Sikap terhadap nilai raport anak : refleksi pola asuh kita

Sekarang sudah jam 02 dini hari. Dalam hitungan jam, banyak para emak yang akan ke sekolah anaknya untuk mengambil raport. Saya insya allah 6 jam lagi. Menurut “penerawangan” sayah; besok status pesbuk, bebe, whats app dan media sosial lainnya akan bertema masalah raport ini. Haha….soktau…..Maklum lah, sudah bertahun-tahun jadi pengamat social media (haha….tambah soktau lagih). Tapi kayaknya sih iya…lha wong 2 minggu kemaren, status ibu2 di bb-list sayah semuanya tentang UAS anak-anaknya.

Akan beragam sikap ibu-ibu terhadap nilai raport anaknya. Dan, kalau kita mau berefleksi, itu bisa jadi cerminan bagaimana pola asuh kita pada anak selama ini. Kenapa kita harus berefleksi segala? karena menurut penelitian, ada pola asuh tertentu yang benefitnya lebih besar buat perkembangan anak selanjutnya, sebaliknya ada pola asuh lain yang “mudhorotnya” besar untuk perkembangan anak selanjutnya.

Sebagian ibu-ibu yang rajin baca tentu sudah mengenal tipe pola asuh: authoritarian, authoritative, permisive, uninvolved. Empat tipe pola asuh yang dikemukakan oleh Baumrind (1971), Maccoby dan Martin (1983) sudah banyak diulas baik dalam tulisan ilmiah maupun tulisan populer. Tapi, ada konsep yang lebih penting yang mendasari pengkategorian 4 tipe pola asuh ini yang suka agak “dilupakan”. Itu yang ingin saya paparkan dalam tulisan ini.

Jadi begini ceritanya…melalui pengamatan intensif terhadap bagaimana cara orangtua mengasuh anaknya dan efeknya pada anak, Baumrind (1971) mengemukakan  ke-4 kategori gaya pengasuhan itu; yang didasari oleh  “kombinasi” dari 2 dimensi dalam pengasuhan :

(1) Dimensi Parental Control (CONTROL); menggambarakan bagaimana orangtua menetapkan dan memegang teguh aturan pada anak-anaknya, menyediakan kegiatan yang terstruktur untuk anak-anaknya,menuntut anaknya bisa mengeluarkan potensi yang dimilikinya, menuntut anak memiliki kontrol diri ynag kuat, pendekatan yang “rasional” pada anak. Intinya adalah, orangtua memberikan “tuntutan pada anak”

(2) Dimensi Nurturance (WARMTH) ; menggambarkan ekspresi kehangatan dan persetujuan orangtua pada anak, perhatian pada kesejahteraan psikis dan emosi anak.

Nah, dua dimensi itulah yang kemudian menjadi dasar munculnya keempat tipologi pola asuh: authoritative, authoritarian, permissive indulgent, and permissive uninvolved (Baumrind, 1971; Maccoby & Martin, 1983). parenting 2

  • Authoritative parenting : kombinasi ++ dari kedua dimensi di atas. Orangtua yang menerapkan pola asuh ini menetapkan standar perilaku untuk anaknya, melakukan pengawasan pada anaknya, menerapkan disiplin melalui komunikasi dua arah yang melibatkan logika anak.
  • Authoritarian parenting : kombinasi +control -warmth. Orangtua memberikan tuntutan, namun mengupayakan “ketundukan” anak padanya dengan mengabaikan emosi anak.
  • Permissive indulgent : kombinasi -control; + warmth. Orangtua tidak memberikan tuntutan apapun pada anak. Perhatian orangtua tertuju pada bagaimana anak merasa kebutuhan emosionalnya terpuaskan.
  • Permissive uninvolved parenting : kombinasi -contril dan – warmth. Orangtua yang menerapkan jenis pola asuh ini, biasanya “gak peduli” sama anaknya.

Nah, berdasarkan penelitian, empat tipologi pol asuh tadi, memiliki pengaruh yang berbeda pada perkembangan kognisi, emosi dan sosial anak. Gambarannya  adalah sebagai berikut:

parenting Dari gambaran tersebut terlihat bahwa pola asuh yang memberikan manfaat yang lebih baik pada anak adalah pola asuh yang memberikan “tuntutan” pada anak, namun memperhatikan juga sisi emosi anak.Konon, penelitian-penelitian sampai saat ini mensupport penelitian jadul tersebut.

Kalau saya hayati, saya juga setuju sih dengan hasil peelitian tersebut. Kadang kita “terjebak” untuk berada di satu kutub: “terlalu menuntut” anak kita, atau “terlalu membebaskan” anak kita. Apalagi kondisi dan situasi pendidikan anak di Indonesia yang konon sedang carut marut. Pelajaran PKN dengan “bahasa ajaib” untuk anak kelas 3 SD, seringkali menjadi legitimasi buat kita untuk tak menuntut anak untuk “belajar”. Di satu sisi, “ketatnya persaingan” mulai persaingan untuk masuk TK….membuat kita panik sehingga mudah marah saat anak kita tak mencapai “target” yang kita harapkan.

Saya setujua bahwa kedua dimensi pengasuhan, yaitu “control” dan “warmth” yang tinggi- lah yang harus kita berikan pada anak.

Kenapa anak butuh kontrol? Karena dengan cara itulah kita mendidik anak kita untuk memiliki “adversity quotion” yang tinggi; kemampuan menghadapi hambatan dan kesulitan untuk mencapai prestasi. Melalui tuntutan yang kita berikan, anak harus belajar bagaimana mengatasi masalah dalam situasi yang  sulit. Hal ini penting karena kita sebagai orangtua tidak bisa memperkirakan secara persis, apa yang akan dihadapi anak dalam kehidupannya kelak. 

Di sisi lain, anak juga perlu belajar bagaimana mencintai dan dicintai, peduli pada orang lain, menunjukkan rasa hormat, dan menjalin hubungan yang dekat dengan keluarga dan orang lain. Kualitas ini hanya akan berkembang pada anak yang merasakan bahwa dunia adalah tempat yang mencintainya dan peka terhadap kebutuhannya. 

Saya merasa sangat beruntung, minggu lalu seorang mahasiswa saya mempresentasikan skripsinya mengenai hal ini. Saya jadi mengevaluasi kembali pola asuh apa yang saya terapkan pada anak-anak saya ya? jangan-jangan yang permisive uninvolved?

Jadi…balik lagi ke agenda mengambil raport 5 jam lagi….saya jadi merasa “mantap” dan “tak galau lagi” mengingat  perjanjian dengan anak-anak : tetap memberi target ranking 5 besar untuk Kaka Azka dan 3 besar untuk Mas Umar, juga menjanjikan hadiah untuk mereka jika mencapai target tersebut. Kalau tak tercapai? ada hadiah lain kalau nilai mereka naik dari nilai semester lalu. Kalau nilainya tetap atau turun? hadiah tentunya tak akan didapat.

Tapi  tenang….masih ada hadiah pelukan dan makan pizza bareng sambil membahas upaya belajar apa yang bisa dilakukan semester depan …. 

Moga-moga “ikhtiar” dan “ijtihad” ini jadi pengundang pertolongan Allah sehingga anak-anak tidak menjadi anak-anak yang “letoy” ataupun “terlalu ambisius”, namun tumbuh menjadi anak-anak yang high motivated but always happy 

Buat para emak…. selamat mengambil raport 😉 

 

31. Life : Is Never Ending Jumroh

Mina, 13 Dzulhijah 1434

Hari ini hari terakhir kami melempar jumroh.  Seperti yang sudah disampaikan pak ustadz pembimbing kami, hari ini akan sangat lengang. Karena sebagian besar jamaah sudah melakukan nafar awal, yaitu melempar jumroh sampai hari kemarin.

IMG-20131018-00969Ternyata apa yang dikatakan pak ustadz 100 persen benarrr… Tempat melempar jumroh yang biasanya padat, kosong song song…istilahnya, kita bisa “one on one” lempar setannya (biasanya kan si setan dikeroyok sama banyakan tuh..hehe…). Jadi inget kemaren, waktu saya telpon Hana nanyain gimana manasik hajinya di sekolah, dengan antusias Hana menjawab …”Ibu, kaka lempar batunya hebat…kena sama setannya, setannya sampai benjol, pingsan terus mati deh”.  Hadeeeuh…ini pasti ulah gurunya Hana yang super imaginatif hehe..

Saat melempar jumroh, secara psikologis kita membayangkan kita membuang semua sifat buruk yang kita miliki. Kita juga bayangkan kalau kita melempari setan-setan yang menghalangi kita dari kebaikan dan mengajak pada keburukan.Sssst…dalam psikologi, teknik “imagery” ini terbukti ampuh untuk mengarahkan perilaku loh…jadi kalau teman-teman nanti melempar jumroh, benar-benar hayati dan bayangkan hal-hal tersebut… Saya sangat terkesan dengan ibadah ini.

Ternyata saya tak sendiri. Melalui tayangan National Geografic yang saya tonton di yutub: http://www.youtube.com/watch?v=lGykoUtHk0A, Seorang ahli neurosains dari Amerika, juga mengatakan kurang lebih begini : “I love the jamarat. I think this ritual have a tremendous power.  Semakin banyak cara yang kita gunakan: fisik, mental, spiritual dalam amalan ini, semakin besar hasilnya untuk menjaga kita dari godaan syetan. Dari sudut saintifik, ini ritual yang amat bermanfaat”

Ya, sebenarnya….kalau kita hayati….setiap detik kehidupan kita, harusnya kita terus melempar jumroh. Tak berhenti. Mengapa? Karena syetan juga tak pernah berhenti menggoda kita. Kadang dia hanya menunggu waktu, seringkali dia hanya berubah wujud. Kita melempari mereka yang menggoda kita untuk sombong. Saat sudah berhasil menjadi seorang yang rendah hati, mereka akan datang menggoda kita untuk “merasa kita lebih rendah hati dari yang lain” ….terus…terus…demikian. Seperti janjinya, syetan tak akan berhenti sampai hari kematian kita tiba.

Saya sangat terkesan dengan uraian Ali Syariati dalam buku fenomenalnya-Makna Haji. Pada terbitan Zahra, mulai halaman 193, beliau menulis sub-bab Serangan-serangan Pasca Id.

Ketiga hari setelah hari Id ini disebut Hari Tasyriq. Apakah artinya? pada hari 10 Dzulhijah engkau naik ke tingkatan Ibrahim, engkau mendapatkan keberanian untuk “mengorbankan Ismail”. Engkau mengalahkan setan di basis terakhirnya pada seranganmu yang pertama, engkau berkorban, engkau melepaskan pakaian ihrom dan menghasilkan kemenangan dari front pertempuran Mina. Mengapa engkau harus meneruskan pertempuran? Ada pelajaran darimu- jangan lupa bahwa setan mampu bertahan hidup meskipun setelah dikalahkan

…..Kemenangan jangan sampai menyebabkanmu terlena. Karena itu, jika engkau telah menaklukkan Mina maka tetaplah tanganmu menggenggam senjata. Engkau harus memaksa setan keluar dari pintumu. Tapi setan bisa kembali lewat jendela. Ia kalah “di luar dirimu” tapi ia bisa bangkit “di dalam dirimu”. Ia dirobohkan dalam pertempuran, tapi ia bisa memperoleh kekuatan kembali dalam perdamaian. Ia lenyap di Mina, tapi kini ia bisa subur dalam dirimu

…Godaan memiliki ribuan wajah.

….Janganlah engkau begitu naif mengira perang telah usai setelah mengalahkan setan di Mina, dan melepaskan baju besimu, memakai make up dan parfum, merayakan kemenanganmu, mengabaikan ancaman, merasa bebas untuk meninggalkan Mina menuju Mekah, terus sibuk beribadah atau pulang ke kampung halaman dan memulai bisnismu lagi. Wahai engkau pejuang kemerdekaan, pengikut Ibrahim, jangan lupa 10 Zulhijah adalah hari “id Kurban” bukan “id kemenangan”. Pengorbanan Ismail adalah awal haji, bukan akhir haji.

…Setelah hari id, engkau harus tetap mempertahankan semangat heroikmu dan siap setiap saat untuk bertempur.….Setan memiliki banyak warna dan tipu daya. Setan pernah mencoba memperdaya engkau dengan nyawa Ismail dan sekarang Engkau mungkin ditipu oleh rasa bangga karena telah mengorbankan Ismail.

30. I Miss You All, Kids……

Ada pemandangan yang mengagetkan saya setiap kali pulang melempar jumroh. Yaitu banyaknya pengemis berkulit hitam di sepanjang jalan pulang. Biasanya mereka membawa anak-anak kecil…ada bahkan yang masih bayi merah, disimpen di kardus. Banyak juga yang cacat. Gak ada tangan, gak ada kaki, bahkan tak ada tangan dan kaki. Menurut pembimbing kami, mereka sulit diberantas karena dibacking oleh mafia yang sangat kuat. Mereka didrop dari negara-negara miskin Afrika, bahkan konon disana banyak bayi-bayi yang sengaja dipotong tangan-kakinya biar bisa lebih “laku”. Naudzubillahi min dzalik. Pembimbing kami juga mengingatkan agar kami waspada. Kalau mau berniat memberi, siapkan uang di luar. Jangan membuka dompet di luar. Memang kejadian, seorang teman kami “dipepet” beberapa orang dari pengemis itu saat mengeluarkan dompet. Ada juga bapak yang kehilangan hape dan dompet.

Beberapa anak-anak itu seusia Azka, Umar, Hana dan Azzam. Haduuuuuuh…saya langsung tak bisa menahan air mata. Saya berdoa semoga anak-anak ini, dijaga oleh Allah keselamatan dunia dan akhiratnya, juga anak-anak saya….

Parompong-20130513-00013Jadi kangen anak-anak…. Kalau mengikuti perasaan, mana tega meninggalkan mereka, terutama si bungsu Azzam yang masih menikmati ASI-selama 40 hari. Selama ini saya tak pernah tega ninggalin anak-anak nginep kecuali kalau terpaksa banget. Pernah beberapa tahun lalu, ikut conference di Jogja. Bawa anak-anak semobil. Hebohnya dua hari dua malam, padahal presentasinya dan hadir di konferensinya cuman beberapa jam.

Dengan tauhid saya yang masih di level ini, ada perasaan khawatir yang amat sangat … Kalau saya pergi, tak ada yg “menjaga” mereka. Apalagi saat denger Hana sakit, udah 2 kali ke dokter belum sembuh, aduuuuh….rasanya sakiiiiit banget, sediiiih….

Kemaren, pas Idul Adha, saat saya lempar jumroh yang pertama, pas telpon rumah baru tahu ternyata anak-anak tercerai berai. Azka dan Umar di rumah neneknya di Purwakarta. Hana karena sakit dibawa pulang ke kampungnya teh Ema pengasuhnya karena teh Ema lebaran di kampungnya, dan Azzam ditinggal di Bandung sama yang ngasuhnya haduuuuuh…cuman bisa nangis sesenggukan sambil meluk mas. Hati rasanya teriris-iris…pengen langsung terbang ke Indonesia saat itu juga.

Tapi Alhamdulillah, di saat-saat seperti itu ada teman-teman disini  yang selalu menguatkan. Mereka meyakinkan bahwa Allah gak mungkin mengundang kita kesini dan tak menjaga anak-anak kita. Dan setiap kali ada diantara kami yang berkaca-kaca ataupun terisak karena anak, kami saling menghibur, menguatkan dan mengingatkan. Memang seorang ibu, berapapun usia anak-anaknya, tak akan pernah bisa lepas ikatan emosinya. Kemarin ada seorang ibu yang sudah cukup senior, tiba-tiba terisak setelah membaca sms. Beliau cerita ke saya kalau anak-anaknya yang sudah besar bahkan sudah berkeluarga meng-sms : “mama semoga sehat ya…cepat pulang karena kami semua sudah merindukan mama”….aduuh….sambil gak kuat menahan air mata juga, saya peluk ibu itu.

Berbagi dengan teman-teman disini menjadi hiburan yang mujarab untuk mengobati kerinduan kami. Selain saling memperlihatkan dan menceritakan foto-foto anak-anak kami di hape masing-masing, berbagi cerita tentang tingkah polah anak juga sangat menghibur.

Seperti Hana, yang seminggu pertama…setiap kali pulang sekolah, katanya selalu bertanya : “ibu udah pulang belum?” Hehe…tepatlah dugaan saya bahwa meskipun berulang kali saya bilang dan menjelaskan dengan tanggal-tanggal di kalender untuk menggambarkan bahwa 40 hari itu lama, hana belum mengerti. Dia bilang : “iya, kaka tau ibu haji pergi 40 hari. Nanti ibu pulangnya jam berapa?” Teu nyambung hehe…

Seorang teman bercerita kalau anaknya berpersepsi bahwa “arab” itu tempatnya di Mapolda. Maklum, si anak mengantar si ibu pas mau berangkat ke Mapolda. Tiap ditelpon, si anak bilang : “umi, boleh gak aku ke Mapolda buat ketemu umi?” Saat si umi bilang: “umi kan di arab”… Si anak bilang : “iya, aku tau umi ada di arab. Boleh ya, aku ke Mapolda… ” Tampaknya si anak menyangka Arab itu ada di Mapolda hehe… Begitu pula saat si umi bilang : “umi kan jauh, naik pesawat”, si anak bilang: ah, umi bohong…aku liat umi naik bis bukan naik pesawat” hehe….

Ah, dalam suasana berjauhan gini, terasa banget bahwa anak-anak itu adalah karunia yg tak terkira…I miss u all, girls…boys…
Biarlah ini menjadi latihan buat kita semua…latihan untuk berusaha menumbuhkan cinta kita pada Allah, lebih besar dari cinta ibu pada kalian, dan cinta kalian pada ibu….

29. “Sentilan” Allah di Terowongan Muaisim

Mina, 12 Dzulhijah 1434

muaisimHari ini hari ketiga kami melempar jumroh. Meskipun pihak muassasah Asia Tenggara “melarang” kami untuk melempar jumroh pada waktu afdol yaitu bada dhuhur (di pintu masuk terowongan Muaisim, ada petugas yang halo-halo : “kepada saudaraku jemaah haji asal Indonesia…demi keselamatan saudara…dilarang melempar jumroh antara jam 10 sampai jam 14.30“)… Hadeeeeuuuh…kata-katanya itu loh… Meni DILARANG… Menurut saya sih akan lebih baik SEBAIKNYA…KARENA…. bla…bla…bla…Memang saya bisa memahami alasan Pemerintah Indonesia “melarang” melempar Jumroh di waktu afdhol tersebut. Karena akan banyak jamaah yang mengambil “nafar awal”; artinya melempar jumroh sampai dengan hari ini saja dan lalu pulang ke Mekah serta juga ingin mengambil waktu afdhol, maka pasti akan amat berdesakan. Dan kembali, tubuh jamaah Indonesia yang mungil-mungil dibanding jamaah dari negara-negara lain, dikhawatirkan keselamatannya.

Meskipun pembimbing kami memberi kebebasan bagi kami jika ingin lebih leluasa berangkat melempar jumroh bada Shubuh, akan tetapi beliau menyarankan untuk  tetap pergi dari tenda jam 11, sehingga di pintu masuk pas adzan dzhuhur dan melempar jumroh pun tepat di waktu yang sempurna.Alasannya ada dua. (1) Secara “emosi”, masa sih haji yang mungkin hanya sekali seumur hidup ini,  gak kita upayakan  untuk dapet yang sempurna-sempurna… (2) Sunnahnya memang demikian. Saat haji wada dulu, Rasulullah menunggu waktu yang afdhal yaitu ba’da Dhuhur, meskipun beliau membawa banyak unta untuk Qurban. Sebenarnya hal ini amat menyulitkan. Dan Rasulullah, jika dihadapkan pada dua pilihan selalu memilih yang paling mudah dan ringan. Maka, pilihan beliau untuk tetap mengambil waktu bada Dhuhur untuk melempar jumroh meskipun merepotkan, tentulah mengandung hikmah yang besar.

Untuk mengantisipasi situasi hari ini yang akan amat padat, kami diminta kompak bersatu dalam barisan dan mengenakan atribut-atribut identitas kami.

Setiap kali mendengar kata “melempar jumroh” dan “Mina”, mungkin sebagian dari kita termasuk saya, teringat pada “tragedi terowongan mina” bertahun-tahun lalu, dimana banyak jemaah haji yang wafat akibat terinjak-injak disebabkan “bentrokan” dua arus manusia yang menuju dan pulang melempar jumroh.jamarat Kabarnya, sejak kejadian tersebut pihak penyelenggara haji Kerajaan Saudi terus melakukan pengembangan untuk mencegah tragedi semacam itu terjadi lagi. Dan hasilnya terlihat jelas. Kawasan dan bangunan untuk melempar jumroh terlihat tak hanya “megah”, tapi juga mengandung sistem kemananan yang wokeh. Setiap area di Mina akan melalui jalan yang langsung mengarah pada salah satu bagian melempar jumroh; misalnya daerah kami akan masuk langsung ke lantai 3. Dengan demikian, tak akan mungkin terjadi penumpukan jamaah di satu area. Jalan-jalan dibuat satu arah, tak mungkin bertabrakan. Rambu-rambu visual berupa gambar maupun tulisan berbahasa Arab dan Inggris banyak sekali dan amat memadai untuk memberikan infrormasi.terowongan1380255_10151918205038094_1027029238_nDari area tenda ke tempat melempar jumroh, kami melewati terowongan; yaitu gunung-gunung batu yang ditembus. Namanya terowongan Muaisim. Terowongan ini satu arah, lebarnya kurang lebih 7 meter dan di tengah-tengahnya ada “lantai berjalan” kayak yang di bandara gituh. Kata pembimbing kami, “lantai berjalan” ini baru difungsikan tahun ini. Buat ibu-ibu sepuh, “lantai berjalan” ini sangat membantu. Maklum, perjalanan kurang lebih 3 kilo dari tenda kami menuju tempat melempar jumroh. Bolak-balik 6 kilo, lumayan juga.Nah, tadi saya sedang nikmat-nikmatnya berdiri di “lantai berjalan”, menyender ke pinggirnya. Di kiri kanan kami jamaah dari Belanda, Australia dan beragam negara lain yang badannya tinggi-tinggi besar. Suara takbir mengiringi langkah kami, tapi suasana sangat rileks.

Tiba-tiba…..terdengar gemuruh keras seperti hujan batu. Dan beberapa detik kemudian, tiba-tiba orang-orang di depan saya berhamburan berbalik arah ke arah saya…kepanikan melanda. Teriakan, jeritan, dan kekacauan terjadi begiru cepat, tanpa kami tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya sendiri bingung, saya menyangka arus kami bertemu dengan arus balik ke arah kami. Tapi kenapa bisa begitu? bukankah ini satu arah?

Kepanikan saya bertambah karena saat itu saya sedang tak berpegangan tangan dengan mas. Meskipun mas tepat berada di belakang saya, namun tetap saja sempat terpisah karena chaos yg terjadi. Secara instinktif, saya mengikuti arus orang yang lari berbalik arah. Alhamdulillah mas segera menarik saya ke pinggir dan mengarahkan untuk tak ikut lari. Karena resiko tabrakan atau tergencet, sudah terlihat jelas terjadi di depan mata kami. Apalagi secara fisik badan kami kecil-kecil dibanding dengan jemaah dari negara lain.
Meskipun kejadian itu hanya berlangsung beberapa menit, namun efek fisik dan psikologisnya luar biasa. Ada  yang terinjak-injak, bahkan yang berkursi roda ada juga yang tertabrak. Barang-barang, tas, sendal berceceran. Beberapa teman saya kehilangan sendal pada saat itu. Secara psikologis, beberapa teman menangis histeris, bahkan beberapa ingin mengurungkan melanjutkan perjalanan.
Selanjutnya, meskipun situasi sudah lebih terkendali, namun suasana masih mencekam. Para polisi yang berjaga memberikan arahan-arahan pada kami, dengan teriakan maupun dengan bahasa tubuh, yang sayangnya….sama sekali tak kami mengerti. Kami maju sedikit demi sedikit, dengan pikiran bahwa situasi tadi sangat mungkin terjadi lagi. Disinilah saya memahami betapa besarnya “potesi bahaya” bila ada sejumlah besar orang berkumpul, namun dengan bahasa yang berbeda. Baik bahasa verbal maupun non verbal. Sedikit misunderstanding saja bisa mengakibatkan kondisi yang tak terkendali dan membahayakan.Satu hal yang jelas adalah, dari bibir-bibir kami yang bergetar dan dari dada-dada kami yang deg-degan, kami mengucap dzikir dengan sungguh-sungguh. Saat itulah kami menghayati kembali bahwa dalam situasi seperti ini, kami hanya bisa bergantung pada Allah. Bukan pada apa atau siapa.ARABIA_SAUDITA_-_Jamarat_(600_x_450)Alhamdulillah selanjutnya kami bisa melempar jumroh dan kembali dengan aman. Ternyata chaos tadi disebabkan oleh berhentinya “lantai berjalan” secara mendadak, membuat orang-orang panik dan menimbulkan gelombang kepanikan tadi.
Di tenda, saya dan teman-teman berbincang berintrospeksi diri. Yups…  tadi, walaupun sambil jalan mulut kami mengucap takbir, tapi tanpa diiringi kehadiran hati. Oleh karena itulah Allah “menyentil” kami dengan peristiwa tadi. Untuk menyadarkan kami … Untuk tak “berbasa-basi” saat berdzikir…

28. Antri Surantri

Masih ngantri mandi …… Mina, 12 Dzulhijah.

Pernah liat keresek, odol dan sabun  berbaris rapi mengantri di depan kamar mandi???? Saya pernah. Disini, di Mina ini. Sayang banget uy gak sempet difoto sebagai bukti otentik…. haha…..moga-moga bisa kembali ke Mina untuk memotretnya tahun-tahun  depan.  Amiiiin….

Memang benar, situasi “terpaksa” dan “terbatas” bisa memunculkan kreatipitas. Contohnya ya kresek yang antri itu… Jadi, begini ceritanya.  Seperti sudah menjadi rahasia umum, satu hal yang khas saat mabit di Mina adalah keterbatasan kamar mandi. Pada saat “peak” yaitu jam 3an sampai menjelang subuh, antrian satu kamar mandi bisa sampai 30 loh… Biasanya, di saat mengantri dengan kebutuhan biologis yang mendesak, sering terjadi hal-hal yang bisa mengotori hati. Itu yg saya hindari ……selain tentunya sangat membutuhkan kesabaran mengantri berjam-jam dan digedor-gedor orang untuk cepat-cepat.

Biasanya saya antri untuk mandi bada sholat Dhuha. Jam 9an. Relatif kosong. Antrian paling 5 sampai 6 orang. Hanya, memang jam segituan panas matahari sudah lumayan terik. Nah….karena sangat tidak menyenangkan mengantri sambil nyengir kepanasan, terutama buat kami yang warna kulitnya sudah tak perlu di tanning lagih 😉 , entah siapa yang memulai ide ini, maka sebagai ganti orang, yang mengantri adalah kresek bajunya. Sedangkan orangnya, berteduh di tempat-tempat  yang agak teduh.

Haduh, hoyong seuri deh liat kresek, panyiuk, odol, sabun, atau kadang batu yang mengantri dengan rapi….

Tiap ada yang masuk kamar mandi, para pemiliknya lalu menggeserkan antrian mendekati kamar mandi… I will miss it ! 😉

Ngomong-ngomong soal antri, akhir-akhir ini banyak keresahan yang mengungkapkan bahwa budaya antri  sudah pupus dari orang Indonesia. Tapi disini saya justru gak liat hal itu. Di Mudzalifah, saat antrian amat sangat panjang, orang Indonesia rapi mengantri. Kalaupun ada yang udah kebelet banget, dengan sopan mereka akan minta izin untuk maju duluan.  Malah orang-orang India/Pakistan/Banglades yang suka dengan lempengnya menyela …..dan menyelanya teh langsung ke antrian paling depan. Hadeeeeeuuuuh….ditegur, mereka lempeng ajah.

Nah, ini potensi positif bangsa ini….harus kita hargai dan harus kita apresiasi…..

Hidup antri !!!!

27. Ternyata Mantra Pak Tarno Tak Berlaku

Masih menunggu antrian mandi, Mina 12 dzulhijah, waktu dhuha.

Sehabis melempar jumroh aqobah 2 hari lalu, kami bertahallul. Secara fiqih, lepas sudah larangan  ihrom kami, kecuali larangan berhubungan suami istri bagi yang belum thawaf ifadah. Entah karena sudah tak berbaju putih lagi, saya mencermati…obrolan ibu-ibu hari kemarin mulai “gak kontrol”. Mulailah ghibah, mulailah candaan-candaan tak perlu, bahkan beberapa ada yang ngobrol dengan tema seksual yang cukup vulgar.

Saya jadi inget. Dulu, saya suka heraaaan banget sama yang sudah berhaji, tapi tak ada perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dulu saya menduga, setelah hari wukuf yang begitu amat sangat istimewa itu, TRINGGGG…semua orang berubah jadi sholeh.  Setelah lempar jumroh, langsung syetan-syetan tak lagi berani mendekat.

Ternyata tidak demikian. Saya sampai konsul sama pak ustadz. Kenapa perasaan saya “biasa2” aja setelah wukuf, saya pikir akan ada perasaan gimanaaaa gitu…atau tiba-tiba saya jadi sholehah gitu…Ternyata eh ternyata, mantra pak Tarno “sim salabim haji mabrur…prok prok prok” itu tak ada.

Kebetulan sekali siangnya, ustadz kami memutar kaset tentang haji mabrur. Kata mas yang mendengarkan sampai tuntas (saya cuman dengerin sepotong, sepotong lagi sudah di alam mimpi hehe), pak Muchtar Khalid yang menyampaikan materi tersebut, mengatakan bahwa haji ini seperti pagar. Ia akan memagari kita dari kecenderungan untuk melakukan keburukan. Masalahnya, si pagar ini tak permanen. Ia harus kita pelihara terus, agar tetap kuat bahkan semakin kokoh. Tanpa upaya menjaganya, maka pagar itu bisa mudah rapuh dan lapuk.

Ya, ya, ya…saya mengerti sekarang. Mie ada yang instan. Bubur ada yang instan. Tapi keshalihan, tak ada yang instan.

Saya juga mengerti, tak ada yang otomatis dalam kesalehan. Jadi haji-hajjah tak otomatis jadi baik. Jadi ustadz? Tak otomatis berarti kebal terhadap godaan duniawi. Jadi propesor? Tak otomatis selalu menjaga sikap etis ilmiah.Tak akan ada jejaknya semua “peran” yang ia sandang, selama tak diiringi penghayatan terhadap peran dan amanah tersebut.

Jadi, kita harus selalu melihat secara objektif perilaku orang lain. Entah itu ustadz, profesor, siapapun. Dan kita juga harus selalu ingat. Ibadah ritual kita-syahadat, sholat, puasa, zakat, berhaji- tak akan otomatis mengubah sikap mental kita, jika kita tak menghayati makna dan manfaat syariat itu untuk kesehatan mental dan kebahagiaan hidup kita. Ibadah ritual itu bukan tujuan, tapi media. Maka, kita harus selalu evaluasi apakah media yang kita gunakan berhasil mengantarkan kita ke tujuan dari media tersebut?

26. “Be Your Self” dalam beribadah

Menunggu antrian mandi, Mina- 12 dzulhizah, Bada syuruq

Subuh ini, tausyiah yang diberikan dua ustadz kami adalah mengenai “menyikapi perbedaan”. Hal ini sebaga respons terhadap situasi aktual yang terjadi.

Begini…. Hari ini, seluruh KBIH di kloter kami melaksanakan nafar awal. Artinya, mereka  melempar jumroh sampai hari ini saja. Berarti melempar 49 batu. Setelah itu mereka pulang ke Mekah.

Secara fiqih, memang ada dua alternatif lama waktu melempar jumroh.  Ada yang disebut nafar awal yaitu melempar jumroh tanggal 10,11 dan 12 Dzulhijah. Jadi total 49 batu. Sedangkan nafar tsani, adalah melempar jumroh tgl 10,11,12 dan 13. Total 70 batu yang dilempar. Kedua cara ini dalilnya adalah QS Albaqoroh ayat 203. Artinya: “Dan barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertaqwa (yang memiliki nafar awal atau tsani karena taqwa bukan dengan alasan lain)”.

Keputusan ber-nafar awal atau ber-nafar tsani, biasanya diputuskan oleh masing-masing KBIHnya. Seperti barusan, saya mengobrol dengan seorang ibu sepuh dari kloter lain. Katanya 2 hari kemarin, sehabis melempar jumroh beliau pingsan. Tapi KBIHnya memutuskan untuk ber-nafar tsani.

Sedangkan KBIH kami, memberikan beragam pilihan. Yang nafar awal boleh, salah satu ustadz akan mendampingi yang nafar awal. Sedangkan yang nafar tsani pun difasilitasi, dengan adanya ustadz yang juga mendampingi. Kondisi fisik menjadi salah satu hal yang menjadi pertimbangan.

Namun memang obrolan tingkat ibu-ibu sambil menunggu giliran antri mandi cukup memanas. Ada kelompok mazhab nafar awal yang membid’ahkab kelompok yang bernafar tsani.

Akhirnya, tausyiah bada Subuh sambil menunggu waktu Syuruq tadi adalah tentang menyikapi perbedaan. Memang “satu dalam perbedaan” adalah tema yang “diusung” sejak awal manasik di KBIH kami. Dan tema ini terus direinforce, diingatkan terus setiap pertemuan kami. Khususnya saat ada tema aktual hari ini. Dan tidak hanya dengan kata-kata, satu dalam perbedaan ini pun dicontohkan langsung oleh ustadz-ustadz kami. Dua ustad pembimbing kami, yang satu ber-qunut saat sholat shubuh, yang satu tidak berqunut. “Warna” amalan-amalan nya pun berbeda. Demikian pula, setiap pilihan jamaah yang berbeda akan difasilitas, setelah dijelaskan landasan dalilnya.

Yups, seperti masalah nafar awal dan nafar tsani ini, QS Albaqoroh 203 menjelaskan, tidak ada dosa antara keduanya, dengan syarat: keduanya bertakwa ! Tapi kalau merasa benar, menyalahkan orang lain, debat kusir, maka mau nafar awal mau nafar tsani, tak ada pahala sedikit pun….

Ustadz kami menjelaskan, bahkan pada zaman Rasulullah pun, saat Rasulullah masih hidup pun terjadi perbedaan penafsiran ini. Contoh nyatanya adalah saat Abu Bakar dan Umar berbeda dalam memaknai shalat witir. Abu Bakar berpendapat dan mengamalkan witir sebelum tidur, sedangkan Umar berpendapat dan mengamalkan witir setelah tidur. Ketika mereka berdua menghadap Rasulullah, Rasulullah mengatakan keduanya benar.

Yups, yang membedakan penafsiran adalah kepribadiannya. Abu Bakar adalah seorang yang berhati-hati, sedangkan Umar adalah seorang “risk taker“. Ah, saya sukaaaa banget dengan pembahasan mengenai kepribadian ini. Buat saya yang bergelut di bidang kepribadian, saya meyakini kebenaran hal ini. It make sense!!!! Dan Rasulullah itu, tau betul kondisi psikologis kepribadian sahabat-sahabatnya. Misalnya… Meskipun Khalid Bin Walid dan Umar Bin Khatab sama-sama seorang yang pemberani, namun Khalid yang ditunjuk sebagai panglima perang dan Umar yang ditunjuk sebagai gubernur. Lalu dalam biografi Umar Bin Khatab, dijelaskan bahwa suatu saat, Rasul akan mengirim seorang negosiator dengan pihak non muslim. Pemilihan dilakukan bada sholat. Nah, saat itu Umar menjulur2kan kepalanya agar ia terlihat dan ingin “terpilih” oleh Rasul. Tapi Rasulullah tau betul bahwa Umar bukanlah seorang yang tepat untuk menjadi seorang negosiator.

Ah, contoh peristiwa-peristiwa ini, membuat saya selalu bangga menjadi seorang muslimah. Karena menjadi seorang muslimah, kita bisa tetap berada di jalan yang benar tanpa mengkerdilkan atau menghilangkan jati diri, cara pikir, perasaan dan pilihan pribadi kita…

25. Grup Bringka : Kenangan Manis Mina

Kalau ditanya sama yang sudah berhaji, pengalaman apa yang paling berkesan? Mungkin banyak yang akan menjawab… “pengalaman mabit di mina”.

Antrian kamar mandi untuk sekedar pipis yang bisa mencapai puluhan orang, tenda-tenda yang spacenya terbatas (di malam ketiga, saya tidak bisa tidur telentang karena ruangnya gak cukup. Jadi kami harus tidur menyamping, kalau mau telentang harus gantian), udara super panas (si ac bagai tak berfungsi), tak adanya personal space….makan yang lauknya tak berasa…Gak akan ditemui pengalaman seperti itu kecuali mungkin kalau kita dapat musibah sehingga harus hidup di pengungsian.

Tapi….kalau dinikmati, apalagi dengan kebersamaan, suasana yang secara objektif menyengsarakan itu bisa jadi hepi secara subjektif. Bersyukur teman-teman yang dekat dengan saya orangnya asik-asik. Jadi don’t worry be happy hehe…

Ada satu pengalaman lucu yang tak akan saya lupakan. Begini ceritanya…karena kamar mandi cukup jauh letaknya dari tenda saya, maka kalau cuman untuk wudhu saya suka males…biasanya saya wudhu pake air Aqua aja…saya selalu nandon air zamzam di botol-botol Aqua. Air zamzam ini bisa kita temui di pinggir-pinggir jalan di Mina ini. Nah, suatu siang, menjelang Dhuhur saya akan wudhu. Kebetulan air zamzam saya habis. Tak begitu jauh dari  tenda, saya melihat ada beberapa kran air. Bersama seorang teman, kami menyangka itu adalah kran untuk air wudhu. Kami coba putar kran-nya…ups…panas banget…saking panasnya udara kali ya….kami pun cuek berwudhu di sana. Malamnya, menjelang isya saya batal. Saya keluar kamar menuju si kran-kran itu. Betapa amat kagetnya saya, melihat seorang Afrika, pelayan di maktab kami, sedang mengisi tempat air panas yang biasa kami gunakan untuk menyeduh teh atau kopi atau menyeduh mie, dari kran ituh !!!! Untuk meyakinkan diri, saya pun bertanya pada dia: “is it a hot water?” …”yes” jawabnya….Ya ampuuuun….Jadi tadi siang saya sama temen wudhu pake air mendidih !!!! haha….gak nyangka punya bakat debus ginih 😉

Kebersamaan kami yang cukup lama, membuat saya dan teman-teman serombongan memiliki ikatan pertemanan yang cukup kuat antar kamar. Misalnya kami memiliki nama “grup” kamar.  Nama grup kamar saya adalah “manis manja” haha. Nama grup suami kami adalah grup “modus” kkkkkk (lucu banget sejarah nama grup ini). Yang paling tenar di kelompok kami adalah grup beberapa orang ibu-ibu senior single (suami mereka rata2 sudah wafat) yang super kompak, bernama grup “bringka” singkatannya adalah… bring ka ditu, bring ka dieu hahaha…. Maklum, kalau kami yang berangkat bersama pasangan kemana-mana selalu berdua, mah grup ini kemana-mana selalu ngabring bersama. Baik saat thawaf di ka’bah maupun thawaf di beragam pasar Mekah hehe….

Yups, kalau dinikmati dan disyukuri, kita bisa asik-asik aja…misalnya, suka ada pembagian permen. Oleh salah seorang teman kami, permen-permen  itu “disawerkan” dan kami pun pada rebutan untuk mendapatkannya, sambil ketawa-ketiwi. Hadeeeuuuh…ibu-ibu hajjah tehDSC_0144 meni carentil…mumpung gak ada yang tau cenah…pan di tanah air mah nanti harus jaim haha….

24. Arafah-Mudzalifah-Mina : What A Great Long Adventure (Part Two)

…….

Alhamdulillah kami akhirnya bisa melewati situasi mencekam di terowongan  dan keluar dengan selamat. Hanya saja, rombongan kami menjadi terpecah dua. Satu kelompok besar sudah tak terlihat, sementara saya bersatu dengan teman-teman yang tercecer bersama ustadz yang berperan sebagai  tim penyapu. Selain bersyukur karena setelah pengecekan seluruh anggota rombongan kami “selamat”, ada juga beberapa yang “mengeluh” dan merasa “menyesal” mengikuti perjalanan ini. Seorang ibu bertanya pada temannya, dimana suaminya. Si istri menjawab; “tau tuh…mana sempet gue pikiran…gue masih idup aja udah untung” …. Mmhh…saya jadi ingat surat Al-Qur’an yang menggambarkan kedahsyatan hari kiamat. Sebegitu ekstrimnya, sehingga seorang ibu pun suda tak akan peduli lagi pada keadaan anaknya. Tampaknya, situasi yang kami alami tadi adalah gambaran kiamat kecil …

DSC_0129Kami teruuuuus berjalan…entah berapa lama, dan kami mulai melihat di kiri kanan kami, di tebing2… sudah banyak makhluk2 berbaju putih yang memenuhi. Tidak hanya itu, di pinggir kiri kanan jalan yang kami lewati, sudah banyak yang menggelar tikar dan tidur disana. Sampai mesjid Mas’aril Haram, kami berhenti sebentar untuk berkoordinasi dengan tim depan. Lama juga kami mencari, hampir setengah jam. Saya sudah pengen lebay, tapi malu… Malu sama ibu-ibu Afrika yang berjalan tegap dengan beban yang disimpan di atas kepalanya dan atau sambil menggendong anak di punggungnya. Malu  sama anak-anak kecil sebesar Umar yang tanpa mengeluh terus berjalan…Bahkan ada seorang ibu Afrika yang mendorong stroler berisi 3 anak kecil ! Hadeeeuuuh gak kebayang gimana caranya ia melewati terowongan tadi. Hanya dengan izin Allah semuanya menjadi mungkin.

Sesampainya di meeting point, tak pernah terbayang kalau kami harus tidur di pinggir jalan, yang mulai melebar ke tengah. Inilah Mudzalifah. Berbeda dengan bayangan saya…saya kira akan sunyi senyap 😉 kami pun menggelar tikar… Badan saya sudah tak terkira  gatalnya. Maklum, keringat yang membanjir selama 2 hari ini, tanpa mandi dan berganti pakaian….tapi… nikmati sajalah…there is nothing we can do…Mau mandi? hahahaha….harus mengantri bersama puluhan orang dan kalau lebih dari 1 menit aja, udah digedor-gedor …

Dengan izin Allah, meskipun tak terbayang tidur berkasur aspal dan tikar tipis, di pinggir jalan bersama ribuan orang yang bergelimpangan, lalu di pinggir kami ratusan ribu org terus mengalir tak henti2…menuju ujung Mudzalifah, meneriakkan gema talbiyah……akhirnya karena kelelahan, setelah sholat Maghrib-Isya dijama, saya pun tertidur pulas. Si abah yang mencarikan 150 butir batu untuk melempar jumroh.

Night-Stay-at-Muzdalifah-Photos-of-MeccaSaya terbangun sekitar pukul dua. Teman-teman sudah banyak yang sedang sholat malam. Pimpinan kami sudah woro-woro untuk bersiap-siap, setelah sholat Subuh kami akan langsung bergerak menuju Mina untuk melempar jumroh. Perjalanan pagi ini tak kalah melelahkannya. Alhamdulillah saya menabung banyak air minum dalam botol, jadi begitu kehausan bisa langsung menikmati air. Beberapa botol kami berikan pada teman-teman yang persediaan airnya sudah habis.Ustadz pemimpin pesantern kami itu, memang ruarrr biasa fisiknya. Dalam perjalanan ini, kita mah udah hah-heh-hoh gak jelas, beliau malah jalan sambil siaran langsung radio-nya di Bandung…

……………………………….

DSC_0131Perjalanan 1,5 jam menuju Jumrotul Aqobah akhirnya terlewati sudah.
Secara psikologis, melempar jumroh adalah menembaki syetan, melempar sifat2 buruk yang ingin kita ubah. Dan hari ini, kami melewati “small stone” ula, “middle stone” wustha, dan langsung melempar di “big stone” aqobah. Sambil melempar tujuh batu, saya membayangkan sifat-sifat  terburuk saya dan berharap bisa membuangnya… Semoga allah mengabulkan, amiiiin…Mmmhhh… Memang tampaknya, demikianlah perjuangan untuk membuang sifat buruk kita. Butuh proses panjang yang tak mudah. Selepas lempar jumroh Aqobah, lantunan talbiyah berganti gema takbir. Secara simbolis, kami telah memenangkan pertempuran melawan syetan terkuat…

Setelah tahallul dan berdoa, perjuangan kami belum berakhir. Kami harus kembali berjalan ke pemondokan kami. Satu jam berjalan. 21 orang dari rombongan kami tidak kembali ke pemondokan di Mina, tapi langsung ke Mekkah untuk thawaf ifadah. Acungan jempol untuk bapak ibu ini, yang dikaruniai fisik dan azzam yang kuat. Jam 3an mereka sudah bergabung lagi dengan kami di Mina.

Saya juga pengen langsung. Langsung mandi haha…tapi apa daya, antrian mandi sampai 30 org…akhirnya, handuk basah instan pun sangat bermanfaat, minimal mengurangi kegatalan dan bisa ganti baju.

Karena rombongan yang tanazul dan rombongan yang pake bis sudah bersatu, maka space kami di tenda menjadi sangat sempit. Alhamdulillahnya, kami bersama rekan-rekan yang sabar dan saling pengertian. Tidak ada lagi “aku” disini. Kami saling berbagi makanan, minuman, berbagi posisi, gantian posisi tidur…

Benar kata seorang ibu…pengalaman ini akan membaut kami di hari-hari ke depan menjadi selalu bersyukur…. Makan, minum, tidur, ke kamar mandi, hal-hal  kecil yang tidak pernah kita rasakan karena amat sangat mudah, kini karena begitu suli…., maka menjadi begitu kita syukuri. Mana pernah seumur hidup pengen sujud syukur karena seger abis mandi selain disini?

Tadi sempet ketemu mas yang udah kayak cuplis. Moga-moga diluruskan niat tahallulnya, sesuai hadits rasul : Ya Allah, rahmatilah orang yang melakukan halq (menggundul habis rambutnya)….” dan Rasulullah pun mengulang do’anya sebanyak 3 kali. Lalu salah seorang Sahabat lainnya pun menanyakan “lalu bagaimana dengan orang yang melakukan taqsir ya Rasulullah?” Maka Rasulullah pun berdo’a “Ya Allah juga (rahmati) orang yang memangkas (taqsir) rambutnya” (Muttafaq Alaihi)

Mina, 10 dzulhijah, bada ashar
Antri menunggu giliran mandi 😉

23. Arafah-Mudzalifah-Mina : What A Great Long Adventure (Part One)

Mina, 10 Dzulhijah 1434 Bada Dhuhur.

DSC_0120

Wukuf kami kemarin ditutup oleh muhasabah menjelang pkl 17.30.Setelah itu kami langsung bergerak menuju perbatasan Arafah, dipimpin langsung oleh pimpinan pesantren tempat KBIH kami bernaung. Beliau adalah seorang ustadz berusia awal 50-an, berbadan mungil namun lincah dan punya kharisma yang kuat.

Beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang kami sudah tepat di perbatasan Arafah. Kami menunggu sampai adzan maghrib berkumandang untuk menyempurnakan syariat, setelah itu bergerak  keluar Arafah. Sang Ustadz yang dekat dengan dunia militer ini memberi pembekalan dengan jelas, dan menekankan kedisiplinan. Katanya kami akan berjalan cepat, non stop 4 jam sampai mesjid Mas’aril Haram.  Rute yang dipilih pimpinan kami adalah rute jalan memotong, karena kalau mengikuti rute jalan besar akan bertemu dengan beberapa bottle neck yang padat.

Bismillah…diringi talbiyah, kami pun mulai bergerak. Tiga Ustadz didampingi pemegang bendera ada di depan, tengah dan Belakang. Saya mencoba selalu berada di depan ustad yang bertugas di tengah. Kalau berada di depan, agak sulit…sedikiiit aja ritme jalan kami berkurang, tiba-tiba kami sudah tertinggal jauh.

DSC_0127Medan yang dipilih itu, ternyata offroad banget. Kami harus turun melewati sungai besar yang sudah mengering, melewati lautan pasir dan kemudian naik ke tebing 60 derajat.  Sebenarnya medan kayak gini bukan hal baru bagi saya. Semasa muda dulu, pas SMA dan kuliah hobi banget gini-ginian. Cuman mengingat itu sudah lebih dari 10 tahun yang lalu serta sudah mengalami “turun mesin” 4 kali, ada juga rasa sangsi dalam hati apakah saya akan sanggup menyelesaikan perjalanan ini.

Untuk mengusir keletihan, saya mencoba menghayati perjalan ini dengan membayangkan perjalanan-perjalanan yang dilakukan Rasul dan para sahabat. Saat hijrah, saat menghadapi beragam perang….Ada satu hal juga yang mampu membuat saya “terlupa” dengan lelahnya tubuh. Yaitu pemandangan seluruh suami-istri yang saling bergenggaman tangan, saling melindungi dan saling bantu membantu dalam panjang dan beratnya perjalanan ini. Saya berdoa, semoga setelah haji ini, dalam kehidupan rumahtangga mereka yang panjang dan saat menghadapi beratnya ujian yang dihadapi, secara psikologis mereka selalu menghadapinya bersama seperti yang mereka lakukan malam ini.

Di sungai kering yang ternyata masih menyisakan lumut yang licin, ….gedubrak….saya terjatuh. Disusul sepasang ibu-bapak yang juga terjatuh. Baju putih saya pun berubah menjadi coklat. Tapi tetep seru…dengan terpincang-pincang dan dipapah mas saya terus melalui medan demi medan. Sampai akhirnyaaaaa kami memasuki jalan besar, bergabung dengan lautan manusia yang jumlahnya ratusan ribu atau mungkin jutaan. Kami teruuuuus berjalan… Konon perjalanan ini akan memakan waktu 4 jam tanpa henti, 3 kali lipatnya perjalanan kemarin dari Mekah ke Mina.

Ada satu kejadian yang tak akan pernah dilupakan oleh siapapun di rombongan ini. Dalam perjalanan itu  kami bertemu dan masuk ke dalam sebuah terowongan. Berada dalam terowongan dengan jumlah orang yang amat banyak dalam situasi terhimpit-himpit memunculkan perasaan …..”cemas” dan “takut” yang amat sangat. Meskipun pimpinan kami menyerukan untuk tetap tenang, berdzikir dan tetap berada dalam barisan, namun rupanya di depan terowongan ada penutup jalan yang membuat hanya satu orang yang bisa lewat. Akibatnya, ribuan orang dalam ruangan “tertutup” ini terhenti, tanpa tahu kenapa.  Sedangkan arus dari belakang terus menekan. Situasi inilah yang membuat orang-orang  menjadi panik. Berada dalam himpitan, mulai terdengar teriakan dan tangisan. Suasana menjadi amat menegangkan, haru-biru dan menakutkan.

Di sekeliling saya, tak bisa saya lihat lagi syal-syal hijau muda yang dikenakan kelompok kami. Hanya pegangan tangan mas yang membuat saya sedikit tenang. Dalam situasi itu, hanya keyakinan Allah akan menolong-lah yang membesarkan hati. Maka, segala macam dzikir yang saya bisa saya bacakan, sambil berupaya untuk tak terjatuh. Karena begitu terjatuh, maka nasibnya akan seperti beberapa orang di depan-kiri kanan saya, terinjak-injak. Suasana seperti ini membuat salah satu ruang di relung hati saya “bersiap” kalaulah malaikat maut menjemput saya dalam keadaan seperti ini, di tempat ini dan saat ini. Entahlah, mungkin karena di sini kami menghadapi begitu banyak situasi yang ekstrim dan unpredictable, kematian terasa begitu amat dekat. Selain yang terinjak-injak, beberapa orang sudah di sekeliling saya sudah pingsan dan dibopong. Teriakan agar memberi jalan, di tengah-tengah himpitan ini semakin membuat getir. Saya sudah melihat cahaya di ujung terowongan…dan tiba-tiba, saya berada dekat dengan ustadz yang bertugas menjaga barisan di belakang rombongan kami. Tampaknya Pak Ustadz sudah berada di luar penghalang, dan mengulurkan tangannya pada saya. Mas mengangkat tubuh saya dari belakang, maka saya pun bisa naik ke penghalang tersebut…

Leganya tak terkira. Tak henti-hentinya kami mengucap syukur, sambil berusaha berkumpul kembali. Saya berharap ini pengalaman “mengerikan” terakhir….tapi ternyata saya salah….

Bersambung ke part two

Previous Older Entries Next Newer Entries