuh lebih berkualitas dalam hubungan dengan anak-anaknya dibandingkan ayah-ayah yang kurang sehat mental; misalnya memiliki adiksi tertentu, atau emosinya sangat labil, dll.

(2)    Harapan mengenai peran keayahan

Sikap ayah terhadap perannya sebagai ayah memprediksi kualitas hubungan dan ikatan emosi dengan anak  pada usia anak 12 bulan . Positif parenting ayah juga berkorelasi kuat dengan apakah kehamilannya diharapkan atau tidak. Ada banyak penelitian juga yang mengkaji bagaimana para pria itu “bertransisi” menjadi seorang “Ayah” baik dalam kognisi maupun emosi. Seruuuu deh penelitian-penelitiannya teh. Intinya, menurut saya sih…seperti juga seorang ibu yang melakukan upaya “menyiapkan diri” untuk menjadi seorang ibu yang baik, harus ada awareness juga pada seorang pria ketika  statusnya berubah menjadi “ayah”.

(3)    Hubungan dengan ibu 

Ayah yang memiliki hubungan yang positif dengan ibu akan lebih terlibat dengan kehidupan anak.  Penelitian juga menunjukkan bahwa ibu yang memiliki keyakinan  bahwa ayah tidak akan mampu dan kurang pantas melakukan kegiatan domestik dan pengasuhan anak akan menghambat keterlibatan ayah untuk terlibat dengan anak-anaknya. Pandangan ibu mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan kepuasan  karena ayah terlibat dalam pengasuhan anak memprediksi frekuensi dari keterlibatan ayah. Jadi, kalau si ayah enggan untuk “dekat” dengan anak-anaknya, mungkin perlu dilihat bagaimana hubungan si ayah dengan ibu. Poin kedua adalah, seringkali justri ibu yang menjadi “gatekeeper”, menghalangi keterlibatan si ayah dengan beragam alasannya.

(4)    Keluarga asal ayah

Hubungan ayah dengan anggota keluarganya maupun teman-temannya juga merupakan faktor penting . Laki-laki yang menerima lebih banyak dukungan emosional dari tempat kerja dan keluarga asalnya memiliki anak yang lebih merasa “aman”. Ingatan ayah mengenai pengalaman masa kecilnya juga mempengaruhi keterlibatan mereka dengan anak-anak mereka. Tapi, ini bukan berarti bahwa seorang laki-laki yang tidak memiliki pengalaman positif dengan ayah menjelma menjadi seperti ayahnya itu. Ingat….ingat…manusia punnya satu hal yang tak dimiliki makhluk lain, yaitu : BELAJAR !

(5)    Latar belakang dan faktor kontekstual

Status sosial ekonomi ayah jelas mempengaruhi  hubungannya dengan istri maupun anaknya. Ayah yang memiliki tingkat pendidikan tinggi lebih sering bermain dengan anaknya dibandingkan ayah-ayah yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah . Pencapaian akademis ayah berkorelasi dengan jumlah waktu yang diberikan ayah untuk melakukan pengasuhan.

(6)    Karakteristik anak

Semua hubungan sosial antara ayah dengan anak adalah proses yang sifatnya transaksional. Keterlibatan ayah dengan anaknya akan dipengaruhi oleh karakteristik anak, respons serta perilaku anak akan dipengaruhi oleh karakteristik dan perilaku ayah.

(7)    Kebijakan publik

Kebijakan publik berdampak pada jumlah, frekuensi, dan jenis keterlibatan ayah. Misalnya: jam kerja ayah, jenis dan tempat kerja ayah.

Nah… faktor-faktor diatas memang hasil penelitian dalam konteks kondisi ayah di “western” sono. Bagaimana dengan di Indonesia? Itulah yang sedang coba saya pahami. Harus dimulai dari persepsi mengenai konsep “ayah” dalam kultur kita. Itulah yang berusaha saya “garap” dalam roadmap penelitian saya. Sudah ada beberapa hasil, misalnya …konsep ayah dan penghayatan peran ayah bagi orang di desa dan di kota beda loh…. lalu jenis aktifitas yang dilakukan ayah yang berasal dari suku tertentu, ternyata berbeda dengan ayah dari suku lainnya….penelitian lainnya sedang berjalan dan sedang direncanakan. Moga2 beberapa tahun ke depan sudah ada model yang fit mengenai fatherhood di Indonesia.

Yang jelas, pengetahuan mengenai  peran ayah dalam pengasuhan anak  buat saya pribadi, “ultimate goal”nya adalah…“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Annisa:9). Apalagi menurut seorang ustadz, tokoh pengasuhan anak yang diungkap dalam AlQur’an adalah seorang ayah, yaitu Lukman.

A man may biologically father a child, but that does not guarantee that he will be a father

Menjadi ayah yang hebat hanya membutuhkan satu syarat, yaitu: MAU !!!

 

Anak-Anak UTS, Emak-Emak Ngapain???

Buat sebagian emak-emak yang punya anak usia SD, minggu ini adalah minggu UTS.

Nah, apa yang biasanya emak-emak lakukan dalam situasi ini?

Ada emak tipe 1. Yaitu emak yang  “tidak ikut campur” dengan situasi ini, dengan beragam alasannya. Emak tipe 1 ini terbagi menjadi dua, yaitu tipe emak 1a dan 1b (wkwkwk…ngarang pisaaaan…). Emak tipe 1a, kalau udah ada hasil nilai ulangan anaknya, gak terlalu peduli sama nilainya. Emak tipe 1b, sangat concern sama nilai anaknya.

Ada emak tipe 2. Yaitu emak yang “ikut campur” dengan situasi ini, juga dengan beragam alasannya. Emak tipe 2 ini juga terbagi dua (biar adil dooong;). Emak tipe 2a, sama dengan emak tipe 1a, gak terlalu peduli sama nilai anaknya. Emak tipe 2b juga nyontek emak tipe 1b, yang sangat concern sama nilai ulangan anak-anaknya.

Silahkan dipilih…dipilih…dipilih… tipe emak manakah anda?

Tapi kalau saya sih….lebih setuju sama tipe emak yang kedua. Untuk anak usia SD, menurut saya sih… si emak perlu “ikut campur” sama kegiatan belajar anak di rumah. Sebenarnya sih, gak cuman pas ulangan atau ujian aja… tapi saat hari-hari biasa juga.

Kenapa? pengen nilai ujian anaknya bagus? biar dapet renking? yups….gak salah kan, keinginan itu? masa pengen anaknya pinter gak boleh….Tapi selain tujuan akademik itu, ada tujuan lain yang jauuuuuuuuh lebih penting. Tujuan lain inilah yang menurut saya membuat “campur tangan si emak dalam kegiatan belajar anak di rumah”  menjadi wajib.

Tujuan-tujuan tersebut adalah:

(1) Membantu anak memahami materi pelajaran.

Sudah bukan rahasia lagi kalau pelajaran yang harus diserap oleh anak-anak Indonesia, bujubune… Baik dari segi jumlah maupun kepadatan kurikulum. Totally inhuman pokoknya mah …. Yang kerasa banget adalah materi pelajaran anak mulai kelas 4. Engga percaya? Coba buka buku pegangan IPA kelas 4 SD. Di semester awal ada pelajaran “Kerangka Manusia” dan “Panca Indra”. Itu ya, materinya mengenai anatomis rangka tubuh manusia dan panca indra lengkap ! ada beragam nama tulang, sendi (engsel, pelana, putar, peluru, dll dll), lalu saluran eustachius, tulang sanggurdi, lapisan dermis, epidermis, bla..bla..bla..Seorang teman yang dokter berseloroh mengatakan bahwa materi itu sama dengan materi Anatomi 1 waktu dia kuliah di FK… ;( Tapi yang jelas, ibu inget banget materi itu dipelajari di kuliah Faal semester 1 !

Mau contoh materi pelajaran yang lebih “ajaib”? tengoklah buku pelajaran PKNnya. Judul buku yang dipake Azka adalah “Fun Learning Civic Education”. Isinya? kagak ada fun-fun nya sedikit pun!” Materi di semester 1 dan sampai UTS semester 2 ini adalah: Sistem Pemerintahan Desa dan Kecamatan; Sistem Pemerintahan Kabupaten, Kota dan Provinsi; Sistem Pemerintahan Tingkat Pusat, Globalisasi. Isinya apaan? Ibu kasih gambaran dari pertanyaan latihannya aja ya….

Apa yang dimaksud otonomi daerah? Tuliskan perbedaan antara pemerintah desa dan kelurahan! Apa fungsi BPD? Uraikan hak yang dimiliki oleh DPRD ! Apa yang dimaksud lembaga eksekutif? Siapakah yang berwenang memutus pembubaran partai politik? Uraikan kewenangan presiden di bidang kehakiman ! gambarkan susunan pemerintahan pusat sebelum dan sesudah amandemen UUD 45 !

Hayo….pada bisa jawab gak? Baca soal-soal di atas, saya mah pengen nangis da.. sumpah ! Saya sering merenung… pernah gak ya, terlintas dalam pikiran si penyusun kurikulum itu, dan si pembuat buku itu… apakah anak-anak usia 9-10 tahun itu mengerti apa yang dimaksud “dewan”, “komisi”, “sistem”, “pemerintahan”, “amnesti”, “partai”, “politik”, “undang-undang”…. Apakah mereka pernah berpikir…”apa sih perlunya materi ini untuk anak usia 9-10 tahun?”….Padahal, dalam sebuah kesempatan diundang oleh DIKTI di sebuah acara, saya baru tau bahwa proses acc isi sebuah buku itu mengalami proses yang cukup panjang. Ada reviewer dari pihak Diknas. Tapi, kenapa oh kenapa….

Sayangnya, saya gak punya cukup uang untuk pindah ke luar negeri agar anak-anak saya mendapatkan pendidikan dengan kurikulum yang lebih “manusiawi”. Dan karena bertahun-tahun pengalaman saya menunjukkan bahwa…mengeluh, tak menghasilkan apapun….maka, selain berdoa agar para pembuat kurikulum diberi “hidayah” untuk mau lebih menghayati cara pikir anak dan menghayati manfaat dari materi yang diberikan, sekarang marilah kita pokus (siapa bilang orang sunda gak bisa ef? itu pitnah 😉 pada solusinya. Solusi = sikap kita pada anak.

Menurut saya, yang bisa kita lakukan adalah :

  • Membuat anak memahami materinya, dengan menjelaskan secara konkrit dan dengan cara yang lebih dipahami anak. Waktu saya tanya apakah Kaka Azka ngerti apa sih DPR itu; legislatif, yudikatif dan eksekutif itu apa? mahkamah agung itu apa….dengan tegas Kaka Azka menjawab “GAK NGERTI !!!!”. Maka, saya coba menjelaskan dengan level pemahamannya. Misal saya jelaskan DPR sebagai berikut. “Misalnya Bu Yeni (kepala sekolah Azka) mau merubah seragam di SD Kaka. Kalau nanya satu-satu setiap murid kan…lama banget… Oleh karena itu, Bu Yeni minta aja setiap kelas ada yang mewakili, satu orang. Kelas 1a siapa, 1b siapa, 1c siapa, 2a siapa…jadi cuman ada 18 orang. Nah, ibu Yeni nanya ke 18 anak itu aja. Si 18 anak itu, jawabannya adalah hasil  nanya teman-teman sekelasnya. Perkumpulan 18 orang itu namanya DPR. Perwakilan itu namanya partai”. (hehe..ngaco gak ya….gak apa-apa lah…yang penting saya cukup puas mendengar Azka ber “oooooo” ria). Begitu pula waktu saya coba jelaskan tentang legislatip, yudikatip dan eksekutip, makhamah agung, komiten yudisial dll dll.  Yah..minimal lah, upaya itu membuat kata-kata “ajaib” di bukunya menjadi bermakna buat Azka. Karena kalau tidak, gak kebayang gimana prustrasi-nya harus memahami kata-kata yang she has no idea what the hell is it… kayak ngapalin “nonsense sillabus” aja…
  • Harus memahami istilah-istilah ajaib yang tak ada kaitannya dengan kehidupannya, pasti sangat membuat prustrasi, bukan? Lha wong walaupun Azka yang super rajin udah belajar berhari-hari, di pelajaran PKN itulah pertama kalinya dia mengalami remedial, karena nilainya 63 ! Meskipun cuman dua orang temannya yang tidak diremedial (itu pun nilainya mepet KKM, yaitu 75 dan 76), tetep we dia nangis.  Di situlah peran kita sebagai emak meng-encourage-nya. Saat itu, saya cuman bilang: “Kaka, pelajaran ini susah banget. Buat ibu pun susah. Apalagi buat Kaka. Tapi Kaka tetep harus berusaha, ibu coba bantu. Tapi kalau Kaka tetep gak bisa dan nilainya tetep jelek, engga apa-apa. Itu bukan salah Kaka”.

(2) Mengajarkan keterampilan berpikir pada anak. Karena pembahasan poin 1 sangatlah panjang (soalnya sambil curhat tea wkwkwkw), maka sayah mengingatkan bahwa poin-poin ini bicara mengenai “Kenapa emak harus menamani anak belajar”. Ada sekelompok emak nun jauh disana, yang selalu memakai jurus “menasehati” saat nilai anaknya jelek. “Makanya, belajarnya yang bener dong”…”Masa gitu aja dibilang susah?” bari jeung tara ngajarkeun gimana cara mengatasi kesulitan yang dihadapi anak. Tau gak bapak ibu….banyaaaaak hal yang buat kita sebagai orang dewasa dan lulusan unipersitas itu adalah hal gampang, buat anak SD mah susyahnya minta ampun. Contoh konkrit? menstabilo-in informasi penting dalam sebuah materi bacaan, ternyata harus diajarkan loh…. Itu teh kan abstrak banget. Anak harus menangkap inti gagasan ssuatu paragraf ! jangankan anak SD, mahasiswa ge gak semua bisa….Tapi itu skill yang harus diajarkan. Juga keterampilan berpikir lainnya. Bikin pointer, bikin mindmap….itu teh harus diajarkan !! bertahap… !!! Demikian pula saat anak menghadapi soal cerita, misalnya… Kita ajarkan gimana step nya. Sekarang ibu lagi berupaya mengajarkan bagaimana Azka memahami operasi bilangan yang melibatkan angka positif negatif. Pfuih ….

(3) Mengajarkan “metacognition” pada anak. Metakognisi, secara lebih sederhana adalah mengajarkan anak “memahami caranya berpikir”. Caranya? sederhana…. kita bisa berikan umpan balik mengenai cara belajarnya. Misalnya, bahwa ia biasanya ceroboh saat menghadapi soal yang mudah, bahwa ia mudah merasa putus asa saat menghadapi soal yang sulit… Lalu kita ajarkan teknik untuk mengatasinya. Misalnya untuk soal ceroboh, kita minta anak untuk selalu mengecek ulang pengerjaannya. Ibu selalu berpesan: cek dua kali lagi ya, kalau sudah selesai. Lalu saat menghadapi soal yang sulit…kita bisa kasih tau kalau anak suka merasa “susah” duluan sebelum mencoba, dll…

Nah… finally….kata temen saya yang bikin penelitian tentang self esteem pada anak, mendampingi anak saat belajar bisa meningkatkan self esteem anak, karena anak merasa “dipedulikan”.

Mendampingi anak menghadapi kesulitan, membantu mencarikan solusi dan membangun keterampilan menghadapi persoalan, lalu meyakinkan kalau udah berusaha maksimal, nilai berapapun tak jadi soal… itu yang jadi pilihan saya dan inginnya selalu bisa saya usahakan… maka, saya memilih jadi ibu tipe 2a hehe…