Puasa Muharam dan Kisah Fir’aun

Bulan ini adalah bulan Muharam. Hari ini tepatnya 6 Muharam. Ada satu amalan istimewa di bulan ini, yaitu puasa muharam. Alhamdulillah, 6 November lalu, di Mesjid Nabawi Madinah saya mendengarkan ceramah mengenai puasa muraham ini. Dasar saya jarang tolabul ilmi, ada kisah dibalik puasa ini yang baru saya ketahui.

Berikut saya coba share…

Puasa muharam bermula Saat Nabi hijrah ke Madinah, 3 suku  yahudi di Madinah sudah menjalankan puasa tgl 10 muharam. Ketika Nabi bertanya mengapa mereka melakukannya, mereka menjawab bahwa hal tersebut dilakukan sebagai rasa syukur. Syukur karena pada tanggal tersebut-lah Nabi Musa diselamatkan dari kedzalman  Fir’aun, dengan cara ditenggelamkannya Fir’aun dan pasukannya. Saat mendengar jawaban itu, Rasulullah mengatakan :  “kami lebih berhak mengikuti nabi Musa dibanding kalian”

Setelah itu, tidak ada puasa sunnah yang sangat Rasul perhatikan selain puasa  asyuro. Sebelum disyariatkan puaasa ramadhan, puasa hari syuro hukumnya wajib. Para sahabat melatih anak-anak untuk berpuasa asyuro dengan memberikan mainan. Keutamaan puasa asyuro :  “Puasa hari ‘Asyura (10 Muharram), aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu.” Oleh karena itulah, para sahabat selalu berpuasa asyuro  bahkan ketika mereka bersafar.

Lalu kapan waktunya puasa asyuro? ada beragam pendapat. apalagi di tanah air kita tercinta ini. Ada yang mengatakan harus sebulan penuh, ada yang mengatakan tgl 9 dan 10, ada ynag berpendapat tgl 10 saja, ada juga yang berpendapat tgl 9, 10 dan 11.

Mana yang benar? yang benar adalah tgl 9 dan 10 muharam. Rasul berpuasa pada tanggal 10. Namun karena beliau ingin agar inadah ini tidak sama dengan ibadah yang dilakukan oleh kaum yahudi, maka kita sudah lebih sering mendengar riwayat bahwa nabi berkata, “Kalau aku masih hidup tahun depan, maka sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (bersama 10 Muharram).”Jadi, memang Rasulullah melakukan puasa asyuro hanya tgl 10 Muharam. Akan tetapi, menurut para pakar ahli bahasa, redaksi kalimat hadits diatas mengatakan bahwa tgl 9 pun menjadi keutamaan.

Pendapat untuk berpuasa pada tgl 9, 10 dan 11 berpedoman pada hadits : “Berpuasalah pada hari ‘Aasyuura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ Hadits ini lemah sanadnya dan tidak bisa dijadikan sebagai  dasar dianjurkannya berpuasa pada tanggal 11 Muharram.

So, dont forget hari Rabu dan Kamis ….kita ajak anak-anak kita berpuasa. Kalau mereka sudah sakaw di sore hari, menceritakan kisah nabi Musa, mulai sejak lahir sampai diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun tampaknya akan sangat menarik bagi anak-anak. Insya Allah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s