learning to live together

1997. semester satu. mata kuliah psikologi umum. psikologi unpad. jatinangor.

Kami ber76 diajar oleh salah seorang dosen senior yang pada waktu itu menjadi idola kami. Selain dosen, beliau juga trainer di beberapa perusahaan multinasional. Tidak heran kalau selama 3 sks kuliah beliau, semangat kami selalu “terbakar”. Beliau tak hanya mengajarkan apa yang ada di buku mengenai psikologi umum, tapi materi perkuliahannya membuka wawasan yang sangat luaaaaas. Salah satu yang saya ingat adalah, beliau menjelaskan mengenai 4 pilar pendidikan versi UNESCO. Jaman itu, gagasan itu masih sangat baru. Tapi saya masih sangat ingat waktu beliau mengatakan: learning to know, learning to do, learning to live together, learning to be. Jadi, menurut beliau…tujuan pendidikan tinggi alias perkuliahan harusnya bukan hanya mengajarkan mahasiswa untuk tahu dan terampil, tapi harus sampai di dua tujuan yang lebih tinggi, yaitu learning to live together dan akhirnya learning to be.

Learning to live together….

Saat si abah sedang di luar kota, biasanya kami berlima tidur bersama-sama di ruang tengah. Saat anak-anak sudah terlelap dengan berbagai posenya dan saya masih terjaga karena mengerjakan ini-itu, kadang saya memandang wajah mereka satu-satu, lalu bertanya pada diri saya sendiri….pendidikan seperti apa ya, yang sesungguhnya mereka butuhkan di jaman ini….Jaman yang sudah amat berbeda situasinya dengan jaman yang ibu alami dulu….dan pastinya, jaman di masa depan yang akan sangat berbeda dengan zaman ini. Kini beragam sekolah dan lembaga nonformal menawarkan beragam konsep pendidikan untuk anak. Tapi….ibu ingiiiin sekali bisa menghayati…apa sebenarnya yang sungguh-sungguh mereka butuhkan untuk menjalani kehidupan ini, biar selamat dan sukses dunia-akhirat.

Salah satu hasil “perenungan” ibu, yang mereka butuhkan adalah “learning to live together”. Belajar hidup bersama orang lain. Bersosialisasi. Bekerjasama. Berharmoni. Berukhuwah. Tentang ini, Stephen R. Cover melalui buku fenomenal “The Seven Habbit….”nya sejak lama sudah memperkenalkan konsep “interdependensi”. Bahwa orang yang sukses di masa depan, katanya adalah orang yang independent secara pribadi, tapi punya sense saling ketergantungan.

Yups, “masa depan” itu sudah kita alami kini. Sekarang ini, bukan jamannya lagi seorang merasa “hebat” sendirian. Gak akan laku. Kalau ibu bantu seleksi pegawai untuk perusahaan besar, pasti mereka minta orang yang kemampuan kerjasama nya baik. Kenapa? karena sekarang era spesialisasi. Gak mungkin seseorang tahu semuanya secara mendalam. Dia butuh menghargai kemampuan orang lain. Dia butuh bekerjasama, empati, menempatkan diri…

Learning to live together ini…. benar-benar harus diajarkan pada anak-anak kita, menurut saya. Kita lihat potret di masyarakat…  Waduhh…semakin hari, semakin kita melihat banyak perilaku yang mencerminkan bahwa masyarakat sulit untuk bisa melihat sudut pandang orang lain. Mulai dari para pemakai motor yang pengennya cepet sampai tujuan, gak peduli move yang dia lakukan mencelakakan dan menyulitkan orang lain atau engga…para masyarakat yang hobiiiii bikin “polisi tidur” yang jarak dan ketinggiannya gak kira-kira…, penghuni komplek yang gak mau iuran perbaikan jalan dengan alasan “saya kan jarang di rumah, jarang pake jalannya”, para ibu berjilbab yang mengetek 5-6 kursi di pengajian untuk temennya, membiarkan ibu-ibu renta terpaksa berdesakan padahal sampai pengajian usai si temennya gak dateng (ini pengalaman pribadi), bahkan sampai di rumah Allah pun, konon banyak orang yang demi mencium hajar aswad, rela menyikut kiri-kanan, tak peduli orang terjatuh akibat ulahnya. Padahal jelas2 mencium hajar aswad itu sunnah, melukai orang lain itu haram.

Ya, rasa kebersamaan itu perlu ditumbuhkan. Itulah sebabnya saya senaaaaaang banget dengan sekolah yang “care” dengan hal itu dan mengajarkannya pada anak-anak. Di sekolah Azka dan Umar, mereka melakukan sistem penilaian ala Hogwarts. Bagaimana itu? Setiap topik pelajaran, mereka dibuat berkelompok. Sekitar lima orang. Nama kelompoknya sesuai dengan topik pelajarannya. Misalnya nama anggota tubuh dalam bahasa arab, nama binatang dalam bahasa Inggris, atau nama benda dalam bahasa sunda. Setiap kelompok mendapat nilai dari perilaku mereka, yang akan menjadi nilai kelompok. Misalnya, kalau ada anggota kelompok yang makannya tidak habis, kelompok itu dikurangi sekian nilainya. Kalau ada anggota kelompok yang membantu guru, kelompok itu mendapat nilai plus sekian. Di akhir topik, kelompok yang nilainya tertinggi akan mendapat hadiah. Saya ingat, beberapa kali Umar dan Azka membawa seperangkat alat sholat…eh, alat tulis dan bilang itu hadiah karena kelompok mereka nilainya tertinggi. Lalu untuk topik selanjutnya, kelompoknya diubah lagi. Apakah ini efektif sebagai media “learning to live together?” Menurut saya, ya. Minimal, anak jadi “aware”. Misalnya Umar, gak mau kesiangan karena kalau kesiangan, kelompoknya akan berkurang nilainya. Sense bahwa perilakunya berpengaruh pada orang lain, itu adalah satu poin penting yang berharga. Itu namanya kepedulian.

Di tingkat yang lebih tinggi, sistem itu membuat benih kepedulian itu terus tumbuh dan berujung pada action. Saya ingat di kelas 3, Azka cerita bahwa ia sekelompok dengan anak ynag masih suka mengamuk di kelas. Karena itu berakibat pengurangan nilai kelompok, maka mereka pun “membantu” teman yang suka ngamuk itu. Misalnya ketika terlihat tanda-tanda si teman akan marah dan mengamuk, teman-temannya akan berusaha untuk mengalihkan perhatian atau mengubah situasi…

Di kelas 4, saya kagum sekali dengan sistem yang dibuat guru IPS Azka. Ada sistem kakak-adik. “Kakak” adalah anak-anak yang nilainya bagus. “adik” adalah anak-anak yang nilainya tidak terlalu bagus. Setiap kakak punya dua adik. Si kakak bertanggung jawab membuat si adik-adiknya memahami pelajaran dengan baik dan mendapat nilai 100 pada setiap tugas atau ulangan. Menurut saya, sistem ini keren banget. Kenapa? karena saya beberapa kali mendapat laporan dari Azka yang “bersedih” karena, meskipun dia dapat nilai baik, dia tidak berhasil membuat “adik-adik”nya mendapat nilai baik juga. Tapi juga, beberapa kali Azka cerita dengan wajah berbinar bahwa ia “berhasil” membuat “adik-adiknya” memahami pelajaran dan mereka bertiga mendapat nilai seratus! bukan 100nya yang buat saya hepi, tapi rasa “peduli”nya itu yang priceless…

Bulan Ramadhan…dimana anak-anak kita belajar menghayati anak-anak lain yang tak seberuntung mereka bisa mendapatkan makanan kapanpun mereka mau, seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk mengajarkan learning to live together. Bahwa dalam Islam, sholat diawali dengan mengagungkan nama Allah, dan diakhiri dengan kepedulian ke arah kiri dan kanan kita.

practice make perfect ; yes, it absolutely true…

Pagi tadi, setelah sahur dan sholat subuh saya ngelonin Azzam. Udara yang dingin dan posisi tiduran menyusui Azzam membuat saya tak tahan menolak rasa kantuk, dan saya pun tertidur pulaaaas….  Saat saya terbangun, Azzam sudah tak ada di samping saya. Terdengar teriakan-teriakannya diantara celoteh kakak-kakak dan mas-nya. Begitu saya keluar kamar…..JRENGG…. suasana rumah….persis kapal pecah. Buerantakaaaaaan…..lantai liciiiin….karena ada tumpahan susu plus minyak-minyak, piring-gelas dan segala macam sisa sahur yang belum sempat dibereskan, plus segala macam mainan yang sedang dimainkan anak-anak. Keempat anak tampak “kucel” masih dengan baju tidur mereka.

Baiklah….saatnya beres2…..membereskan segala macam barang yang tak pada tempatnya, mengumpulkan piring-gelas dan segala macam yang harus dicuci, mengumpulkan sampah, menyapu….meminta Kaka Azka membantu cuci piring, masak air, mandiin anak-anak, lalu meminta si abah ngajak main anak-anak di luar, pintu dikunci, ngepel (harus 3 kali biar lengket-lengketnya ilang)…..TRINGGG…kurang dari 1 jam, rumah plus anak-anak kinclong kembali.

Apa istimewanya dengan kejadian itu? tiba-tiba saya tersadar sesuatu….I do it without negative feeling !!! horeeee !!!! Ibu mengerjakannya tanpa pake kesal atau marah !!! Ini harus dirayakan !!! haha…. kenapa sih se-lebay itu ?

Begini teman….

Setelah teh Ema, “manager” rumah kami resign karena menikah Agustus tahun lalu, I’m not “lucky”. Terhitung 5 asisten yang datang dan pergi. Dalam hitungan bulan, minggu, hari bahkan jam haha….Akhirnya, sampai satu titik gak ada yang bantu sama sekali, dan setiap hari saya membawa Hana dan Azzam ke daycare di Jatinangor. Melihat situasi itu, akhirnya Pak Ayi, sopir kami menawarkan istrinya, teh Rini untuk mengasuh Azzam. Hanya karena ia pun punya anak kecil sebesar Hana, ia minta Azzam dibawa ke rumahnya yang tak begitu jauh dari rumah kami. Lalu bibinya, bisa membantu membereskan rumah, nyuci dan nyetrika. Akhirnya, beberapa bulan ini kami pun berjalan dengan bantuan itu. Teh Rini dan si bibi, akan datang jam setengah 7, pas Azka dan Umar pergi sekolah. De Azzam akan dibawa ke rumah teh Rini, de Hana akan diantar sekolah, bibi akan beberes rumah, nyuci dan nyetrika. Kalau Hana tidak sekolah, nanti pas bibi pulang jam 10an, teh Rini akan datang ke rumah nemenin Hana,  jadi ngasuh ber3: Hana, Azzam dan anaknya, de Rendy. Jam kerja teh Rini berakhir kalau ibu atau abah datang. Jadi teh Rini bisa pulang jam 1, jam 3, jam 4, atau kalau ibu ada sesuatu hingga pulangnya maghrib, teh Rini pun akan pulang maghrib.

Jujur saja, ada perbedaan “mendasar” penghayatan saya terhadap peran teh Rini dan bibi. Saya menerima mereka dalam kondisi benar2 “tidak berdaya”. Hal itu membuat saya menghayati bahwa posisi mereka benar2 “membantu”. Secara psikologis, ada perbedaan mendasar dengan harapan saya pada asisten lain sebelumnya. Kali ini, saya menghayati bahwa seluruh manajemen keluarga, anak-anak, adalah tugas kami berdua. Teh Rini dan bibi benar-benar hanya membantu.

Dan itu akan sangat terasa di weekend. Saat teh Rini dan si bibi off. Benar2 kami berdua yang berjibaku take care of everything. Biasanya, sabtu atau minggu pagi, kami berbagi tugas. Abah, mas Umar dan Kaka Hana bagian ke pasar, ibu bagian beberes rumah. Barulah setelah itu kami bisa jalan-jalan. Kalau weekend itu kebetulan ibu atau abah ada kerjaan yang mendesak, gantian…shif-shift-an sama ngurus anak-anak. Sore hari pun demikian. Abah bagian mandiin anak-anak, ibu bagian beberes rumah kembali plus masak. Nah…di bulan-bulan awal, weekend terasa amat sangat berat. Saya belum tanya anak-anak…tapi pasti anak-anak benci masa-masa itu. Masa-masa dimana saya maraaaaaah terus. Gimana engga? siapa yang engga stress melihat keadaan rumah yang gak pernah beres…. lelaaaaaaah banget rasanya. Jalan-jalan yang biasanya menjadi refreshing, kadang jadi horor karena itu berarti sebelumnya ibu dan abah sering “berantem”. Ibu pengen berangkat setelah rumah beres karena gak kebayang nanti pulang ke rumah kalau rumah dalam kondisi berantakan, si abah bilang “cuek aja lah…..”.  Jadi, kalau ibu beberes pasti sambil ngomel. Dan itu cape. capeeeee banget. Mengelola emosinya itu yang bikin cape. Apalagi kalau ada tamu…..rasa “malu” itu jadi stressor sendiri.

Kurang lebih 6 bulan berlalu…. Pagi tadi saya benar-benar tersenyum… Ternyata latihan pengelolaan emosi itu tampaknya sudah berhasil haha…. Ya..alhamdulillah…Benarlah mantra “laa yukallifullaha nafsan illa wus’aha” itu. Allah sudah mengukur ujian yang diberikan pada hambaNya (ssst…..sejak 6 bulan lalu, tiap sholat subuh rokaat pertama, itu surat yang saya baca, sekalian selftalk ;). Alhamdulillah Azzam berada di tangan yang tepat. Teh Rini sangat responsif. Tiap setengah tujuh, mendengar suara salam teh Rini, Azzam langsung dadah sama ibu. Multiple attachmentnya berhasil 😉 Umar….gak pernah seberhasil ini membuat dia bertanggung jawab membereskan tempat tidur. Karena kan, kalau gak dia beresin…gak akan ada yang beresin ;). Azka…… tugasnya mencuci piring dan masak nasi sudah berjalan otomatis. Dan kontribusi si abah…. i love you .. haha….

Yups…inilah cara Dia membuat ikatan di keluarga ini rasanya menjadi sangat erat. Itulah sebabnya di rumah kami yang sedang dibangun, meskipun jumlah kamarnya menjadi dua kali lipat, tapi tak ada kamar yang diperuntukkan untuk asisten;)