24. Arafah-Mudzalifah-Mina : What A Great Long Adventure (Part Two)

…….

Alhamdulillah kami akhirnya bisa melewati situasi mencekam di terowongan  dan keluar dengan selamat. Hanya saja, rombongan kami menjadi terpecah dua. Satu kelompok besar sudah tak terlihat, sementara saya bersatu dengan teman-teman yang tercecer bersama ustadz yang berperan sebagai  tim penyapu. Selain bersyukur karena setelah pengecekan seluruh anggota rombongan kami “selamat”, ada juga beberapa yang “mengeluh” dan merasa “menyesal” mengikuti perjalanan ini. Seorang ibu bertanya pada temannya, dimana suaminya. Si istri menjawab; “tau tuh…mana sempet gue pikiran…gue masih idup aja udah untung” …. Mmhh…saya jadi ingat surat Al-Qur’an yang menggambarkan kedahsyatan hari kiamat. Sebegitu ekstrimnya, sehingga seorang ibu pun suda tak akan peduli lagi pada keadaan anaknya. Tampaknya, situasi yang kami alami tadi adalah gambaran kiamat kecil …

DSC_0129Kami teruuuuus berjalan…entah berapa lama, dan kami mulai melihat di kiri kanan kami, di tebing2… sudah banyak makhluk2 berbaju putih yang memenuhi. Tidak hanya itu, di pinggir kiri kanan jalan yang kami lewati, sudah banyak yang menggelar tikar dan tidur disana. Sampai mesjid Mas’aril Haram, kami berhenti sebentar untuk berkoordinasi dengan tim depan. Lama juga kami mencari, hampir setengah jam. Saya sudah pengen lebay, tapi malu… Malu sama ibu-ibu Afrika yang berjalan tegap dengan beban yang disimpan di atas kepalanya dan atau sambil menggendong anak di punggungnya. Malu  sama anak-anak kecil sebesar Umar yang tanpa mengeluh terus berjalan…Bahkan ada seorang ibu Afrika yang mendorong stroler berisi 3 anak kecil ! Hadeeeuuuh gak kebayang gimana caranya ia melewati terowongan tadi. Hanya dengan izin Allah semuanya menjadi mungkin.

Sesampainya di meeting point, tak pernah terbayang kalau kami harus tidur di pinggir jalan, yang mulai melebar ke tengah. Inilah Mudzalifah. Berbeda dengan bayangan saya…saya kira akan sunyi senyap 😉 kami pun menggelar tikar… Badan saya sudah tak terkira  gatalnya. Maklum, keringat yang membanjir selama 2 hari ini, tanpa mandi dan berganti pakaian….tapi… nikmati sajalah…there is nothing we can do…Mau mandi? hahahaha….harus mengantri bersama puluhan orang dan kalau lebih dari 1 menit aja, udah digedor-gedor …

Dengan izin Allah, meskipun tak terbayang tidur berkasur aspal dan tikar tipis, di pinggir jalan bersama ribuan orang yang bergelimpangan, lalu di pinggir kami ratusan ribu org terus mengalir tak henti2…menuju ujung Mudzalifah, meneriakkan gema talbiyah……akhirnya karena kelelahan, setelah sholat Maghrib-Isya dijama, saya pun tertidur pulas. Si abah yang mencarikan 150 butir batu untuk melempar jumroh.

Night-Stay-at-Muzdalifah-Photos-of-MeccaSaya terbangun sekitar pukul dua. Teman-teman sudah banyak yang sedang sholat malam. Pimpinan kami sudah woro-woro untuk bersiap-siap, setelah sholat Subuh kami akan langsung bergerak menuju Mina untuk melempar jumroh. Perjalanan pagi ini tak kalah melelahkannya. Alhamdulillah saya menabung banyak air minum dalam botol, jadi begitu kehausan bisa langsung menikmati air. Beberapa botol kami berikan pada teman-teman yang persediaan airnya sudah habis.Ustadz pemimpin pesantern kami itu, memang ruarrr biasa fisiknya. Dalam perjalanan ini, kita mah udah hah-heh-hoh gak jelas, beliau malah jalan sambil siaran langsung radio-nya di Bandung…

……………………………….

DSC_0131Perjalanan 1,5 jam menuju Jumrotul Aqobah akhirnya terlewati sudah.
Secara psikologis, melempar jumroh adalah menembaki syetan, melempar sifat2 buruk yang ingin kita ubah. Dan hari ini, kami melewati “small stone” ula, “middle stone” wustha, dan langsung melempar di “big stone” aqobah. Sambil melempar tujuh batu, saya membayangkan sifat-sifat  terburuk saya dan berharap bisa membuangnya… Semoga allah mengabulkan, amiiiin…Mmmhhh… Memang tampaknya, demikianlah perjuangan untuk membuang sifat buruk kita. Butuh proses panjang yang tak mudah. Selepas lempar jumroh Aqobah, lantunan talbiyah berganti gema takbir. Secara simbolis, kami telah memenangkan pertempuran melawan syetan terkuat…

Setelah tahallul dan berdoa, perjuangan kami belum berakhir. Kami harus kembali berjalan ke pemondokan kami. Satu jam berjalan. 21 orang dari rombongan kami tidak kembali ke pemondokan di Mina, tapi langsung ke Mekkah untuk thawaf ifadah. Acungan jempol untuk bapak ibu ini, yang dikaruniai fisik dan azzam yang kuat. Jam 3an mereka sudah bergabung lagi dengan kami di Mina.

Saya juga pengen langsung. Langsung mandi haha…tapi apa daya, antrian mandi sampai 30 org…akhirnya, handuk basah instan pun sangat bermanfaat, minimal mengurangi kegatalan dan bisa ganti baju.

Karena rombongan yang tanazul dan rombongan yang pake bis sudah bersatu, maka space kami di tenda menjadi sangat sempit. Alhamdulillahnya, kami bersama rekan-rekan yang sabar dan saling pengertian. Tidak ada lagi “aku” disini. Kami saling berbagi makanan, minuman, berbagi posisi, gantian posisi tidur…

Benar kata seorang ibu…pengalaman ini akan membaut kami di hari-hari ke depan menjadi selalu bersyukur…. Makan, minum, tidur, ke kamar mandi, hal-hal  kecil yang tidak pernah kita rasakan karena amat sangat mudah, kini karena begitu suli…., maka menjadi begitu kita syukuri. Mana pernah seumur hidup pengen sujud syukur karena seger abis mandi selain disini?

Tadi sempet ketemu mas yang udah kayak cuplis. Moga-moga diluruskan niat tahallulnya, sesuai hadits rasul : Ya Allah, rahmatilah orang yang melakukan halq (menggundul habis rambutnya)….” dan Rasulullah pun mengulang do’anya sebanyak 3 kali. Lalu salah seorang Sahabat lainnya pun menanyakan “lalu bagaimana dengan orang yang melakukan taqsir ya Rasulullah?” Maka Rasulullah pun berdo’a “Ya Allah juga (rahmati) orang yang memangkas (taqsir) rambutnya” (Muttafaq Alaihi)

Mina, 10 dzulhijah, bada ashar
Antri menunggu giliran mandi 😉

Advertisements

23. Arafah-Mudzalifah-Mina : What A Great Long Adventure (Part One)

Mina, 10 Dzulhijah 1434 Bada Dhuhur.

DSC_0120

Wukuf kami kemarin ditutup oleh muhasabah menjelang pkl 17.30.Setelah itu kami langsung bergerak menuju perbatasan Arafah, dipimpin langsung oleh pimpinan pesantren tempat KBIH kami bernaung. Beliau adalah seorang ustadz berusia awal 50-an, berbadan mungil namun lincah dan punya kharisma yang kuat.

Beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang kami sudah tepat di perbatasan Arafah. Kami menunggu sampai adzan maghrib berkumandang untuk menyempurnakan syariat, setelah itu bergerak  keluar Arafah. Sang Ustadz yang dekat dengan dunia militer ini memberi pembekalan dengan jelas, dan menekankan kedisiplinan. Katanya kami akan berjalan cepat, non stop 4 jam sampai mesjid Mas’aril Haram.  Rute yang dipilih pimpinan kami adalah rute jalan memotong, karena kalau mengikuti rute jalan besar akan bertemu dengan beberapa bottle neck yang padat.

Bismillah…diringi talbiyah, kami pun mulai bergerak. Tiga Ustadz didampingi pemegang bendera ada di depan, tengah dan Belakang. Saya mencoba selalu berada di depan ustad yang bertugas di tengah. Kalau berada di depan, agak sulit…sedikiiit aja ritme jalan kami berkurang, tiba-tiba kami sudah tertinggal jauh.

DSC_0127Medan yang dipilih itu, ternyata offroad banget. Kami harus turun melewati sungai besar yang sudah mengering, melewati lautan pasir dan kemudian naik ke tebing 60 derajat.  Sebenarnya medan kayak gini bukan hal baru bagi saya. Semasa muda dulu, pas SMA dan kuliah hobi banget gini-ginian. Cuman mengingat itu sudah lebih dari 10 tahun yang lalu serta sudah mengalami “turun mesin” 4 kali, ada juga rasa sangsi dalam hati apakah saya akan sanggup menyelesaikan perjalanan ini.

Untuk mengusir keletihan, saya mencoba menghayati perjalan ini dengan membayangkan perjalanan-perjalanan yang dilakukan Rasul dan para sahabat. Saat hijrah, saat menghadapi beragam perang….Ada satu hal juga yang mampu membuat saya “terlupa” dengan lelahnya tubuh. Yaitu pemandangan seluruh suami-istri yang saling bergenggaman tangan, saling melindungi dan saling bantu membantu dalam panjang dan beratnya perjalanan ini. Saya berdoa, semoga setelah haji ini, dalam kehidupan rumahtangga mereka yang panjang dan saat menghadapi beratnya ujian yang dihadapi, secara psikologis mereka selalu menghadapinya bersama seperti yang mereka lakukan malam ini.

Di sungai kering yang ternyata masih menyisakan lumut yang licin, ….gedubrak….saya terjatuh. Disusul sepasang ibu-bapak yang juga terjatuh. Baju putih saya pun berubah menjadi coklat. Tapi tetep seru…dengan terpincang-pincang dan dipapah mas saya terus melalui medan demi medan. Sampai akhirnyaaaaa kami memasuki jalan besar, bergabung dengan lautan manusia yang jumlahnya ratusan ribu atau mungkin jutaan. Kami teruuuuus berjalan… Konon perjalanan ini akan memakan waktu 4 jam tanpa henti, 3 kali lipatnya perjalanan kemarin dari Mekah ke Mina.

Ada satu kejadian yang tak akan pernah dilupakan oleh siapapun di rombongan ini. Dalam perjalanan itu  kami bertemu dan masuk ke dalam sebuah terowongan. Berada dalam terowongan dengan jumlah orang yang amat banyak dalam situasi terhimpit-himpit memunculkan perasaan …..”cemas” dan “takut” yang amat sangat. Meskipun pimpinan kami menyerukan untuk tetap tenang, berdzikir dan tetap berada dalam barisan, namun rupanya di depan terowongan ada penutup jalan yang membuat hanya satu orang yang bisa lewat. Akibatnya, ribuan orang dalam ruangan “tertutup” ini terhenti, tanpa tahu kenapa.  Sedangkan arus dari belakang terus menekan. Situasi inilah yang membuat orang-orang  menjadi panik. Berada dalam himpitan, mulai terdengar teriakan dan tangisan. Suasana menjadi amat menegangkan, haru-biru dan menakutkan.

Di sekeliling saya, tak bisa saya lihat lagi syal-syal hijau muda yang dikenakan kelompok kami. Hanya pegangan tangan mas yang membuat saya sedikit tenang. Dalam situasi itu, hanya keyakinan Allah akan menolong-lah yang membesarkan hati. Maka, segala macam dzikir yang saya bisa saya bacakan, sambil berupaya untuk tak terjatuh. Karena begitu terjatuh, maka nasibnya akan seperti beberapa orang di depan-kiri kanan saya, terinjak-injak. Suasana seperti ini membuat salah satu ruang di relung hati saya “bersiap” kalaulah malaikat maut menjemput saya dalam keadaan seperti ini, di tempat ini dan saat ini. Entahlah, mungkin karena di sini kami menghadapi begitu banyak situasi yang ekstrim dan unpredictable, kematian terasa begitu amat dekat. Selain yang terinjak-injak, beberapa orang sudah di sekeliling saya sudah pingsan dan dibopong. Teriakan agar memberi jalan, di tengah-tengah himpitan ini semakin membuat getir. Saya sudah melihat cahaya di ujung terowongan…dan tiba-tiba, saya berada dekat dengan ustadz yang bertugas menjaga barisan di belakang rombongan kami. Tampaknya Pak Ustadz sudah berada di luar penghalang, dan mengulurkan tangannya pada saya. Mas mengangkat tubuh saya dari belakang, maka saya pun bisa naik ke penghalang tersebut…

Leganya tak terkira. Tak henti-hentinya kami mengucap syukur, sambil berusaha berkumpul kembali. Saya berharap ini pengalaman “mengerikan” terakhir….tapi ternyata saya salah….

Bersambung ke part two