Mengenal si Dua Tahun

Di usia 2 tahun ini, perkembangan yang paling menakjubkan pada anak adalah perkembangan bahasa dan bicara. Selain itu, di usia ini anak mulai bermain “pura-pura”. Anak usia ini juga mulai menyadari perasaan mereka dan perasaan orang lain. Selain itu, usia ini adalah usia dimana toilet training biasanya  berhasil.

 Secara lebih spesifik, perkembangan mereka adalah sebagai berikut:

 Perkembangan motorik kasar

Perkembangan motorik kasar anak di usia ini berkembang pesat. Fokus stimulasi kita adalah untuk memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan beragam kegiatan melompat, berguling, dan memanjat dengan nyaman dan aman.

Beragam alternative kegiatan yang bisa dilakukan adalah:

  • Minta anak membawa sesuatu. Anak suka sekali melakukannya. Biasanya anak merasa “bangga” jika disuruh mengambilkan sesuatu. Bantal, dompet, telpon, tas ibu, sepatu ayah….
  • Memanjat. Tanpa diminta pun, anak usia ini senang sekali memanjat. Kursi, lemari, jendela, teralis, semua bisa dipanjat. Yang penting arahan dan pengawasan dari kita agar kegiatannya aman. Dripada minta anak untuk turun, arahkan anak bagaimana memegang atau menggerakkan kaki dengan benar dan aman.
  • Kegiatan gerak tubuh. Anak usia ini senang sekali menggearakkan tubuhnya. Senam, joget, gerakan hoki-poki, permainan “mengikuti pimpinan”, akan sangat diikuti anak dengan penuh antusiasme.
  • Permainan yang bisa dinaiki. Sepeda, kuda-kudaan, mobil-mobilan, selain melatih kemampuan motorik, juga biasanya digunakan oleh anak sebagai media bermain pura-pura.

 

Perkembangan motorik halus

Kegiatan motorik halus terkoordinasi dengan otak, karena melatih koordinasi visual motorik. Kegiatan motorik halus yang bisa dilakukan pada si 2 tahun adalah:

Puzzle bentuk dari kayu yang bentuknya geometris sederhana, permainan meronce yang bolong dan talinya besar, bermain lilin.

Perkembangan bahasa

Konon di usia ini, anak sudah mengiasai 1000 kata ! Inilah waktu yang tepat untuk menstimulasi kemampuan bahasa dan komunikasi anak. Yang perlu diingat adalah, JANGAN MENGKOREKSI KESALAHAN UCAP ANAK, BERIKAN SAJA CONTOH PENGUCAPAN YANG BENAR!

Misal: “dede mau cucu” ….”oh, dede mau susu ya?”

Tips-tips untuk menstimulasi perkembangan  bahasa anak:

  • Bicara dengan artikulasi yang jelas
  • Bicaralah dengan detil: “de, ambil hape ibu di meja TV”…jangan “de, ambil meja ibu di sana”
  • Lakukan kontak mata dengan anak saat sedang bicara dengannya, sehingga kita tahu apakah anak mengerti atau bingung
  • Perhatikan adanya suara lain yang bisa mengganggu penangkapan anak
  • Sesuaikan bahsa yang digunakan dengan bahasa anak. Gunakan bahasa yang sederhana.
  • Ajari bahasa yang terkait dengan waktu dan ruang. Misal: di depan, di belakang, di atas, di bawah, dll
  • Gunakan benda-benda untuk mengajarkan perbandingan. Mana yang lebih besar, lebih tinggi, lebih berat, dll.
  • Manfaatkan komunikasi untuk memberikan pujian, tapi yang spesifik. Bukan “dede hebat ya..” tapi “dede pinter udah bisa ngambilin ibu bantal”.
  • Ajarkan keterampilan sosial yang positif; misalnya membiasakan anak mengucapkan terima kasih, tolong, maaf. Biasakan kita mengucapkan kata –kata itu pada anak, agar anak bisa meniru.
  • Buat “kesalahan” untuk mengembangkan daya kritis anak. Misal; “aduh, mata ibu sakit” (ibu pegang telinga). Anak biasanya suka “lelucon” ini.
  • Biasakan membacakan cerita pada anak

 Perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif terkait erat dengan perkembangan bahasa. Pada usia ini, anak punyarasa ingin tahu yang sangat besar terhadap segala seuatu. Anak akan banyak bertanya dan bahkan “ikut campur” saat orangtua sedang ngobrol. Yang penting, tanggapi secara positif, jangan membuat anak “bertepuk sebelah tangan”.

Jangan mulai mengajarkan hal-hal yang sifatnya akademis pada anak di usia ini. Misalnya mengajarkan huruf, angka atau berhitung. Boleh saja sih, mengenalkan….tapi sebagai “fun” aja…soalnya biasanya anak sendiri yang berinisiatif menyebut huruf dan angka, walaupun absolutely ngaco, puji aja….

 Stimulasi pada kognisi anak bisa dilakukan melalui kegiatan:

  • Cerita mengenai kegiatan kita sebelumnya, dan yang akan dilakukan. Tanya juga kegiatan anak yang telah dilakukan, yang sedang dan akan dilakukan.
  • Berhitung satu-satu, sampai dengan 3 atau 5 benda (satu angka, satu benda)
  • Mengelompokkan (warna, bentuk, jenis) tapi 1 dimensi saja. Misal warna saja, atau bentuk saja.
  • Bernyanyi

Perkembangan emosi-sosial dan harga diri

Anak usia 2 tahun terkait dengan istilah “terrible two” . Namun di sisi lain, akan jadi “terrible” atau tidak perilaku anak di usia ini katanya tergantungdari bagaimana cara kita menanggapi mereka.

Beberapa hal yang dominan pada anak usia 2 tahun adalah:

  • Keukeuh sureukeuh suradimeukeuh 😉

Di usia ini, mereka akan sangat keukeuh sureukeuh terhadap segala sesuatu. Hal ini sebenarnya disebabkan oleh rasa “aku bisa” karena terkait dengan kemampuan motorik, kognitif serta bahasa mereka. Di usia ini, kita akan sering mendengar kata “tidak”, “tidak mau” dari mereka. Itu karena mereka ingin memastikan bahwa mereka punya “power” sekarang. Tapi jangan kaget kalau saat ibunya tidak ada di rumah, kita mendengar laporan bahwa anak bersikap lebih “manis” dibanding saat ada ibu 😉

Gimana cara mengatasi sikap keukeuh anak? Katanya, kita mesti tau gimana caranya memberikan “power” pada anak. Biarkan anak menentukan hal-hal yang tidak berbahaya. Misalnya biarkan anak menentukan dimana ia akan menempel gambar hasil karyanya, menentukan baju apa yang mau dipakainya, menentukan apa kegiatan yang ingin mereka lakukan. Di usia ini, mereka jauh lebih membutuhkan kesenangan dalam beraktivitas, jangan terlalu banyak mengarahkan.

  • Susah adaptasi

Buat ortu yang memasukkan anaknya ke playgroup di usia ini, anak akan masih sulit untuk berpisah dari ibu. Di usia ini, yang jauh lebih penting adalah memastikan rasa aman anak. Kalau anak menangis tidak mau ditinggalkan di day care atau playgroupnya, itu hal yang wajar. Jangan mengatakan; “sudah besar kok masih nangis”…terima saja kesedihannya, lalu alihkan pada kegiatan lain. 

  • Rentang perhatian/konsentrasi yang pendek

Jangan berpikir bahwa anak mengalami gangguan konsentrasi kalau pada usia ini anak cepat beralih dari kegiatan satu pada kegiatan lainnya.

  • Mulai tumbuhnya “hati nurani”

Anak usia 2 tahun masih sangat impulsive dan sulit untuk mengontrol perilaku mereka. Itu sebabnya seringkali mereka tahu bahwa suatu hal tidak boleh dilakukan; misalnya tidak boleh memukul, tapi mereka tidak bisa mengontrol perilaku mereka. Karena “hati nurani” mereka belum bisa diandalkan, maka ia sangat membutuhkan bantuan dari luar untuk mengarahkan perilaku mereka, untuk tidak melakukan hal yang buruk dan melakukan hal yang baik. Larangan dan pujian akan sangat membantu tumbuhnya “hati nurani” mereka sendiri. Dalam membuat larangan, mungkin kita akan mengalami kendala mengingat si dua tahun ini masih egosentris dan memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya saja. Nah, ini kesempatan kita untuk mengenalkan bagaimana perasaan dan situasi orang lain terkait perilaku anak. Misal: “jangan mukul kakak dong, kan kakaknya sakit” atau “jangan sobek gambar kakak, nanti kakak sedih”. 

  • Mainan yang “hangat”

Konon katanya di usia ini, mainan yang “hangat” seperti boneka kesayangan atau selimut kesayangan (jadi ingat selimut biru-nya si Franklin) anak membuat anak cepat merasa aman dan nyaman, karena mainan yang “hangat” itu adalah “pengingat fisik” bahwa mereka dicintai dan disayangi.

Hubungan dengan anak lain

Si 2 tahun sangat suka bermain dengan anak lain. Meskipun komunikasi mereka masih dicampur dengan komunikasi nonverbal, akan tetapi mereka sangat senang “ngobrol” (sok aja nguping obrolan mereka, dijamin kita akan cengar cengir sendiri;). Mereka akan lebih memilih anak lain yang memiliki kesamaan minat, yang suka melakukan kegiatan yang sama, misalnya sama-sama suka main sepeda di pagi hari, sama-sama suka nonton Barney;). Mereka juga lebih suka bersama anak yang secara fisik mirip dengan mereka.

 Biasanya, tahap-tahap mereka “bermain bersama” adalah:

Mereka saling melihat, lalu kontak mata, lalu salah satu atau masing-masing meniru gerakan atau permainan yang dilakukan anak lain, lalu…mereka pun main “bersama” deh…..

Perkembangan Keterampilan Sosial

Anak mulai membangun “persahabatan” di usia yang beragam. Namun, usia 2 tahun ini adalah usia yang tepat untuk mengajarkan kompetensi dasar untuk anak agar bisa membangun persahabatan kelak. 

Berikut adalah dasar-dasar yang dibutuhkan anak:

  • Belajar bagaimana memulai dan masuk ke permainan.

Saat memasuki situasi baru di mana sudah ada anak lain yang sudah mulai bermain, ajarkan anak untuk mengamati terlebih dahulu ap ayang sedang dimainkan, situasinya bagaimana, agar anak terlatih untuk menilai situasi dan menyesuaikan diri.

  • Meniru

Meniru apa yang sedang dilakukan anak lain, terutama untuk hal yang positif, merupakan dasar untuk menyesuaikan diri juga.

  • Menyampaikan apa yang anak inginkan
  • Mendengarkan orang lain

Arahkan dan bantu anak untuk mendengarkan apa yang dikatakan anak lain kepadanya, terlebih di usia ini kemampuan reseptif maupun ekspresif anak masih terbatas.

Bermain dan Permainan

Permainan apa yang cocok untuk anak di usia ini?

  • Permainan bersama teman sebaya. Meskipun kegiatan yang dilakukan masih masing-masing, biasanya anak usia ini senang berada dekat dengan anak lain.
  • Bermain “anyang-anyangan”. Masak-masakan,mobil-mobilan, dan sebagainya. Inilah saatnya membelikan mainan “miniature”
  • Mencoret. Jangan heran kalau anak sudah mint akertas dan alat tulis. Meskipun belum terlihat jelas bentuknya, namun anak suka sekali “menggambar” atau “mewalnai”. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s