16. Mushafahah 7 Dzulhijah

Hari-hari  kemarin saya terkapar. Batuk, pilek, demam. Setelah berkeras mengkonsumsi obat yang biasa saya gunakan, akhirnya saya menyerah juga dan ke dokter untuk ber-antibiotik ria. Di Bandung, Hana juga sakit dan harus beberapa kali ke dokter;( Alhamdulillahnya, teparnya saya bersamaan dengan tidak beroperasinya lagi bis ke Majidil Harom, jadi saya bisa full memulihkan diri.

Hari ini, jam 9 tadi kami berkumpul untuk mendapatkan pembekalan persiapan perjalanan puncak haji kami. Meskipun badan masih sembriwing-sembriwing, namun saya benar-benar berdoa mohon kesembuhan dan kekuatan agar bisa ikut tim yang jalan kaki. Memang tidak kurang nilainya kalau pake bis langsung ke arofah. Namun bayangan tentang jalan kaki menuju Arafah bersama seluruh manusia dari beragam ras, sambil bertalbiyah…begitu menggoda. Saya lihat dari yutub aja udah merinding…jadi pengen bgt mengalaminya.

Pembekalan tadi pagi…serasa pembekalan menuju medan perang. Bicara tentang persiapan fisik, mental, strategi …. Dan, yang paling berkesan adalah di akhirnya. Pembimbing kami mengarahkan kami untuk bermaaf-maafan… Jangan sampai membawa kekesalan ke Arafah.Memang kami berlima yang sekamar kebetulan tim yang asik. Tapi rupanya ada beberapa teman  di kamar lain yang ber-konflik.

Suasana begitu mengharu biru saat kami saling berpelukan. Daaan…di akhirnya, yang paling menyentuh adalah para pasangan yang saling berpelukan saling bermaafan. Tentu saja demikian pun saya…maklum saya sering lebay dan suka ngambekan sama mas 😉 … Ah, rasanya lebih dari bermaafan saat lebaran.

Semoga besok kami diberikan kesehatan, kekuatan, kesabaran, keikhlasan sehingga bisa menjalankan ritual maupun menghayati makna perjalanan haji kami. Amiiin…

bada dhuhur, 7 Dzulhijah

15. Pengemis Bandung dan “Pengemis Mekah”

Beberapa hari yang lalu, teman saya menceritakan bahwa ia membaca berita dari tanah air, khususnya dari kota kami tercinta: Bandung. Katanya, RK walikota kami akan memberdayakan para pengemis tersebut untuk menjadi penyapu jalan dengan bayaran 700 ribu. Tapi para pengemis tersebut menolak, dan meminta bayaran 4-7 juta, sebanding dengan “pendapatan” mereka sebagai pengemis. Tentu banyak yang “geram” membaca berita tersebut.

Mungkin banyak juga yang heran. Ternyata, masalah para tunawisma dan pengemis itu bukanlah mengenai lapangan pekerjaan. Tapi mengenai mental. Mental meminta. Mental tak malu. Semoga mental tersebut bukanlah merupakan mental bangsa. Semoga mental itu hanyalah milik sedikit orang di negara ini. Meskipun melihat kejadian barusan, saya begitu “terpukul”…

Kejadian apakah?
Di hari-hari mendekat kegiatan inti haji, banyak LSM maupun para dermawan di Saudi khususnya di Mekah yang memberikan hadiah-hadiah. Biasanya berupa box-box makanan kecil, kurma maupun minuman atau buku2 kecil/booklet. Tiap ada pembagian seperti itu, pasti terjadi rebutan.Yang saya saksikan langsung adalah barusan, saat saya turun ke lobi dan ada pembagian box makanan kecil. Banyak orang yang meminta lebih dari satu box. Saya pikir, mereka mengambilkan untuk teman-teman mereka. Ternyata bukan. Semuanya mereka masukkan ke tas mereka sendiri, karena mereka sedang menunggu jemputan bis ke Mina di lobi ini. Suasananya hiruk pikuk, diiringi teriakan-teriakan meminta dari jamaah haji dan sesekali terdengar kata “haram, haram”, dari petugas yang melihat ada yang meninta lebih dari satu box makanan untuk dirinya sendiri.

Tertnyata yang saya lihat itu belum seberapa. Beberapa menit kemudian, ibu-ibu dan  bapak-bapak yg tidak sabar menerima pemberian, tiba-tiba “menjarah” kotak-kotak besar tempat box-box makanan itu berada. Karena posisinya dekat kaca, maka saya bisa melihat jelas keributan, kerusuhan yang terjadi.  Ada teriakan, jeritan, ada ibu-ibu yang tergencet, ibu-ibu lain mendorong, …. Aduuuuh…. Sediiiiih sekali …rasanya hati ini teriris2…

Inilah saudara-saudaraku tercinta. Para tamu undangan Allah, manusia-manusia yang terpilih untuk berkunjung ke rumahNya. Apakah mereka sangat miskin dan tidak sanggup membeli makanan kecil itu sendiri? Tampaknya tidak. Karena mereka punya uang 35juta untuk membayar ONH. Mereka pun sebagian sudah memakai baju dan kerudung khas Mekah yang mereka beli disini. Ya, soal perilaku meminta dan tak tahu malu, memang bukan masalah punya atau tidak punya. Ini masalah mental.

Ini PR kita. PR para pemimpin kita, PR kita sebagai ibu dari anak-anak kita. Tumbuhkan mental “tangan di atas”. “Musnahkan mental meminta, bangga kalau diberi, bahkan mengambil hak orang lain” dari anak2 kita…

Jangan ada keluarga kita yang bermental pengemis. Dimanapun ia berada. Amiiin.

7 dzulhijah, bada isya

14. Cemas Menanti Hari Wukuf

Hari ini, hari terakhir bis menuju Masjidil Haram beroperasi. Seluruh jamaah haji dari seluruh dunia sejumlah kurang lebih 2,5 juta sudah berada di tanah haram ini hari ini. Masjidil Haram menjadi sangat penuh, dan kami pun dihimbau untuk shalat di masjid sekitar hotel agar bisa menyimpan energi menjelang pelaksanaan puncak haji yaitu wukuf di padang arafah yang akan berlangsung tgl 9 dzulhijah, hari senin.

Apalagi KBIH kami, akan melaksanakan tanazul; yaitu keluar dari program pemerintah. Program pemerintah, dari maktab langsung ke arafah menggunakan bis. Sedangkan KBIH kami ingin melaksanakan sunnah rasul yaitu bermalam dulu di Mina sebelum ke Arafah. Karena diniatkan untuk menghayati “napak tilas” perjalanan haji Rasulullah, maka kami akan berjalan ke Mina tgl 8 Dzulhijah, bermalam di sana lalu berjalan ke Arafah untuk melaksanakan wukuf di tgl 9-nya. Jaraknya puluhan kilo. Laaa haula walaaa quwwata illa billah..semoga kami sanggup.

Jujur saja, adrenalin di tubuh saya meningkat. Dan mungkin kecemasan ini dirasakan juga oleh seluruh jemaah haji. Bagaimana tidak? Alhajju Arofah. Haji itu, “pengesahannya” adalah saat wukuf di Arofah. Walaupun secara teknis, wukuf itu “hanya”lah berdiam diri di padang arafah selama 6 jam, dari dhuhur sampai maghrib; namun secara fikih, ritual inilah yang membuat seorang dikatakan melaksanakan ibadah haji atau tidak. Itulah sebabnya, jamaah haji yang sakit di rumah sakit ataupun koma, akan dibawa ke padang Arafah menggunakan ambulans. Namanya safari wukuf. Secara esensi,  saat wukuf adalah saat Allah membanggakan para umatnya di hadapan malaikat. Riwayat al-Hakim bersumber daripada Abu Hurairah, dalam hadits Qudsi Allah berkata: “Lihatlah kepada orang-orang yang menziarahi rumah-Ku, sesungguhnya mereka telah mengunjungi-Ku, hingga kusut masai keadaannya dan penuh debu.” Pada saat itu pintu ampunan dibuka dan ribuan malaikat turun ke bumi. Itu adalah saat terbaik dalam hidup seorang manusia. Kalau kata ustadz pembimbing kami, semakin gembel penampakan kita, semakin Allah cinta pada kita.
Beberapa hal yang menambah kecemasan saya adalah, bukan hanya situasi personal  misalnya kesehatan. Tapi suasana di sekitar saya  juga rasanya semakin “memuncak”. Setiap hari ada berita duka. Jumat lalu, 7 orang wafat akibat rebutan bis dari masjidil haram.  ADa juga berita jamaah yang kehilangan seluruh uangnya, ada berita di maktab kami seorang suami yang istrinya dibawa kabur di taxi, beberapa kabar mengenai jemaah haji yang wafat… Bahkan ada seorang dari rombongan kami yang juga wafat…innalillahi wa inna ilahi rojiun… Di berita melalui internet, kami membaca sekitar 40an jemaah haji mengalami gangguan jiwa.   Barusan, kami mendengar halo-halo dari speaker informasi bahwa ada seorang bapak yang tersesat di lobi. Bayangkan… Di hotelnya saja tersesat dan tdk bisa menemukan kamarnya !!!

Salah satu perasaan yang khas disini, yang jarang ditemukan di tanah air, adalah perasaan bahwa kematian itu begitu amat sanat dekat. Penghayatan bahwa “kita tidak tahu besok, satu jam lagi, sepuluh menit lagi dari sekarang kita masih hidup atau engga” itu begitu kuat.

Ya Allah… Sampaikan kami pada hari wukuf..hari pengampunanMu…

arafat-start-here
Kamis, 10 oktober 2013