Three in (perfect) One

Selama beberapa minggu ini saya dan mas mendapatkan kesempatan untuk mengikuti “peregangan otot spiritual” dari beberapa ustadz. Dianalogikan dengan otot tubuh yang kalau capek harus diregangkan biar jadi segar kembali, begitupun otot spiritual. Harus dilakukan peregangan kata salah seorang ustadz. Salah seorang ustadz yang saya suka banget adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi islam. Kenapa saya suka banget? karena …beliau itu menjelaskan konsep-konsep islam dengan pendekatan filsafat. Penjelasan beliau membuat konsep-konsep islam menjadi begitu logis sekaligus filosofis sehingga begitu….mempesona…. selama 7 jam beliau memberikan materi, saya benar2 tak berkedip…sampai deg-degan….sering juga saya terguguk menangis…karena apa yang beliau sampaikan begitu menelisiiiiiiik…ke lubuk hati paling dalam.

Salah satu materi yang sangat keren buat saya adalah….saat beliau menjelaskan bahwa islam itu, memiliki 3 sisi yang tak bisa dilepaskan satu dengan yang lainnya. Tiga sisi itu adalah :

(1) Iman; yang lalu turun menjadi akidah dan turun lagi menjadi ilmu kalam/ushulludin.

(2) Islam; yang turun menjadi syariah dan turun lagi menjadi ilmu fiqih–>bicara tentang hal “teknis” dalam beramal

(3) Ihsan; yang turun menjadi  akhlak, lalu turun lagi menjadi ilmu tasawuf –>bicara tentang “makna”

Jujur saja, saya tak pernah merasakan sebangga ini menjadi seorang muslimah….saat beliau menjelaskan bahwa setiap ibadah dalam Islam itu, mengandung tiga hal tersebut….. lalu beliau menjelaskan satu demi satu aspek ilmu kalam, fiqih, dan makna dari setiap rukun islam: syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

Penjelasan beliau membuat saya jadi mendapatkan jawaban  dari segala macam hal yang berkecamuk dalam pikiran saya. Sebenarnya, tiga aspek ini bisa menjadi indikator bagi kita untuk menilai apakah suatu amalan itu telah benar atau tidak. Tidak hanya amalan yang sifatnya ritual, namun dalam setiap kegiatan kita, seharusnya kita menimbang apakah masing2 sisi di atas telah terpenuhi atau belum….mulai dari hal-hal besar seperti bernegara, berpartai, lalu ke hal-hal yang lingkupnya lebih kecil: menikah, berpoligami, berpakaian, berkomunikasi…..kalau hanya salah satu atau salah dua yang terpenuhi, ia bukanlah amalan yang benar. Jadi teman-teman kita yang menganggap “yang penting berbuat baik, Allah kan maha pengasih” tanpa sholat dan menjalankan ibadah ritual, itu  tidaklah benar. Demikian juga teman-teman yang biasa sholat, puasa, namun tak menghayati makna dari ibadah yang dilakukannya….seperti yang sekarang banyak terjadi….abis taraweh, tawuran….dll… atau misalnya laki-laki yang menikahi wanita satu malam saja sehingga secara fiqih ia merasa tidak berzina…..(menurut saya, kelompok yang seperti ini adalah kelompok yang mencoba “ngibulin Allah”)

Lalu, apa efeknya kalau amalan yang kita lakukan itu memenuhi ketiga syarat diatas? nah…ini yang saya suka banget…karena nyambung sama ilmu saya….terutama bagian yang ketiga. Tentang “makna” yang kita hayati saat melakukan ibadah-ibadah kita. Tentang “penghayatan”… apa penghayatan kita saat kita membasuh bagian2 anggota tubuh kita saat berwudhu? apa penghayatan kita saat mengucap masing2 doa sholat? apa penghayatan kita saat kita merasakan laparnya puasa? apa penghayatan kita saat melakukan thawaf? sa’i? melempar jumroh? berkumpul di padang arafah? tahallul?

Penghayatan-penghayatan itulah yang akan menjadikan ibadah dan amal yang kita lakukan itu media untuk “menterapi” diri kita, sehingga kita menjadi pribadi yang kuat….dimata Allah dan di mata manusia. Dengan pendekatan madzhab manapun dalam psikologi, amalan-amalan ibadah dalam Islam, jika dihayati maknanya, akan membuat seorang yang menjalaninya menjadi orang yang berkepribadian baik. Itulah perfect nya Islam. Bahwa ia menjadi suatu nilai yang menggerakkan ke arah kebaikan…dengan bahasa dan indikator apapun. Ga ada ceritanya  orang yang nyebelin di mata manusia tapi mulia di mata Allah… ajaran Islam itu, adalah ajaran yang menjadi jaminan bagi siapapun yang mengamalkannya dengan benar, akan selamat dunia akhirat. bahagia dunia akhirat, baik di mata manusia dan di mata Allah.

Salah satu bagian dari nilai Islam itu adalah kebaikan universal. Jadi gak ada ceritanya… seorang muslim/muslimah melakukan kebaikan menurut versinya, tapi orang tidak memandang itu sebagai kebaikan….Seorang pribadi muslim/muslimah yang baik di mata Allah, pasti baik pula dimata manusia. Dan ia akan bisa mengkomunikasikan kebaikan Islam dengan bahasa kebaikan universal. RAsulullah….mengapa ia dulu “didengar” oleh kaum jahiliah…karena ia adalah seorang yang jujur….dan jujur itu nilai kebaikan universal.

Haduuuuh…..baru kali ini saya speechles…hati deg2an tapi gak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan….

I just wanna say…I’m proud to be a muslimah …..

Advertisements

Sebelas Tahun : Dua Pertanyaan

Konon, agar memiliki akar yang kokoh, seorang atau sepasang yang akan menikah harus bisa menjawab dua pertanyaan. Kalau pake bahasa Dr. Ali Syariati mah “kita harus menggugat niat kita terlebih dahulu” kali ya….. Dua pertanyaan itu, pertanyaan pertama adalah; “mengapa aku menikah?”. Sedangkan pertanyaan kedua adalah ; “mengapa aku menikah dengannya?”.

Menurut teman saya yang bergelut di bidang penelitian pernikahan, jawaban pertama biasanya dijawab oleh responden Indonesia yang beragama Islam dengan jawaban : “untuk menggenapkan separuh din, mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah, dan mengikuti sunnah”. Meskipun jawaban tersebut “seragam” diberikan oleh responden dari beragam tingkat pendidikan dan sosial ekonomi, akan tetapi ketika ditanya lebih lanjut mengenai makna dari jawaban-jawaban itu, hanya sedikiiiiiiiiiiit yang paham. Apalagi menghayatinya.

Menilik fenomena di atas, tampaknya kita harus menyisihkan waktu untuk merenung….memahami, lalu menghayati…apa jawaban dari lubuk hati terdalam kita terhadap pertanyaan pertama. Dan buat kita yang sudah menikah, kita bisa tau apakah jawaban kita jujur atau hanya “basa-basi” dari perwujudan keluarga yang telah kita bangun, atau dari upaya yang kita lakukan untuk mewujudkan keluarga kita. Jangan-jangan, kita sudah menikah bertahun-tahun atau berbelas tahun, tapi kita tak tahu pasti, tak begitu menghayati apa yang mendorong kita untuk menikah. Mungkin sejujurnya, kita menikah hanya karena “memang sudah saatnya aja menikah”…atau “masa gak nikah?” … atau “malu sama orang lain” atau…jawaban-jawaban lain yang membuat kita tak tahu apa sesungguhnya yang ingin kita tuju melalui pernikahan ini.

Menurut penghayatan saya, jawaban dari pertanyaan pertama memang haruslah sesuatu yang filosofis; buat kita muslim, memang seharusnya jawabannya berupa hal yang spiritual. Karena itu bagaikan janji sekaligus permohonan kita pada Allah. Dan janji serta permohonan ini hanya akan sampai kalau kita menghayatinya dengan hati yang paling dalam. Kalau kita tak paham dan tidak menghayati tujuan kita, bagaimana mungkin kita bisa tau apakah kita menuju tujuan tersebut atau tidak? kita akan “tersesat”…

Sedangkan jawaban yang kedua, menurut saya haruslah bersifat unik. Pertanyaan yang kedua ini memberikan ruang keunikan individual. Setiap wanita pasti mendambakan suami yang bisa jadi “imam”. Begitupun seorang laki-laki pasti mendambakan istri yang sholihah. Tapi, dari sekian banyak laki-laki yang bisa jadi imam itu, kenapa seorang wanita lebih memilih si A ketimbang si B atau si C? demikian juga dari sekian banyak wanita yang sholihah, mengapa seorang lelaki lebih suka pada si sholihah yang ceria dan dinamis dibanding si sholihah yang pendiam? sedangkan seorang lelaki lain sebaliknya? itulah jawaban dari pertanyaan kedua.

Dalam psikologi, memilih pasangan hidup adalah tugas perkembangan pada tahap dewasa. Sebelum itu, seorang individu haruslah menyelesaikan tugas perkembangan di tahap remaja. Dalam tahap perkembangan remaja, seorang individu mengidentifikasi “self”nya. Siapa aku? jawaban dari pertanyaan itu haruslah sudah relatif matang. Mengapa harus begitu? karena seorang yang tidak tahu siapa dirinya, masih bingung siapa dirinya, tak akan bisa menghayati  seperti apa pendamping hidup yang ia butuhkan. Karena pada dasarnya, pendamping hidup, pasangan menikah adalah refleksi dari ke”diri”an kita, yang kita harapkan bisa menemani sekaligus melengkapkan diri kita di mata manusia maupun di mata Allah. Menurut penghayatan saya, itulah makna “melengkapkan separuh dinn”.

Maka oleh karena itulah, tak perlu kita heran kalau ada seorang pemuda yang memilih seorang wanita dengan usia yang jauuuuuh lebih tua darinya untuk menjadi istrinya. Tak perlu heran juga kalau ada si A memilih si B padahal rasanya gak matching. Hehe…jadi inget saya juga dulu terheran-heran kenapa ada seorang teman saya yang berpendidikan sangat tinggi, biasa cas cis cus dan keliling dunia di pekerjaannya, memilih istri seorang gadis desa berpendidikan rendah…….Itu karena ….. kebutuhan seseorang terhadap pendampingnya bersifat personal.

Dan….menurut saya, saat kita bisa menjawab pertanyaan  “mengapa saya menikah dengannya?” dengan jawaban yakin dan mantap berdasarkan penghayatan dari lubuk hati paling dalam, itu adalah pilar pernikahan yang amat kokoh..Ia adalah penangkal dari segala macam badai yang dihadapi dalam kehidupan bermah tangga.

Mengapa begitu? …… saya yakin….tak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Sebab sempurna berarti memenuhi harapan kita setiap saat. Sedangkan harapan kita sering berubah-ubah. Begitupun dalam menikah. Tak akan pernah ada pasangan yang sempurna. Coba kita ingat-ingat lagi saat sebelum menikah dulu, saat ada beberapa pilihan, dengan kualitasnya masing-masing. Kalaulah kita akhirnya memilih si A, itu bukan karena dia sempurna bukan? tapi ada satu kualitas utama darinya yang paling kita butuhkan. Itu semacam “key competence” kalau dalam kompetensi SDM di perusahaan mah. Sebuah kualitas yang membuat kita mengabaikan hal-hal lain yang menjadi “kekurangan” dia di mata kita.

Dan, “key competence” itu berbeda-beda untuk setiap pasangan. Tergantung kepribadian dan  value masing-masing. Ada yang key competencenya kecantikan/kegantengan; kesetiaan; kecerdasan; kesederhanaan; dan amat banyak kombinasi lainnya. Tapi yang jelas….itu sangat personal. Itu sebabnya ukuran-ukuran dalam pernikahan itu sangat individual. Tak bisa dibandingkan.

Hehe…saya jadi ingat…tahun lalu, saya diingatkan teman saya untuk lebih sering ke salon. “cewek-cewek sekarang kan gila Fit…yang hijaber-hijaber juga pada kinclong…kita sebagai istri gak boleh kalah…godaan suami di luar berat banget…”. Wah..saya tergoda juga..makanya…meskipun saya paling males bersalon ria, kali ini saya mendatangi sebuah salon kecantikan, berkonsultasi dan membeli serangkaian produknya. Waduh….harganya setengah gaji saya…gak apa-apa lah….Selain itu, saya pun menuliskan “ke salon sebulan sekali” dalam resolusi tahun 2013 saya. Mengoleskan beragam krim di saat akan bepergian dan menjelang malam sangat meribetkan buat saya…tapi saya ingat kata2 teman saya tadi…ga apa-apa lah…ternyata eh ternyata…suami saya juga komplain. Dan ketika saya “mempresentasikan” resolusi ke salon tiap bulan itu, suami saya langsung bereaksi ” ngapain? kurang kerjaan banget…bla..bla..bla..itu juga pake krim-krim itu buat apa..yang penting, perempuan itu secara fisik bersih, segar, sehat, ….olahraga..jauh lebih penting daripada salon-salonan” katanya…. Cihuy!!!! tentulah saya berbahagia…lepas sudah penderitaan sayah haha… saya jadi sadar…”key competence” saya memang bukan disitu. Da kalau suami saya memilih istri karena kecantikannya, pastilah dia tidak akan memilih saya haha…

Hari ini, 15 Juni, tepat 11 tahun saya dan suami membentuk keluarga. Pada tanggal ini di setiap tahunnya, saya selalu berusaha menyempatkan waktu menghayati kembali perjalanan pernikahan kami. Terlebih sejak tahun lalu, saat beberapa teman terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan alasan yang amat bisa terjadi pada kami, syukur saya bahwa pernikahan ini bertahan sampai selama ini, menjadi lebih besar.

Tentunya karena kami bukan pasangan dongeng, selain hari-hari indah dan bahagia, ada-ada juga hari “kelam” yang kami jalani. Kekesalan, kemarahan, kekecewaan, bahkan lintasan untuk “berpisah” hadir….Namun yang saya hayati, jawaban dari pertanyaan kedua; “mengapa saya menerima mas menjadi suami saya” adalah senjata jitu yang selalu bisa mengaburkan kekesalan dan kemarahan saya. Dan lalu, biasanya ingatan tentang kejadian yang mengesalkan itu perlahan tergantikan oleh memori-memori mengenai situasi di saat mas menunjukkan “key competence”nya… Dan di titik itu, hati saya biasanya mengatakan bahwa “saya tidak menyesal menikah dengannya”. Kemudian…permasalahan yang biasanya printil-printil itu menjadi gak penting lagi ……kemudian diakhiri dengan kelegaan perasaan untuk bisa membicarakan itu dengan mas, yang biasanya diakhiri gelak tawa menertawakan “kebodohan” kami …

Kesaktian dari jawaban “mengapa aku menikah denganmu” juga berlaku saat kita mengetahui “key competence” apa yang kita miliki yang membuat pasangan kita memilih kita. Buat saya, mengetahui hal itu menumbuhkan kepercayaan diri, bahwa saya tak perlu menjadi “istri super” yang harus prima dalam segalanya. Bahwa dia menerima kekurangan-kekurangan saya, karena saya memiliki sesuatu yang berharga untuknya….

Pagi ini, Azka dan Umar memberikan surat ucapan untuk abah-ibunya. Tapi hari ini bukan saja hari jadi pernikahan ibu-abah, tapi hari jadi keluarga kita. Semoga, Allah mengabulkan semua doa yang Kaka Azka dan Mas Umar tuliskan untuk keluarga kita. Semoga ibu dan abah bisa menyaksikan anak-anak tumbuh besar, mendampingi anak-anak di masa-masa sulit dan berat, ikut tersenyum di hari-hari bahagia anak-anak…semoga ibu dan abah bisa terus bersama sampai menua…dan saat ajal memisahkan, itu hanya perpisahan sementara karena kita akan berkumpul kembali di syurgaNya.

Abah, Kaka Azka, MAs Umar, Kaka Hana, de Azzam, I Love U. Allah, terimakasih …..

 

 

the BIG U and the small i

Konon katanya, “kesetaraan” antara suami dan istri tak akan pernah bisa dicapai dalam tataran teknis. Karena bagaimanapun, katanya sebuah keniscayaan bahwa suami  ingin “diposisikan lebih” oleh istrinya. Ada yang menjelaskan hal ini dari sudut pandang “fitrah”, “genetik”, “udah dari sononya gitu”. Ada juga yang mencoba mendebat dengan beragam argumennya bahwa fenomena ini adalah hasil dari rekonstruksi sosial. Ada juga yang mencoba menggambarkan dinamika antara faktor “nature” dan “nurture” ini. Dalam tulisan ini saya tidak mau mengutik-utik “mengapa”nya. Saya memposisikan berada pada titik bahwa, di kultur Indonesia fenomena itu ada. Bahwa seorang istri itu haruslah melayani suaminya.

Kalau saya melihat perilaku “melayani ini”, beragam…. Ada faktor waktu yang bermain di dalamnya. Angkatan ibu-ayah saya, adalah angkatan dimana pada umumnya istri berpendidikan lebih rendah dari suami, berperan sebagai ibu rumah tangga sejati. Kalau saya mencermati bagaimana pelayanan ibu saya pada ayah saya, full !!! mulai dari menyiapkan peralatan mandi, baju untuk berangkat, mengancingkan baju, menyiapkan makan, dengan standar tertentu. Saya sering merasakan rutinitas itu sebagai rutinitas yang “romantis”…. Memang kalau dilihat kasat mata, para suami seperti seorang “raja”. Namun…jangan salah….kalau saya melihat justru dengan pola ini, si suami sebenarnya tergantung secara emosional pada istri. Menurut saya, begitulah cara pasangan suami istri di kohort ibu-ayah saya saling mengikatkan diri. Saya ingat sekali, waktu ayah saya kuliah lagi di Bandung, ibu saya selalu menelpon saya: “jangan lupa nyiapin air minum buat papa…air panasnya segini, air dinginnya segini, jangan terlalu panas atau terlalu dingin….kalau goreng telor harus kayak gini….bla..bla..bla..”. Dan walaupun saya berusaha “semirip” mungkin, tetep we…ayah saya gak betah dan “gak nyaman”.

Dengan standar pelayanan seperti itu, saya memaklumi kalau di bulan-bulan pertama saya menikah, lalu orangtua saya berkunjung dan melihat bagaimana cara saya “melayani” mas; ibu saya langsung minta maaf sama mas ” Maaf ya mas, bukannya mama engga ngajarin cuman harap dimaklumi aja …bla..bla..bla..” Sepertinya mama merasa gagal mendidik saya untuk menjadi istri yang baik haha….. (Dasar anak durhaka….ibunya malu malah haha hihi….)

Sebenarnya saya engga durhaka-durhaka amat sih….Saya udah mencoba loh, mempraktekkan standar pelayanan ibu saya ke ayah saya, sama mas. Yang paling standar : nyiapin air minum. Tapi akibatnya adalah….sakit hati. Udah disiapin air minum anget….pas mas pulang disodorin… eh, mas bilang “aku pengen yang dingin ah…” dan mas ambil sendiri di kulkas. Besoknya disediain yang dingin…eh..mas mau yang anget. Yang paling sering adalah….mas lupa minum air yang saya siapin, karena kebiasaan ambil sendiri. Akhirnya kebiasaan itu hilang tanpa kesepakatan tertulis hehe… Nungguin makan, biar makan bareng…..pernah juga saya lakukan di bulan pertama menikah. Akibatnya? maag saya selalu kambuh. Bagaimana tidak? kadang mas pulang maghrib, kadang jam 7, kadang jam 9, kadang jam 12, kadang jam 3 dinihari….hiks..hiks… dan kalau saya telpon n bilang “aku nunggu makan bareng ya…”, pasti mas bilang “ngapain nunggu? kalau sakit tanggung sendiri ya…”. Dan…begitulah kejadiannya untuk setiap cara pelayanan ibu saya yang saya praktekkan ke mas.

Akhirnya, saya pun mulai mengerti. Latar belakang sosial masyarakat saat ibu-ayah saya menikah, dengan kondisi masyarakat saya-mas; beda banget. Latar belakang pendidikan dan pola asuh kami juga beda. Mas udah terbiasa kos, nyiapin apa-apa sendiri, peran istri-suami yang saya sepakati juga beda dengan peran istri-suami yang orangtua saya jalankan. Baiklah…

Tapi…..apakah itu berarti bahwa peran istri yang “melayani” suami itu hilang? Sepertinya tidak. Hanya berbeda bentuk saja menurut saya. Beda bentuk antar satu generasi dengan generasi lain, beda bentuk antar satu pasangan dengan pasangan lain. Di sinilah perlunya kejelian dan penghayatan istri. Bahwa suami, biasanya memiliki satu titik “otoritas” tertentu yang ia butuhkan. Dan kebutuhan otoritas ini, ada yang terucapkan ada yang tidak.

Untuk seorang suami, mungkin titik otoritasnya adalah dalam masalah dapur. Bahwa makna pelayanan istri adalah pada hal makanan.  Istri mutlak harus memasakkan sendiri, menyediakan sesuai selera suami, dll….  Kalau pelayanan istri dalam hal ini kurang, maka itu mengganggu otoritasnya. Ada juga tipe suaminya yang mungkin otoritasnya ia letakkan dalam masalah kasur. Bahwa ia punya otoritas yang tak mau sedikitpun diusik dalam masalah seksual. Ada juga tipe suami yang otoritasnya ia pegang dalam masalah keuangan. Istrinya boleh mengabaikan apapun, tapi kalau ia merasa “tidak dihargai” dalam masalah keuangan, otoritasnya akan terusik. Dan banyak lagi, tak terhingga tipe-tipe lain.

Istri yang bisa menghayati kebutuhan otoritas suaminya, dan bersedia memenuhinya menurut saya adalah salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga. Tapi ada satu lagi. Kalau dirasa amat sangat berat untuk memenuhinya, akan lebih baik jika mengokumikasikannya agar suami bisa menurunkan standar otoritasnya dalam suatu hal. Dengan kesepakatan yang dibicarakan, suami akan tetap mendapatkan otoritasnya, si istri pun tak merasa menderita untuk bisa memenuhinya.

Intinya, sebagai istri kita harus tetap memposisikan diri dan memiliki kerangka pikir “The Big You and The Small I”. Untuk kultur Indonesia, katanya penghayatan ini justru membuat istri juga merasa telah menjalankan perannya dengan baik. Jadi, kepercayaan diri dalam perannya sebagai istri menjadi positif.

 

 

 

Happy n Success Working Mom

Saya bukan orang yang pro atau kontra terhadap situasi wanita/ibu bekerja di domain publik. Tapi saya amat bersyukur bahwa ada wanita2/ibu2 yang memilih bekerja di domain2 publik tertentu. Misalnya, saya amat bersyukur dengan adanya dokter kandungan wanita dan para bidan/perawat, yang membuat saya merasa sangat nyaman saat situasi melahirkan. Tidak  terbayang kalau dokter, bidan dan perawatnya laki-laki…kayaknya akan tambah stress… Demikian juga saya amat bersyukur saat di TK atau SD kelas1-3, anak2 saya dididik oleh seorang guru wanita. Karena anak-anak usia itu, memang lebih membutuhkan figur seorang ibu dibanding figur  guru di sekolah.

Saat tengah malam saya kesakitan menjelang melahirkan dan ditenangkan oleh para perawat yang begitu penuh kasih sayang, saya selalu terharu akan “pengorbanan” mereka meninggalkan buah hati mereka di rumah (saya tahu mereka punya anak kecil dari obrolan2 mereka ;). Saya juga  sering sekali membayangkan “pengorbanan” guru2 TK anak-anak saya saat mereka harus “lembur” mempersiapkan panggung pentas, atau harus menginap di sekolah untuk menemani anak-anak didiknya kemping. Padahal saya tahu mereka punya anak kecil juga. Dan akhirnya, yang bisa saya lakukan adalah mendoakan mereka, agar pekerjaan yang mereka lakukan menjadi jalan mendapatkan keberkahan untuk keluarga dan anak-anak mereka.

Saya juga bisa memahami besarnya pengorbanan ibu-ibu yang memilih (baik dengan kesadaran maupun karena situasi), untuk menjadi ibu rumah tangga. Melakukan pekerjaan yang tak ada habisnya….seringkali tak dianggap sebagai “prestasi”…itu pastinya memerlukan kebesaran hati yang amat sangat. Oleh karena itulah, menurut saya…IRT atau working mom itu masalah pilihan “sajadah panjang” saja. IRT vs working mom bukanlah stratifikasi, tapi lebih merupakan differensiasi. Seorang working mom tak lantas jadi “lebih hebat” dibanding IRT. Demikian juga seorang IRT tak otomatis menjadi “lebih mulia” dibandingkan seorang working mom. Kehebatan dan kemuliaan itu tergantung dari upaya untuk mengerjakan yang terbaik serta keikhlasan menjalani  tugas. Tugas itu hanya jadi media saja untuk mendapatkan keberkahan hidup dunia akhirat, bukan?

Berikut saya ingin berbagi mengenai “kiat sukses dan bahagia” (halah, lebay pisan 😉 bagi working mom. Hal-hal ini merupakan abstraksi dari pengalaman dan pengamatan saya terhadap rekan maupun senior yang berhasil dan berbahagia dalam menjalankan peran gandanya. Artinya, mereka-mereka ini menjadi istri dan ibu yang yang dibanggakan keluarganya,  sekaligus cemerlang dalam karirnya.

Ada 3 kelompok bekal yang dimiliki oleh “happy n success working mom”; yaitu bekal yang terkait dengan spiritual, psikologis dan teknis. Bekal-bekal itu adalah:

Spiritual :

(1) Domain pekerjaan di luar rumah yang dilakukan MUTLAK haruslah HALAL dan THOYYIB. Halal mah udah jelas dan tak bisa ditawar menurut saya. Untuk masalah “Thoyib” atau “baik” ini; saya harus menghaturkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada para pejuang wanita di DPR/DPRD/LSM kewanitaan yang terus memperjuangkan implementasi perlindungan TKW baik di dalam aupun di luar negeri. Setelah mengikuti suatu talkshow ttg ketenagakerjaan wanita, saya baru tahu bahwa dalam aturannya, perundang-undangan tenaga kerja wanita itu sudah memberikan perlindungan ekstra untuk para wanita. Misalnya adanya cuti haid. Atau adanya aturan bahwa untuk para wanita yag pulang malam, seharusnya perusahaan memberikan layanan antar jemput sampai dengan rumah untuk menjaga keselamatan TKW. Sekali lagi, “take a bow” untuk para pejuang wanita yang seringkali dicibir dengan cap “feminis”.

(2) Izin dari suami. Sebagai muslimah yang ingin setiap langkah yang dijalaninya dalam radar keridhoan Allah, izin suami juga mutlak. Salah satu ilustrasi yang menggambarkan bagaimana seorang istri tak akan sukses bekerja jika tanpa ridho suami adalah sebagai berikut: saya pernah bertemu ibu yang mengeluhkan permasalahan regulasi emosi anaknya. Setelah ditelusuri lagi, hal itu karena pola asuh yang 180 derajat antara da dan suaminya. Ketika si istri memprotes pola asuh suami yang sangat permisif, si suami selalu bilang: “makanya, kamu brenti kerja dong…kalau kamu brenti kerja, aku mau ubah caraku”. “Memang dia gak setuju saya kerja bu, dia emang ngelarang….tapi saya tetep pengen kerja….jadi itu teh cara dia maksa saya berenti kerja bu” ….Tentunya tak ada yang mau situasi seperti di atas terjadi….

Psikologis :

(1) Penghayatan akan pilihan dan motivasi.

Nah…secara psikologis, pilihan ibu bekerja seharusnya didasari oleh penghayatan dan kesadaran terhadap motivasinya. Kebutuhan ekonomi? aktualisasi diri? kegiatan sosial? apapun itu, jika dihayati dan disepakati dengan suami, akan jadi pengarah sekaligus rem dalam berkegiatan di luar rumah. Seorang wanita harus dengan jelas dan jujur mendefinisikan motivasinya dalam beraktivitas sebagai working mom. Karena motivasi ini akan mewarnai bagaimana ia berperilaku.

(2) Self awarenes.

Nah….ini pentiiiiiiing banget. Tak sedikit pilihan “bekerja” istri menjadi pencetus dan penyebab pecahnya suatu keluarga jika self awareness tak dimiliki oleh seorang wanita. Self awareness terhadap apa? terhadap peran domestiknya. Sebagai istri dan ibu. Seorang wanita yang bekerja….harus sepenuhnya menyadari bahwa…ia berperan ganda. Itu artinya, pekerjaannya tidak boleh menjadi EXCUSE untuk tidak menjalankan tugas sebagai ISTRI dan IBU. Jujur saja, saya terkaget-kaget saat membaca jurnal dari USA sono, yang menyatakan bahwa situasi di sana, sama dengan situasi di timur sini. Bahwa seorang wanita bekerja, tetap….dituntut menjalankan peran domestiknya dengan baik. Jika peran domestik itu tak dikerjakan oleh istri, maka hanya ada dua pilihan: (1) tetap tak dikerjakan, (2) dikerjakan oleh tenaga yang dibayar alias ART 😉 Itulah sebabnya…kalau ibu2 berbaju PNS pulang ngantor, sering sekali terlihat sambil menjinjing keresek isinya kangkung, bayem, ayam… saya juga masih ingat salah seorang teman kuliah saya dulu, di tengah-tengah presentasi mendapat telpon dari rumah, yang mengabarkan bahwa gas dan galon abis ;). Kalau tak punya self awarenes untuk menjalankan “second shift” dengan penuh keikhlasan setelah penat menjalankan “first shift” di kantor, bisa bikin keluarga hancur…

Self awareness yang kedua berkaitan dengan issue “The BIG U and teh small i”. Konon, bagaimanapun laki-laki itu punya kebutuhan untuk menjadi figur otoritas bagi wanita. Banyak teori yang menjelaskannya. Ada yang bilang itu genetik, ada yang bilang itu konstruksi sosial, ada juga yang mengatakan itu sudah “fitrahnya”. Yang jelas, di kultur Indonesia, begitulah memang adanya. Saya melihat, working mom yang bisa menyeimbangkan kehidupan keluarga dan kehidupan karir dengan sama suksesnya adalah yang memiliki kesadaran penuh akan hal ini. Saya tahu, beberapa teman saya yang potensial karirnya melejit, menahan diri demi menghargai suaminya. Demikian juga beberapa teman saya berpotensi untuk mendapatkan penghasilan yang jauuuuuuh lebih besar daripada suaminya, mengerem diri juga demi memberikan porsi otoritas itu tetap untuk suaminya. Dan….senior2 saya yang hebat2….yang di kantor dihormati, dielu2kan karena kompetensinya, saat di rumah menanggalkan semua kehebatannya…tetap menjadi seorang istri “biasa”.

Teknis-Strategis

(1) Manajemen emosi dan waktu. Seorang working mom yang sukses, saya lihat manajemen waktunya yahud banget. Punya segudang energi untuk menyelesaikan beragam pekerjaan dengan efisien. Tahu betul apa yang harus dikerjakan dan apa yang tak harus diperhatikan. Dan seringkali, manajemen waktu ini merupakan cerminan manajemen emosi. Bagaimana menunda tugas yang udah mepet karena harus menemani anak, misalnya. Bagaimana harus tetap berkonsentrasi padahal mah pengen bersantai-santai….dll

(2) Punya operasionalisasi prioritas yang jelas. Komitmen untuk menyeimbangkan prestasi di keluarga dan di tempat kerja biasanya hanya menjadi gagasan kalau tak dioperasionalkan. Saya melihat, ibu-ibu bekerja yang “gagal” terjadi karena tak punya operasionalisasi ini, akhirnya tanpa sadar ia telah mengabaikan salah satu. Sedangkan ibu bekerja yang “sukses”, saya lihat punya operasionalisasi yang jelas. Misalnya: sabtu-minggu tak mau terima telpon apapun tentang pekerjaan. Atau ada senior saya yang sengaja tak punya koneksi internet di rumahnya, karena berkomitmen ketika di rumah, tak mau diganggu urusan pekerjaan apapun. Atau, ada juga yang batasannya adalah…gak boleh marah sama anak. Atau opeasionalisasinya adalah…selalu menemani anak belajar ….dll dll…. apapun itu, operasionalisasi itu akan menjadi pengikat dan pengingat serta penanda..

(3) Menjalin persahabatan  di tempat kerja. Nahhh…ini mah pengalaman saya sendiri. Punya lingkaran persahabatan di tempat kerja (atau kita bilang support group) sangat berarti. Tak hanya membuat kita merasa nyaman dan bisa berkarya n berprestasi dengan lebih baik. Tapi lebih daripada itu, bisa menjadi jendela untuk meluapkan emosi yang kita rasakan dalam issu “domestic vs public” ini.

Last but not least adalah…..dukungan keluarga. Terutama dukungan pasangan. Itu mah …. energi yang tak  ternilai buat seorang working mom. Bagaimanapun, ketika seorang ibu berkomitmen terhadap satu pekerjaan, ada tuntutan. Ada konflik, ada situasi negatif, dll……Suami yang memahami, mendorong, menemani, membantu, itu adalah kunci yang amat penting.

So….banyak temuan menunjukkan plus minus dari setiap pilihan wanita saat ia telah menjadi ibu. Apapun pilihan dan situasi kita, yang penting kita pelajari ilmunya, maksimalkan ikhtiarnya, karena akhirnya nanti, nilai seorang manusia adalah RESULTAN DARI KEBAIKAN-KEBAIKAN yang ia lakukan dengan IKHLAS, dimanapun setting dan apapun yang ia lakukan.

U Ka Ka

Bagi sebagian emak yang udah punya anak SD, minggu besok adalah minggu UKK atau Ujian Kenaikan Kelas. Begitupun dengan Kaka Azka dan Mas Umar. Meskipun sudah seminggu ini di sekolah meraka dilaksanakan “review” materi pelajaran selama satu semester dan sudah mengerjakan latihan soal untuk persiapan UKK, tetep aja rasanya gak afdol kalau gak saya “sisir” lagi di rumah. Menyempurnakan ikhtiar ceritanya mah…

Dulu sih….waktu saya punya 2 ART dan baru punya 3 anak, itu jamannya baru Kaka Azka aja yang SD, saya rajin banget bikin soal  berdasarkan kisi-kisi yang diberikan gurunya. Tapi sekarang mah….gak sempeeeeet….huhu…

Jadilah strateginya dirubah. Mulai kemarin, belajar dengan cara mengulang nyanyian-nyanyian yang diajarkan di sekolah sebagai metoda pengajarannya (salah satu hal yang saya senangi dari sekolah Azka Umar adalah kreatifitas guru membuat syair-syair berisi materi pelajaran….)

Misalnya, vocabulary nama-nama hewan dalam bahasa Arab dinyanyikan dengan nada lagu Naik-Naik Kepuncak Gunung : Fillun Gajah, Hisonun Kuda, Baqorotun Sapi/Kalbun Anjing, Ghonamun Kambing, Dajjajatun Ayam/Qittun kucing, Toirun burung, Namirun itu Harimau/Qittun kucing, Toirun burung, Asaddun itu Singa

Tak hanya pelajaran MAs Umar yang masih kelas 1…materi pelajaran Azka di kelas 4 pun ada lagunya, misalnya pelajaran Bahasa Indonesia mengenai huruf kapital, lagunya menggunakan nada lagu tik-tik-tik bunyi hujan: Yo ayo belajar huruf kapital/di awal kalimat dan nama orang/hari dan bulan/gunung dan sungai/jalan dan kota janganlah lupa…

Selain lagu-lagu itu, berkas-berkas ulangan dan uts selalu dibagikan dan diberi folder tersendiri oleh gurunya. Sehingga tinggal tanya jawab aja…seperti tadi siang…di perjalanan jalan-jalan, tanya jawab beragam pelajaran Mas Umar dan Kaka… Dari jawaban-jawaban yang salah, tahulah saya  topik apa yang belum dikuasai anak-anak.

Naaah… Khusus untuk topik yang kurang dikuasai anak-anak, seringkali kita “malas” untuk menjelaskan kembali konsepnya. Ada kecenderungan yang besar bahwa belajar di rumah itu adalah “menguji” atau “menghafal”/”mengulang”. Karena paradigma itu, maka ibu-ibu biasanya kesal kalau anak belum paham/susah mengerti, dan yang dilakukan adalah  “menambah soal latihan” …..Biasanya, inilah yang menjadi pangkal kekesalan dan suasana “mencekam” saat belajar (haha…saya pake kata “mencekam”, teringat salah seorang ayah yang menceritakan bahwa anaknya kalau belajar sama ibunya selalu stress karena suasananya “mencekam” wkwkwkw…). Bahkan tak jarang  bagi beberapa ibu-ibu, situasi ini berujung pada terjadinya abuse pada anak; entah itu jeweran, cubitan dll.

Kecenderungan kesal saat anak belum paham juga tentunya saya alami. Demikian juga “kemalasan” menjelaskan kembali konsep yang belum dipahami anak. Apalagi kalau udah dijelaskan dengan satu cara belum mengerti juga. “masa gak ngerti juga siiih”….kalimat itu pengeeeeen banget rasanya keluar. Atau nada suara, tanpa sadar meninggi…. Sabar…yups…tahu….tapi mengamalkannya dalam situasi seperti itu….butuh relaksasi berkali-kali 😉

Tapi, syukurlah…profesi saya membuat ada beberapa pengalaman yang membuat saya  selalu teringatkan untuk bisa sabar. Salah satunya adalah, pernah ada seorang anak yang dikeluhkan sangat tertinggal dalam pelajaran matematika. Setelah dilakukan asesmen, ternyata anak ini pinter. IQnya superior. Potensi numerikal dan logika matematikanya pun bagus. Tapi si anak ini, setiap kali mendapat stimulus angka, langsung menunjukkan simptom-simptom cemas. Dalam interview, ketahuanlah bahwa dulu pernah dia tidak mengerti langkah-langkah bagi kurung, ibunya memarahi dia habis-habisan, mencubit, menjewer, mengatakan “aduuuuh…masa gitu aja gak bisa siiiih”…..bla..bla..bla… “aku takut banget tante…takuuut…banget….gak tau sejak saat itu, kalau liat angka aku takut banget…terus gak berani tanya mama…kalau pun aku bisa dikit, aku takut banget salah…jadi aku bilang gak bisa aja”. Saat itu, saya menghayati sesuatu bahwa ketika anak tak mengerti sesuatu, dia sedang menghayati suatu perasaan negatif. YAng ia butuhkan adalah  BANTUAN. Bukan DITUNTUT sesuatu yang jelas-jelas dia TIDAK BISA. Rasanya JAHAT sekali ya, kalau kita justru menambahkan perasaan negatif berupa rasa FRUSTRASI dan RASA TAKUT. 

Apalagi, pelajaran matematika di kelas 4 sudah sangat abstrak.  Misalnya topik terakhir yang dipelajari Kaka Azka adalah mengenai jaring-jaring bangun ruang (balok dan kubus), serta sumbu simetri. Itu teh kalau dalam tes psikologi mah membutuhkan kemampuan abstraksi ruang yang kuat……untunglah Azka ternyata kuat juga abstraksi ruangnya. Jadi dijelasin satu-dua kali berhasil. Bahkan buat saya yang daya bayang ruangnya terbatas, memeriksa hasil pengerjaan soal tentang topik itu membutuhkan waktu yang lama….;). Yang agak susah dimengerti Azka adalah konsep minus-plus, khususnya angka positif yang dikurangi angka negatif. Dengan bekal pengalaman saya diatas, sebenarnya saya cukup “sabar”. Cuman tantangannya ternyata menumbuhkan “kepercayaan” pada Azka bahwa it’s oke dia tidak mengerti…ibu akan membantu, tanpa marah atau kesal.  Tiap kali diajak belajar topik itu, dia udah pasang wajah mau nangis 😉 . Jadi we sebelum masuk ke topik teh harus pake icebreaking dulu untuk membuang wajah pengen nangis itu dan membuatnya mau membuka diri, bahkan sampai sambil dipeluk, dengan nada suara rendaaaaah….;)

Jadi, kalau buat anak mah  UKK=Ujian Kenaikan Kelas, kalau buat ibu-ibu mah UKK=Ujian Kesabaran Kita  #maksa#