“sempurna”

Temans….pernahkah kita membuka2 halaman fesbuk seorang teman kita, lalu setelahnya kita merasa “depresi” (halah….meni hiperbolis….). Bahasa non-hiperbolisnya adalah….iri….sedih, dan merasa “tak berarti” (kkkk…sama hiperbolisnya ya..) kenapa kita merasakan perasaan itu? karena teman yang kita “intip” halaman fesbuknya itu tampak begitu sempurna hidupnya….

Saya pernah. Dua kali. Kali pertama, tanpa sengaja….saya lupa gimana awalnya, saya tergoda untuk mengintip halaman fesbuk seorang yang pernah saya kenal. Wanita. Seusia saya. Dan  foto-foto serta informasi di halaman fesbuknya itu, membuat saya “gubrak berat”. Kenapa? karena ia secara persis telah mencapai apa-apa yang saya cita-citakan. Dalam pencapaian karir maupun akademik. Cita-cita besar yang  dulu saya sangat inginkan, namun kini sudah lewat waktunya. Saya ingat, waktu itu saya sampai nangis dan beberapa hari merasa “tak berarti”. Sampai saya curhat sama mas…tentunya dengan “berlebay ria” , saya bilang …. “kayaknya ade tidak mungkin membuat hal-hal besar ya…”. Dan jawaban mas pada saat itu, cukup bikin saya terhibur: “Allah gak minta kita melakukan hal yang besar. Allah hanya meminta kita kita untuk melakukan hal yang ikhlas”.

“Ajaibnya”, beberapa bulan kemudian saya terlibat sebuah pekerjaan dengan kenalan saya tersebut. Pekerjaan yang tak terduga, yang membuat kami harus berinteraksi secara intensif. Maka, kami pun mulai saling mengenal…mengenal… dan sampai pada satu titik, si Mrs.Perfect itu menceritakan banyak hal. Banyak hal yang tak tampil di fesbuknya. Tentang hal-hal tak sempurna yang ia miliki, tentang pengalaman-pengalaman pahit yang ia alami, tentang kesedihan yang amat sangat terhadap sesuatu, tentang ketidakbahagiaannya….

Dari peristiwa itu saya mendapat pelajaran : ada kecenderungan besar seseorang menampilkan hanya sisi baik dan sisi sempurna dari dirinya. Yang kita lihat di fesbuk, terkadang hanya menampilkan satu sisi kehidupan seseorang.

Tapi pelajaran itu ternyata tidak berhasil membuat saya terhindar dari perasaan “depresi” untuk yang kedua kalinya. Kali ini, saya mendengar seorang teman mendapat prestasi yang mengagumkan. Saya iseng2 lah buka haaman fesbuknya. Dan ya…..ia memang mengagumkan. Wanita. Seusia saya. Penuh prestasi. Baik dalam kehidupan karir, rumah tangga maupun sosial. Perfect. Karena saya sangat kenal si teman ini, maka tak dapat saya hindari spontasitas yang membandingkan prestasi2 yang bisa ia raih dengan saya yang tanpa prestasi. Rasanya …..i’m noone….iri…. depresi lagih .. haha….

Dan untuk yang kedua kalinya, secara “ajaib”, ada satu kesempatan saya bertemu dengannya. Obral obrol obral obrol, dia memang bahagia. Dia memang menikmati prestasi-prestasinya. Dia memilih untuk itu. Dan tentunya mengorbankan hal lain dari kehidupannya. Tapi dia tak menyesal. Karena buatnya, yang ia korbankan nilainya kecil. Saya cerminkan pada diri saya. Saya juga bisa menjalani pilihan yang sama dengannya. Tapi saya tak akan sanggup memilih itu. Karena buat saya, yang harus saya tinggalkan itu nilainya sangat besar.

Dari peristiwa itu, saya mendapatkan pelajaran kedua: nilai dari pilihan-pilihan hidup satu orang dengan yang lain tidaklah sama. Mengenali dan menghayati besar-kecilnya nilai suatu pilihan yang kita miliki, akan membuat kita menjadi yakin bahwa pilihan kita tak harus sama dengan pilihan orang lain, dan bahwa pilihan kita adalah pilihan yang tepat.

Nah, moga-moga kedua rumus diatas akan berhasil menghindarkan saya dari rasa iri dan depresi yang ketiga ya…Amiiiin. .. Yah, beginilah nasib hidup di jaman ini…Jaman dimana dinding-dinding rumah kita menjadi kasat mata dan tak mempan untuk menangkis segala macam hal yang bisa mengakibatkan kirisis pada diri kita. Krisis identitas, krisis kepercayaan pada pasangan, dan krisis-krisis lainnya. Tapi….serangan itu kalau kadarnya lebih kecil dibanding dengan kekuatan yang kita miliki, bisa jadi vaksin yang lebih menguatkan diri kita bukan?

Kalau diteropong dari sudut pandang spiritual, mungkin itu cara syetan membuat kita menjadi terfokus pada berbagai hal yang dimiliki oleh orang lain dan tak kita miliki.  Itulah cara syetan membuat mata kita menjadi tertutup dari semua potensi dan nikmat yang Allah anugerahkan ada kita. Yang ujung2nya adalah….kita menjadi tak bersyukur dengan nikmat yang kita rasakan….yang membuat hidup kita menjadi tak bahagia karena selalu merasa “tak punya apa-apa” dibanding orang2 yang kita intipin halaman fesbuknyah.

Baiklah….jadi…kita fokuskan saja energi kita untuk menikmati dan mensyukuri yang kita miliki yah….kalau ada iri-iri sedikit…ga apa-apa lah…itu tandanya harus memperbanyak dzikir dan doa, agar mata hati kita dibukakan untuk bisa “aware” terhadap nikmat yang kita miliki….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s