Bukan Bekal Kondom

Setiap bada maghrib, setelah sholat saya selalu berusaha menyempatkan diri berdiri di balkon depan. Ada yang saya tunggu. Tak ada yang lebih romantis dan yang lebih bisa bikin hati “meleleh” dibandingkan mendengar suara celoteh riang dan sosok-sosok kecil yang muncul di balik ujung jalan menuju rumah saya. Mereka adalah Umar dan teman-teman sebayanya, dengan sarung-sarung yang mereka kenakan. Pulang dari masjid. Saya punya panggilan untuk mereka. Children of heaven.

Setelah mengetahui betapa amat sangat kuat anjuran Islam untuk sholat berjamaah di mesjid bagi laki-laki, yaitu…..

  • Beberapa madzhab meWAJIBkan sholat fardhu berjamaah di masjid bagi laki-laki
  • Berkata Ibnu Masud radhiallahu anhu: “Barangsiapa yang suka bertemu Allah kelak sebagai seorang muslim, maka hendaknya ia menjaga shalat-shalatnya, dengan shalat-shalat itu ia dipanggil. sesungguhnya Allah Taala menggariskan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk (sunnah-sunnah). Seandainya kalian shalat dirumah, seperti orang yang terlambat ini shalat dirumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Dan tidaklah seorang laki-laki bersuci dengan sempurna lalu sengaja ke masjid di antara masjid-masjid (yang ada) kecuali Allah menuliskan baginya satu kebaikan untuk setiap langkah yang ia ayunkan dan mengangkat pula dengannya satu derajat dan dengannya pula dihapus satu dosa. Sebagaimana yang kalian ketahui, tak seorangpun meninggalkannya (shalat berjamaah) kecuali orang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan sungguh orang (yang berhalangan) pada masa itu, dibawa datang (ke masjid) dengan dipapah oleh dua orang lalu diberdirikan di dalam shaf.” (HR. Muslim)
  • Karena RAsulullah pun mewajibkan sholat fardhu berjamaah di masjid bahkan bagi Ummi MAktum, seorang sahabat yang tuna netra, maka Ustadz di masjid Nabawi mengatakan: laki-laki yang tidak sholat fardhu di mesjid kemungkinannya hanya tiga: ia munafik, sakit keras atau seorang wanita
  • “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat shubuh. Sekiranya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh, aku bermaksud akan memerintahkan shalat agar dilaksanakan. Kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengimami shalat bersama manusia, Kemudian aku pergi dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar kepada suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lalu aku bakar rumah mereka dengan api.” (HR. Bukhari & Muslim)

….maka saya “mewajibkan” Umar untuk sholat berjamaah di masjid saat ia ada di rumah. Maghrib, Isya dan Subuh. Hanya memang kendalanya adalah, si abah yang hanya ada di akhir pekan dan omnya yang tinggal bersama kami, jarang ada di rumah. Sedangkan untuk mengizinkannya ke mesjid sendiri, saya belum berani. Mesjidnya berada di luar komplek kami. Menujunya, harus menyebrang jalan. Meskipun jalan kecil, namun satu-satunya jalan yang dilalui beragam kendaraan bagi penghuni sekian banyak komplek di daerah ini. Apalagi saat maghrib, Lalu lintasnya sangat padat dengan mobil-mobil warga komplek yang baru pulang dari kantor.

Kurang lebih sebulan lalu, saat menjelang isya tiba-tiba bel rumah kami berbunyi. Terdengar teriakan-teriakan kecil ; “Umar….ke mesjid yu….” Waktu saya buka, ternyata dua anak seusia Umar, putera para tetangga kami. Jujur saja saya kaget, senang sekaligus excited.

Ternyata setelah saya “usut” melalui bbm grup ibu-ibu komplek kami, gagasan ini diprakarsai oleh seorang ibu. Latar belakang pemikirannya sama dengan saya. Ingin anaknya selalu ke mesjid, namun khawatir melepas sendirian. Cuman bedanya, kalau saya mah egois dan tak kreatip, ibu itu mah “peduli” dan “kreatif”, sehingga menghasilkan gerakan yang- buat saya- amat membahagiakan dan membanggakan.

children of heavenMaka, sejak saat itulah….setiap mendekati waktu sholat terutama maghrib dan Isya, Umar akan bersiap-siap wudhu, ngambil sarung dan meunggu teman-temannya nyamper, nyamper teman-temannya, atau mereka berangkat sendiri-sendiri dan ketemu di masjid. Termasuk shalat Jumat. Masjid yang dipakai shalat Jumat jaraknya lebih jauh lagi. Tapi saya tak khawatir melepas Umar, karena “ngabring” bersama teman-temannya. Di masa liburan seperti ini, dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, Umar full main sama teman-temannya. Dia cuman pulang ke rumah kalau sudah ditelpon untuk makan siang. Tapi setiap 15 menit menjelang sholat dhuhur dan ashar, dia akan datang, lari, ke musholla mengambil sarung, dan “ngacir” lagi bareng teman-temannya ke mesjid.

…….

Ketika rame-rame soal PKN (Pekan Kondom Nasional) beberapa waktu lalu, perbincangan hangat mengenai hal ini juga terjadi di kampus. Apalagi ada rekan kami yang concern bergerak di bidang kesehatan reproduksi, dan berhasil memenangkan MDG’s Award karena gerakannya ini. Dalam salah satu kesempatan obrol ringan, seorang senior saya mengatakan bahwa salah seorang temannya, memang membekali anaknya yang SMA dengan kondom. “Gue gak mungkin lagi bisa mencegah dia buat gak free sex. Ya udah, sekarang mah yang penting sex aman” ucapnya menirukan kata-kata temannya tersebut.

Secara otomatis, saya bergidik mendengar cerita itu. Itu bukan suatu cerita. Itu realita. Bukan takabur. Tapi satu suara dari relung batin saya berteriak keras; “sampai akhir hayat saya, di zaman apapun saya berada, saya tak ingin melakukan hal itu! Saya tetap ingin punya optimisme bahwa anak-anak saya bisa menangkal hal-hal negatif yang ada di sekitarnya.  Saya ingin tetap memegang teguh nilai bahwa zina itu, adalah kekejian yang amat sangat”. Saya tidak tahu pengalaman apa yang dialami oleh ibu diatas, sampai sedemikian hopeless dan pesimisnya ia.

Tapi benar. Saya tak ingin sampai pada titik saya membekali anak-anak saya kondom. Saya masih ingin mengupayakan seluruh kemampuan yang saya bisa, dari ujung rambut sampai ujung kaki -pikiran, perasaan, pengetahuan, pengalaman, doa- untuk membekali hal lain yang membuat anak-anak saya bisa berkata “tidak” meskipun seluruh dunia melakukan free sex. Mengatakan “tidak” meskipun mengkonsumsi napza adalah hal yang biasa di zamannya kelak.

Saya akan berusaha keras  untuk bisa membekali anak-anak saya dengan kemampuan rasional. Kemampuan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk untuk masa depannya, berdasarkan daya pikir logisnya.

Saya akan berusaha keras  untuk bisa menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak saya, agar mereka tetap merasa “i’m someone” saat teman-temannya mengucilkan mereka karena tak mau ikut-ikutan.

Saya akan berusaha keras bisa menanamkan rasa takut akan hari kematian dan pengadilan nanti.

Saya akan berusaha keras menciptakan hubungan emosional yang kuat di keluarga kami, sehingga anak-anak selalu punya “tempat kembali” yang akan menerima mereka unconditionally, sehingga meraka tak perlu lari ke pangkuan bandar narkoba atau pelukan pacar.

Dan….saya akan menanamkan memori-memori indah mengenai masjid.

Saya yakin dan percaya, orang-orang yang terikat hatinya dengan masjid, orang-orang yang kala sedih dan gundah merindukan masjid, akan punya kekuatan untuk menangkal keburukan. Bukankah masjid adalah rumah Allah? Merindukan masjid berarti merindukan dekat dengan Allah. Dan kerinduan serta keterikatan emosional pada masjid ini, haruslah dimulai dengan “paparan” yang intensif oleh kegiatan di masjid.

Ah, sebenarnya…kebutuhan anak di mana-mana adalah sama. Berlarian dan berkejaran…lalu kalau lelah mereka akan tertidur. Tapi memberikan pengalaman berlarian dan berkejaran di masjid, tidur di masjid saat itikaf, memasukkan memori indah tentang masjid yang menyenangkan, menanamkan memori dari sensori mereka yang melihat orang khusyuk berdoa, mendengar nyamannya orang membaca Qur’an, harmoninya sholat berjamaah….saya yakin, akan menjejakkan satu “bekas” dalam perasaan mereka.

Bukankah ilmu neurosains menemukan bukti nyata bahwa setiap kali kita meng-alam-i satu kejadian, maka itu akan mengubah struktur otak kita dan membuat otak kita menjadi unik satu sama lain? Maka, saya yakin….struktur otak anak yang punya memori dan kenangan indah di mesjid akan berbeda dengan struktur otak anak yang tidak pernah terpapar kegiatan di mesjid.

Jadi, dengan seluruh upaya yang akan sekuat tenaga saya lakukan, dilengkapi dengan jurus pamungkas yaitu doa agar Allah selalu menjaga anak-anak kami, semoga saya bisa terus mengobarkan optimisme….. bahwa saya tak harus membekali anak-anak saya dengan kondom.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s