practice make perfect ; yes, it absolutely true…

Pagi tadi, setelah sahur dan sholat subuh saya ngelonin Azzam. Udara yang dingin dan posisi tiduran menyusui Azzam membuat saya tak tahan menolak rasa kantuk, dan saya pun tertidur pulaaaas….  Saat saya terbangun, Azzam sudah tak ada di samping saya. Terdengar teriakan-teriakannya diantara celoteh kakak-kakak dan mas-nya. Begitu saya keluar kamar…..JRENGG…. suasana rumah….persis kapal pecah. Buerantakaaaaaan…..lantai liciiiin….karena ada tumpahan susu plus minyak-minyak, piring-gelas dan segala macam sisa sahur yang belum sempat dibereskan, plus segala macam mainan yang sedang dimainkan anak-anak. Keempat anak tampak “kucel” masih dengan baju tidur mereka.

Baiklah….saatnya beres2…..membereskan segala macam barang yang tak pada tempatnya, mengumpulkan piring-gelas dan segala macam yang harus dicuci, mengumpulkan sampah, menyapu….meminta Kaka Azka membantu cuci piring, masak air, mandiin anak-anak, lalu meminta si abah ngajak main anak-anak di luar, pintu dikunci, ngepel (harus 3 kali biar lengket-lengketnya ilang)…..TRINGGG…kurang dari 1 jam, rumah plus anak-anak kinclong kembali.

Apa istimewanya dengan kejadian itu? tiba-tiba saya tersadar sesuatu….I do it without negative feeling !!! horeeee !!!! Ibu mengerjakannya tanpa pake kesal atau marah !!! Ini harus dirayakan !!! haha…. kenapa sih se-lebay itu ?

Begini teman….

Setelah teh Ema, “manager” rumah kami resign karena menikah Agustus tahun lalu, I’m not “lucky”. Terhitung 5 asisten yang datang dan pergi. Dalam hitungan bulan, minggu, hari bahkan jam haha….Akhirnya, sampai satu titik gak ada yang bantu sama sekali, dan setiap hari saya membawa Hana dan Azzam ke daycare di Jatinangor. Melihat situasi itu, akhirnya Pak Ayi, sopir kami menawarkan istrinya, teh Rini untuk mengasuh Azzam. Hanya karena ia pun punya anak kecil sebesar Hana, ia minta Azzam dibawa ke rumahnya yang tak begitu jauh dari rumah kami. Lalu bibinya, bisa membantu membereskan rumah, nyuci dan nyetrika. Akhirnya, beberapa bulan ini kami pun berjalan dengan bantuan itu. Teh Rini dan si bibi, akan datang jam setengah 7, pas Azka dan Umar pergi sekolah. De Azzam akan dibawa ke rumah teh Rini, de Hana akan diantar sekolah, bibi akan beberes rumah, nyuci dan nyetrika. Kalau Hana tidak sekolah, nanti pas bibi pulang jam 10an, teh Rini akan datang ke rumah nemenin Hana,  jadi ngasuh ber3: Hana, Azzam dan anaknya, de Rendy. Jam kerja teh Rini berakhir kalau ibu atau abah datang. Jadi teh Rini bisa pulang jam 1, jam 3, jam 4, atau kalau ibu ada sesuatu hingga pulangnya maghrib, teh Rini pun akan pulang maghrib.

Jujur saja, ada perbedaan “mendasar” penghayatan saya terhadap peran teh Rini dan bibi. Saya menerima mereka dalam kondisi benar2 “tidak berdaya”. Hal itu membuat saya menghayati bahwa posisi mereka benar2 “membantu”. Secara psikologis, ada perbedaan mendasar dengan harapan saya pada asisten lain sebelumnya. Kali ini, saya menghayati bahwa seluruh manajemen keluarga, anak-anak, adalah tugas kami berdua. Teh Rini dan bibi benar-benar hanya membantu.

Dan itu akan sangat terasa di weekend. Saat teh Rini dan si bibi off. Benar2 kami berdua yang berjibaku take care of everything. Biasanya, sabtu atau minggu pagi, kami berbagi tugas. Abah, mas Umar dan Kaka Hana bagian ke pasar, ibu bagian beberes rumah. Barulah setelah itu kami bisa jalan-jalan. Kalau weekend itu kebetulan ibu atau abah ada kerjaan yang mendesak, gantian…shif-shift-an sama ngurus anak-anak. Sore hari pun demikian. Abah bagian mandiin anak-anak, ibu bagian beberes rumah kembali plus masak. Nah…di bulan-bulan awal, weekend terasa amat sangat berat. Saya belum tanya anak-anak…tapi pasti anak-anak benci masa-masa itu. Masa-masa dimana saya maraaaaaah terus. Gimana engga? siapa yang engga stress melihat keadaan rumah yang gak pernah beres…. lelaaaaaaah banget rasanya. Jalan-jalan yang biasanya menjadi refreshing, kadang jadi horor karena itu berarti sebelumnya ibu dan abah sering “berantem”. Ibu pengen berangkat setelah rumah beres karena gak kebayang nanti pulang ke rumah kalau rumah dalam kondisi berantakan, si abah bilang “cuek aja lah…..”.  Jadi, kalau ibu beberes pasti sambil ngomel. Dan itu cape. capeeeee banget. Mengelola emosinya itu yang bikin cape. Apalagi kalau ada tamu…..rasa “malu” itu jadi stressor sendiri.

Kurang lebih 6 bulan berlalu…. Pagi tadi saya benar-benar tersenyum… Ternyata latihan pengelolaan emosi itu tampaknya sudah berhasil haha…. Ya..alhamdulillah…Benarlah mantra “laa yukallifullaha nafsan illa wus’aha” itu. Allah sudah mengukur ujian yang diberikan pada hambaNya (ssst…..sejak 6 bulan lalu, tiap sholat subuh rokaat pertama, itu surat yang saya baca, sekalian selftalk ;). Alhamdulillah Azzam berada di tangan yang tepat. Teh Rini sangat responsif. Tiap setengah tujuh, mendengar suara salam teh Rini, Azzam langsung dadah sama ibu. Multiple attachmentnya berhasil 😉 Umar….gak pernah seberhasil ini membuat dia bertanggung jawab membereskan tempat tidur. Karena kan, kalau gak dia beresin…gak akan ada yang beresin ;). Azka…… tugasnya mencuci piring dan masak nasi sudah berjalan otomatis. Dan kontribusi si abah…. i love you .. haha….

Yups…inilah cara Dia membuat ikatan di keluarga ini rasanya menjadi sangat erat. Itulah sebabnya di rumah kami yang sedang dibangun, meskipun jumlah kamarnya menjadi dua kali lipat, tapi tak ada kamar yang diperuntukkan untuk asisten;)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s