Self Sacrifice VS Keikhlasan dalam Berumahtangga; Renungan Menjelang Hari Raya Pengorbanan….

by Fitri Ariyanti (Notes) on Saturday, November 5, 2011 at 10:22am

Hasrat hati ingin menulis, apa daya ada yang lebih prioritas untuk dikerjakan … jadi copas dari note facebook meskipun momennya gak nyambung;)

Besok kita akan merayakan Idul Adha. Satu dari 2 hari istimewa bagi umat Islam. Meskipun secara kultur di Indonesia Hari Raya Idul Fitri lebih dirayakan secara “heboh” dibanding dengan hari Raya Idul Adha, namun sepengetahuan saya, justru Idul Adha inilah yang posisinya lebih “Great”. Sampai anak TK pun tahu bahwa kegiatan berqurban, adalah simbolisasi dari pengorbanan sorang muslim terhadap apa yang paling ia cintai.Seperti Nabi Ibrohim yang BERANI mengorbankan anak yang telah lama ia tunggu, yang sangat ia cintai, saat Allah memintanya. ya, ” berkorban”….. adalah suatu hal yang tak asing di kultur kita.

Yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah, terkait dengan note yang sebelumnya saya tulis, yaitu tentang “couple resilient”… Salah satu aspek yang ditemukan oleh Hans Evert, resiliensi pasangan disumbang pula oleh kesediaan salah satu pasangan untuk “berkorban” terhadap pasangannya. Ia memberikan contoh bahwa ketika ia datang ke Indonesia untuk mempresentasikan hasil penelitiannya, istrinya telah melakukan “self sacrifice” untuknya. Merelakan dirinya ditinggal suaminya dalam jangka waktu yang lama.

Ada satu hal yang ia sampaikan yang membuat saya berpikir, sampai sekarang. Ia bilang; “Pengorbanan itu tentunya hal yang baik, positif dan diperlukan, Namun ingat !! saat pasangan kita “berkorban”, ia merasakan emosi yang negatif. Dan berarti, jika pasangan kita melakukan pengorbanan untuk kita, maka kita punya utang padanya. “Self sacrifice” yang over and over…..itu adalah bom waktu dalam sebuah hubungan. Sebagai ilustrasi, ia menggambarkan bahwa ketika ia sedang menyelesaikan Phd nya selama 7 tahun, tentu saja ia harus memfokuskan diri pada penelitiannya, dan harus “mengabaikan” istrinya. Istrinya oke, tapi ia sadar, bahwa selama 7 tahun “berkorban”, istrinya mengalami emosi negatif; marah, kesal, feel alone, dll….Maka, ia tahu, segera setelah menyelesaikan Phd nya, ia harus “membayar” pengorbanan istrinya. Saya tak akan meminta ia “berkorban” lagi sebelum saya membayarnya….itu katanya.

Saat itu, saya sepakat dengannya. Lalu kemudian saya teringat sesuatu; bahwa ia tak melibatkan faktor “spiritual” dalam uraiannya. Di Indonesia, di kalangan umat beragama, terutama muslim, berapa banyak suami/istri yang “bersedia” melakukan pengorbanan “over and over”, baik secara kuantitas, maupun kualitas. Terutama di pihak istri, berapa banyak istri yang mengorbankan “impian terbesarnya”, “kebahagiaannya”, demi sebuah istilah “klise”…”mempertahankan keutuhan keluarga”……tampaknya mereka baik-baik saja…

Lalu saya pun merenung lagi, untuk memutuskan apakah uraian Evert relevan dengan kondisi aktual di Indonesia. Tunggu ! saya ingat, saya pernah berdiskusi dengan seorang teman yang agamanya tak memperbolehkan bercerai. Saat itu kami membincangkan hasil penelitian mengenai mudahnya terjadi perceraian terutama di kalangan muslim (karena kebetulan subjek penelitiannya semua muslim); dan bertanya2 apakah mungkin value “boleh dan tidak boleh bercerai” berpengaruh terhadap kemudahan untuk memutuskan bercerai. Secara kritis, ia bilang; “aku pengen tahu juga sih, di kalangan yang bisa mempertahankan keluarga tanpa bercerai, apakah mereka well being? (sejahtera secara psikologis)”…

Yups…yups…itu pertanyaannya… Well being artinya, sejahtera, dan itu artinya happines… Tentu ada perbedaan besar antara pasangan yang “living survive” dan “living happy”… So, kesimpulan saya adalah…saya masih setuju dengan yang diungkapkan oleh Evert. Bahwa kita harus aware, bahwa ketika pasangan kita melakukan pengorbanan untuk kita, kita harus membayarnya. Di sisi lain, saat kita melakukan pengorbanan untuk pasangan kita, kita pun harus mendapatkan bayarannya. Itulah pentingnya komunikasi untuk menyampaikan perasaan pada pasangan.

Ikhlas? ya….untuk orang yang ikhlas, sebenarnya ia tak pelu “bayaran” dari siapapun, karena bayaran yang ia harapkan adalah dari Tuhannya. Yang jadi masalah adalah, benarkah kita sudah ikhlas? Karena ikhlas adalah seperti menulis di pantai, lalu ombak datang menyapunya…dan tak tertinggal bekas apapun.

Istri yang menyatakan telah “ikhlas” berkorban untuk suaminya, tak akan kemudian mengungkapkan apa yang telah ia korbankan pada anak2nya, pada suaminya ketika ia bertengkar, atau pada masa tuanya, atau pada psikolog saat sesi konsultasi pernikahan 😉 dengan emosi yang negatif….

Suami yang telah “ikhlas” berkorban untuk istrinya, tak akan menjadikan “pengorbanannya” sebagai alat untuk membuat istrinya melakukan apa yang dia mau.

Maka, sebelum kita melakukan “self sacrifice” untuk pasangan kita, ada baiknya kita menghayati dalam-dalam…. Apalagi kalau “pengorbanan” itu amat berarti bagi kita. Hayati perasaan kita, keinginan terdalam kita, dan kalau kita butuh bantuan pasangan untuk membuat kita bisa ikhlas dengan “meminta bayaran”, mungkin ada baiknya itu dilakukan. Agar pasangan kita pun belajar sesuatu.

Kecuali, kalau kita sudah bisa ikhlas… Memberikan apa yang kita inginkan pada pasangan, tak menuntut pasangan kita untuk “berterima kasih”. Dan tandanya kita ikhlas adalah, kita bahagia. Bukan bahagia sendiri. Tapi bahagia berdua dengan pasangan kita. Itu tandanya pengorbanan kita diterima, seperti pengorbanan Habil. Walaupun Qabil sama-sama melakukan pengorbanan, namun Allah maha tahu kualitas pengorbanan yang hakiki.

Maka, dalam konteks ini….saya pikir kita perlu proses untuk memutuskan melakukan suatu pengorbanan. Dan berproses, selalu merupakan tanda kematangan yang akan berujung kebaikan (itu menurut saya)…

Semoga setiap pengorbanan, juga kurban kita tahun ini diterima oleh Allah, Sehingga benar, bahwa tiap helai bulunya menjadi satuan kebaikan buat kita…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s