aku, kamu, kita….

Secara “existensial”, ketika dua orang memutuskan menikah, maka ia tak menjadi dirinya seutuhnya lagi. Betul, banyak orang yang bilang bahwa walaupun kita sudah menikah kita tetap harus menjaga ke”aku”an kita. Saya setuju. Tapi bagaimanapun, bagi seseorang yang sudah menikah, ke”aku”an itu menjadi tak murni lagi. Karena itulah hakikatnya pernikahan. Ketika kita memutuskan untuk “meleburkan” diri kita. Dengan pasangan. Dengan keluarga kita. Kalau kita memaksakan tetap menjadi “aku” yang seutuhnya seperti ketika kita masih sendiri, maka….bisa terjadi disharmonisasi…

Itu bahasa abstraknya.

Bahasa konkritnya….

Setiap orang, yang sudah menikah…harus mau “mengorbankan” sebagian keinginan, harapan, cita-cita dirinya. Karena jika ia memenuhi seluruh ruang ke”aku”annya dengan keinginan, harapan dan cita-citanya, maka tak akan ada ruang bagi pasangannya ataupun keluarganya.

Haha…ternyata itu masih abstrak ya…

Begini lah… beberapa hari lalu, seorang teman bercerita pada saya bahwa ia habis menegur adiknya. Adiknya laki-laki. Sudah berkeluarga. Di status-statusnya, si adiknya ini memposting berbagai status dan foto kegiatannya, baik kegiatan pengembangan diri maupun hobi yang sangat disukainya. Tampak sangat puas dan bahagia dengan apa yang bisa dilakukan dan dicapainya. Di saat yang sama, posting-posting status istrinya menunjukkan betapa ia merasa sendirian, betapa ia merasa tak berkembang, dll….Dua dunia penghayatan hidup yang amat berbeda.

Seorang teman, yang telah bercerai selalu menasehati saya…. perceraian itu, awal mulanya adalah dari masing2 yang berjalan dengan dunianya sendiri-sendiri. AKhirnya, keduanya berjalan semakin jauh dengan penghayatan dan “dunia” masing-masing, semakin dalam jurang diantara keduanya, semakin gak nyambung kalau ngobrol, semakin asing….dan kemudian merasa tak ada irisan lagi antara mereka, sehingga tak ada alasan bersama lagi.

Maka, ya…saya setuju kalau ke”aku”an kita tak perlu “hilang”. Eksistensi diri kita tak harus lebur saat kita menikah. Tapi bahwa kita harus berkorban, menyelaraskan keinginan, kebutuhan dan cita-cita kita, adalah sebuah keniscayaan, syarat perlu untuk bahagia bersama.

Kecuali kalau mau bahagia sendiri….

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s