40. Dari “yang disucikan” menuju “yang bercahaya”

Selasa 29 Oktober 2013

Kami di bis on the way to Madinah. Akan meninggalkan Mekah Al Mukarromah, Mekah yang disucikan, menuju Madinah Al Munawwaroh, Madinah yang bercahaya.

Berangkat kurang lebih jam 8 tadi pagi, katanya perjalanan kurang lebih selama 6 jam. Saya baru bangun hehe… Dan pemandangan di kiri kanan kini adalah padang pasir yang diselingi gunung-gunung batu. Ah, kebayang waktu zaman rasulullah dahulu. Pasti alamnya jauh lebih ganas, dan waktu hijrah Beliau tak melaluinya dengan bis ber ac seperti ini. Saya juga membayangkan perang-peran yang terjadi….perang badar, perang uhud….ah, speechless…pantaslah para sahabat yang gugur bergelar syuhada dan mendapat jaminan syurga.

Kata mas, ia juga jadi mengerti kenapa jaman penjajahan belanda dulu, penjajah sangat takut dengan yang pergi berhaji. Yang pulang haji, pasti sudah tertempa fisik, spiritual bahkan wawasan saat bertukar pikiran dengan seluruh warga muslim sedunia, terutama saat di Mina. Tak heran penggerak-penggerak dan pahlawan-pahlawan  kemerdekaan datang dari kaum yang pulang berhaji.

Semalam, bada isya kami melakukan thawaf wada. Thawaf perpisahan. Rasanya? Tak terbayangkan. Sedih, campur haru, campur syukur, campur harap yang amat besar untuk bisa diundang kembali, campur kangen, campur baur menjadi rasa yang tak terdefinisikan. Belum pernah saya merasakan perasaan sedalam ini. Tujuh kali putaran, saya tak sanggup berdoa apapun. Segala campur baur perasaan ini membuat saya hanya bisa mengucapkan satu kata. Allah. Hanya air mata saja yang bisa mengekspresikannya.

Walaupun mas terpincang-pincang karena keseleo kakinya, tapi ia mau mengabulkan keinginan saya, mengantar dan melindungi saya masuk ke Hijir Ismail dan memegang Rukun Yamani. Tadinya, melihat kondisi mas saya sudah pasrah dan berdoa agar keinginan masuk ke Hijr Ismail dan memegang Rukun Yamani jadi “PR” yang membuat saya bisa kembali lagi kesini untuk menyelesaikannya. Makanya, pas mas tetap mengusahakannya, setelahnya saya peluk mas, pelukan yang paling …. “sesuatu” selama 11 tahun menikah ini (gak tau namanya apa, pokoknya didorong oleh perasaan yang “dalem” banget lah..hehe..)

Di Hijr ismail, duh…saya bener-bener speechless. Berada di rumah seorang wanita, yang di mata manusia paling hina (wanita sering dipandang sebagai warga kelas dua), budak, hitam, (yang karena itulah dipilih oleh Sarah istri ibrahim, karena tak akan menimbulkan kecemburuan), tapi oleh Allah diangkat derajatnya setinggi-tingginya. Terbayang saat beliau ditinggalkan di lembah tandus Mekkah, terbayang perasaannya saat Ismail menangis sedangkan air tak ada, terbayang upayanya bolak-balik bukit Shafa dan Marwah mencari air, terbayang betapa bahagianya ia saat melihat zamzam mengalir… Duh ya Allah…karuniakanlah aku ketauhidan sekuat tauhid  Hajar, karuniakanlah semangat ikhtiar sebesar semangat  Hajar, karuniakanlah cinta yang amat pada anak-anakku, sebesar cinta  Hajar.

Setelah berthawaf wada, rombongan kami janjian ketemuan untuk berdoa bersama dipimpin pak Ustadz. Saat ketemu teman-teman, rata-rata matanya pada bengkak habis menangis. Kami puas-puasin berdoa di Multazam.

Dalam perjalanan pulang, rasa sedih itu terasa lagi. Di sepanjang jalan dari pool bis sampai maktab kami, para pedagang yang selama puluhan hari ini menjadi langganan kami membeli segala macam keperluan, berdiri di depan toko-tokonya. “wada? wada? selamat tinggal” kata mereka sambil melambaikan tangannya pada kami. Beberapa bahkan memanggil kami dan memberikan buah…..Saya sendiri “say goodbye” secara khusus dengan seorang pemuda berwajah arab berperawakan ceking penjual buah yang selama ini hampir setiap hari melayani saya. Ah, cuman satu bulan, tapi rasanya sudah terjalin “hubungan emosional” antara kami dengan mereka (kkkk…lebay….)

Tadi pagi, sejak jam 4 kami sudah bersiap. Koper sih sudah dikumpul sejak semalam di bawah. Koper-koper yang dalam waktu 30 hari, pada hamil 9 bulan haha….Dan selain hamil, ternyata ia juga sudah beranak. Terbukti, tidak hanya tas tentengan yang kami bawa. Tapi bertambah dengan tas ini-itu berisi beragam oleh-oleh. Plus juga ember-ember, rice cooker dan peralatan jemur menjemur yang kami bawa ke Madinah.

Proses mengepak koper bukanlah proses yang mudah bagi kami para ibu-ibu. Harus memutar otak dan menggunakan beragam rumus matematika untuk membuat ruang-ruang di koper kami muat diisi oleh segala macam oleh-oleh yang kami beli. Kami saling berguru ilmu mengenai cara packing yang paling efisien dengan sesama teman sekamar. Dalam hal ini, bapak-bapak dalam keadaan pasrah. Pasrah diimpor-i beragam barang yang tak muat di koper kami, pasrah saat kami ambil alih proses pengepakan kopernya haha…. Dan salah satu yang paling berat buat saya adalah, saat harus memilih barang-barang yang mau tak mau harus saya tinggalkan karena ruang tak muat. Termasuk dua tikar yang menemani perjalanan ke Mina-Arafah. Tikar yang menjadi alas tidur di jalan mudzalifah. Saat termangu memandangi tikar-tikar itu, seorang teman saya bilang “ayo…tinggalin aja…meni kayak nini-nini segala berat ditinggalin” katanya …. haha….

Selama di Mekkah dan di baitullah, tak sempat melihat dengan mata kepala sendiri hajar aswad, gak berani mendekat. Pernah saya ada kesempatan mendekat, hadeeeeuuuh…para joki, yaitu orang-orang  Indonesia banyak yang menawari jasa “mencium” hajar aswad. Kami sudah diwanti-wanti untuk menolaknya dengan tegas. Karena mereka meminta bayarang yang tinggi. Dan tidak hanya itu, bagi kami yang berusaha melakukanya tanpa meminta bantuan mereka, mereka akan berupaya menggagalkan dengan cara menghalangi sampai menggencet. Sering kami dengar jeritan-jeritan akibat ulah mereka.

Dari buku-buku yang saya baca, hampir semua menggambarkan bahwa Mekah dan Madinah memiliki karakteristik ynag berbeda, baik secara fisik maupun soiologis dan psikologis. Meskipun sedih meninggalkan Mekah, namun excited juga menuju Madinah.

Advertisements

39. Sai : The Power of Love

IMG-20131019-00977Jujur saja, setiap kali saya bersa’i, saya pasti teler. Mulai putaran ke 3 biasanya langkah saya mulai  gontai, harus berhenti-berhenti untuk istirahat. Biasanya saya membasuh kaki saya dengan air zamzam dingin sambil mensugesti diri untuk kuat.

Sampai-sampai di salah satu sa’i saat umroh sunnah, saya minta mas meninggalkan saya, dan kita janjian ketemu di tempat tahallul aja di bukit marwa. Padahal, mas dari pertama udah bilang: “ayo…jangan kalah sama Hajar…!”.

Ya, saya membayangkan sosok ibu agung itu….kalau kini, jarak 400m x 7 itu berlantai, ber-ac sejuk dengan kran-kran air zamzam di sepanjang jalannya, waktu  Hajar dulu pastinya berupa padang pasir tandus, panas dan kering. Hanya “the power of love” terhadap puteranya Ismail saja-lah memang yang membuat Hajar tak kenal lelah bolak balik 7 kali antara bukit shafa dan marwah….

Ya….kekuatan cinta ibu memang tak ada bandingannya. Mampu membuat ibu melakukan hal-hal  yang tak terbayang dan secara objektif amat berat dilakukan orang lain. Saya jadi ingat klien-klien saya. Ibu-ibu hebat yang mendapat ujian lewat anak-anaknya. Saya ingat seorang ibu dari anak tuna rungu yang bersekolah di sekolah biasa, lalu ortu lainnya membuat petisi untuk mengeluarkan anak itu, karena khawatir anak itu “mengganggu anak yang normal”. Ibu itu sampai izin kerja 2 minggu, setiap hari mengobservasi dan mencatat perilaku anaknya di kelas, untuk menunjukkan bukti bahwa anaknya tak memberi dampak buruk bagi yang lain. Saya juga ingat ibu-ibu yang tak kenal lelah mengajak anaknya terapi. Ada seorang ibu dulu yang datang ke tempat terapi basah kuyup karena dia naik ojek dari buahbatu ke dago. Saya juga ingat ibu yang harus bolak-balik mengurus surat miskin agar anaknya bisa diperiksa secara psikologis, untuk membuktikan bahwa anaknya tak harus masuk SLB.

Ya, kekuatan cinta ksih ibu, dalam bentuk apapun, memang tak ada tandingannya….