Yang tidak boleh di”nanti”kan…..

Dalam bulan ini, sudah dua kali saya berkunjung ke pengadilan agama. Tentunya bukan untuk mendaftarkan cerai gugat, ataupun untuk menghadiri persidangan cerai talak. Naudzubillahimin dzalik, semoga pernikahan kami langgeng sampai di akhirat nanti.

Saya mengunjungi pengadilan agama dalam rangka penelitian. Saya bergabung dengan tim yang meneliti faktor-faktor psikologis penyebab terjadinya perceraian yang semakin meningkat angkanya di Bandung ini. Berdasarkan penelitian tersebut, kami bercita-cita menyusun modul dan mengembangkan program pelatihan preventif, untuk membekali para pasangan yang akan menikah dengan pengetahuan atau keterampilan yang akan membuat pernikahan mereka kuat dan tak akan berakhir dengan perceraian. Doakan moga2 cita-cita kami  ini tercapai ya teman-teman….

Bulan suci ternyata tak membuat ruangan tunggu di pengadilan agama menjadi kosong. Setiap hari, ruangan tempat para pasangan yang mendaftarkan perceraian, menunggu dipanggil untuk masuk ke ruang sidang, berdiskusi dengan pengacara, dan aktivitas lain terkait dengan proses perceraian yang sedang mereka jalani penuh sesak. Berpuluh-puluh  tempat duduk tak mampu menampung jumlah peserta yang ada.

Perceraian. Meskipun tidak ada seorang pun yang mencita-citakannya, namun nyatanya kini semakin banyak yang memilihnya. Baik karena kesadaran maupun karena keterpaksaan. Saya sendiri yakin bahwa –kalau ajaran agama memperbolehkan sesuatu, maka pasti ada kebaikan di dalamnya. Secara operasional, penelitian-penelitian menemukan bukti empiris bahwa perceraian yang sehat jaauuuuuuuh lebih baik dibandingkan pernikahan yang sakit.

Suami istri yang saling tidak puas dengan situasi pernikahan mereka, akan punya seribu satu alasan yang mendorong mereka untuk melakukan keburukan-keburukan seperti selingkuh, menghina, menyakiti fisik- dibandingkan jika mereka berdua memutuskan berpisah dan memulai hidup baru yang lebih baik.  Anak-anak yang menyaksikan orangtua bertengkar, saling membenci, saling menyakiti baik psikologis maupun fisik, akan lebih menderita dibanding anak-anak yang diberikan penjelasan bahwa walaupun ibu dan ayahnya berpisah sebagai suami istri, namun mereka tetap bersama sebagai ibu dan ayah.

Data sementara yang kami dapatkan adalah kehidupan perkawinan dari sejumlah pasangan yang kemudian berujung pada perceraian. Secara umum, dari segi hukum perceraian bisa diajukan oleh istri (cerai gugat) atau oleh suami (cerai talak). Mencermati perkembangan kehidupan perkawinan dari data yang sudah kami dapatkan, ada dua hal yang bisa saya hayati.

(1)  Saat kita menikah, kita benar-benar tidak tahu “masalah” apa yang akan kita hadapi, darimana sumbernya, sebesar apa masalah itu. WE REALLY REALLY HAVE NO IDEA. Dalam terminologi agama, itu namanya ujian. Saya selalu membayangkan, bahwa ketika pasangan mengikat janji, pasti mereka membicarakan bayangan-bayangan indah yang akan mereka jalani dalam pernikahan mereka. Tapi ada seribu satu ujian yang mungkin mereka alami. Mungkin mereka akan mengalami ujian berat yang kalau tak berhasil mereka atasi, akan membuat keluarga yang mereka impikan menjadi syurga dunia, berubah menjadi neraka dunia. Mungkin saja ujian itu berupa anak yang tak kunjung hadir, adanya wanita atau pria lain yang menggangu, mertua yang terlalu ikut campur, anak yang mengalami cacat signifikan, istri mengalami kecelakaan, suami di PHK dari tempat kerjanya, pasangan memiliki kelainan seksual, pasangan mengalami gangguan mental, dan ada banyak hal lain yang tak terbayang oleh kita, namun mungkin terjadi. Maka, kesiapan mental dan kekuatan hubungan untuk menghadapi –bukan hanya kebahagiaan namun juga kepedihan- menjadi sangat penting. Itulah sebabnya upaya-upaya untuk menggali faktor-faktor ketahanan keluarga, menjadi penting untuk dilakukan.

 

(2)  Jika tidak mengalami “ujian yang berat”, banyak perceraian yang diawali oleh “ketidakpuasan kecil” pada pasangannya. “Ketidakpuasan kecil” ini kemudian menjadi bola salju. Bahayanya adalah saat si pasangan yang merasa tidak puas lalu melakukan satu hal yang ia rasa benar karena merupakan “reaksi” dari perilaku pasangannya. Lalu si pasangan membalas…demikian selanjutnya. Misalnya…seorang suami merasa istrinya lebih mementingkan pekerjaan dibanding dirinya, lalu ia berselingkuh. Ia merasa tindakannya ini bukan salahnya, tapi salah si istri. SI istri yang mengetahui suaminya selingkuh, membalas dengan selingkuh lagi. Ia merasa tidak salah. Ia merasa bahwa tindakannya dikarenakan perilaku si suami. “Chain reaction” inilah yang biasanya terjadi. Terus….terus…terus….sampai suatu titik, persoalannya membesar dan kompleks, tak tahu harus mengurainya darimana. Padahal, bila “ketidakpuasan kecil” ini dibicarakan, diperbaiki dan diselesaikan  mungkin ini tak akan bergulir menjadi suatu persoalan yang membuat ikatan yang telah dijalin menjadi putus. Itulah sebabnya, keterampilan mengkomunikasikan perasaan dan permasalahan dalam keluarga, menjadi penting untuk dikuasai pasangan.

Ramadhan, harusnya menjadi bulan keluarga. Biasanya, di bulan ramadhan tuntutan pekerjaan menjadi menurun. Karena asumsi bahwa energi untuk melakukan pekerjaan menurun seiring asupan makanan yang berkurang. Yang jelas jam kerja PNS menjadi berkurang satu jam. Entah kalau di swasta. Seharusnya, waktu yang lebih luang ini dialihkan untuk memperhatikan keluarga kita secara lebih intensif.

Buat keluarga yang tidak pernah sempat makan bersama, waktu sahur sangat mungkin bisa makan bersama. Saat itu adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi sejauh mana kehangatan yang ada antara anggota keluarga, sebesar apa masalah yang kita temui dalam keluarga…kekuatan-kekuatan apa yang kita miliki dalam keluarga…

Bulan suci ini adalah bulan untuk merenung, berefleksi. Mengevaluasi diri dan keluarga. Kapan lagi kita “dipaksa” bangun dini hari selain di bulan ini? Bisa kita manfaatkan untuk sholat, lalu berdoa, lalu mengevaluasi kehidupan kita

Tadi sore saya ikutan anak-anak menonton film Spy Kids yang terakhir. Messagenya jelas: terkadang kita, ayah dan ibu yang bekerja sering “menunda” waktu bersama keluarga. Kita berpikir “nanti”lah kalau sudah punya rumah yang lebih besar, nanti kalau target kerjaan ini sudah tercapai, nanti kalau liburan, nanti kalau punya waktu lebih banyak, nanti, nanti, nanti…No no no… membangun hubungan keluarga……suami dengan istri, ayah dengan anak, ibu dengan anak, kakak dengan adik, adalah satu hal yang tidak bisa di “nanti”kan.

Saya kini banyak menyaksikan…bahwa di akhir hidup seseorang, saat seseorang sudah kehilangan semua kekuatannya- kekuatan fisik, pikiran, kekayaan, jabatan, se”hebat” apapun ia di luar rumah, yang menentukan kebahagiaannya adalah di dalam rumah. Keluarga. Dan hubungan yang erat antar anggota keluarga itu, adalah sebuah proses. Semakin lama ia terjalin, semakin kuat hubungannya.

Jangan katakan nanti. Lakukan sekarang. Mengobrol, memeluk, menemani, mendengarkan, membacakan cerita, menyelesaikan masalah, memberi umpan balik, menceriterakan perasaan dengan orang-orang tercinta di keluarga kita. Lakukan sekarang. Jangan ditunda. Nanti menyesal.

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Kiki
    Jul 20, 2013 @ 09:15:48

    Setuju banget teh… sharing dirimu selalu bisa menginspirasi, suka banget baca blog nya 🙂

  2. Renny Oceanita Nasution
    Jul 21, 2013 @ 05:18:47

    BAROKALLAHU teh Fit….sukaaa bangedd sama tulisan2nya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s