Bagaimana akhir hidup kita?

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang kenalan saya wafat. Ia adalah seorang ibu. Di usianya yang menjelang 70 tahun, beliau terkena sebuah penyakit yang ganas. Beberapa hari menjelang wafatnya beliau, saya dan seorang teman sempat menjenguk. Memang saat itu beliau sudah tak sadarkan diri, terbaring di ICU dengan beragam alat bantu.  “Kesadaran” beliau hanya bisa beliau tunjukkan melalui gerakan lemah tangan beliau, saat kami membisikkan bahwa kami datang dan mendoakan kondisinya.

Pengalaman tersebut membawa saya pada ingatan-ingatan pada beberapa teman yang juga terkena penyakit ganas, yang menurut dokter tak akan bertahan lama lagi. Saya ingat seorang kenalan yang lain. Usianya 50 tahunan. Juga kenalan yang lainnya…dan beberapa kenalan lain. Baik yang telah wafat maupun yang masih “bertahan”.

Setiap kali menemui mereka, saya selalu bisa melihat….. bahwa akhir hidup seseorang itu, masa-masa dimana kematian telah begitu dekat, saat-saat dimana semua “pakaian keduniaan” tak bisa lagi kita sandang -pangkat, posisi, gelar akademis, dll- ; saat itulah kita menjadi “diri kita yang sesungguhnya”. Dengan “kekuatan” dan “kelemahan” diri kita, tanpa embel2 apapun yang melekat pada diri kita. Dan saya melihat, hari-hari saat kematian mendekat, adalah hari-hari yang merupakan abstraksi dari kehidupan seseorang. Benar-benar buah dari apa yang ia tanam selama hidupnya. Apa yang penting bagi mereka, apa yang mereka kejar, apa yang mereka abaikan, apa yang tak mereka pedulikan…….tampak pada saat ini.

Sewaktu saya dan teman saya menengok di ICU, ada salah satu pasien yang kesadarannya sudah menurun, namun tangannya memberontak. Meskipun gerakannya lemah dan tak begitu berarti karena tanggannya diikat, namun terasa energi kemarahan yang dirasakan pasien tersebut.

Kata teman saya, ia pernah mendapat cerita dari kenalannya yang pernah ada di fase “near death”…. biasanya memang perlu waktu bagi seorang yang secara fisik sudah tak berdaya, untuk “pasrah” dan “ikhlas” menanti datangnya maut. Kadang kemarahan bercampur penyesalanlah yang mewarnai. KEmarahan dan penyesalan karena merasa banyak hal yang masih ingin ia lakukan, banyak hal yang belum ia selesaikan di dunia ini..

Sepulang menengok kenalan-kenalan saya yang sudah berada di situasi yang amat kritis, saya selalu mendapat “pelajaran” :

(1) untuk tak ber”basa-basi” saat berdoa agar badan kita disehatkan. Setiap kali berdoa memohon kesehatan, selalu terbayang wajah kenalan-kenalan saya di akhir hidupnya, saat mereka “kalah” dari penyakit yang mereka derita; padahal sebulan lalu, setahun lalu, mereka masih begitu aktif, ceria, produktif….kita tak akan pernah tahu takdir yang akan Allah berikan pada kita.

(2) Saya selalu teringatkan untuk mengevaluasi kembali nilai-nilai dalam kehidupan saya… jangan sampai saya “salah kejar”. jangan sampai saya mengejar sesuatu yang seharusnya saya jalani secara biasa-biasa saja, sebaliknya saya mengabaikan hal-hal yang seharusnya saya kejar sekuat tenaga saya.

(3) Untuk tak menunda-nunda apa yang harus saya selesaikan dan lakukan segera, yang bisa membuat saya akan menyesal jika tiba-tiba Allah mentakdirkan saya menjadi seorang yang tak berdaya.

(4) Keluarga. Pada akhirnya, siapapun kita,…… di saat semua peran publik kita tinggalkan, di saat kita benar-benar jadi diri kita sendiri, maka keluarga dan kualitas hubungan antar keluarga, itulah yang akan menentukan apakah kita bahagia atau tidak. Itu pengamatan saya.

Semoga …. di akhir hidup kita nanti. Jika kita mengalami kondisi dimana fisik kita sudah benar-benar tak berdaya, namun hati dan perasaan kita masih hidup….kita akan dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, orang-orang yang mengetahui apa yang kita butuhkan dan kita inginkan meskipun kita tak bisa mengatakannya, orang-orang yang selalu mendoakan kita, sehingga kita bisa menyambut datangnya ajal dengan tenang, ikhlas, dengan senyuman….

 

اَللّٰهُمَّ اِنَّانَسْئَلُكَ سَلَامَةًفِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةًفِى الْجَسَدِوَزِيَادَةًفِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةًفِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةَقَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةًعِنْدَالْمَوْتِ
وَمَغْفِرَةًبَعْدَالْمَوْتِ،اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةًمِنَ النَّارِوَالْعَفْوَعِنْدَالْحِسَابِ

ALLAHUMMA INNA NAS-ALUKA SALAMATAN FIDDINII WA’AFIATAN FILJASADI WAZIYADATAN FIL’ILMI WABAROKATAN FIRRIZKI WATAUBATAN QABLALMAUTI WARAHMATAN ‘INDALMAUTI WAMAGFIRATAN BA’DAL MAUTI, ALLAHUMMA HAWWIN ‘ALAINA FISAKARAATIL MAUTI, WANAJAATAN MINANNAARI WAL AFWA INDAL HISAABI


Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada engkau akan keselamatan Agama dan sehat badan, dan tambahnya ilmu pengetahuan, dan keberkahan dalam rizki dan diampuni sebelum mati, dan mendapat rahmat waktu mati dan mendapat pengampunan sesudah mati.Ya Allah, mudahkan bagi kami waktu (sekarat) menghadapi mati, dan selamatkan dari siksa neraka, dan pengampunan waktu hisab.

Amiiiin ya robbal alamiiin…

 

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Herwindo Iman Adhiwijaya
    Sep 25, 2013 @ 16:00:38

    Elizabeth Kübler-Ross pernah menulis hipotesis “Five Stage of Grief” pada pasien tahap terminal (juga bisa diterapkan pada kasus anak yang menghadapi perceraian kedua orangtuanya)

    Kelima tahap—yang disingkat “DABDA”–tersebut adalah;
    √Denial: Pasien menyangkal bahwa dirinya sakit. Ia akan ‘shopping therapy’ mencari second opinion.
    √Angry: Pasien marah, bertanya “Why Me?”, menyalahkan dirinya bahkan menyalahkan Tuhan
    √Bargaining: Menawar, “Andai sembuh maka aku akan…”
    √Depression: Hopeless, kecewa bahwa tiada perbaikan atas usaha-usahanya
    √Acceptance: Menerima takdir apa adanya

    Kelima tahapan tersebut itu interchangeability, bisa bertukar bahkan mungkin satu stage tidak muncul.. tiba-tiba depresi (atau keburu game-over)

    Kasus pasien di atas mungkin ada di antara tahap denial dan angry. Mungkin turunnya kesadaran di ICU tiba-tiba. Penyakit dasarnya laten tidak (atau baru) diketahui dan diduga-duga.
    Lain halnya jika bersiap diri 10-15 tahun sebelumnya. Atau cenderung religius. Tentu Ia antisipasi “coping with stress/depression”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s