Peyoratif

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah diminta untuk mengisi sebuah acara yang cukup besar. Kebetulan jadwal saya kosong, saya oke kan. Saya sudah siapkan pula materi sesuai dengan topik permintaan panitia. H-3, tiba-tiba Azzam panas. Tentunya saya tidak mau ambil resiko. Langsung saya hubungi beberapa teman untuk menggantikan saya mengisi acara tersebut, dan alhamdulillah salah satu teman saya bisa. Saya beri tahu panitianya, oke. Malamnya menjelang acara diadakan, si panitia mengontak saya. Ada nada cemas dalam suaranya. Intinya, dia membujuk saya untuk tetap mengisi materi besok. Saya cukup heran, mengingat baru saja saya menelpon teman saya yang akan menggantikan saya tersebut untuk menanyakan persiapannya dan berterima kasih, dan dia bilang siap. Waktu saya tanya ke panitia mengapa ia meminta saya padahal teman saya sudah siap, mereka berkata : “bener bu, beliau siap dan akan datang? soalnya kita ragu bu…beliau bilangnya insya allah”. Waduh, saat mendengar itu…di satu sisi saya pengen ngakak…di sisi lain…heran, sedih juga…saya coba tanya lagi si panitia, emang what’s wrong dengan jawaban Insya Allah. Mereka bilang…..”ya…kan insya allah artinya gak pasti bu…..”

Hhmmmm….setelah mendengar jawaban itu, saya tau pasti apa perasaan saya. Sedih. Di satu kajian yang saya ikuti, seorang ustadz pernah mengupas makna “Insya Allah” ini. Sebenarnya, “Insya Allah” yang artinya “jika Allah menghendaki” ini memang mutlak harus kita ucapkan saat berjanji akan melakukan sesuatu. Mengapa mutlak? karena itu adalah wujud ketauhidan kita. Bahwa kita mengakui, kita itu tak punya kekuatan apa-apa untuk memastikan masa depan yang akan kita jalani. Bahwa kita mengakui, Allah dengan keMaha-annya lah yang menentukan apakah yang kita janjikan itu bisa kita penuhi atau tidak. Jika kita tidak mengucapkannya (dan tak hanya mengucapkan harusnya, tapi juga menghayati), maka itu berarti kita ujub. Kita tidak mengakui bahwa satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu mingu, satu bulan…dari sekarang… Allah maha kuasa untuk membuat kita sakit, kecelakaan, bahkan meninggal….intinya, Allah yang menentukan apakah kita bisa atau tidak memenuhi janji yang kita ucapkan. Dalam sekali maknanya bukan?

Tapi, saya sama sekali tidak menyalahkan pemahaman dan perasaan si panitia. Kalau mau jujur, memang insya allah, dengan atau tanpa sadar, sering kita gunakan sebagai “tameng” atau alasan bagi kita saat kita tidak bersungguh-sungguh akan datang atau melakukan sesuatu. Kalau kita merasa yakin akan datang atau melakukan sesuatu, kita akan berkata “oke, pasti gue dateng…pasti gue kerjain”. Kalau kita sebenarnya tidak berniat untuk datang atau mengerjakan, kita cenderung mengatakan “siiip…insya allah deh, gue datang. insya allah lah gue coba kerjain”. Dari intonasi pengucapannya aja biasanya udah beda. Mau yang lebih jelas lagi? pernah gak denger seorang yang bercakap-cakap gini: “kok lu gak dateng sih di acara kemaren?” jawabnya “kan gue bilang juga insya allah…”. Pernah kan? yups…karena sangat mungkin, itu adalah kata-kata kita sendiri.

Kalau dalam pelajaran Bahasa Indonesia, fenomena tersebut dinamakan peyoratif. Makna kata yang menjadi lebih buruk dibandingkan makna sebenarnya. Dan, sebagai seorang muslimah saya amat sedih karena kasus peyoratif tidak hanya terjadi pada “insya allah” saja. Banyak. Saya pernah menulis catatan tentang seorang anak yang begitu ketakutan mendengar kata “astagfirullahal adzim”. Karena saat itu diucapkan ibunya, itu tandanya ibunya marah dan akan memarahi atau memukulnya. Waktu saya menemani seorang kolega saya dari Belanda jalan-jalan lalu saya mengucapkan “Allahu Akbar” saat melihat pemandangan yang sangat indah, kolega saya itu heran. Dia bertanya apa artinya “allahu akbar”. Setelah kami berbincang tentang itu, barulah saya paham kenapa dia heran. Rupanya, ia menonton tayangan TV ketika sekelompok orang berpakaian “islam” melempari dan “menyerbu” sebuah bangunan, diiringi teriakan “Allahu Akbar”. Dia menyangka arti “Allahu Akbar” adalah “Serbuuuuu” gitu. Duh, sediiiih banget bukan…

Banyak sekali terminologi yang amat indah, baik, mulia, terdegradasi sedemikian rupa menjadi nama-nama judul sineron atau nama-nama pemeran utama sinetron. Berkah, Hikmah, Maghfiroh, Hidayah, mungkin sekali anak-anak kita nanti tak tau apa makna dari terminologi-terminologi itu. Apa yang akan dihayati anak-anak kita saat berdoa “allahumma inna nas’aluka salamatan fiddin..waafiyaa fil jasad… waziadatan fil ilmi… wabarokatan fi rizki…. wataubatan qoblal mauuut… wa rohmatan indal maut …wamaghfirotan ba’dal maut” ? mungkin  kayak membaca jampi-jampi aja…tanpa pemaknaan. Gimana doanya mau dikabul kalau kita tidak paham dan tidak memiliki emosi yang kuat terhadap doa yang kita panjatkan?

Padahal ya, kalau kita tahu….makna “barokah” aja…setahu saya, itu artinya kebaikan yang terus menerus, permanen tak berhenti. Kalau kita tahu maknanya, maka pasti ada dorongan emosi yang kuat saat kita memohon agar pernikahan kita barokah, keluarga kita barokah, ilmu kita barokah, rejeki kita barokah, anak-anak kita barokah…dan emosi itu, yang akan  menggetarkan Arsy-Nya, membuat para malaikat mengaminkan permohonan kita.

Yang lainnya, misalnya….menurut saya, sebuah tayangan sinetron yang ratingnya lagi tinggi sekaang ini sudah berhasil mendegradasi makna haji. Membuat orang tanpa sadar, urung azzamnya untuk berhaji dan menggapai haji mabrur. Padahal ya, kalau kita baca buku tentang haji…kita sering lupa kalau haji itu adalah rukun islam. Pandangan kita tentang haji menjadi dibatasi oleh seorang tokoh Haji yang antagonis, yang mungkin tanpa sadar membuat kita menjadi tidak terlalu bersungguh-sungguh mengupayakannya. Padahal hadits mengatakan bahwa “barangsiapa yang telah memiliki bekal dan kendaraan lalu dia tidak berhaji maka bila mati, ia mati sebagai Yahudi atau Nasrani”.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? daripada mengutuki sinetron atau mengutuki orang lain…sudahlah…kita refleksikan saja pada diri kita. Minimal, kita tak terbawa arus peyorasi. Minimal, kita pahami makna dari masing2 terminologi dzikir dan do akita. Jelaskan pada orang-orang terdekat kita. Pasangan, anak, murid, tetangga, siapa saja. Dan selanjutnya, kita harus jadi “agen amelioratif”. Kita tinggikan kembali makna dari kalimah dzikir dan doa itu melalui perbuatan kita. Kita angkat kembali makna “insya allah” menjadi seperti seharusnya. Kita biarkan orang tahu bahwa yang menjadi motivasi terdalam dari  prestasi kita adalah barokah yang kita harapkan. Kita tunjukkan pada dunia bahwa yang membuat kita menjadi kuat saat menghadapi ujian adalah kekuatan hikmah.

Minimal, kita jangan berperan menjadi “agen peyoratif”…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s