2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 9,800 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 4 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Advertisements

40. Dari “yang disucikan” menuju “yang bercahaya”

Selasa 29 Oktober 2013

Kami di bis on the way to Madinah. Akan meninggalkan Mekah Al Mukarromah, Mekah yang disucikan, menuju Madinah Al Munawwaroh, Madinah yang bercahaya.

Berangkat kurang lebih jam 8 tadi pagi, katanya perjalanan kurang lebih selama 6 jam. Saya baru bangun hehe… Dan pemandangan di kiri kanan kini adalah padang pasir yang diselingi gunung-gunung batu. Ah, kebayang waktu zaman rasulullah dahulu. Pasti alamnya jauh lebih ganas, dan waktu hijrah Beliau tak melaluinya dengan bis ber ac seperti ini. Saya juga membayangkan perang-peran yang terjadi….perang badar, perang uhud….ah, speechless…pantaslah para sahabat yang gugur bergelar syuhada dan mendapat jaminan syurga.

Kata mas, ia juga jadi mengerti kenapa jaman penjajahan belanda dulu, penjajah sangat takut dengan yang pergi berhaji. Yang pulang haji, pasti sudah tertempa fisik, spiritual bahkan wawasan saat bertukar pikiran dengan seluruh warga muslim sedunia, terutama saat di Mina. Tak heran penggerak-penggerak dan pahlawan-pahlawan  kemerdekaan datang dari kaum yang pulang berhaji.

Semalam, bada isya kami melakukan thawaf wada. Thawaf perpisahan. Rasanya? Tak terbayangkan. Sedih, campur haru, campur syukur, campur harap yang amat besar untuk bisa diundang kembali, campur kangen, campur baur menjadi rasa yang tak terdefinisikan. Belum pernah saya merasakan perasaan sedalam ini. Tujuh kali putaran, saya tak sanggup berdoa apapun. Segala campur baur perasaan ini membuat saya hanya bisa mengucapkan satu kata. Allah. Hanya air mata saja yang bisa mengekspresikannya.

Walaupun mas terpincang-pincang karena keseleo kakinya, tapi ia mau mengabulkan keinginan saya, mengantar dan melindungi saya masuk ke Hijir Ismail dan memegang Rukun Yamani. Tadinya, melihat kondisi mas saya sudah pasrah dan berdoa agar keinginan masuk ke Hijr Ismail dan memegang Rukun Yamani jadi “PR” yang membuat saya bisa kembali lagi kesini untuk menyelesaikannya. Makanya, pas mas tetap mengusahakannya, setelahnya saya peluk mas, pelukan yang paling …. “sesuatu” selama 11 tahun menikah ini (gak tau namanya apa, pokoknya didorong oleh perasaan yang “dalem” banget lah..hehe..)

Di Hijr ismail, duh…saya bener-bener speechless. Berada di rumah seorang wanita, yang di mata manusia paling hina (wanita sering dipandang sebagai warga kelas dua), budak, hitam, (yang karena itulah dipilih oleh Sarah istri ibrahim, karena tak akan menimbulkan kecemburuan), tapi oleh Allah diangkat derajatnya setinggi-tingginya. Terbayang saat beliau ditinggalkan di lembah tandus Mekkah, terbayang perasaannya saat Ismail menangis sedangkan air tak ada, terbayang upayanya bolak-balik bukit Shafa dan Marwah mencari air, terbayang betapa bahagianya ia saat melihat zamzam mengalir… Duh ya Allah…karuniakanlah aku ketauhidan sekuat tauhid  Hajar, karuniakanlah semangat ikhtiar sebesar semangat  Hajar, karuniakanlah cinta yang amat pada anak-anakku, sebesar cinta  Hajar.

Setelah berthawaf wada, rombongan kami janjian ketemuan untuk berdoa bersama dipimpin pak Ustadz. Saat ketemu teman-teman, rata-rata matanya pada bengkak habis menangis. Kami puas-puasin berdoa di Multazam.

Dalam perjalanan pulang, rasa sedih itu terasa lagi. Di sepanjang jalan dari pool bis sampai maktab kami, para pedagang yang selama puluhan hari ini menjadi langganan kami membeli segala macam keperluan, berdiri di depan toko-tokonya. “wada? wada? selamat tinggal” kata mereka sambil melambaikan tangannya pada kami. Beberapa bahkan memanggil kami dan memberikan buah…..Saya sendiri “say goodbye” secara khusus dengan seorang pemuda berwajah arab berperawakan ceking penjual buah yang selama ini hampir setiap hari melayani saya. Ah, cuman satu bulan, tapi rasanya sudah terjalin “hubungan emosional” antara kami dengan mereka (kkkk…lebay….)

Tadi pagi, sejak jam 4 kami sudah bersiap. Koper sih sudah dikumpul sejak semalam di bawah. Koper-koper yang dalam waktu 30 hari, pada hamil 9 bulan haha….Dan selain hamil, ternyata ia juga sudah beranak. Terbukti, tidak hanya tas tentengan yang kami bawa. Tapi bertambah dengan tas ini-itu berisi beragam oleh-oleh. Plus juga ember-ember, rice cooker dan peralatan jemur menjemur yang kami bawa ke Madinah.

Proses mengepak koper bukanlah proses yang mudah bagi kami para ibu-ibu. Harus memutar otak dan menggunakan beragam rumus matematika untuk membuat ruang-ruang di koper kami muat diisi oleh segala macam oleh-oleh yang kami beli. Kami saling berguru ilmu mengenai cara packing yang paling efisien dengan sesama teman sekamar. Dalam hal ini, bapak-bapak dalam keadaan pasrah. Pasrah diimpor-i beragam barang yang tak muat di koper kami, pasrah saat kami ambil alih proses pengepakan kopernya haha…. Dan salah satu yang paling berat buat saya adalah, saat harus memilih barang-barang yang mau tak mau harus saya tinggalkan karena ruang tak muat. Termasuk dua tikar yang menemani perjalanan ke Mina-Arafah. Tikar yang menjadi alas tidur di jalan mudzalifah. Saat termangu memandangi tikar-tikar itu, seorang teman saya bilang “ayo…tinggalin aja…meni kayak nini-nini segala berat ditinggalin” katanya …. haha….

Selama di Mekkah dan di baitullah, tak sempat melihat dengan mata kepala sendiri hajar aswad, gak berani mendekat. Pernah saya ada kesempatan mendekat, hadeeeeuuuh…para joki, yaitu orang-orang  Indonesia banyak yang menawari jasa “mencium” hajar aswad. Kami sudah diwanti-wanti untuk menolaknya dengan tegas. Karena mereka meminta bayarang yang tinggi. Dan tidak hanya itu, bagi kami yang berusaha melakukanya tanpa meminta bantuan mereka, mereka akan berupaya menggagalkan dengan cara menghalangi sampai menggencet. Sering kami dengar jeritan-jeritan akibat ulah mereka.

Dari buku-buku yang saya baca, hampir semua menggambarkan bahwa Mekah dan Madinah memiliki karakteristik ynag berbeda, baik secara fisik maupun soiologis dan psikologis. Meskipun sedih meninggalkan Mekah, namun excited juga menuju Madinah.

39. Sai : The Power of Love

IMG-20131019-00977Jujur saja, setiap kali saya bersa’i, saya pasti teler. Mulai putaran ke 3 biasanya langkah saya mulai  gontai, harus berhenti-berhenti untuk istirahat. Biasanya saya membasuh kaki saya dengan air zamzam dingin sambil mensugesti diri untuk kuat.

Sampai-sampai di salah satu sa’i saat umroh sunnah, saya minta mas meninggalkan saya, dan kita janjian ketemu di tempat tahallul aja di bukit marwa. Padahal, mas dari pertama udah bilang: “ayo…jangan kalah sama Hajar…!”.

Ya, saya membayangkan sosok ibu agung itu….kalau kini, jarak 400m x 7 itu berlantai, ber-ac sejuk dengan kran-kran air zamzam di sepanjang jalannya, waktu  Hajar dulu pastinya berupa padang pasir tandus, panas dan kering. Hanya “the power of love” terhadap puteranya Ismail saja-lah memang yang membuat Hajar tak kenal lelah bolak balik 7 kali antara bukit shafa dan marwah….

Ya….kekuatan cinta ibu memang tak ada bandingannya. Mampu membuat ibu melakukan hal-hal  yang tak terbayang dan secara objektif amat berat dilakukan orang lain. Saya jadi ingat klien-klien saya. Ibu-ibu hebat yang mendapat ujian lewat anak-anaknya. Saya ingat seorang ibu dari anak tuna rungu yang bersekolah di sekolah biasa, lalu ortu lainnya membuat petisi untuk mengeluarkan anak itu, karena khawatir anak itu “mengganggu anak yang normal”. Ibu itu sampai izin kerja 2 minggu, setiap hari mengobservasi dan mencatat perilaku anaknya di kelas, untuk menunjukkan bukti bahwa anaknya tak memberi dampak buruk bagi yang lain. Saya juga ingat ibu-ibu yang tak kenal lelah mengajak anaknya terapi. Ada seorang ibu dulu yang datang ke tempat terapi basah kuyup karena dia naik ojek dari buahbatu ke dago. Saya juga ingat ibu yang harus bolak-balik mengurus surat miskin agar anaknya bisa diperiksa secara psikologis, untuk membuktikan bahwa anaknya tak harus masuk SLB.

Ya, kekuatan cinta ksih ibu, dalam bentuk apapun, memang tak ada tandingannya….

38. I Miss U Already

Hari selasa jam 6 pagi kami dijadwalkan untuk berangkat ke Madinah. Senin malam bada isya, kami akan berthawaf wada.

Rasa “sedih” akan berpisah dengan ka’bah, dengan masjidil harom, mulai menjalar diantara kami sejak beberapa hari lalu. Rasa tak ingin berpisah ini mengalahkan rasa rindu pada tanah air, pada keluarga dan anak-anak yang kami tinggalkan.

Siapapun diantara kami tak ingin kehilangan momen-momen terakhir ini. Yang kurang sehat pun memaksakan diri ke Harom. Yang sehat dan kuat, bahkan beritikaf.

Kami belum berpisah dengan masjid yang paling Allah cintai di muka bumi ini,  tapi kami sudah rindu ingin kembali. Tidak hanya memandang ka’bah yang dijanjikan Allah 20 rahmat dari 100 rahmat yang Ia turunkan di masjidil harom…Buat saya sendiri, yang akan paling membuat kangen adalah suara imam yang begitu agung, yang kadang terisak membaca ayat-ayat suci al qur’an, dan tengadah-tengadah tangan  diiringi tangisan dari beragam wajah…wajah amerika-eropa dengan baju-baju yang casual, wajah-wajah cina dengan kerudungnya yang khas, “seuprit” dan menerawang…wajah-wajah afrika dengan kaki-kaki yang telanjang, wajah india-bangladesh dengan pakaiannya yang amat sederhana, wajah-wajah wanita “berbungkus” kain hitam…wajah-wajah saudara-saudara seindonedia… Wajah-wajah beraneka ragam, yang akan kita temui di padang mahsyar nanti…

Ya Allah, undanglah kami kembali untuk mengobati kerinduan ini… Amiiin..amiiin..ya robbal alamiiin..
Menjelang subuh, ahad 27 nov

37. Harus Sebelum Jam 10

Seperti biasa, semalam kami ke Al-Harom jam 2. Dua amalan yang baru kami ketahui saat di sini adalah shalat syuruq dan shalat dhuha di rukun yamani.

Kata Pak Ustadz, seseorang yang shalat subuh berjamaah, lalu dia duduk di tempat tersebut, berdzikir sampai terbit fajar dan sholat dua rakaat, maka pahalanya seperti haji dan umroh, sempurna sempurna sempurna….“Barang siapa menengakkan sholat Shubuh berjamaah di masjid, lalu dia duduk berdzikir (tadarussan, halaqoh ilmu, diskusi dan sebagainya) sampai matahari terbit, kemudian menegakkan sholat dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah “sempurna” (HR. At-Tirmidzi).

Dan keutamaan ini tak hanya berlaku di harom aja, tapi di rumah kita… Asal syaratnya; subuh berjamaah, lalu duduk melakukan amalan baik di tempat tersebut sampai terbit fajar terpenuhi. Haduuuuh…. Bener kata pak ustadz. Kalau kita kurang ilmu, pasti kurang amal. Tapi better late than never lah…alhamdulillah bisa tau ilmu hal ini… Lumayan… Bisa diagendakan haji dan umroh tiap minggu di rumah nanti 😉

Saya juga baru tau kalau shalat dhuha itu, bukan cuman dua rokaat … Hadeuuuh….udah 34 tahun baru tau kalau hadits yang shohihnya, shalat dhuha itu 8 rakaat. Tiap dua rakaat salam. Dan, pak ustadz memperkenalkan satu amalan yang menggiurkan, yang hanya bisa dilakukan di harom: shalat dhuha di rukun yamani, satu salam satu permintaan. Allah pasti akan kabulkan. Si jin aladdin pun kalah hebat bukan? Dia kan cuman mengabulkan 3 permintaan haha….

Riwayat yang mendasari amalan ini adalah :

Dalam salah satu riwayat, Nabi saw pernah bersabda, “setiap aku melewati Rukun Yamani tampak ada Malaikat yang mengucapkan kalimat aamiin… aamiin…, maka setiap melewatinya bacalah doa; Allahhumma Rabbanaa Aatina Fiddunyaa Hasanah, Wafil Aakhirati Hasanah, Waqina Adzaaban Naar”. (kalimat aamiin kalau diterjemahkan berarti: ya Allah kabulkanlah doa itu). 
eh, bukan deng….hehe…ini riwayat yang mendasarinya :

Seperti yang diceritakan dalam kitab Al-Jami’ Al-Lathif, diriwayatkan oleh Amir bin Syaraahil Al-Sya’bi; aku membuktikan suatu keajaiban, yaitu pada suatu hari aku dan Abdullah bin Ummar dan Abdullah bin Zubair dan Mus’ab bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan sedang duduk bercakap-cakap di ruang terbuka dekat ka’bah. 

Kemudian disepakati, sebelum bubaran kita satu persatu harus berdoa di Rukun Yamani. Abdullah bin Zubair kita tunjuk sebagai orang yang pertama, lalu ia berdiri dengan memegang Rukun Yamani berdoa, “ya Allah, aku mohon kepada-mu agar dapat menguasai seluruh wilayah hijaz sebagai khalifah sebelum aku meninggal dunia”. Kemudian ganti Mus’ab bin Zubair, “ya Allah, aku mohon kepada-mu agar dapat menguasai Iraq dan mengawini Sakinah binti Al-Husain”. 
Kemudian ganti Abdul Malik bin Marwan, “ya Allah, aku mohon kepada-mu agar aku dapat menguasai dunia timur dan dunia barat dan tidak ada yang berani melawan kecuali kau serahkan kepadaku batok kepalanya”. Kemudian ganti Abdullah bin Ummar, “ya Allah, aku mohon kepada-mu agar jangan kau matikan aku sebelum kau wajibkan aku masuk surga”. 
Sungguh aku buktikan dengan mataku sendiri bahwa mereka telah benar-benar mendapatkan apa yang mereka minta.

Nah, bada dhuha tadi pagi, kami langsung thawaf. Tanya dong thawafnya di mana… Di zamzam tower yang ada di pelataran Harom…haha… Perut sudah memainkan musik keroncongannya. Satu paket kentang+ayam n burger KFC seharga 23 real, satu gelas kopi seharga 4 rael, satu gelas teh manis seharga 2 real dan satu cup buah potong seharga 10 real menamani brunch kami berdua (breakfast+lunch kkkkk).

Sayangnya, kami terlalu betah menikmati brunch kami. Jam 10 kami menuju Harom, hadeuuuuuh…udah padet uy…maklum, ini hari jumat. Jutaan orang, baik laki-laki maupun perempuan tak ingin melewatkan shalat jumat di Harom. Para “tentara” sudah berjaga-jaga di depan pintu yang sudah tidak boleh dimasuki lagi. Bersama arus manusia yang beragam, kami mencari-cari tempat…sana sini sana sini…akhirnya alhmd ada juga tempat nyempil. Mas ga tau dimana…

Sebenernya saya paling ga suka dateng ke Harom mepet-mepet. Situasi gak jelas nyari tempat, diusir-usir asykar saat sudah duduk nyaman, atau ditolak-tolak orang saat minta izin nyempil, atau ada orang yang tiba-tiba nyempil tanpa izin meskipun space tidak memungkinkan, atau liat orang berdebat, berantem rebutan tempat …. Itu…. Sangat tidak menyennagkan.

Jadi, kalau nanti teman-teman  mau ikutan jumatan diHharom, harus sudah duduk manis sebelum jam 10, di tempat yang dapat dipastikan bahwa itu tempat perempuan….jangan lupa untuk  puas-puasin pipis, jangan banyak minum dan untuk emergency, siapkan air dalam botol in case kita batal… Sehingga bisa wudhu minimalis di tempat kita duduk…

Last Jumat @harom, 25 oktober 2013

36. Bijak Ber-barokah Ria

kamar barokah40 hari bukan waktu yang sebentar. Sebagai manusia wajar kalau dalam jangka waktu tersebut ada kebutuhan seksual yang harus disalurkan. Tentunya bagi pasangan suami istri.

Dan karena islam adalah agama yang adil, maka hal tersebut sangat difahami. Larangan ihrom untuk tidak berhubungan seksual pada suami istri hanya berlaku saat ihrom umroh dan saat berhaji. Itu hanya kurang lebih 10 hari. Diluar waktu itu, monggo…bebas bas bas….

Tak seperti peserta ONH plus yang bias pesan kamar berdua, kami peserta haji reguler harus berbagi kamar. Perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki. Satu kamar 4 sampai 6 orang. Maka, sejak manasik kami sudah mengenal istilah “kamar barokah”. Kamar barokah adalah kamar yang bisa khusus dipesan untuk melakukan hubungan seksual suami istri. Pernah kita iseng survey dan tanya, tarifnya 200 real, sekitar 600-700 ribu 2 jam booking. Itupun tak akan tersedia kalau mendekati sebelum dan setelah pelaksanaan haji.

Nah, mengingat uang segitu cukup besar (dan kalaupun bapak-bapak bersedia bayar, ibu-ibunya yang sangat ekonomis biasanya akan minta mentahnya, dan mengupayakan kamar yang gratis haha….eta mah saya deng 😉 kalau pembicaraan antar ibu-ibu : “wah, 200 real bisa beli sajadah sejumlah ini, kalau dibeliin kerudung bisa dapet sejumlah ini, apalagi kalau dibeliin abaya, bisa dapet yang keren banget…haha…”

Jadi memang sudah dipahami bersama bahwa dimungkinkan ada pembagian kamar bersama tersebut untuk dijadikan kamar barokah gratis…

Meskipun hal tersebut halal dan baik, tapi ternyata butuh ke “bijak” an dalam pelaksanaannya. Benarrr…hubungan seksual suami istri adalah hak yang bersangkutan. Tapi…..inga..inga…ada hak orang lain atas kamar tersebut. Jadi….pembagian harus dilakukan seadil mungkin. Harus disepakati semua pihak penghuni kamar, dipastikan semua ridho, terutama kalau di kamarnya ada yang single…yang gak sama suami/istri.

Pemilihan waktunya juga harus pas. Jangan siang-siang pas orang lain mau istirahat, atau pas orang lain mau nyuci… Sekali lagi…benar, hubungan seksual suami istri bernilai ibadah. Tapi menghargai orang lain juga ibadah. Haduuuuh…jangan sampe silaturahim dengan teman sekamar jadi retak gara-gara kebutuhan yang tak terkendali. Kalau kebutuhannya “istimewa”, misalnya harus sering, maka … “no gain without pain’…harus mau kluar uang dung buat sewa kamar barokah….atau, ada cara lain….yaitu “mengakali” waktu-waktu dimana teman-teman sekamar sedang tidak ada. Misalnya saat yang lain sudah pergi ke Masjidil  Harom, pasangan bisa “mencuri waktu” dulu…atau “strategi” yang lain.  Yang penting, jangan merugikan orang lain … 😉

35. Bapak yang ditinggal wafat istrinya

Saat kami baru saja tiba di lobi hotel maktab kami dari bandara Jeddah, ada pemandangan yang membuat kami tersentak. Sebuah kasur dorong berisi jenazah keluar dari lift. Petugas medis mengiringi jenazah yang tertutup kain tersebut. Dibelakangnya, seorang bapak menangis tersedu-sedu. Haduh, kalau saya bayangin itu, gak tahan pengen nangis lagi. Buat kami yang baru menginjakkan kaki di tanah suci, peristiwa itu begitu membangkitkan emosi. Cemas. Takut.

Beberapa hari kemudian, kami se-lift dengan bapak tersebut. Bapak tersebut ternyata dari medan. Mas mengucapkan belasungkawa pada bapak tersebut. Lalu bapak itu cerita, kurang lebih begini: “ya, tadinya saya sedih…tapi setelah saya ikut memandikan, lalu saya temanin dia disholatkan di masjidil haram, disholatkan oleh ribuan orang, didoakan oleh imam masjidil haram, saya jadi berpikir kalau dia jauh lebih beruntung dibanding saya. Saya, tidak tahu kapan dan dimana saya akan meninggal, dalam keadaan apa. Memang perasaan masih sedih. Tapi mengingat kemuliaan itu, membuat saya terhibur”.

Ya..ya…ya… Dulu, setiap kami mendengar berita ada yang wafat saat berhaji sebelum hari wukuf, yang artinya ia belum jadi “haji” saya suka bilang “kasian ya…”. Tapi sekarang pandangan saya berubah. Mereka-mereka, telah melakukan upaya untuk berhaji. Menyiapkan fisik, materi, psikologis, ruhiyah, tak ada ruginya wafat disini, Allah sudah mencatat niatnya.

Setiap kali bada sholat wajib kami melakukan sholat jenazah, setelah takbir ketiga kami membaca doa untuk jenazah : allahummaghfirlahu, ha warhamhu, ha waafihi wa’fuanhu. Waktu saya tau bahwa doa itu artinya Ya Allah, ampunilah dosanya, berilah rahmatMu ke atasnya, sejahtera dan maafkanlah Ia”  Ya ampuuuun…. Betapa bahagianya yang wafat disana….jutaan orang, orang-orang  sholeh dari seluruh penjuru dunia, para hafidz imam masjidil harom, memohonkan doa pada Allah untuk mereka ……Betapa beruntungnya mereka ….

Setiap kali saya kembali bertemu bapak itu; saat ia membeli makan sendiri, ke mesjid sendiri, menjemur baju sendiri…meski secara manusiawi merasa iba, namun saya melihat…ia tak sedih…ya, ia beruntung. Istrinya beruntung.

Previous Older Entries