Cinta : Saling Menjaga

Jaman dahulu kala, waktu saya masih lebay (haha…kayak sekarang gak lebay ajah…) pernah suatu waktu saya dan seorang teman berbincang tentang “makna cinta”. Referensinya adalah beragam puisi, quote di majalan remaja, hadits2, sampai dengan kata-kata di kartu harvest (mmmmhhh…begitu banyak waktu untuk melakukan hal2 yang gak penting kayak gitu ya, kalau diliat dari kacamata emak berbuntut 4 sekarang hehe..).

Singkat kata singkat cerita, saya lupa apa perbincangan itu menghasilkan kesepakatan atau tidak (waduh, mulai deh simptop PDI …penurunan daya ingat 😉 . Tapi yang saya ingat, sejak saya itu saya punya definisi sendiri tentamg cinta….cinta itu adalah….”saling menjaga”. Huhuy…menurut penghayatan saya, dua frase itu cukup mewakili romantisme sekaligus “tanggug jawab” yang menuru saya harus ada dalam sebuah perasaan cinta.

Demikianlah definisi cinta saya itu menjadi penggerak dan pengarah perilaku cinta  saya (ke..ke…perilaku cinta teh  nu kumaha nya? Wkwkwk). Menurut saya, kalau kita mencintai seseorang, maka kita akan berupaya untuk membut orang itu menjadi pribadi yang lebih baik. Dimata manusia maupun dimata Allah. Demikian juga kalau seseorang itu mencintai saya, maka ia pun harus  berusaha menjadikan saya pribadi yang lebih baik, di dunia maupun akhirat.

Makanya, saya tidak ingin punya suami yang selalu “mengangguk” atas apapun yang saya lakukan. Menurut saya, ajaran agama dengan jelas eksplisit menyatakan…bahwa memang….harusnya pasanganlah yang menjadi perwujudan sifat-sifat Allah di dunia. Tak ada hubungan yang paling dekat selain dengan pasangan pernikahan. Harusnya memang pasangan lah yang paling bisa memberikan “kasih sayang” yang membuat kita merasa tenang dan nyaman. Pasanganlah ynag harusnya menjadi orang yang “mendidik” kita agar seluruh potensi kebaikan yang ada dalam diri kita menjadi berkembang….

Dan …. pasangalah yang sejatinya harus menjadi “rem” bagi kita untuk menahan hawa nafsu kita. Poin ini nih…yang sekarang sedang saya hayati dan saya rasakan “nikmatnya”. Yups..yups…menahan hawa nafsu, adalah PR kita dalam setiap helaan nafas kita. Dan kita tak selalu bisa sendiri melawan si hawa nafsu ini.

Dua issue yang paling sering  adalah (1) pengen vs perlu dan (2) benar vs bijak.

Saya rasa setiap orang punya issue ini. Dan semakin tahun bertambah, mas sudah hafal dalam area apa saja saya bisa “kehilangan akal sehat” keukeuh menginginkan sesuatu yang sebenarnya tak diperlukan….demikian pula sebaliknya, saya sudah tau betul “modus operandi” mas saat ia merasionalisasi keinginan menjadi kebutuhan ;). Seiring waktu kebersamaan kami, saya juga sudah tau karakteristik kepribadian mana yang membuatnya kurang mempertimbangkan konteks masalah , dan mas juga sudah mengerti hal apa yang membuat saya tak bersikap bijak .

Proses ini yang kini tengah kami nikmati. Seru…karena itu tak mudah. Terkadang saya harus menunggu bertahun-tahun  untuk menemukan momen yang pas saat mengingatkan mas dalam suatu hal. Mas juga harus mencari seribu satu cara untuk bisa membuat saya mau diingatkan.

Tapi efeknya luar biasa…menghasilkan perasaan nyaman dan aman. Bahwa  kami saling mencintai. Bahwa kami peduli, dan kami ingin kebersamaan kami tidak hanya di dunia, tapi sampai akhirat nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s