31. Life : Is Never Ending Jumroh

Mina, 13 Dzulhijah 1434

Hari ini hari terakhir kami melempar jumroh.  Seperti yang sudah disampaikan pak ustadz pembimbing kami, hari ini akan sangat lengang. Karena sebagian besar jamaah sudah melakukan nafar awal, yaitu melempar jumroh sampai hari kemarin.

IMG-20131018-00969Ternyata apa yang dikatakan pak ustadz 100 persen benarrr… Tempat melempar jumroh yang biasanya padat, kosong song song…istilahnya, kita bisa “one on one” lempar setannya (biasanya kan si setan dikeroyok sama banyakan tuh..hehe…). Jadi inget kemaren, waktu saya telpon Hana nanyain gimana manasik hajinya di sekolah, dengan antusias Hana menjawab …”Ibu, kaka lempar batunya hebat…kena sama setannya, setannya sampai benjol, pingsan terus mati deh”.  Hadeeeuh…ini pasti ulah gurunya Hana yang super imaginatif hehe..

Saat melempar jumroh, secara psikologis kita membayangkan kita membuang semua sifat buruk yang kita miliki. Kita juga bayangkan kalau kita melempari setan-setan yang menghalangi kita dari kebaikan dan mengajak pada keburukan.Sssst…dalam psikologi, teknik “imagery” ini terbukti ampuh untuk mengarahkan perilaku loh…jadi kalau teman-teman nanti melempar jumroh, benar-benar hayati dan bayangkan hal-hal tersebut… Saya sangat terkesan dengan ibadah ini.

Ternyata saya tak sendiri. Melalui tayangan National Geografic yang saya tonton di yutub: http://www.youtube.com/watch?v=lGykoUtHk0A, Seorang ahli neurosains dari Amerika, juga mengatakan kurang lebih begini : “I love the jamarat. I think this ritual have a tremendous power.  Semakin banyak cara yang kita gunakan: fisik, mental, spiritual dalam amalan ini, semakin besar hasilnya untuk menjaga kita dari godaan syetan. Dari sudut saintifik, ini ritual yang amat bermanfaat”

Ya, sebenarnya….kalau kita hayati….setiap detik kehidupan kita, harusnya kita terus melempar jumroh. Tak berhenti. Mengapa? Karena syetan juga tak pernah berhenti menggoda kita. Kadang dia hanya menunggu waktu, seringkali dia hanya berubah wujud. Kita melempari mereka yang menggoda kita untuk sombong. Saat sudah berhasil menjadi seorang yang rendah hati, mereka akan datang menggoda kita untuk “merasa kita lebih rendah hati dari yang lain” ….terus…terus…demikian. Seperti janjinya, syetan tak akan berhenti sampai hari kematian kita tiba.

Saya sangat terkesan dengan uraian Ali Syariati dalam buku fenomenalnya-Makna Haji. Pada terbitan Zahra, mulai halaman 193, beliau menulis sub-bab Serangan-serangan Pasca Id.

Ketiga hari setelah hari Id ini disebut Hari Tasyriq. Apakah artinya? pada hari 10 Dzulhijah engkau naik ke tingkatan Ibrahim, engkau mendapatkan keberanian untuk “mengorbankan Ismail”. Engkau mengalahkan setan di basis terakhirnya pada seranganmu yang pertama, engkau berkorban, engkau melepaskan pakaian ihrom dan menghasilkan kemenangan dari front pertempuran Mina. Mengapa engkau harus meneruskan pertempuran? Ada pelajaran darimu- jangan lupa bahwa setan mampu bertahan hidup meskipun setelah dikalahkan

…..Kemenangan jangan sampai menyebabkanmu terlena. Karena itu, jika engkau telah menaklukkan Mina maka tetaplah tanganmu menggenggam senjata. Engkau harus memaksa setan keluar dari pintumu. Tapi setan bisa kembali lewat jendela. Ia kalah “di luar dirimu” tapi ia bisa bangkit “di dalam dirimu”. Ia dirobohkan dalam pertempuran, tapi ia bisa memperoleh kekuatan kembali dalam perdamaian. Ia lenyap di Mina, tapi kini ia bisa subur dalam dirimu

…Godaan memiliki ribuan wajah.

….Janganlah engkau begitu naif mengira perang telah usai setelah mengalahkan setan di Mina, dan melepaskan baju besimu, memakai make up dan parfum, merayakan kemenanganmu, mengabaikan ancaman, merasa bebas untuk meninggalkan Mina menuju Mekah, terus sibuk beribadah atau pulang ke kampung halaman dan memulai bisnismu lagi. Wahai engkau pejuang kemerdekaan, pengikut Ibrahim, jangan lupa 10 Zulhijah adalah hari “id Kurban” bukan “id kemenangan”. Pengorbanan Ismail adalah awal haji, bukan akhir haji.

…Setelah hari id, engkau harus tetap mempertahankan semangat heroikmu dan siap setiap saat untuk bertempur.….Setan memiliki banyak warna dan tipu daya. Setan pernah mencoba memperdaya engkau dengan nyawa Ismail dan sekarang Engkau mungkin ditipu oleh rasa bangga karena telah mengorbankan Ismail.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s