Internet dan Anak : Steril ? atau SMART ?

Internet seakan telah menjadi oksigen dalam kehidupan sehari-hari kita. Tak hanya selalu ada di sekitar kita, tapi juga memang kita butuhkan. Sekarang ini, mana tahan hidup sehariiiii aja tanpa internet. Ada yang perlu untuk kirim imel bisnis yang harganya ratusan juta, ada yang butuh internet untuk mencari referensi ilmiah yang sangat signifikan untuk kualitas penelitiannya, ada yang menderita kalau gak ada internet karena gak bisa apdet status haha….

Tak hanya pada orang dewasa, paparan internet terhadap anak-anak kita pun tampaknya semakin sulit untuk dihindari. Ada warnet, bb, ipad, wifi di banyak tempat…itulah realitanya sekarang. Apalagi di kota besar. Apalagi di Bandung.

Internet memiliki karekteristik:

  • Borderlessness
  • Geographical Independence
  • Limited language
  • One to many
  • Low Treshold information distribution
  • Widely Used
  • Portability
  • Lack Of Reliable Geographical Identifiers
  • Reactive Nature
  • Lack Of Central Control
  • Convergence
  • Ubiquitus
  • Anonimity

Karakteristik-karakteristik di atas bagaikan mata pisau yang bisa menguntungkan, namun bisa juga merugikan. Yang menguntungkannya…udah gak usah dibahas lah ya…seribu satu manfaat yang didapat dari internet. Nah, yang seru bahas yang merugikannya nih…bisa dilihat dari data berikut ini:

  • Rata-rata anak berkenalan dengan internet pornografi berumur 11 tahun. Namun konsumen terbesar pada anak yang berumur 12-17 tahun. Penelitian di Jadebotabek menyebutkan 85 % anak berusia 9-15 tahun telah mengakses pornografi di internet.
  • Penelitian KPAI terhadap 2500 responden anak SMP dan SMU di 12 kota besar—97 % mereka mengakses pornografi.
  • 90% anak berusia 8-16 tahun mengakses pornografi ketika mengerjakan Pekerjaan Rumah.
  • Situs pornografi terhubung ke nama-nama tokoh idola anak-anak—sekitar 26 nama karakter, misalnya Naruto, Pokemon, Spidermen dll.

Serem ya…..jadi…. kita sterilisasi aja gituh, anak-anak kita dari makhluk yang namanya internet itu?

Tanpa mengurangi rasa hormat pada yang berpendapat demikian, saya tidak setuju untuk mensterilisasi anak-anak kita dari internet. Jujur saja, saya dapat segambreng manfaat dari internet. Yang terasa sekali akhir-akhir ini adalah untuk membantu belajarnya Azka. Sebagai emak yang banyak urusan, mengajarkan Azka untuk mencari jawaban PR-PR rumitnya di google amat sangat membantu. Sehingga ketika ibu sampai di rumah, PRnya sudah beres dan ibu punya waktu untuk kegiatan yang sifatnya lebih “afektif”. Demikian juga mendampingi belajar amat sangat terbantu oleh Mas Youtube. Gempa tektonik itu kayak gimana sih? tingal klik aja di youtube. Beragam kegiatan edukatif buat Hana pun bisa didapat dari situs-situs edukasi semisal cbeebies, disney junior, dll.

Tentu, tentu saja harus kita waspadai efek negatifnya. Konon katanya ada 3 Cara bagaimana kita sebagai orangtua dalam mengawasi agar anak mengakses internet secara sehat

1) Ikut terlibat dalam kegiatan online anak. Check aplikasi apa yang digunakan anak, ikut lihat kontennya, kenalkan dengan hal-hal yang “berbahaya” di internet

2)Dorong anak untuk menggunakan internet secara seimbang dengan kegiatan offline. Teknisnya….. (ini sederhana tapi penting banget)… jangan simpan koputer/laptop di kamar anak. Simpanlah di ruang keluarga. Arahkan anak kita menggunakan internet untuk membantu kegiatan akademiknya atau untuk penelusuran hobi.

3)Gunakan beberapa aplikasi untuk “menyaring” informasi negatif dari internet. Misalnya menggunakan parental lock, dll.

Tentunya kita tak selamanya ada bersama anak saat mereka mengakses internet. Apalagi anak remaja. Oleh karena itu, perlu juga mengajarkan anak untuk SMART dalam menggunakan internet.

  • SECRET : Bersikap hati-hati dan tidak memberikan informasi-informasi yang pribadi ketika berinteraksi di internet.
  • MEETING :Bertemu langsung dengan seseorang yang dikenal dari internet adalah berbahaya kecuali didampingi orang tua.
  • ATTACHMENTS : Menerima atau membuka e-mail dari orang yang belum dikenal dapat berbahaya sebab mungkin berisi virus atau kata-kata SARA.
  • RELIABLE :Semua orang dapat menaruh konten apapun yang disukai di internet dan mungkin sekali seseorang berbohong dalam chat rooms.
  • TELL :Katakan pada orang tua atau guru jika seseorang atau sesuatu membuatmu kuatir dan tidak nyaman.

Jadi, saya pilih SMART dibanding STERIL.

Advertisements

Mengajarkan Problem Solving pada Si Lebay

Minggu lalu Umar pergi ke sekolah dengan cucuran air mata dan terisak-isak. Salah satu LKS yang diberikan gurunya seminggu lalu terselip entah dimana. “Enggak mau sekolah”….katanya sambil terisak dan memeluk ibu. mmmmmhhhh…

Umar pergi sekolah dengan terisak atau air mata menggenang di matanya bukan terjadi kali ini saja. Alasannya beragam. Yang ibu ingat, misalnya dasinya gak ketemu. Atau waktu tasnya dicuci karena ada buah busuk dan ia harus pake tasnya waktu TK.

Meskipun memang membutuhkan energi psikis, namun saya berupaya memotivasi diri sendiri untuk memanfaatkan situasi saat anak-anak  mengalami “masalah” untuk mengajarkan bagaimana caranya mengatasi masalah tersebut. Azka juga dulu seperti itu. Malah lebih heboh kalau nangis….tapi seiring dengan waktu, kini saya sudah lepas tangan. Saat mengalami masalah, dia sudah bisa menyelesaikannya sendiri. Paling dia minta dukungan atau minta pendapat saya. Sebagai emak yang harus membagi waktunya dengan segala macam urusan, tentulah saya sangat senang dengan hal ini 😉

Kemampuan problem solving merupakan kemampuan yang sangat penting dimiliki oleh siapapun, termasuk anak kita. Konon, banyak hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun diri orang lain bisa terjadi saat seseorang tidak mampu menyelesaikan persoalan yang ia hadapi. Akhir-akhir ini kita dibuat tercengang dengan banyaknya kejadian ‘sepele’ yang penyelesaian masalahnya begitu dramatis. Anak membunuh ibu karena  tak dibelikan motor yang ia inginkan, anak gantung diri karena malu diejek temannya, anak membunuh temannya dengan sadis hanya karena pertengkaran kecil, suami membakar istri karena cemburu….naudzubillahi min dzalik… semoga kejadian-kejadian tersebut tak pernah terjadi pada kita, keluarga  atau pada teman-teman kita.

Kemampuan problem solving memang merupakan ‘higher order thinking skill’ atau kemampuan berpikir level tinggi. Artinya, ia mempersyaratkan kemampuan intelektual yang cukup kompleks. Namun, apakah artinya orang yang pinter selalu punya kemampuan problem solving yang baik? Ternyata tidak. Kalau tidak percaya, lihat aja sekitar kita. Ada orang-orang bertitel akademik tinggi namun tak berdaya membuat prioritas yang tepat dalam hidupnya,misalnya…. dan banyak contoh lainnya. Yups..yups… kemampuan problem solving ternyata juga terkait dengan kematangan emosi seseorang loh…. Jadi, kalau pengelolaan emosi seseorang tak matang, bisa melumpuhkan kekuatan rasionya. Contohnya. Seseorang yang impulsif dan tak bisa menahan keinginannya untuk membeli barang-barang bermerk…bisa jadi keinginan yang tak terkelola itu melumpuhkan daya pikirnya untuk menentukan prioritas pengelolaan keuangannya.

Mengingat pentingnya kemampuan ini… kapan sih kita harus mulai mengenalkan dan mengajarkan kemampuan problem solving pada anak-anak kita? Secara psikobiologis, memang kemampuan problem solving pada individu berkembang seiring perkembangan sang CEO otak, yaitu prefrontal korteks. Dan kematangan otak bagian ini konon belum sepenuhnya matang sampai usia 25 tahun. Apakah itu artinya kita baru perlu mengajarkan kemampuan problem solving saat si prefrontal cortex sudah matang? Hohoho… tentu tidak. Kenyataannya, selain prinsip nature-nurture, masalah yang dihadapi oleh anak kita juga tak menunggu sampai usia 25 tahun.

Apa yang harus diajarkan pada anak mengenai problem solving? menurut pengalaman saya, pada tahap awal kita ajarkan 2 prinsip mengatasi masalah. Yaitu (1) problem focused coping dan (2) emotion focused coping.

Problem focused coping adalah cara menyelesaikan masalah dengan mengubah situasi. Kita gunakan cara ini saat kita menghadapi persoalan yang memang situasinya bisa kita ubah. Artinya, bisa kita selesaikan masalahnya. Misal: kayak kasus Umar kemaren. LKSnya ilang….saya bantu cari di seantero rumah. Lalu setelah gak ketemu, saya bantu tlp gurunya, minta LKS yang baru. Itu akhirnya yang membuat dia mau sekolah walaupun masih terus terisak…

Emotion focused coping adalah cara menyelesaikan masalah dengan mengubah emosi kita. Kita gunakan cara ini saat kita menghadapi persoalan yang situasinya gak bisa kita ubah, di luar kontrol kita. Misalnya, waktu awal sekolah Umar pengen “pindah sekolah” karena temen-temennya ngejek dia karena gak bisa bilang “r”. Itu adalah situasi yang uncheangable. Makanya saya bantu dia untuk mengubah perasaannya, da saya gak tau gimana caranya membuat dia bisa bilang “r”, dan juga gak bisa minta temen2nya gak mengejek dia.

Menurut saya, prinsip dasar pemecahan masalah tersebut sangat penting untuk dikenalkan pada anak. Karena, kadang kita sebagai orang dewasa pun suka “lupa” dengan prinsip ini. Ada situasi yang changeable, kita malah mengubah emosi kita…itu membuat kita jadi “cemen” hehe…gak mau berusaha…prefrontal cortexnya gak terasah. Atau sebaliknya. Permasalahan yang uncheangable, kita paksain untuk ubah situasinya… jadi we prustrasi…

Bisa gitu anak paham? bisa……yakinlah….hehe…Sekali lagi, memang sih…membutuhkan kesabaran…karena biasanya anak-anak, kalau mengalami masalah langsung lebay….alias nangis…heboh….(hehe…jangan2 gak semua anak ya, cuman anak sayah doang….). Dan kalau Umar karena lebay suka mendramatisir. Misalnya….dalam kasus LKS tadi….saya bilang “yuk kita cari”…dia jawab “kalau gak ketemu gimana”…. tentu sambil nangis…..Saya jawab “kita coba dulu aja, nanti kalau gak ketemu, kita akan telpon bu guru”….dia pun semakin keras menangis….”gimana kalau bu guru gak mau ngasih lagi, terus mas Umar nilainya nol” cenah…. Pasti situasi ini terkadang membuat kita agak “tersulut” bukan? hehe..manusiawi….itu saatnya tarik nafas….tahan….buang nafas….relaksasi 😉

Dengan pengalaman 3 anak, biasanya..kalau dalam situasi gituh, saya suka peluk dulu…sampai nangisnya brenti. Nah, kalau lebaynya udah abis, baru saya tanya masalahnya…..Lalu saya bantu mencari jalan keluarnya. Nah, disini caya bantu anak memahami situasi, apakah bisa diubah atau engga. Tentu dengan bahasa anak-anak ya … hehe…

Untuk emotion focused coping, untuk memahamkan bahwa situasinya gak bisa diubah dan mau gak mau yang harus diubah adalah perasaan kita, saya biasanya nanya apakah anak punya alternatif lain atau engga. Lalu saya berikan beberapa alternatif yang nantinya akan mentok. Misalnya kasus Umar yang diejek karen gak bisa bilang “r”, saya bilang…”gimana ya, ibu gak tau gimana caranya mas Umar bisa bilang “r” biar gak diejek…atau ibu harus ke sekolah? bilang ke temen-temen mas Umar untuk gak ngejek?” (dia bilang “jangan”). “Ibu bisa sih, pindahin sekolah mas Umar…tapi kalau nanti di sekolah baru ada yang ngejek lagi, nanti mas Umar pindah lagi?” dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, secara konkrit dia sadar situasinya gak bisa diubah. Barulah saya tekankan untuk mengubah perasaannya. Lalu dibantu gimana caranya…

Begitupun dengan problem focused coping. Ibu bilang “gimana kalau gini…terus kalau gak berhasil gini…terus gini….”. Dan, untuk mengeksekusi alternatif-alternatif itu, kita harus bantu ! itu penting banget agar ia merasa “tidak sendirian”. Menurut penghayatan saya, perasaan “i’m not alone” ini merupakan satu aspek yang menjadi dasar bagi seorang individu untuk survive. Jangan kaget kalau mendengar kata “aku pengen bunuh diri aja” dari seseorang yang merasa “sendirian”.

Sejauh ini, tenik2 tersebut berhasil meningkatkan kemampuan problem solving pada azka, umar dan hana…..step by step

Satu hal yang perlu dicatat dan digarsi bawahi….jangan take over masalah anak. Jangan selesaikan masalah anak oleh kita. Dampingi dan bantu saja. Sejauh mana bantuannya, sesuai dengan kondisi anak. Tapi sekali lagi… jangan take over masalah anak….. karema kalau itu dilakukan, kita hanya membuat anak kita menjadi individu 2L : Lebay dan Letoy hehe….

Setara

Saya meyakini, bahwa dalam hubungan suami istri, posisi suami dan istri haruslah setara. Itu kunci kebahagiaan rumah tangga. Waduuh !! feminis !!! sekuler !!! haha…tunggu dulu…. Apakah setara itu berarti istri harus bekerja, memiliki penghasilan sendiri? hhmmm…kalau dimaknai demikian, berarti pemahamannya masih dalam tahap konkrit operasional haha…. (nyatut istilah om Piaget).

Jadi, maksudnya setara itu apa dong? menurut saya, setara itu adalah suatu konsep yang memandang bahwa pasangan kita adalah manusia. Yang memiliki harapan, cita-cita, perasaan, penghayatan, dan atribut-atribut kemanusiaan lain yang harus dipedulikan. Abstrak. Baiklah…. meskipun saya ngefans berat sama kang Jalal, tapi memang saya masih sekedar cita-cita untuk bisa mengikuti kemampuan beliau dalam menjelaskan suatu konsep abstrak menjadi sesuatu yang sangat ringan dan mudah dipahami 😉

Ijinkan saya mengungkap satu kisah nyata dimana dari kisah tersebut saya belajar banyak mengenai makna “setara”.

Saya punya seorang asisten-sopir yang amat membantu mobilitas saya dan anak-anak. Saya dan mas memanggilnya Pak Ayi, anak-anak memanggilnya Om Ayi. Om Ayi ini lulusan SMA. Istrinya, namanya teh Rini. Ibu Rumah Tangga. Sekarang sih membantu saya mengasuh de Azzam. Meskipun tak mengenyam pendidikan tinggi, tapi saya selalu terpesona oleh cara pak Ayi menganggap istrinya sebagai seorang yang “setara”. Misalnya, saya tau persis bahwa amplop gaji yang saya berikan setiap tanggal satu, itu akan langsung ia berikan sepenuhnya pada teh Rini. Kenapa saya tau? karena: (1) terbukti tak ada uang sepeserpun di dompet pak Ayi. (2) Saya pernah ngasih bonus dan lupa bilang, pak Ayi bilang begini: “Bu, kata teh Rini  kenapa uang gajinya lebih?”. (3) Waktu tahun lalu mobil kami kecelakaan dan Pak Ayi bilang ikut bertanggung jawab dengan cara dipotong gaji, pas suatu tanggal satu ia bilang: “Bu, kata teh Rini kenapa gajinya masih tetep, engga dikurangi?”.

Dalam setting lain, saya juga selalu terpesona dengan cara pak Ayi menghargai istrinya. Dulu, jaman saya masih punya PRT, beberapa kali saya rapat sanpai malam. Setiap kali saya tawari pak Ayi untuk makan, ia pasti menjawab…”engga bu, nanti makan di rumah aja. Teh Rini udah masak”. Satu lagi….Jadwal kerja resmi Pak Ayi adalah Senin-Jumat. Kalau saya minta tolong pak Ayi anter di weekend, ia pasti akan bilang; “nanti saya tanya teh Rini dulu ya bu, ada acara engga”. Tidak hanya itu, waktu beberapa kali saya menawarkan bantuan pun, misalnya nyumbang untuk uang pasang listrik di rumahnya, pak Ayi tidak langsung meng-iyakan. “Nanti ngobrol sama teh Rini dulu bu…”

Menurut saya, itulah gambaran bagaimana suami memperlakukan istrinya dengan setara. “Menghargai”. “ada” dan “dimaknakan” dalam kehidupannya. Kontras sekali dengan seorang pejabat yang bikin heboh seantero Indonesia karena menikah 4 hari itu, yang dalam beragam wawancara menyebut istilah “spec” untuk menilai istrinya. “Karena dia tidak sesuai spec-nya, maka wajar dong kalau saya kembalikan” … duuuuh… saya pengen ngelempar telor sama orang itu… emang istri elu itu barang…? hello…dia tuh manusia tau…yang punya perasaan !! ( astaghfirullah..kenapa jadi agresi beginih hehe…).

Jujur saja, saya sediiiiiih banget melihat bagaimana reaksi para istri yang tak diperlakukan setara oleh pasangannya. Sedih saya semakin sering mendengar keluhan istri yang diakhiri dengan kalimat kurang lebih  “ya, saya mah emang bodoh sih”… Sedih karean kalimat itu, bukan keluar dari mulut seorang istri yang beneran bodoh. Yang tingkat pendidikan dan kemampuan berpikirnya jauh di bawah suaminya. Namun, diucapkan oleh istri-istri lulusan PTN ternama, dengan IPK yang tinggi dan wawasan serta kemampuan pronlem solving yang wokeh…Dalam kasus-kasus ini, berarti si suami sudah sukses membuat para istri merasa bodoh…duh, padahal kan “we are what we think” ya…

Reaksi lainnya, yang tak kalah bikin sedih adalah istri berupaya melakukan sesuatu yang akan “memaksa” suami memandangnya setara. Jadilah beberapa istri bekerja, tanpa sepenuhnya diridhoi suami. Tapi jujur saja, memang seringkali kenyataannya masalah finansial ini dijadikan sumber power oleh suami untuk tak memperlakukan istrinya secara setara. Saya jadi ingat… seorang kenalan saya, bercerai dengan suaminya dan kembali ke rumah orangtuanya bersama anak-anaknya tanpa uang sepeser pun. Si suami tak mau memberi hartanya dengan alasan; “Kan yang kerja aku, kamu kan gak menghasilkan uang”. Aduuuh…pengen ngelemparin si suami pake telor lagi nih…”emang kalau istri lu gak jagain anak-anak di rumah, gak ngurus rumah n ngurus keperluan elu, elu bisa kerja n dapet duit gituh?” ( agresinya keluar lagih).

Saya ingin kembali mengabstraksikan.  Setara itu, bukanlah masalah istri harus bekerja dan berpenghasilan. Atau bahwa pembagian keuangan itu harus sepenuhnya oleh istri. Atau segala keputusan harus dilakukan bersama. Itu mah teknis. Teknis banget. Pengelolaan keluarga yang terbaik adalah pengelolaan yang DISEPAKATI oleh suami dan istri. Suami dan istri pegang uang masing2? its oke kalau disepakati. Pengambilan keputusan semua oleh suami? tak akan jadi masalah kalau disepakati.  Suami yang masak untuk istri? no problemo kalau keduanya ridho. Tapi, kata SEPAKAT tak akan terjadi kalau salah satu tak menghargai pasangannya, tak mau mendengarkan saran pasangannya, tak mau menghayati kebutuhan pasangannya, menganggap keinginan pasangannya sebagai sesuatu yang gak penting.

Jadi, terutama sebagai istri, menurut saya saat kita tak dianggap setara oleh suami, kita wajib mengingatkannya, karena;

(1) Saya setuju dengan pendapat bahwa wanita, mendapatkan kemausiannya bukan dari laki-laki, tapi dari tuhanNya. Kalau dalam hubungan suami istri sudah tak setara, bisanya turun ke praktek pengasuhan anak. Ada istri yang takut mengingatkan suaminya yang membully anaknya karena dalam keluarga itu berlaku hukum: a. suami selalu benar b. kalau suami salah, lihat poin a (wkwkwkwk…..)

(2) Sebelum nikah dulu, saya banyak mencari sumber mengenai kewajiban dan hak suami-istri. Saya menemukan ada hadits yang menyatakan bahwa “Sekiranya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada seseorang manusia, niscaya aku akan suruh perempuan sujud kepada suaminya.” (riwayat Imam Tirmizi, hasan sahih, Ibnu Hibban, sahih). Nah, mari kita bantu suami kita menjadi seseorang yang kualitasnya membuat kita bersujud dengan ikhlas dan sepenuh hati pada mereka….

(3) Bukankah kita selalu berdoa “Robbanaaaa atinaaa fiddunya hasanal wa fil akhiroti hasanah”. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat”. Kebaikan di dunia dan akhirat, kebahagiaan di dunia dan akhirat hanya akan terjadi kalau hablumminallah dan hablumminannasnya baik bukan?

Gak mungkin seorang istri bahagia di dunia kalau sementara ia pontang panting ngurus anak dan rumah, di saat yang sama  si suami enak baca Al-Qur’an dengan khusyuknya. Sulit juga buat istri untuk bahagia di dunia kalau ia dituntut untuk melayani suami secara sempurna sementara si suami tak mau peduli kalau ia sudah teler ngurus anak-anaknya seharian….Bukan begitu?

Saya ingat kelakar suami saya waktu kami mau membuat sertifikat rumah, 8 tahun lalu. Waktu itu mas bertanya apakah sertifikat rumah kami akan diatasnamakan mas saja atau berdua. Inilah kurang lebih “kelakar” kami: Mas: “Atas namaku aja ya, kan ini uangnya dari aku”/Saya: “aku juga kan nyumbang….itu…gorden…berapa juta…kan uangnya dari aku”/ MAs: “ya…cuman gorden doang….kalau mau berdua harus fifty-fifty dong sumbangannya……Kenyataannya, yang tertulis di sertifikat rumah kami adalah…nama kami berdua.

Yups…laki-laki dan perempuan memang berbeda. Kontribusi dalam pernikahan berbeda. Lha wong Allah juga menciptakannya berbeda. Kesetaraan bukan kesamaan. Membiarkan berbeda lalu saling menghargai, itulah artinya setara….

 

#Tulisan ini sudah ngendon di kepala saya berbulan-bulan. Kalau baru sempat ditulis pas di hari Kartini, itu kebetulan saja

#Saya ingin  memohon maaf kepada bapak-bapak dan para suami kalau saya tampak mendiskreditkan suami dalam contoh-contoh di tulisan ini. Semata-mata karena, saya lebih banyak bertemu ibu-ibu yang mengeluhkan bagaimana ia “tak dianggap” oleh suaminya. Mudah-mudahan istri bapak-bapak yang membaca tulisan ini tak termasuk diantaranya.

 

 

 

 

Karena Kita Perempuan

Minggu lalu, selama seminggu sebagai “dosen muda” (cihuy….masih disebut muda hehe…) saya mengikuti pelatihan “Penulisan Artikel Ilimiah untuk Jurnal Internasional”. Trainernya adalah seorang pak dosen yang dalam setahun berhasil mempublish 4 paper di jurnal internasional. Hari Senin, hari pertama beliau memberikan pelatihannya, beliau mengatakan bahwa “….untuk bisa menulis paper ilmiah, kita harus memiliki jadwal waktu menulis yang rutin”. Beliau mencontohkan, beliau sendiri setiap hari Sabtu jam 8-11 akan “menghilang”. “Hape saya matikan, saya tidak akan bisa ditemui dan diganggu siapapun. Seminggu 3 jam itulah saya mengharuskan diri saya untuk menulis” begitu kata beliau.

Langsunglah  kami, para emak-emak bergosip menanggapi kata-kata beliau. Yang intinya adalah…”haduuuuuuh, mana bisa kayak gitu….anak-anak kita mau dikemanain….lha wong mau ngimel bentar aja….minta ampun susahnya. Tiap buka laptop, pasti langsung direcokin anak-anak”… Ah, terus terang saja saya merasa lega … ternyata nasib saya sama dengan yang lain haha….Selanjutnya, Pak Trainer bertanya kepada kami…kapan waktu luang yang bisa kami manfaatkan untuk menulis paper. Semua emak menjawab “malam….setelah anak-anak tiduuuuuuur….” 😉

Dua minggu lalu, masih di rangkaian acara pelatihan “Kompetensi Dasar Dosen” ini kami ber outbound-ria. Dalam sesi yang dipandu teman-teman tim psikologi, ada satu sesi semacam “life time reflection”. Di sesi ini, masing-masing kami harus menghayati titik-titik penting dalam perjalanan karir kami sebagai dosen, baik yang positif maupun negatif. Hasil refleksi kami itu lalu kami presentasikan dalam kelompok kecil. Kebetulan saya sekelompok dengan 2 emak…. Saya sampai tidak bisa menahan genangan air mata saya…. tema-tema yang terungkap dari para emak itu tak lain dan tak bukan adalah….konflik antara kesempatan prestasi yang bisa dicapai dengan kodrat sebagai istri dan ibu. Banyak potensi prestasi yang tak bisa diraih oleh para emak ini.

Yups…..yups… “karena kita perempuan”…. saya sangat setuju dengan ungkapan dari sobat saya, seorang sahabat yang kami sering saling curhat mengenai beragam situasi yang membuat kita “gubrak”, yang selalu saja hot issuenya adalah konflik antara cita-cita dan keinginan kita sebagai individu versus peran sebagai istri dan ibu. Pengen menerima tawaran sekolah ke luar negeri, pengen join research, pengen ikut conference ini -itu, pengen ikut pelatihan ini-itu, pengen penelitian ini-itu, pengen ikut wokshop ini-itu, pengen nulis paper ini-itu VERSUS  family time, anak sakit, komplain suami, gak ada pembantu, mendukung suami yang tengah menghadapi masalah, menu makan sehat, nemenin belajar  anak-anak, dll…dll….Situasi demikian membuat kaki kami rasanya pengen lari tapi keiket…tentunya dalam situasi-situasi tertentu membuat “gubrak”.

Hhhmmm….berarti bener dung ya, kata para feminis sekuler bahwa…. menikah itu, menjadi penghambat wanita untuk maju. Tapi….kok saya gak setuju ya? kenapa….? saya ingin mengutip kata-kata seorang juara lomba games komputer dari korea (saya tonton di bbc, perlombaannya sepuluh jam nonstop dan tingkat dunia haha….); yang tak bisa ikut bertanding lagi tahun depannya karena usianya sudah di luar kriteria. “Kalau saya bisa jadi yang terbaik dalam lomba ini, berarti saya bisa jadi yang terbaik dalam bidang lain”.

Jadi…. menurut saya…. seorang perempuan yang high achiever, tak akan benar-benar terikat kakinya. Ia akan terus mencari celah dan potensinya tetap akan “menyeruak” dalam sisi-sisi kehidupannya. Seorang perempuan yang high achiever, meskipun ia menjadi ibu rumah tangga, tak akan menjadi ibu rumah tangga “biasa”.  Ia akan mengasuh anak-anaknya, dengan upaya terbaik yang ia bisa (duh, sering minder deh sama ibu-ibu RT yang wawasannya mengenai gizi dan kesehatan anak selangit). Sebagian ibu RT yang high achiever ini, tak akan betah tinggal diam, mereka akan produktif.  Maka, biasanya potensi hebat yang mereka miliki “menyeruak” dalam beragam bentuk: bisnis yang home based, pembangunan komunitas, dll dll.

Begitupun dengan emak-emak yang memilih untuk berkontribusi di ranah profesional. Emak-emak ini, akan amat terlatih untuk mengatur pikiran dan emosinya antara urusan domestik dan profesional. Cirinya, emak-emak ini akan seimbang dalam kehidupannya. Ia tegak kokoh berdiri karena ia berprestasi di rumah maupun di luar rumah, sesuai STANDAR TERTINGGI YANG IA TETAPKAN. Jadi, bisa jadi ia tak bisa mencapai cita-cita tertinggi dalam karirnya. Bisa jadi ia tak bisa selalu mengantar anaknya ke sekolah. Tapi yang pasti, emak-emak yang menyadari perannya dengan sepenuh hati, akan mencapai kebahagiaan tertinggi yang bisa ia raih.

Saya tahu itu karena itulah yang saya lihat di sekitar saya, dari para emak teman-teman dan senior saya.

Itulah untungnya kita sebagai perempuan. Karena kita perempuan, kita selalu diasah untuk menjadi bijak, melalui pilihan-pilihan yang selalu harus kita buat, yang seringkali tidak harus dibuat oleh para laki-laki 😉

Hari Kartini 2013

Self Sacrifice VS Keikhlasan dalam Berumahtangga; Renungan Menjelang Hari Raya Pengorbanan….

by Fitri Ariyanti (Notes) on Saturday, November 5, 2011 at 10:22am

Hasrat hati ingin menulis, apa daya ada yang lebih prioritas untuk dikerjakan … jadi copas dari note facebook meskipun momennya gak nyambung;)

Besok kita akan merayakan Idul Adha. Satu dari 2 hari istimewa bagi umat Islam. Meskipun secara kultur di Indonesia Hari Raya Idul Fitri lebih dirayakan secara “heboh” dibanding dengan hari Raya Idul Adha, namun sepengetahuan saya, justru Idul Adha inilah yang posisinya lebih “Great”. Sampai anak TK pun tahu bahwa kegiatan berqurban, adalah simbolisasi dari pengorbanan sorang muslim terhadap apa yang paling ia cintai.Seperti Nabi Ibrohim yang BERANI mengorbankan anak yang telah lama ia tunggu, yang sangat ia cintai, saat Allah memintanya. ya, ” berkorban”….. adalah suatu hal yang tak asing di kultur kita.

Yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah, terkait dengan note yang sebelumnya saya tulis, yaitu tentang “couple resilient”… Salah satu aspek yang ditemukan oleh Hans Evert, resiliensi pasangan disumbang pula oleh kesediaan salah satu pasangan untuk “berkorban” terhadap pasangannya. Ia memberikan contoh bahwa ketika ia datang ke Indonesia untuk mempresentasikan hasil penelitiannya, istrinya telah melakukan “self sacrifice” untuknya. Merelakan dirinya ditinggal suaminya dalam jangka waktu yang lama.

Ada satu hal yang ia sampaikan yang membuat saya berpikir, sampai sekarang. Ia bilang; “Pengorbanan itu tentunya hal yang baik, positif dan diperlukan, Namun ingat !! saat pasangan kita “berkorban”, ia merasakan emosi yang negatif. Dan berarti, jika pasangan kita melakukan pengorbanan untuk kita, maka kita punya utang padanya. “Self sacrifice” yang over and over…..itu adalah bom waktu dalam sebuah hubungan. Sebagai ilustrasi, ia menggambarkan bahwa ketika ia sedang menyelesaikan Phd nya selama 7 tahun, tentu saja ia harus memfokuskan diri pada penelitiannya, dan harus “mengabaikan” istrinya. Istrinya oke, tapi ia sadar, bahwa selama 7 tahun “berkorban”, istrinya mengalami emosi negatif; marah, kesal, feel alone, dll….Maka, ia tahu, segera setelah menyelesaikan Phd nya, ia harus “membayar” pengorbanan istrinya. Saya tak akan meminta ia “berkorban” lagi sebelum saya membayarnya….itu katanya.

Saat itu, saya sepakat dengannya. Lalu kemudian saya teringat sesuatu; bahwa ia tak melibatkan faktor “spiritual” dalam uraiannya. Di Indonesia, di kalangan umat beragama, terutama muslim, berapa banyak suami/istri yang “bersedia” melakukan pengorbanan “over and over”, baik secara kuantitas, maupun kualitas. Terutama di pihak istri, berapa banyak istri yang mengorbankan “impian terbesarnya”, “kebahagiaannya”, demi sebuah istilah “klise”…”mempertahankan keutuhan keluarga”……tampaknya mereka baik-baik saja…

Lalu saya pun merenung lagi, untuk memutuskan apakah uraian Evert relevan dengan kondisi aktual di Indonesia. Tunggu ! saya ingat, saya pernah berdiskusi dengan seorang teman yang agamanya tak memperbolehkan bercerai. Saat itu kami membincangkan hasil penelitian mengenai mudahnya terjadi perceraian terutama di kalangan muslim (karena kebetulan subjek penelitiannya semua muslim); dan bertanya2 apakah mungkin value “boleh dan tidak boleh bercerai” berpengaruh terhadap kemudahan untuk memutuskan bercerai. Secara kritis, ia bilang; “aku pengen tahu juga sih, di kalangan yang bisa mempertahankan keluarga tanpa bercerai, apakah mereka well being? (sejahtera secara psikologis)”…

Yups…yups…itu pertanyaannya… Well being artinya, sejahtera, dan itu artinya happines… Tentu ada perbedaan besar antara pasangan yang “living survive” dan “living happy”… So, kesimpulan saya adalah…saya masih setuju dengan yang diungkapkan oleh Evert. Bahwa kita harus aware, bahwa ketika pasangan kita melakukan pengorbanan untuk kita, kita harus membayarnya. Di sisi lain, saat kita melakukan pengorbanan untuk pasangan kita, kita pun harus mendapatkan bayarannya. Itulah pentingnya komunikasi untuk menyampaikan perasaan pada pasangan.

Ikhlas? ya….untuk orang yang ikhlas, sebenarnya ia tak pelu “bayaran” dari siapapun, karena bayaran yang ia harapkan adalah dari Tuhannya. Yang jadi masalah adalah, benarkah kita sudah ikhlas? Karena ikhlas adalah seperti menulis di pantai, lalu ombak datang menyapunya…dan tak tertinggal bekas apapun.

Istri yang menyatakan telah “ikhlas” berkorban untuk suaminya, tak akan kemudian mengungkapkan apa yang telah ia korbankan pada anak2nya, pada suaminya ketika ia bertengkar, atau pada masa tuanya, atau pada psikolog saat sesi konsultasi pernikahan 😉 dengan emosi yang negatif….

Suami yang telah “ikhlas” berkorban untuk istrinya, tak akan menjadikan “pengorbanannya” sebagai alat untuk membuat istrinya melakukan apa yang dia mau.

Maka, sebelum kita melakukan “self sacrifice” untuk pasangan kita, ada baiknya kita menghayati dalam-dalam…. Apalagi kalau “pengorbanan” itu amat berarti bagi kita. Hayati perasaan kita, keinginan terdalam kita, dan kalau kita butuh bantuan pasangan untuk membuat kita bisa ikhlas dengan “meminta bayaran”, mungkin ada baiknya itu dilakukan. Agar pasangan kita pun belajar sesuatu.

Kecuali, kalau kita sudah bisa ikhlas… Memberikan apa yang kita inginkan pada pasangan, tak menuntut pasangan kita untuk “berterima kasih”. Dan tandanya kita ikhlas adalah, kita bahagia. Bukan bahagia sendiri. Tapi bahagia berdua dengan pasangan kita. Itu tandanya pengorbanan kita diterima, seperti pengorbanan Habil. Walaupun Qabil sama-sama melakukan pengorbanan, namun Allah maha tahu kualitas pengorbanan yang hakiki.

Maka, dalam konteks ini….saya pikir kita perlu proses untuk memutuskan melakukan suatu pengorbanan. Dan berproses, selalu merupakan tanda kematangan yang akan berujung kebaikan (itu menurut saya)…

Semoga setiap pengorbanan, juga kurban kita tahun ini diterima oleh Allah, Sehingga benar, bahwa tiap helai bulunya menjadi satuan kebaikan buat kita…

“harta karun”

Sudah dua minggu ini saya ngepak-ngepak. Belasan kardus yang tadinya menumpuk di ruang tamu alhamdulillah sudah mulai dipindahkan ke rumah sebelah sejak hari minggu lalu. Yups, dalam waktu dekat memang kami akan ngungsi ke rumah sebelah karena rumah kami akan direnovasi. Beberapa bulan lalu, seorang saudara yang datang berkunjung dengan serius mengatakan pada kami …”haduuuh…ini rumah…coba besarin dong… dimana-mana buku…dimana-mana buku”. Yups… buku2 yang udah gak tau lagi mau disimpen dimana menjadi alasan menambah ruang-ruang di rumah kami. Masalahnya, gak cuman koleksi buku ibu dan abah yang bertambah…tapi koleksi buku Kaka Azka, MAs Umar dan Kaka Hana pun tak kalah pertambahan jumlahnya.

Yups…kalau dijumlah-jamleh, memang kalau diuangkan, buku-buku kami harganya bisa lebih dari 50% seluruh harta kekayaan yang kami miliki. Bagaimana tidak? kalau untuk barang, furnitur, baju, aksesoris…kami pasti pikir2 panjang kalau harganya diluar batas harga psikologis kami (dan seringnya gak jadi hehe…). Tapi khusus untuk buku, rasanya gak ada batas harga psikologis. Tiap ke gramedia, minimal 500ribu keluar. And no regrets. Paket buku keren yang jutaan harganya, gak pernah pikir dua kali. Seringkali kami sengaja bawa uang terbatas… tetep aja tak kuasa menahan si kartu debit untuk keluar menyapa mbak kasir ;).

Yups, harta terbanyak kami memang adalah buku. Terbukti dari 25 kardus besar yang selesai diiisi, itu isinya buku smuah dan…masih ada 2 lemari yang bukunya belum dipindahin…. Jadi buat teman2 yang menawarkan paket buku seri untuk anak…Kalau saya bilang “sudah punya”, itu bukan kata-kata untuk menolak. Memang kami sudah punya semuanya….Baik seri agama, pengetahuan umum, cerita moral, kisah logika….semuanya ada. Akhir-akhir, memang banyak buku baru yang belum terbaca. MAkanya…untuk memback up itu, pengeeeen banget bikin perpustakaan umum di rumah. Beberapa tetangga dan anaknya memang sering meng sms, “….pinjem buku ya….” .. terutama kalau lagi liburan. Moga2 cita2 bikin perpus tercapai….amiiin…Jadi kalau nanti di akhirat ditanya apakah buku yang dibeli itu bermanfaat? bisa bilang “walaupun kami belum membacanya, tapi kami sudah meminjamkan untuk dibaca orang lain” hehe…

Ketika mendengar ada pejabat polisi dengan deretan hartanya berupa tanah di pulau anu, rumah di kota anu, mobil ini, spbu itu, saya nyengir sendiri. Mungkin kalau kami ditangkap KPK, daftar harta yang akan dirilis adalah : “satu set seri buku Learning Math with Albert”, “satu set buku seri Fun Learning”, ” satu set buku HArry Potter”, “satu set buku Roald DAhl” “Satu set tafsir Al misbah”, bla…bla..bla… haha…..

25 kardus isi buku itu dipack ing dalam waktu tiga hari pas long weekend kemaren. Kenapa lama banget? karena …. ibu seperti menemukan harta karun ! demikian juga anak-anak yang ibu minta ngepak buku koleksinya masing2. Beragam buku “berharga” yang selama ini “tersembunyi dengan nyaman” di rak-rak buku, satu demi satu ketemu. DAn…. tak tahan pastinya untuk membuka lembar demi lembarnya.

Beberapa buku “harta karun” yang ibu temui, selain beragam texbook yang baru ibu sadari “ternyata punya ya, buku tentang ini” haha… beberapa buku yang sangat “bermakna” ibu temukan. Misalnya buku “Membiarkan Berbeda”nya bu Ratna Megawangi, yang menjawab semua pertanyaan dan menghentikan pencarian saya mengenai konsep kesetaraan gender, 12 tahun lalu …. Lalu buku2nya Mbak Miranda Risang Ayu…kemudian buku2nya Kang Jalal…. Aduuuuh…. terutama buku-bukunya Kang Jalal itu… gak kuat untuk tidak berhenti, lalu membacanya.

Seperti juga penikmat tulisan yang Kang Jalal yang lain, secara personal saya sangaaaat suka tulisannya kang Jalal karena sebagai ahli PSikologi Komunikasi, tulisan beliau sangat bernuansa psikologi. Bahkan sangat menguasai teori-teori maupun aplikasi psikologi. Beda ama sayah, yang orang psikologi tapi pemahaman psikologinya terbatas, apalagi komunikasinya haha….Yang kedua, dan alasan ini pasti disetujui semua orang yang pernah membaca tulisan kang Jalal … Seberat apapun materi atau konsep yang beliau baca, beliau amat sangat bisa membuatnya menjadi ringan dan mudah dimengerti. Duuuh… kapan ya saya bisa bikin tulisan ilmiah-afektif seperti beliau…..tulisan yang tinggi nilai abstraksinya, tapi tak terkesan sombong saat menyampaikannya…*take a bow*. Yang ketiga… khusus untuk buku-buku agama, cara pikir beliau yag “radikal” sangat saya suka. Beliau selalu bisa membawa kita ke level penghayatan tertinggi dari ruhani kita…hakikat. makna. esensi. Maka, buku-buku beliau… terutama buku “Meraih Cinta Illahi” selalu menjadi buku pilihan saya ketika saya merasa “garing” atau bahasa anak mesjidnya mah “futuuur’. Hanya buku itu yang bisa “menghidupkan kembali” qolbun maridh saya.

Ya, itulah harta karun saya. Terus terang saja, saya tak terlalu suka berada di keramaian. Kalau ada yang tanya, apa yang paling saya suka…jawaban saya adalah….baca buku. Tanpa gangguan. Dibanding liburan dan jalan-jalan, saya lebih memilih berbaring santai sambil baca buku. Dan tampaknya, hal ini menular pada anak-anak. Jadi, beberapa kali terjadi saat de Azzam belum lahir, seharian di weekend kami di rumah, bergeletakan di kasur, tenggelam dalam bukunya masing-masing hehe…

Setiap orang pasti punya harta karun yang berbeda. Bagi sebagian orang, beragam bumbu dan bahan masakan di dapur adalah harta karunnya. Atau mungkin beragam kain siap jahit adalah harta karunnya. Atau beragam warna benang rajut dan benang wol, adalah harta karunnya… atau kuas, cat dan kanvas adalah harta karunnya….

whatever… lets find out our own treasure trove. Sesuatu yang membuat kita hepi,  exciting, bersemangat, dan…..merasa hidup !!!!

Frustrasi Tandanya Motivasi : Pelajaran dari Si Curuk Leutik

Hari Minggu, tgl 31 Maret lalu si bungsu Azzam Abdurrahman berulangtahun untuk yang pertama kalinya. Ulang tahun anak-anak yang pertama, selalu jadi momen “sakral” buat ibu. Selain rutinitas foto studio, mencermati capaian tahap perkembangan setiap anak di besaran “tahun” yang pertama selalu menarik. Apalagi dengan 4 anak.

De Azzam menempati urutan ke 2 dalam perolehan rambut haha… Maklum, anak-anak ibu irit-irit pertumbuhan rambutnya. Juara pertama Kaka Azka, ketiga mas Umar dan keempat…Kaka Hana… itu semua tercermin di foto mereka tepat di hari ultah yang pertama yang dipajang di ruang keluarga. Dalam motorik kasar, de Azzam masih bersaing untuk menempati urutan ke-3 sama mas Umar. Di hari ultahnya yang pertama, Kaka Hana yang udah jalan mulai dari 9 bulan udah lari-lari. Kaka Azka, udah jalan. MAs Umar jalan umur 13 bulan. De Azzam sekarang sudah mulai rambatan dan sudah sering “lupa pegangan” kalau lagi  berdiri. Kalau motorik halus, kayaknya de Azzam menempati posisi ke 2. Posisi pertama Kaka Hana yang di usianya 3,5 tahun sekarang udah bisa pegang pensil dengan benar dan bisa bikin lengkung-lengkung kecil. Makan, gosok gigi, pake kaos kaki juga udah ahli. Nah, De azzam, sekarang di usia setahun udah bisa menjumput, juga udah hobi masukin uang receh ke kencleng mesjid atau ke celengan. Juara terakhir untuk motorik halus adalah.. Mas Umar hehe… yang baru bisa pegang pensil dengan baik mepet pas masuk SD.

Salah satu keasyikan saat anak kita usia 1 tahun adalah mengamati “keahliannya”. Misalnya udah bisa dadah, udah bisa salim, udah bisa manggil “abah”, udah bisa ngupil, haha…

Dari ketiga kakaknya, ada satu kekhasan Azzam. Yaitu….sejak sebulan lalu, dia hobi banget nunjukkin 2 telunjuknya… sampai-sampai kita panggil dia “si curuk leutik”. Selain si curuk itu dia gunakan untuk tunjuk ini-itu (yang itu keliatannya lucuuu banget..sambil dia teriak-teriak ah…ah..ah….dengan nada memerintah hehe..), yang paling lucu adalah kalau dia udah gunakan si curuk leutik itu buat nge-swipe layar ipad si abah atau android ibu. Kayaknya dia asiiik gituh main game atau fesbukan haha…..

Meskipun ibu udah punya 3 anak, namun setiap perkembangan anak selalu menimbulkan penghayatan dan insight tertentu. Sebulan terakhir ini Azzam yang tadinya anteng menjadi sering ngamuk. Bagaimana tidak? motoriknya berkembang pesat. Dia udah bisa merangkak super cepat, bisa berdiri dan jalan rambatan, bisa muter ini-itu, bisa manjat ini-itu. Makanya…. muter puteran kompor, naik ke meja, kabur ke kolam, manjat kloset, nggelontorin air galon, nyabutin kabel adalah hobinya. Tapi…pastinya banyak diantara kegiatan itu yang membahayakan. Jadilah dia sering frustrasi karena dibatasi ruang geraknya (meskipun setiap menjelang jadwal mandi sore, dia dibebaskan untuk masuk kolam;)…

Frustrasi, itu ekspresi yang mewarnai hari-hari de Azzam sekarang. Meskipun, asiknya adalah….dia masih mudah dialihkan pada kegiatan lain. Tapi ekspresi baru itu menginsight satu hal pada ibu…bahwa si reaksi frustrasi itu, muncul kalau ada keinginan kuat… atau bahasa kerennya adalah motivasi.

Jadi….kalau kita gak pernah frustrasi, artinya adalah……kita gak pernah punya motivasi ke arah sesuatu !!!

Terima kasih ya curuk leutik, untuk pelajarannya…..

luv yu….