Setara

Saya meyakini, bahwa dalam hubungan suami istri, posisi suami dan istri haruslah setara. Itu kunci kebahagiaan rumah tangga. Waduuh !! feminis !!! sekuler !!! haha…tunggu dulu…. Apakah setara itu berarti istri harus bekerja, memiliki penghasilan sendiri? hhmmm…kalau dimaknai demikian, berarti pemahamannya masih dalam tahap konkrit operasional haha…. (nyatut istilah om Piaget).

Jadi, maksudnya setara itu apa dong? menurut saya, setara itu adalah suatu konsep yang memandang bahwa pasangan kita adalah manusia. Yang memiliki harapan, cita-cita, perasaan, penghayatan, dan atribut-atribut kemanusiaan lain yang harus dipedulikan. Abstrak. Baiklah…. meskipun saya ngefans berat sama kang Jalal, tapi memang saya masih sekedar cita-cita untuk bisa mengikuti kemampuan beliau dalam menjelaskan suatu konsep abstrak menjadi sesuatu yang sangat ringan dan mudah dipahami ūüėČ

Ijinkan saya mengungkap satu kisah nyata dimana dari kisah tersebut saya belajar banyak mengenai makna “setara”.

Saya punya seorang asisten-sopir yang amat membantu mobilitas saya dan anak-anak. Saya dan mas memanggilnya Pak Ayi, anak-anak memanggilnya Om Ayi. Om Ayi ini lulusan SMA. Istrinya, namanya teh Rini. Ibu Rumah Tangga. Sekarang sih membantu saya mengasuh de Azzam. Meskipun tak mengenyam pendidikan tinggi, tapi saya selalu terpesona oleh cara pak Ayi menganggap istrinya sebagai seorang yang “setara”. Misalnya, saya tau persis bahwa amplop gaji yang saya berikan setiap tanggal satu, itu akan langsung ia berikan sepenuhnya pada teh Rini. Kenapa saya tau? karena: (1) terbukti tak ada uang sepeserpun di dompet pak Ayi. (2) Saya pernah ngasih bonus dan lupa bilang, pak Ayi bilang begini: “Bu, kata teh Rini¬† kenapa uang gajinya lebih?”. (3) Waktu tahun lalu mobil kami kecelakaan dan Pak Ayi bilang ikut bertanggung jawab dengan cara dipotong gaji, pas suatu tanggal satu ia bilang: “Bu, kata teh Rini kenapa gajinya masih tetep, engga dikurangi?”.

Dalam setting lain, saya juga selalu terpesona dengan cara pak Ayi menghargai istrinya. Dulu, jaman saya masih punya PRT, beberapa kali saya rapat sanpai malam. Setiap kali saya tawari pak Ayi untuk makan, ia pasti menjawab…”engga bu, nanti makan di rumah aja. Teh Rini udah masak”. Satu lagi….Jadwal kerja resmi Pak Ayi adalah Senin-Jumat. Kalau saya minta tolong pak Ayi anter di weekend, ia pasti akan bilang; “nanti saya tanya teh Rini dulu ya bu, ada acara engga”. Tidak hanya itu, waktu beberapa kali saya menawarkan bantuan pun, misalnya nyumbang untuk uang pasang listrik di rumahnya, pak Ayi tidak langsung meng-iyakan. “Nanti ngobrol sama teh Rini dulu bu…”

Menurut saya, itulah gambaran bagaimana suami memperlakukan istrinya dengan setara. “Menghargai”. “ada” dan “dimaknakan” dalam kehidupannya. Kontras sekali dengan seorang pejabat yang bikin heboh seantero Indonesia karena menikah 4 hari itu, yang dalam beragam wawancara menyebut istilah “spec” untuk menilai istrinya. “Karena dia tidak sesuai spec-nya, maka wajar dong kalau saya kembalikan” … duuuuh… saya pengen ngelempar telor sama orang itu… emang istri elu itu barang…? hello…dia tuh manusia tau…yang punya perasaan !! ( astaghfirullah..kenapa jadi agresi beginih hehe…).

Jujur saja, saya sediiiiiih banget melihat bagaimana reaksi para istri yang tak diperlakukan setara oleh pasangannya. Sedih saya semakin sering mendengar keluhan istri yang diakhiri dengan kalimat kurang lebih¬† “ya, saya mah emang bodoh sih”… Sedih karean kalimat itu, bukan keluar dari mulut seorang istri yang beneran bodoh. Yang tingkat pendidikan dan kemampuan berpikirnya jauh di bawah suaminya. Namun, diucapkan oleh istri-istri lulusan PTN ternama, dengan IPK yang tinggi dan wawasan serta kemampuan pronlem solving yang wokeh…Dalam kasus-kasus ini, berarti si suami sudah sukses membuat para istri merasa bodoh…duh, padahal kan “we are what we think” ya…

Reaksi lainnya, yang tak kalah bikin sedih adalah istri berupaya melakukan sesuatu yang akan “memaksa” suami memandangnya setara. Jadilah beberapa istri bekerja, tanpa sepenuhnya diridhoi suami. Tapi jujur saja, memang seringkali kenyataannya masalah finansial ini dijadikan sumber power oleh suami untuk tak memperlakukan istrinya secara setara. Saya jadi ingat… seorang kenalan saya, bercerai dengan suaminya dan kembali ke rumah orangtuanya bersama anak-anaknya tanpa uang sepeser pun. Si suami tak mau memberi hartanya dengan alasan; “Kan yang kerja aku, kamu kan gak menghasilkan uang”. Aduuuh…pengen ngelemparin si suami pake telor lagi nih…”emang kalau istri lu gak jagain anak-anak di rumah, gak ngurus rumah n ngurus keperluan elu, elu bisa kerja n dapet duit gituh?” ( agresinya keluar lagih).

Saya ingin kembali mengabstraksikan.  Setara itu, bukanlah masalah istri harus bekerja dan berpenghasilan. Atau bahwa pembagian keuangan itu harus sepenuhnya oleh istri. Atau segala keputusan harus dilakukan bersama. Itu mah teknis. Teknis banget. Pengelolaan keluarga yang terbaik adalah pengelolaan yang DISEPAKATI oleh suami dan istri. Suami dan istri pegang uang masing2? its oke kalau disepakati. Pengambilan keputusan semua oleh suami? tak akan jadi masalah kalau disepakati.  Suami yang masak untuk istri? no problemo kalau keduanya ridho. Tapi, kata SEPAKAT tak akan terjadi kalau salah satu tak menghargai pasangannya, tak mau mendengarkan saran pasangannya, tak mau menghayati kebutuhan pasangannya, menganggap keinginan pasangannya sebagai sesuatu yang gak penting.

Jadi, terutama sebagai istri, menurut saya saat kita tak dianggap setara oleh suami, kita wajib mengingatkannya, karena;

(1) Saya setuju dengan pendapat bahwa wanita, mendapatkan kemausiannya bukan dari laki-laki, tapi dari tuhanNya. Kalau dalam hubungan suami istri sudah tak setara, bisanya turun ke praktek pengasuhan anak. Ada istri yang takut mengingatkan suaminya yang membully anaknya karena dalam keluarga itu berlaku hukum: a. suami selalu benar b. kalau suami salah, lihat poin a (wkwkwkwk…..)

(2) Sebelum nikah dulu, saya banyak mencari sumber mengenai kewajiban dan hak suami-istri. Saya menemukan ada hadits yang menyatakan bahwa ‚ÄúSekiranya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada seseorang manusia, niscaya aku akan suruh perempuan sujud kepada suaminya.‚ÄĚ (riwayat Imam Tirmizi, hasan sahih, Ibnu Hibban, sahih). Nah, mari kita bantu suami kita menjadi seseorang yang kualitasnya membuat kita bersujud dengan ikhlas dan sepenuh hati pada mereka….

(3) Bukankah kita selalu berdoa “Robbanaaaa atinaaa fiddunya hasanal wa fil akhiroti hasanah”. “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat”. Kebaikan di dunia dan akhirat, kebahagiaan di dunia dan akhirat hanya akan terjadi kalau hablumminallah dan hablumminannasnya baik bukan?

Gak mungkin seorang istri bahagia di dunia kalau sementara ia pontang panting ngurus anak dan rumah, di saat yang sama¬† si suami enak baca Al-Qur’an dengan khusyuknya. Sulit juga buat istri untuk bahagia di dunia kalau ia dituntut untuk melayani suami secara sempurna sementara si suami tak mau peduli kalau ia sudah teler ngurus anak-anaknya seharian….Bukan begitu?

Saya ingat kelakar suami saya waktu kami mau membuat sertifikat rumah, 8 tahun lalu. Waktu itu mas bertanya apakah sertifikat rumah kami akan diatasnamakan mas saja atau berdua. Inilah kurang lebih “kelakar” kami: Mas: “Atas namaku aja ya, kan ini uangnya dari aku”/Saya: “aku juga kan nyumbang….itu…gorden…berapa juta…kan uangnya dari aku”/ MAs: “ya…cuman gorden doang….kalau mau berdua harus fifty-fifty dong sumbangannya……Kenyataannya, yang tertulis di sertifikat rumah kami adalah…nama kami berdua.

Yups…laki-laki dan perempuan memang berbeda. Kontribusi dalam pernikahan berbeda. Lha wong Allah juga menciptakannya berbeda. Kesetaraan bukan kesamaan. Membiarkan berbeda lalu saling menghargai, itulah artinya setara….

 

#Tulisan ini sudah ngendon di kepala saya berbulan-bulan. Kalau baru sempat ditulis pas di hari Kartini, itu kebetulan saja

#Saya ingin¬† memohon maaf kepada bapak-bapak dan para suami kalau saya tampak mendiskreditkan suami dalam contoh-contoh di tulisan ini. Semata-mata karena, saya lebih banyak bertemu ibu-ibu yang mengeluhkan bagaimana ia “tak dianggap” oleh suaminya. Mudah-mudahan istri bapak-bapak yang membaca tulisan ini tak termasuk diantaranya.

 

 

 

 

Karena Kita Perempuan

Minggu lalu, selama seminggu sebagai “dosen muda” (cihuy….masih disebut muda hehe…) saya mengikuti pelatihan “Penulisan Artikel Ilimiah untuk Jurnal Internasional”. Trainernya adalah seorang pak dosen yang dalam setahun berhasil mempublish 4 paper di jurnal internasional. Hari Senin, hari pertama beliau memberikan pelatihannya, beliau mengatakan bahwa “….untuk bisa menulis paper ilmiah, kita harus memiliki jadwal waktu menulis yang rutin”. Beliau mencontohkan, beliau sendiri setiap hari Sabtu jam 8-11 akan “menghilang”. “Hape saya matikan, saya tidak akan bisa ditemui dan diganggu siapapun. Seminggu 3 jam itulah saya mengharuskan diri saya untuk menulis” begitu kata beliau.

Langsunglah¬† kami, para emak-emak bergosip menanggapi kata-kata beliau. Yang intinya adalah…”haduuuuuuh, mana bisa kayak gitu….anak-anak kita mau dikemanain….lha wong mau ngimel bentar aja….minta ampun susahnya. Tiap buka laptop, pasti langsung direcokin anak-anak”… Ah, terus terang saja saya merasa lega … ternyata nasib saya sama dengan yang lain haha….Selanjutnya, Pak Trainer bertanya kepada kami…kapan waktu luang yang bisa kami manfaatkan untuk menulis paper. Semua emak menjawab “malam….setelah anak-anak tiduuuuuuur….” ūüėČ

Dua minggu lalu, masih di rangkaian acara pelatihan “Kompetensi Dasar Dosen” ini kami ber outbound-ria. Dalam sesi yang dipandu teman-teman tim psikologi, ada satu sesi semacam “life time reflection”. Di sesi ini, masing-masing kami harus menghayati titik-titik penting dalam perjalanan karir kami sebagai dosen, baik yang positif maupun negatif. Hasil refleksi kami itu lalu kami presentasikan dalam kelompok kecil. Kebetulan saya sekelompok dengan 2 emak…. Saya sampai tidak bisa menahan genangan air mata saya…. tema-tema yang terungkap dari para emak itu tak lain dan tak bukan adalah….konflik antara kesempatan prestasi yang bisa dicapai dengan kodrat sebagai istri dan ibu. Banyak potensi prestasi yang tak bisa diraih oleh para emak ini.

Yups…..yups… “karena kita perempuan”…. saya sangat setuju dengan ungkapan dari sobat saya, seorang sahabat yang kami sering saling curhat mengenai beragam situasi yang membuat kita “gubrak”, yang selalu saja hot issuenya adalah konflik antara cita-cita dan keinginan kita sebagai individu versus peran sebagai istri dan ibu. Pengen menerima tawaran sekolah ke luar negeri, pengen join research, pengen ikut conference ini -itu, pengen ikut pelatihan ini-itu, pengen penelitian ini-itu, pengen ikut wokshop ini-itu, pengen nulis paper ini-itu VERSUS¬† family time, anak sakit, komplain suami, gak ada pembantu, mendukung suami yang tengah menghadapi masalah, menu makan sehat, nemenin belajar¬† anak-anak, dll…dll….Situasi demikian membuat kaki kami rasanya pengen lari tapi keiket…tentunya dalam situasi-situasi tertentu membuat “gubrak”.

Hhhmmm….berarti bener dung ya, kata para feminis sekuler bahwa…. menikah itu, menjadi penghambat wanita untuk maju. Tapi….kok saya gak setuju ya? kenapa….? saya ingin mengutip kata-kata seorang juara lomba games komputer dari korea (saya tonton di bbc, perlombaannya sepuluh jam nonstop dan tingkat dunia haha….); yang tak bisa ikut bertanding lagi tahun depannya karena usianya sudah di luar kriteria. “Kalau saya bisa jadi yang terbaik dalam lomba ini, berarti saya bisa jadi yang terbaik dalam bidang lain”.

Jadi…. menurut saya…. seorang perempuan yang high achiever, tak akan benar-benar terikat kakinya. Ia akan terus mencari celah dan potensinya tetap akan “menyeruak” dalam sisi-sisi kehidupannya. Seorang perempuan yang high achiever, meskipun ia menjadi ibu rumah tangga, tak akan menjadi ibu rumah tangga “biasa”.¬† Ia akan mengasuh anak-anaknya, dengan upaya terbaik yang ia bisa (duh, sering minder deh sama ibu-ibu RT yang wawasannya mengenai gizi dan kesehatan anak selangit). Sebagian ibu RT yang high achiever ini, tak akan betah tinggal diam, mereka akan produktif.¬† Maka, biasanya potensi hebat yang mereka miliki “menyeruak” dalam beragam bentuk: bisnis yang home based, pembangunan komunitas, dll dll.

Begitupun dengan emak-emak yang memilih untuk berkontribusi di ranah profesional. Emak-emak ini, akan amat terlatih untuk mengatur pikiran dan emosinya antara urusan domestik dan profesional. Cirinya, emak-emak ini akan seimbang dalam kehidupannya. Ia tegak kokoh berdiri karena ia berprestasi di rumah maupun di luar rumah, sesuai STANDAR TERTINGGI YANG IA TETAPKAN. Jadi, bisa jadi ia tak bisa mencapai cita-cita tertinggi dalam karirnya. Bisa jadi ia tak bisa selalu mengantar anaknya ke sekolah. Tapi yang pasti, emak-emak yang menyadari perannya dengan sepenuh hati, akan mencapai kebahagiaan tertinggi yang bisa ia raih.

Saya tahu itu karena itulah yang saya lihat di sekitar saya, dari para emak teman-teman dan senior saya.

Itulah untungnya kita sebagai perempuan. Karena kita perempuan, kita selalu diasah untuk menjadi bijak, melalui pilihan-pilihan yang selalu harus kita buat, yang seringkali tidak harus dibuat oleh para laki-laki ūüėČ

Hari Kartini 2013