besar & KECIL ; belajar dari DESPICABLE ME

mmmmhhhmmm… sudah lima tulisan mengantri manis di kepala. Menunggu giliran untuk diketik. Namun apa daya, tumpukan PR masih menggunung, dari kemaren baru berkurang dikiiiiit. Dan hasrat untuk menulis yang sudah menjerit keras harus belajar tunduk pada hasrat untuk mendisiplinkan diri menyelesaikan pekerjaan yang sudah tertunda lamaaaa. Mekanisme “self punishment” dan “self rewarding” ini sengaja di set-up biar everything goes well….segala kewajiban tetap terpenuhi secara seimbang…..

Kalau mau menyalahkan sih, ini karena saya ditakdirkan sebagai wanita. Jadi we harus pasrah saat mood dan semangat mengerjakan tugas terpengaruh oleh gejolak hormon-hormon, yang kali ini bergejolak lebih lama ;( . Dua hari ini,  hanya 10 % pekerjaan yang tergarap, teu nanaon lah slowly but slow juga…;( Saatnya memberi reward dengan mengetik satu tulisan….

Kemaren, saking tak semangatnya saya, akhirnya nemenin anak-anak nonton “Despicable Me”. Di rumah tentunya. Sambil nyalain laptop sih, dengan ditemani setumpuk kerjaan itu, yang tak tersentuh juga…..kekuatan si HARO begitu kuatnya (haroream kkkk…)

………………..

Terakhir saya dan anak-anak nonton bioskop adalah waktu film “Planes” diputar, bulan Agustus. Berarti 4 bulan lalu. Sekuel film Cars 1 dan 2 ini memang ditunggu sama anak-anak. Meskipun saya dan mas bukan sufi (suka film) dan tidak menjadikan “bioskop” sebagai tempat yang rutin dikunjungi, namun saya senang nonton bioskop. Dengan syarat sama anak-anak. Dan tentunya nonton film anak-anak. Kalau film orang dewasa? walaupun pengen banget nonton film-film bagus yang diputar di bioskop, kalau itu hanya bisa ditonton sama saya…..hasrat saya tak cukup kuat. Dan akhir-akhir ini, itu berlaku juga buat film anak-anak. Waktu “Monster University” tayang di bioskop, adaaaa aja alasannya yang bikin ga jadi. Alasan terakhir adalah….”mending uangnya ditabung”. Akhirnya, anak-anak pun sudah tau jawabannya : “nanti kalau cd udah keluar, kita tonton di rumah”.

Yups, akhirnya…tampaknya anak-anak memang lebih suka nonton di rumah; dengan segala keuntungannya : (1) suasana bioskop masih bisa terasa. Pasang sofa, lampu dimatiin, ibu nyiapin popcorn (2) bisa dengan beragam gaya. Bisa duduk, tiduran, selonjor, dan kalau ada adegan yang menakutkan, bisa di-pause dulu. Atau ada adegan lucu, bisa direwind (3) buat saya, selain lebih hemat dan bisa punya koleksi cd bagus untuk diputar lain kali, saya juga jadi leluasa untuk “menghayati” pesan moral yang ada di film tersebut dan “menginternalisasikannya” pada anak-anak.

Sebagai orang yang tidak kreatif, tak terkira kagumnya saya sama para pembuat film-film anak “bermutu” yang begitu keren menampilkan adegan aksi-nya, begitu menyentuh adegan emosinya (padahal itu kartun loooh…karakternya sebagian besar bukan manusia lagi…tapi bisa bikin nangis bombay….); dengan value-value yang amat mendalam. You name it ! Kungfu Panda, Finding Nemo, Tangled, Enchanted, Monster Inc, Monster University, Cars 1, Cars 2, Planes, Toy Story 1, Toy Story 2, Toy Story 3, The Incredibles, A Bugs Life, Despicable Me …..

Nah, yang mau saya ceritain  despicable meadalah adegan mengharukan dan penghayatan saya waktu nonton film “Despicable Me” ini. Ada satu adegan yang maknanya “dalem” banget….Yaitu waktu si Gru berhasil telah berhasil mengecilkan bulan yang akan dia curi, lalu di saat yang bersamaan, ia melihat tiket resital musik “tiga anak angkatnya”. Keren banget visualisasinya !!!!

Dua hal “diperbandingkan” secara visual dalam adegan itu; Satu hal BESAR, achievement yang selama ini ia nantikan, untuk membuktikan pada dunia bahwa ia HEBAT, terutama untuk membuktikan pada ibunya (ini juga keren penggambarannya, ibunya tak pernah mengapresiasi achievemennya, dari mulai achievement sederhana sampai achievement yang besar-pun). Satu lagi adalah hal KECIL, menghadiri resital musik anak-anak. Digambarkan pula betapa besar konflik yang ia rasakan saat itu.

Yups…konflik-konflik semacam itu, akan sering kita hadapi sebagai orang dewasa. Dan di usia menjelang 35 ini, saya semakin dihadapkan pada kesadaran dari konsekuensi pilihan itu. Bahwa dalam proses memilih itu, ada batasannya. Umur. Jadi, upaya memilih itu, harus lebih sungguh-sungguh kita hayati. Biar kita “gak salah kejar” dalam hidup ini. Karena seringkali, pilihan itu adalah 0-1. Saat kita memilih yang satu, berarti kita gak akan dapat yang satunya. Gak bisa dua-duanya kita dapet.

Saya sukaaaaa dan masih tetep suka sama konsep “memilih jalan hidup” dalam buku yang saya baca waktu masih lajang dulu … “first thing first”. Bahwa patokan yang harus kita pegang, bukanlah hanya jam. Bukan hanya: “umur segini harus udah mencapai ini, umur segini harus sudah jadi itu, umur segini harus udah bisa ini…”. Ada satu yang harus lebih dahulu kita pertimbangkan: kompas kehidupan kita. Apa arah akhir yang akan kita tuju? Jangan-jangan, setelah kita mencapai semuanya, dalam batas waktu yang sesuai dengan target kita, kita baru sadar bahwa…..kita berjalan ke arah yang salah. Katanya, kita tak boleh hanya jadi “manager” dari kehidupan kita, tapi harus jadi “leader”. Kan katanya “Managers do things right but leaders do the right things”.

Beberapa tahun terakhir ini, beberapa kenalan saya wafat. Ada yang sudah senior, ada yang masih muda. Beberapa kali saya mendapat kesempatan menengok dan mengetahui proses yang dialami kenalan yang terkena sakit sampai akhirnya wafat. Proses fisik, namun yang menarik perhatian saya adalah proses kecamuk psikologisnya. Saat kemampuan fisik kita menjadi terbatas, saat kita merasa waktu yang kita miliki sudah semakin sempit, pastilah saat itu….kita berpikir …. apakah saya sukses menjalani kehidupan saya? dan kesuksesan atau ketidaksuksesan itu, seringkali merupakan jawaban dari pertanyaan….”apakah saya melakukan hal yang benar yang harus saya lakukan dalam kehidupan ini?”

Saya yakin, seperti juga proses sakaratul maut, bagaimana hari-hari terakhir kita dalam kehidupan, adalah cerminan atau abstraksi dari proses kehidupan yang kita jalani. Apa yang kita kejar, apa yang kita pentingkan, akan kita petik buahnya di hari-hari akhir kehidupan kita. Dan saya melihat, bahwa “hal kecil” yang kita pilih, seringkali justru menjadi pilihan yang tepat yang akan kita petik buahnya di hari-hari akhir kehidupan kita.

Ikatan emosional dengan pasangan, kelekatan perasaan dengan anak-anak, hubungan erat dengan saudara….adalah “hal-hal KECIL” yang di akhir hidup kita, adalah hal yang paling kita butuhkan. Kenapa saya bilang “hal KECIL” karena dalam prosesnya, memang begitulah. Saya belajar banyak hal ini dari mas. Di akhir pekan, tak ada asisten yang membantu kami. Dan kami berdua, akan disibukkan dengan beragam hal “kecil”. Mas, yang Doktor itu, akan sibuk seharian memandikan Azzam dan Hana, mengganti baju Azzam berkali-kali karena ketumpahan makanan, nyebokin, nemenin Hana main plastisin atau mengecat, mengelap tumpahan di sana-sini, masakin telor kesukaan anak-anak, masakin nutrijel….membujuk Azzam yang ngamuk, nemenin main bola…. Padahal di saat yang sama, ada beragam hal “BESAR” yang bisa ia lakukan di luar sana. Konferensi ini, Workshop itu..dll…(saya tahu persis karena saya langsung akan pasang wajah “galak” saat mas buat acara di weekend). Setiap weekend, saya bayangkan mas seperti si Gru….ia harus memilih antara bulan yang akan ia curi, yang bisa membuktikan kehebatannya, atau memilih tiket resital musik anak-anak.

Hal-hal KECIL yang “dipilih” untuk dilakukan oleh Mas, buahnya tak perlu menunggu sampai akhir hidupnya. Setiap hari, saat membuka mata, kalimat yang diucapkan anak-anak adalah “abah mana?” si bungsu Azzam bahkan langsung teriak “Abaaaah…” kalau tak melihat abahnya di kasur. Juga teriakan ceria dan binar bahagia anak-anak waktu abahnya datang dari luar kota.

Mungkin itu sebabnya ya, di awal tahun ini, resolusi saya tak ada yang “BESAR”. Resolusi saya adalah, melakukan hal-hal “KECIL” rutinitas saya, dengan sebaik-baiknya dan sepenuh hati. Mengajar, membimbing mahasiswa, praktek, menemani anak-anak jalan-jalan setiap weekend, menanggapi curhatan Kaka Azka, menemani Hana mencari buku-buku yang dia lagi suka banget, mendampingi prose “keakuan” Azzam, mendampingi mas….

Saya memilih melakukan hal-hal KECIL yang membuat saya tak akan menyesal andaipun waktu hidup saya harus berakhir.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Trackback: Kenapa sih emak-emak jaman sekarang butuh “me time” ? | Fitri Ariyanti's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s