Renungan Psikologi vs Islam dalam Pengasuhan Anak : Belajar dari Umar dan Khalid (Part One)

Di hari-hari terakhir pelaksanaan ibadah haji saya, saat itu saya berada di Madinah …. sempat terbersit pertanyaan dalam pikiran saya …. apakah kerangka pikir saya sebagai seorang psikolog akan berubah sesampainya saya di tanah air nanti? Apakah pola pikir saya dalam memandang diri dan manusia kini, masih akan “match” dengan pola pikir psikologi yang selama ini telah saya pelajari dan saya praktekkan?

Keresahan itu sempat saya sampaikan pada Mas. Waktu itu mas bertanya mengapa saya bisa berpikir demikian. Saya jawab, karena psikologi berbicara tentang manusia. Berawal dari pemahaman tertentu mengenai filsafat manusia. Dan Islam pun bicara tentang manusia, filsafat manusia. Saya “khawatir” ada hal yang berbeda atau bahkan bertentangan dalam filsafat manusia dari sudut pandang agama dan sudut pandang psikologi yang saya pelajari. Misalnya konsep “bahagia”, konsep “sejahtera” dan konsep2 lainnya. Dulu, waktu saya masih mahasiswa saya pernah mendengar cerita bahwa beberapa kakak kelas saya mengundurkan diri dari pendidikannya di psikologi karena pelajaran ini tidak sesuai dengan keyakinan dan “hati nurani” mereka sebagai muslim/muslimah.

Kenapa kekhawatiran  yang saya rasa ini muncul baru sekarang ? Karena “tempaan” pengalaman, penghayatan dan ilmu-ilmu yang saya dapatkan selama hampir 40 hari disini menguatkan kesadaran akan jatidiri saya sebagai muslimah. Dan tentu saja, dengan jatidiri ini maka kerangka pikir saya pun “berubah” menjadi kerangka pikir sebagai muslimah. Apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan salah….Nah, itulah awal munculnya pertanyaan saya…apakah kerangka pikir sebagai seorang muslimah ini berbeda dengan kerangka pikir dalam profesi saya sebagai psikolog? Waktu itu, saya memutuskan bahwa kalau terjadi “perbedaan atau pertentangan”, maka saya siap meninggalkan profesi psikolog yang sesungguhnya amat saya cintai ini.

Sejak pulang haji 8 November lalu memang saya belum berpraktek lagi. Belum ketemu klien, belum menghayati “perbandingan” sudut pandang islam dan psikologi dalam membantu menyelesaikan masalah klien dan membuat klien lebih sejahtera dalam hidupnya. Memang satu bulan ini saya belum “ngebut” dalam dunia profesi. Masih ingin menikmati semangat belajar agama yang dibawa dari tanah suci. Kan katanya, beribadah itu kayak mengayuh sepeda. Kalau lagi ringan alias lagi semangat, kebut sekebut2nya…biar kalau lagi berat, misalnya lagi males, kalaupun memelan atau berhenti, sepedanya terus melaju dengan bekal modal ngebut tadi.

Salah satu semangat yang saya bawa dari tanah suci adalah semangat belajar sejarah Islam. Seperti banyak orang lainnya, saya paling anti belajar sejarah. Siapa yang suka menghapal nama tempat, waktu, dan nama orang…apalagi yang gak ada kaitannya dengan kita. Berbeda dengan saya, Mas cukup punya minat untuk mempelajari sejarah. Kayaknya karena dulu guru sejarahnya asik banget. Saya masih ingat cerita Mas tentang guru sejarahnya yang di ulangan pertanyaanya bukan “tanggal berapakah perjanjian Linggarjati dilakukan? apa isi perjanjian Linggarjati?” melainkan “setujukah kamu dengan isi perjanjian Linggarjati? Jika kamu harus merumuskan perjanjian Linggarjati, apa yang akan kamu rumuskan? apa alasannya?”….

Kami punya banyak buku sejarah. Mulai dari siroh Nabawiyah (beberapa buku), Sejarah Khilafah dan Kerajaan sejak zaman Rasul sampai sekarang, dan sejarah Indonesia pun banyak. Ada Api Sejarah jilid 1 dan 2, serta biografi beberapa tokoh pahlawan nasional. Yups, saya sepakat kata-kata Mas saat menyemangati saya untuk baca buku-buku sejarah tersebut. “Banyak yang bisa kita pelajari dari sejarah”. Tapi, ke-setujuan- saya tersebut belum mampu memotivasi saya untuk membuka lembar demi lembar tumpukan buku sejarah itu….

Semangat saya belajar sejarah, khususnya sejara Islam begitu menggebu-gebu sepulang dari tanah suci. Hal itu dikarenakan saya melihat sendiri “TKP” dari sejarah-sejarah Islam. Begitu saya sampai di kota Mekah, saya terkaget-kaget melihat bahwa “gunung-gunung cadas”, “alam yang keras” yang saya baca di buku, adalah benar. Lalu saya berinteraksi dengab orang Arab sanah…..”Kerasnya” perilaku mereka…..hal itu memunculkan penghayatan terhadap apa yang diungkap di buku2 sejarah Islam.

Dulu, waktu saya baca betapa Rasul amat lembut perilakunya- saya anggap biasa2 saja. Ya, karena saya hidup di dunia sunda yang emang orangnya lembut-lembut. Tapi begitu sampai di Mekah…saya jadi menghayati…Ya….akhlak RAsul sangatlah luar biasa. Saya membayangkan perilaku Rasul yang amat sopan dan lembut, diantara orang-orang Arab yang selalu tampak “marah” saat bicara. Lalu saya berkunjung ke Gua tempat Rasul bersembunyi saat hijrah, Ke gua Hiro tempat Rasul berkhalwat, Ke Hudaibiyah tempat Rasul mengadakan perjanjian Hudaibiyah, melihat tempat Baiat Aqobah di Mina, mengunjungi bukit uhud, Mengalami lamanya perjalanan Mekah-Madinah….entah kenapa membangkitkan semangat untuk mengetahui perjalanan Rasul di tempat-tempat tersebut. Selain itu, waktu di Mesjid Nabawi ada sesi tausyiah khusus siroh, yaitu bada ashar. Engga tau kenapa, meskipun pematerinya “lempeng” aja saat menyampaikan kisah hidup Rasulullah sejak sebelum lahir sampai wafat, namun beliau bisa membuat kami yang mendengarnya menitikkan air mata saat ada kejadian sedih atau memilukan yang diceritakan terjadi pada Rasulullah.

Dengan semangat itulah, saya memesan buku seri Perjalanan Hidup Rasul dan Sahabat-Sahabatnya untuk anak. Dari sekian banyak seri buku yang saya punya untuk anak-anak, memang tak ada satu pun seri siroh. Kini saya ingin anak-anak saya suka dengan siroh. Eh, ternyata gak cuman Azka dan Umar yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku siroh yang sebagian isinya ditampilkan dalam bentuk komik….tapi saya juga !!! Bener banget …memang banyaaaaaak sekali hal-hal yang saya pelajari, hal-hal yang bisa menjadi “pegangan” buat saya dalam menghadapi situasi saat ini.

Apalagi saya sebagai orang sosial, saya menjadi lebih peka terhadap dinamika situasi sosial yang digambarkan disana> Apalagi ditambah bekal memori saya tentang situasi fisik di Mekah dan Madinah. Sebagai orang psikologi, saya amat tertarik pada karakteristik kepribadian masing-masing sahabat yang berbeda-beda, dan bisa menghayati perilaku serta pilihan-pilihan mereka. Misalnya pilihan sahabat memihak Aisyah atau Ali saat perang unta….

Dan tak disangka tak dinyana, pertanyaan saya mengenai kerangka pikir islam vs psikologi waktu di Madinah terjawab. Di buku siroh itu, dijelaskan juga kisah  bagaimana masing-masing sahabat tergerak hatinya untuk masuk Islam. Ada satu abstraksi yang saya tarik dari beragam kisah itu. Bahwa KEPRIBADIANlah  yang paling berperan penting pada KUALITAS seorang MUSLIM. Dua kisah yang menonjol adalah masuk islamnya Umar Bin Khatab, sang Al-Faruq  dan Khalid Bin Walid-Sang Pedang Allah.

Bersambung ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s