46. Hajj : If You Fail to Plan, You Plan to Fail

Sejak manasik di tanah air, ada satu hal yang dipesankan oleh guru kami, yaitu….menurut beliau, berdasarkan pengamatan bertahun-tahun  mendampingi jemaah haji, kesuksesan berhaji sangat ditentukan oleh : apakah kita punya “program”/planning individual yang bertarget ga nanti disana.

Jadi harus ada target yang “smart” : spesific, measurable, attainable, result oriented, time limits.

Tausyiah itu beliau ulang lagi begitu kami selesai melaksanakan ritual haji, setelah thawaf ifadah.

“Di tanah air, susah banget dapetin waktu 40 hari tanpa diganggu urusan kerjaan, urusan rumah, urusan anak-anak ….Mumpung disini…ayo…belajar… targetkan benerin bacaan alqur’an, targetkan jumlah tambahan  hafalan, targetkan mau khatam al qur’an berapa kali, baca-baca buku agama; tafsir, siroh…”

Ah, moment tausyiahnya pas banget…beliau tau betul kondisi psikologis kami, yang begitu selesai hajian, pengen cepet pulang, kangen rumah, kangen anak-anak.

Dan para pembimbing kami langsung menanggapi tausyiah itu dengan program tahsin, membetulkan bacaan alquran kami, yaitu Alfatihah dan three Qul: Qul huwallahu ahad, Qul audubirobbinnas dan Qul audzu birobbil falaq 😉 biar nanti bapak-bapak haji ini bener kalau diminta ngimamin sholat, dan gak cuman berani ngimamin sholat dhuhur ama ashar aja haha…. Setiap ba’da syuruq kami berkunpul di lantai 3 masjidil haram.

Di masjidil haram sendiri, ada program “qur’an education for pilgrim”. Beberapa orang berkafiyeh akan duduk di sudut-sudut  mesjid, di depan banner bertuliskan “qur’an education for pilgrim”. Disana ada mikrofon, dan siapapun boleh “setor” bacaan al qur’annya untuk dikoreksi oleh mereka. Ah, seneeeng banget liat orang Afrika minta dikoreksi bacaan alfatihah, orang Amerika baca al ikhlas, orang Malaysia baca annas, orang india baca annaba, orang cina baca al quraisy… Berbeda “penampakan” tapi ternyata kita membaca qur an yang sama !!!! Subhanallah…

Adanya target individual itu,  amat terasa terutama di Madinah ini. Memang waktu di Mekkah, itikaf di masjidil harom tidak terlalu nyaman. Selain sangat berdesak-desakan, udaranya juga sering gak pas. Yang pake kipas kepanasan, yang pake ac kedinginan. Dan di masjidil haram, kita selalu tergoda tak melewatkan kesempatam emas berthawaf.

Di Madinah ini, sangat nyaman…mana ada tausyiah berbahasa indonesia ba’da sholat lagi…kalau gak punya target individual, bisa jadi 40 hari disini kita gak khatam Alqur’an satu kali pun. Gak nambah ilmu apapun. Di hoteeel…aja…belanjaaaa aja…atau di mesjid nonton perilaku orang lain aja….just killing the time. Padahal, begitu pulang ke tanah air, seiring dengan panggilan “pak haji” dan “bu hajjah”, tak bisa dipungkiri ada penilaian dari masyarakat kalau para haji dan hajjah ini punya ilmu agama yang bagus.

So, buat temen-temen  yang akan berhaji….. Waktu nyiapin koper, don’t forget…selain makanan  fisik  : abon, dendeng, rendang, sambel pecel, dll. Ingat juga makanan ruhani. Buku tafsir, buku tentang sholat, siroh, buku yang tidak sempat kita baca di tengah kesibukan kita di rumah.

Seperti tausyiah subuh tadi, kalaulah dosa-dosa kita tak diampuni karena kita tak dapat pahala mabrur, semoga kita dapat pengampunan karena pahala belajar sungguh-sungguh di tempat-tempat dimana kebaikan kita nilainya 100ribu kali dan seribu kali.
Amiiiin

H-3, senin 4 nov 2O13, bada dhuhur @ mesjid nabawi.

45. Feels Like Home

Baru dua hari di Madinah ini, saya merasa sangat betah. Mungkin ga ya, pindah rumah ke hotel deket Masjid Nabawi? Mulai deh halusinasi kkkk…

Selain udaranya yang sejuk dan  mesjidnya yang super nyaman, secara keseluruhan situasi disini rasanya lebih enak dibanding dengan di Mekah. Jarak antara bangunan satu dengan lainnya dekat-dekat, kalaupun harus nyebrang jalan raya gak serem. Banyak restoran makanan indonesia.

IMG-20131106-01048Dan… setiap bangunan hotel bawahnya adalah commercial center, alias toko-toko…plus atm yang deket, saya jadi bisa sesuka hati jalan-jalan, mengamati dan bela-beli barang dan pernak-pernik lutu tanpa harus minta ditemenin mas haha….maklum, ibu-ibu dan bapak-bapak kala belanja bareng sama-sama stress bukan? 😉

IMG-20131106-01047Setiap pulang dari mesjid saya dan mas janjian ketemuan di gerbang no. 17. Nah, kalau saya udah nyampe tapi mas belum, biasanya saya “kabur” dulu ke pertokoan deket situ. Sampai-sampai setiap kali saya “pamer” hasil penemuan saya ke temen-temen sekamar, mereka heran kok bisaaaaa aja saya nemuin pernak-pernik itu haha…Sempet juga saya jalan-jalan sama mas cari gamis kecil buat Azzam, mas sampai heran kenapa saya hafal benget mana toko parfum yang murah, mana toko sajadah yang bagus, tempat kurma yang enak….hehe…

Tapi syukurlah saya belanja belanji yang banyak-nya udah di Mekah. Di sini harga-harganya lebih mahal dan sebelnya…gak bisa ditawar ! Hehe…

44. Pudarnya Semangat Ihrom

Saya paling suka saat kami berada dalam keadaan ihrom. Karena kami sadar betul akan larangan ihrom, maka kami jauh lebih menjaga. Siapa yang ingin melanggar larang ihrom yang beresiko hajinya batal, atau harus bayar dam atau fidyah? Saya juga suka waktu di Mekah, saat kami meyakini bahwa apapun yang kami lakukan, akan mendapat balasan langsung dari Allah.

Memang sih, banyak juga yang meskipun sedang berihrom, tetep we…parasea, memaki, dan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Tapi….di Madinah ini saya merasakan betul bagaimana sebagian besar orang kembali “menjadi dirinya” dan secara psikologis meninggalkan kondisi ihrom yang seharusnya tetap dijaga seumur hidup.

Bapak-bapak mudah tersulut kalau senggolan dikit di lift. Saya gak bicara tentang jamaah Indonesia saja. Tapi juga jamaah bangsa lain. U know what? Sampai-sampai…lift itu dijaga ama petugas hotel. Kalau di hotel saya sih masih sebatas adu mulut. Tapi kalau di hotel teman saya, sampai adu jotos dan harus dijaga polisi!!!! Aduh…padahal kan mereka teh udah haji.

Kalau ibu-ibu, masalahnya teuteup…otoritas sajadah. Itulah sebabnya saya suka datang jauuuh sebelum waktu sholat. Bukan karena saya rajin…tapi itu karena…biar saya bisa dapet tempat di pojok depan, sehingga tak perlu menyaksikan suasana “panas” mulai 30 menit menjelang waktu sholat.

Ibu-ibu teh  jararutek dan garalak pisan kalau wilayah sajadahnya terganggu. Pernah saya menyaksikan, 3 orang ibu berteman yang tak mau bergeser sedikit pun, padahal jarak antara mereka masih sangat renggang. Mereka menolak seorang ibu yang mau sholat disamping mereka. Saat si ibu tetap mengambil tempat dan sholat sunnat, si ibu itu menyikutnya sambil marah, tetep gak mau geser. Aduuuuh…..pengen nangis liat yang gitu.

Pernah juga ada ibu yang masih tidur menjelang waktu sholat, yang tentunya mengambil tempat yang luas. Saat dibangunkan, ia marah. Ketika seorang Tunisia mengambil tempat disampingnya, ia pun marah dengan emosi yg tinggi. Sambil menunjuk-nunjuk si Tunis cantik, ia berteriak : “saya tau, kalian-kalian tuh dari tadi ada di luar…gak mau masuk…sana, cari tempat lain..jangan disini”. Aduuuuh…sebagai teman sebangsa saya sampai maluuuuu liat ekspresi wajah si tunis yang kaget dan berkali-kali beristighfar.

Saya juga melihat, prejudicenya tinggi banget disini. Kalau liat orang Turki, India, Bangladesh yang memang terkesan “kurang sopan”, ibu-ibu  ini langsung “siap tempur”. Sering orang-orang turki “mengomel” : “hai, we are sister, we are muslims,”….

Masalahnya, karena tak semua ibu-ibu jutek dan galak, sikap-sikap seperti itu menimbulkan “gelombang keburukan” : ibu-ibu lain ada yang “ngomongin”, ada yang negur dengan cara yang kurang baik (misal: kasih tempat dong bu..memang mesjid ini punya ibu, kalau mau sendirian aja jangan kesini dong…).  Tah, ini juga gak tepat. Messagenya bagus tapi embel-embel kata-kata selanjutnya menimbulkan reaksi defensif.

Ya…. kalau kita hayati, ritual ibadah haji sebenarnya mudah. Mudah sekali kalau kita lakukan sendirian. Tapi menghayati apa yang Allah latihkan pada kita saat melaksanakan ibadah haji, itu jauuuuh lebih sulit. Katanya, hakikat ibadah haji itu adalah melatih diri untuk meninggalkan ke-aku-an. Makanya dalam ihrom, laki-ali hanya boleh mengenakan dua lembar kain tak berjahit, perempuan tak boleh memakai wewangian (itu artinya segala jenis kosmetik tak bisa dipakai).

Berihrom, berhaji adalah latihan membuang sifat “aku”. SajadahKU, tempat sholatKU, AllahKU, AKU.

43. Raudhah Yang Luaaaaaaas

DSC_0032Banyak orang yang bilang mesjid nabawi itu indah dan nyaman. Ternyata mereka salah. Mesjid nabawi itu, indaaaaaaaah banget, cantiiiiiiik banget, dan nyamaaaaaan banget ;). Buat saya, seluruh masjid ini adalah taman syurga. Berada disini terasa nyaman….aman…tentram…tenang…tak hanya fisik dan psikologis, tapi juga spiritual. Bawaannya pengen nangis, tapi bukan nangis sedih. Entah apa namanya emosi ini. It’s a deep impact..

DSC_0028Entahlah, saya merasa Rasulullah, Abu Bakar yang terkenal kelembutannya dan Umar yang terkenal ketegasannya seolah ada di sini, bersama kami. Hidup. Duh, semoga di akhirat nanti bisa bertemu meraka. Amiiiin. Kalaulah ada obat yg bisa bikin gak batal wudhu dan ada obat yg bisa bikin kenyang, pengennya 24 jam disini.Selain payung-payungnya di luar yang terkenal mengagumkan, tadi ketika saya sedang tilawah tiba-tiba kubah diatas saya bergeser. Saya sudah sering mendengar … Tapi mengalaminya langsung, berada dimesjid tapi dibawah langit dan awan yang cantik, aduuuuuh itu rasanya tak terlukiskan.

Dan satu lagi…karena tempat laki-laki dan perempuan terpisah, maka saya bisa bebassss dengan posisi apapun disaat-saat masjid kosong. Tiduran, telungkup, enaaaak….

IMG-20131106-01039IMG-20131101-01013Tiap bada ashar, bada maghrib dan subuh, ada ceramah berbahasa indonesia dari ustadz-ustadz  yang pengetahuannya luaaaaasss banget. Kalau jelasin sesuatu, beliau jelasin dasar hukumnya, mana yang shohih mana yang lemah…banyaaaaak banget ilmu baru yang saya dapet disini. Penjelasannya sistematis dan clear. Meskipun saya tidak bisa menyaksikan orangnya karena beliau di tempat laki-laki, tapi apa yang beliau-beliau ucapkan kadang bikin nangis, bikin semangat, bikin tersepona we pokonya mah.

Saya baru tau ada program ini di hari kedua, karena tak semua bagian mesjid bisa mendengar. Mikrofonnya dilokalisir sehingga hanya daerah tertentu yang bisa mendengar. Saya sudah survey daerah mesjid mana yang bisa mendengar dengan jelas ceramahnya, dan sudah tau spot mana yang bisa nyender, dibawah kubah besar yang bisa geser, ga terlalu deket ac, sambil bisa dengerin ceramah hehe… Yaitu, tepat sebelah tempat sepatu no. 630, dari pintu Umar bin Khatab…di situlah tempat “nangkring” saya di sini…

Sekarang saya mengerti kenapa ada yang berusaha  tiap tahun umroh. I will miss it so much. Makanya…teman-teman…hayu urang berhemat…uang untuk ini itu yang gak perlu mending ditabung, lalu daripada liburan kesana-sini mending umroh kalau belum memungkinkan berhaji…..

It’s the best moment in my life. Semoga tahun depan dan setiap tahun kembali bisa berziarah kesini. Amiiin

Bada dzhuhur. 30 okt. Masjidnya Rasulullah

42. Taman Syurga

Rabu, 30 oktober 2013. 07.21.
Mesjid nabawi

Kami, saya dan beberapa teman sedang “mengantri” untuk masuk ke raudhah. Di sebelahnya ada makam tiga orang yang dijamin masuk syurga, Rasulullah dan dua sahabat terbaiknya, Abu Bakar dan Umar  Bin Khatab.

07.59
Kami berada di antrian tahap dua. Sudah dekat ke raudhah. Beberapa menit sebelum kami diminta bergerak tadi, ada keriuhan. Ternyata, ada serombongan ibu-ibu yang masuk dari pintu kiri, dan langsung duduk di urutan awal. Hal ini membuat rombongan ibu-ibu yang sudah mengantri lama protes. Ya, memang demikianlah adanya. Dimanapun, kapanpun, dalam konteks apapun, akan sangat sulit bagi kita untuk menemukan keadilan sejati di dunia ini hehe… Kalau kata tafsir al misbah-nya pak Qurais Shihab, itulah sebabnya ada hari perhitungan. Agar setiap individu mendapatkan keadilan sejati.

Begitu kami dipersilahkan bergerak, hadeeeuuuh… Ibu-ibu hajjah ini langsung berlarian, ada beberapa yang sikut sana sikut sini. Banyak yang tdk mengikuti arahan asykar, dilarang jalan sini, malah cuek…disuruh diam tunggu, malah masuk…jigana si asykar teh stress ngurus ibu-ibu indonesia mah haha…
Cik atuh lah bu hajjah… Gak mungkin kebaikan diraih dengan cara yang tak baik. Kalau saat ini Rasulullah menyaksikan, isin atuuh…

08.45
Kami berada di antrian tahap 3. Area raudhah terlihat semakin jelas.
Di depan kami langit berwarna biru dengan hiasan awan berarak. Kubah-kubah mesjid di bagian ini telah terbuka, menampilkan langit yang cantik dan udara yang segar.

09.13.
Antrian tahap 4. Kami sudah berada di area raudhah namun masih harus menunggu untuk memasukinya. Suasana semakin “panas”. Banyak yang tak sabar berdiri padahal diminta duduk. Perilaku minus (menyikut, dll), sama banyaknya dengan komentar minus yan diucapkan. Ya Allah…karuniai kami kesabaran dan keikhlasan.

DSC_0041

41. Berkah-Berkah Madinah

Senin, 28 Oktober 2013

Alhamdulillah, tepat ketika alarm pertanda saya harus minum pil kb yaitu jam 15, kami memasuki kota Madinah dan disambut oleh….hujan ! Alhamdulillah, semoga barokah yang menyambut kami, menaungi kami selama di Madinanh. Tapi pemandangan kiri-kanan kami masih berupa gurun pasir dan hujan batu. Penasaran, seperti apa “penampakan” kota ini….

16.18
Kami sampai di hotel tempat kami menginap. Namanya Al MajeediHotel. Memang hotelnya lebih sederhana dibanding hotel kami di Mekah. Tapi secara fungsional, lebih lengkap. Kamar-kamarnya model apartemen, satu unitnya terdiri dari dua kamar, satu kamar mandi besar yang ada bathtubnya dan dapur yang didalamnya ada kompor listrik, mesin cuci dan kulkas besarrr…

Kami dipasang-pasangkan. Satu kamar para istri, satu kamar para suaminya.

Dan, berkah yang kami dapat adalah….ternyata hotel kami ini berbatasan langsung dengan masjid nabawi ! Dari jendela kamar kami bisa melihat payung-payung  di pelataran masjid nabawi yang sangat terkenal itu. Subhanallah….

Tadi kami sudah sholat maghrib dan isya disana. Dibadingkan dengan di majidil haram, di nabawi lebih “disiplin”. Petugas wanita pengatur jamaah banyak, dan bisa berbagai bahasa, terutama bahasa indonesia. Petugas air zamzamnya ternyata banyak yang TKW Indonesia. Tadi kami berbincang berbahasa sunda karena salah satunya berasal dari Cililin 😉

Semoga kemudahan dan keberkahan mengiringi hari-hari kami disini…tak sabar berkunjung ke raudhah…

Madinah, selasa 29 okt, 21.31.

Di sini, karena konfigurasi jumlah tempat tidurnya berbeda dengan di Mekah, maka ada beberapa orang yang berganti teman sekamar. Saya adalah salah satunya. Sekarang, salah seorang teman sekamar saya adalah seorang ibu sepuh. Ah, bersama beliau, saya tercerahkan akan satu hal: bahwa seringkali saya tak mensyukuri nikmat “usia muda” yang saya miliki. Ternyata, kalau sudah sepuh itu, kekuatan dan kondisi fisik sangat terbatas. Sangat amat terbatas. Sehingga amalan-amalan yang bisa dilakukan pun terbatas pula. Selain itu, melihat keterbatasan beliau karena usianya, jadi tertanam niat untuk nanti bisa merawat mamah atau emak mertua saat mereka sudah sepuh…

Bukan Bekal Kondom

Setiap bada maghrib, setelah sholat saya selalu berusaha menyempatkan diri berdiri di balkon depan. Ada yang saya tunggu. Tak ada yang lebih romantis dan yang lebih bisa bikin hati “meleleh” dibandingkan mendengar suara celoteh riang dan sosok-sosok kecil yang muncul di balik ujung jalan menuju rumah saya. Mereka adalah Umar dan teman-teman sebayanya, dengan sarung-sarung yang mereka kenakan. Pulang dari masjid. Saya punya panggilan untuk mereka. Children of heaven.

Setelah mengetahui betapa amat sangat kuat anjuran Islam untuk sholat berjamaah di mesjid bagi laki-laki, yaitu…..

  • Beberapa madzhab meWAJIBkan sholat fardhu berjamaah di masjid bagi laki-laki
  • Berkata Ibnu Masud radhiallahu anhu: “Barangsiapa yang suka bertemu Allah kelak sebagai seorang muslim, maka hendaknya ia menjaga shalat-shalatnya, dengan shalat-shalat itu ia dipanggil. sesungguhnya Allah Taala menggariskan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk (sunnah-sunnah). Seandainya kalian shalat dirumah, seperti orang yang terlambat ini shalat dirumahnya, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Dan tidaklah seorang laki-laki bersuci dengan sempurna lalu sengaja ke masjid di antara masjid-masjid (yang ada) kecuali Allah menuliskan baginya satu kebaikan untuk setiap langkah yang ia ayunkan dan mengangkat pula dengannya satu derajat dan dengannya pula dihapus satu dosa. Sebagaimana yang kalian ketahui, tak seorangpun meninggalkannya (shalat berjamaah) kecuali orang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan sungguh orang (yang berhalangan) pada masa itu, dibawa datang (ke masjid) dengan dipapah oleh dua orang lalu diberdirikan di dalam shaf.” (HR. Muslim)
  • Karena RAsulullah pun mewajibkan sholat fardhu berjamaah di masjid bahkan bagi Ummi MAktum, seorang sahabat yang tuna netra, maka Ustadz di masjid Nabawi mengatakan: laki-laki yang tidak sholat fardhu di mesjid kemungkinannya hanya tiga: ia munafik, sakit keras atau seorang wanita
  • “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat shubuh. Sekiranya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh, aku bermaksud akan memerintahkan shalat agar dilaksanakan. Kemudian aku menyuruh seseorang untuk mengimami shalat bersama manusia, Kemudian aku pergi dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar kepada suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lalu aku bakar rumah mereka dengan api.” (HR. Bukhari & Muslim)

….maka saya “mewajibkan” Umar untuk sholat berjamaah di masjid saat ia ada di rumah. Maghrib, Isya dan Subuh. Hanya memang kendalanya adalah, si abah yang hanya ada di akhir pekan dan omnya yang tinggal bersama kami, jarang ada di rumah. Sedangkan untuk mengizinkannya ke mesjid sendiri, saya belum berani. Mesjidnya berada di luar komplek kami. Menujunya, harus menyebrang jalan. Meskipun jalan kecil, namun satu-satunya jalan yang dilalui beragam kendaraan bagi penghuni sekian banyak komplek di daerah ini. Apalagi saat maghrib, Lalu lintasnya sangat padat dengan mobil-mobil warga komplek yang baru pulang dari kantor.

Kurang lebih sebulan lalu, saat menjelang isya tiba-tiba bel rumah kami berbunyi. Terdengar teriakan-teriakan kecil ; “Umar….ke mesjid yu….” Waktu saya buka, ternyata dua anak seusia Umar, putera para tetangga kami. Jujur saja saya kaget, senang sekaligus excited.

Ternyata setelah saya “usut” melalui bbm grup ibu-ibu komplek kami, gagasan ini diprakarsai oleh seorang ibu. Latar belakang pemikirannya sama dengan saya. Ingin anaknya selalu ke mesjid, namun khawatir melepas sendirian. Cuman bedanya, kalau saya mah egois dan tak kreatip, ibu itu mah “peduli” dan “kreatif”, sehingga menghasilkan gerakan yang- buat saya- amat membahagiakan dan membanggakan.

children of heavenMaka, sejak saat itulah….setiap mendekati waktu sholat terutama maghrib dan Isya, Umar akan bersiap-siap wudhu, ngambil sarung dan meunggu teman-temannya nyamper, nyamper teman-temannya, atau mereka berangkat sendiri-sendiri dan ketemu di masjid. Termasuk shalat Jumat. Masjid yang dipakai shalat Jumat jaraknya lebih jauh lagi. Tapi saya tak khawatir melepas Umar, karena “ngabring” bersama teman-temannya. Di masa liburan seperti ini, dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, Umar full main sama teman-temannya. Dia cuman pulang ke rumah kalau sudah ditelpon untuk makan siang. Tapi setiap 15 menit menjelang sholat dhuhur dan ashar, dia akan datang, lari, ke musholla mengambil sarung, dan “ngacir” lagi bareng teman-temannya ke mesjid.

…….

Ketika rame-rame soal PKN (Pekan Kondom Nasional) beberapa waktu lalu, perbincangan hangat mengenai hal ini juga terjadi di kampus. Apalagi ada rekan kami yang concern bergerak di bidang kesehatan reproduksi, dan berhasil memenangkan MDG’s Award karena gerakannya ini. Dalam salah satu kesempatan obrol ringan, seorang senior saya mengatakan bahwa salah seorang temannya, memang membekali anaknya yang SMA dengan kondom. “Gue gak mungkin lagi bisa mencegah dia buat gak free sex. Ya udah, sekarang mah yang penting sex aman” ucapnya menirukan kata-kata temannya tersebut.

Secara otomatis, saya bergidik mendengar cerita itu. Itu bukan suatu cerita. Itu realita. Bukan takabur. Tapi satu suara dari relung batin saya berteriak keras; “sampai akhir hayat saya, di zaman apapun saya berada, saya tak ingin melakukan hal itu! Saya tetap ingin punya optimisme bahwa anak-anak saya bisa menangkal hal-hal negatif yang ada di sekitarnya.  Saya ingin tetap memegang teguh nilai bahwa zina itu, adalah kekejian yang amat sangat”. Saya tidak tahu pengalaman apa yang dialami oleh ibu diatas, sampai sedemikian hopeless dan pesimisnya ia.

Tapi benar. Saya tak ingin sampai pada titik saya membekali anak-anak saya kondom. Saya masih ingin mengupayakan seluruh kemampuan yang saya bisa, dari ujung rambut sampai ujung kaki -pikiran, perasaan, pengetahuan, pengalaman, doa- untuk membekali hal lain yang membuat anak-anak saya bisa berkata “tidak” meskipun seluruh dunia melakukan free sex. Mengatakan “tidak” meskipun mengkonsumsi napza adalah hal yang biasa di zamannya kelak.

Saya akan berusaha keras  untuk bisa membekali anak-anak saya dengan kemampuan rasional. Kemampuan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk untuk masa depannya, berdasarkan daya pikir logisnya.

Saya akan berusaha keras  untuk bisa menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak saya, agar mereka tetap merasa “i’m someone” saat teman-temannya mengucilkan mereka karena tak mau ikut-ikutan.

Saya akan berusaha keras bisa menanamkan rasa takut akan hari kematian dan pengadilan nanti.

Saya akan berusaha keras menciptakan hubungan emosional yang kuat di keluarga kami, sehingga anak-anak selalu punya “tempat kembali” yang akan menerima mereka unconditionally, sehingga meraka tak perlu lari ke pangkuan bandar narkoba atau pelukan pacar.

Dan….saya akan menanamkan memori-memori indah mengenai masjid.

Saya yakin dan percaya, orang-orang yang terikat hatinya dengan masjid, orang-orang yang kala sedih dan gundah merindukan masjid, akan punya kekuatan untuk menangkal keburukan. Bukankah masjid adalah rumah Allah? Merindukan masjid berarti merindukan dekat dengan Allah. Dan kerinduan serta keterikatan emosional pada masjid ini, haruslah dimulai dengan “paparan” yang intensif oleh kegiatan di masjid.

Ah, sebenarnya…kebutuhan anak di mana-mana adalah sama. Berlarian dan berkejaran…lalu kalau lelah mereka akan tertidur. Tapi memberikan pengalaman berlarian dan berkejaran di masjid, tidur di masjid saat itikaf, memasukkan memori indah tentang masjid yang menyenangkan, menanamkan memori dari sensori mereka yang melihat orang khusyuk berdoa, mendengar nyamannya orang membaca Qur’an, harmoninya sholat berjamaah….saya yakin, akan menjejakkan satu “bekas” dalam perasaan mereka.

Bukankah ilmu neurosains menemukan bukti nyata bahwa setiap kali kita meng-alam-i satu kejadian, maka itu akan mengubah struktur otak kita dan membuat otak kita menjadi unik satu sama lain? Maka, saya yakin….struktur otak anak yang punya memori dan kenangan indah di mesjid akan berbeda dengan struktur otak anak yang tidak pernah terpapar kegiatan di mesjid.

Jadi, dengan seluruh upaya yang akan sekuat tenaga saya lakukan, dilengkapi dengan jurus pamungkas yaitu doa agar Allah selalu menjaga anak-anak kami, semoga saya bisa terus mengobarkan optimisme….. bahwa saya tak harus membekali anak-anak saya dengan kondom.

Next Newer Entries