Ada berapa “Indera” pada anak kita ? (part one)

Tanggapan setiap orang terhadap lingkungannya, sangat tergantung dari apa yang ia “rasakan” dari lingkungan. Kita “merasa” melalui sistem sensori yang kita punya. Misalnya, kita akan segera menarik tangan kita saat tangan kita menyentuh duri. Kenapa kita melakukan itu? karena sistem indera peraba kita merasakan sensasi tajam itu, lalu dengan segera mengirimkan informasi pada otak dan otak pun “memerintahkan” tangan untuk bergerak menjauh. Kenapa? karena kalau tetap di situ, tangan akan terluka.

Dalam proses “belajar” anak (belajar tidak hanya di dalam kelas, tidak hanya dalam konteks akademis), tanggapan anak kita pun pada lingkungan, sangat tergantung dari akurasi sensorinya. “Anak memahami dunia melalui indera yang dimilikinya”.  Itulah sebabnya mengapa kita harus menstimulasi seluruh indera anak kita, sehingga anak kita memiliki beragam pengalaman dan pengetahuan melalui inderanya, yang akan menyebabkan ia memberikan tanggapan secara tepat.

Langkah pertama untuk bisa menstimulasi indera anak kita adalah, dengan mengetahui ada berapa dan apa saja indera yang dimiliki anak kita. Istilah yang amat populer mengenai indera adalah PANCA INDERA. Lima indera. Penglihatan (mata), pendengaran (telinga) , penciuman (hidung) , perabaan (kulit) , perasa (lidah). Kita mungkin mendengar ada beberapa anak yang memiliki INDERA KEENAM. Sebenarnya, semua anak kita punya indera keenam. bahkan dia punya INDERA KETUJUH  loh…..

Yups, 2 indera pada anak kita, belum banyak diketahui oleh orangtua. Itulah sebabnya orangtua jadi tidak “aware” untuk menstimulasi indera keenam dan ketujuh ini. Indera keenam dan ketujuan  anak kita adalah :

Indera Vestibular: Indera ini terletak dalam telinga bagian dalam. Indera ini “memberitahu” kita bagaimana posisi kita diatas permukaan bumi ini. Apakah kita sedang bergerak atau diam;seandainya bergerak, kearah mana gerakan itu, berapa kecepatanya dan sebagainya.

Indera Proprioceptive : Terletak dalam otot, sehingga  persendian dan jaringan ini ini akan menginformasikan ke otak perihal posisi badan dan gerakan yang dikerjakan, termasuk juga kekuatan.

Ketujuh indera yang dimiliki anak kita harus bisa “bekerjasama” agar anak kita bisa memberikan tanggapan yang sesuai terhadap lingkungannya. Rangkain proses menerima, mengolah dan selanjutnya memberi respon inilah yang disebut dengan integrasi sensori.

SIJadi, saat anak kita tidak bisa memberikan “tanggapan” yang sesuai terhadap lingkungannya;  misalnya sering nabrak teman, sulit berkonsentrasi, sangat pemilih terhadap makanan, mungkin…itu karena kita kurang memberikan stimulasi pada seluruh indera yang dimiliki anak kita.

Bagaimana cara menstimulasi ketujuh indera kita agar bisa “bekerjasama” dengan baik sehingga anak kita bisa menyerap banyaaaaak hal dari lingkungannya secara akurat dan bisa memberikan tanggapan yang tepat?

Insya allah akan diulas pada tulisan selanjutnya 😉

 

Saat anak kita “bermasalah” ….

Dalam beberapa sesi parenting yang saya isi, biasanya saya memulai dengan memberikan “kuis”. Kuisnya sih sederhana, saya berikan pernyataan dan peserta diminta memilih apakah jawabannya benar atau salah. Selain berfungsi sebagai ice breaker, melalui “kuis sederhana” ini saya bisa mengetahui pengetahuan serta “value” peserta mengenai materi yang akan saya bawakan. Salah satu pertanyaan yang sering dijawab salah oleh para peserta adalah pertanyaan saat anak kita “bermasalah” atau melakukan perilaku yang “buruk”, kita harus menerimanya. Rata-rata peserta menjawab “salah” …..

Saya percaya dan meyakini, bahwa orangtua terutama ibu adalah “perwujudan” sifat Rahim-nya Allah. Salah satu penafsiran “Rahim” dalam tafsir Al Misbah adalah, rahim itu adalah kasih sayang Allah untuk seluruh umat manusia. Mau muslim atau bukan, mau baik atau jahat….  Di dalam diri seorang ibu ada yang namanya “rahim”, tempat ia mengandung anaknya selama sembilan bulan. Jadi, seorang ibu haruslah memiliki sifat rahim; yaitu menyayangi anaknya; mau anaknya melakukan perbuatan baik atau buruk, berprestasi atau tidak, “bermasalah” atau tidak……dalam psikologi, itulah namanya unconditional love. Anak tak perlu memenuhi  persyaratan apapun untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang ibunya.

Salah satu bentuk dasar dari mencintai dan menyayangi adalah menerima apapun kondisi anak kita. Baik kondisi yang baik maupun yang buruk. Secara lebih konkrit, saat anak kita mengalami kondisi perkembangan yang kurang ideal: misalnya mengalami gangguan perkembangan tertentu, yang pertama kali yang harus kita lakukan adalah menerima kondisi itu. Misalnya anak kita mengalami mental retardation sehingga perilakunya jauuuuh dibanding usianya, anak kita mengalami autism, speech delay, attention deficit disorder, kesulitan belajar, dll dll. Demikian pula jika anak kita melakukan sesuatu yang buruk; misalnya kecanduan nonton pornografi, agresif sehingga membully temannya, melawan, sampai hal-hal sederhana seperti malas belajar, tidak disiplin, dll.

Kenapa menerima ini menjadi hal yang sangat penting? Karena sikap ini akan menentukan secara signifikan langkah apa yang selanjutnya dilakukan oleh si ibu, dan apa efek jangka panjangnya pada anak. Ibu yang “tidak menerima” kondisi anaknya, output perilakunya ada dua : (1) dia akan menyalahkan lingkungan, atau (2) dia akan menyalahkan anaknya. Misalnya seorang ibu punya anak hiperaktif. Di tempat umum, anak tersebut “mengganggu” orang lain. Jadilah orang lain komplain terhadap si ibu. Jika si ibu tidak menerima kondisi anaknya, yang mungkin dilakukan si ibu adalah tidak mau mendengarkan dan menyalahkan orang yang complain terhadapnya, atau memarahi anaknya yang sudah “mengganggu” orang lain. Kalau seorang ibu tak mau menerima bahwa anaknya mencuri uang teman sekelasnya, bisa jadi sikap ibu adalah mengatakan itu salah sekolah atau teman anaknya, atau memarahi anaknya.

Saya tidak mau bicara teori mengenai sikap “menerima” seorang ibu ini. Saya ingin cerita tentang penghayatan saya, karena saya mengalaminya.

Berbeda dengan kakaknya yang perkembangannya smooth dan “baik-baik saja”, anak kedua saya Umar yang sekarang sudah kelas dua SD, kondisinya membuat saya harus menghayati dan belajar mengenai makna unconditional love. Ya, hanya mengenai Umarlah saya sering menangis. Beragam macam tangis. Ia punya kelebihan yang amat menonjol sehingga beberapa kali saya menangis haru atau bangga, di sisi lain dia pun punya kekurangan yang menonjol yang membuat saya menangis sedih, khawatir atau kesal karena perilakunya.

Salah satu kondisi yang harus saya terima dari dia adalah kecenderungan perilaku “ADD”-attention deficit disorder- atau bahasa indonesianya “gangguan pemusatan perhatian”. Memang sangat ringan. Bahkan untuk akademik tidak mengganggu. Alhamdulillahnya dia dikarunia kecerdasan sehingga dengan masalahnya ini, dia tetap mendapatkan nilai-nilai yang menonjol. Hanya yang terasa cukup siginifikan adalah dalam perilakunya dan muncul secara nyata waktu dia mulai masuk SD. Kehilangan buku dan alat tulis di sekolah seriiiing sekali terjadi. Ketinggalan alat tulis dan buku untuk dibawa ke sekolah pun bukan sekali-dua kali. Kehilangan jadwal pelajaran, jadwal ujian dan informasi penting lainnya dari sekolah pun tak jarang terjadi. Di semester satu kelas satu, yang saya lakukan adalah …. “menasehati”, “memberi konsekuensi” (gak beliin lagi dia alat tulis untuk ganti alat tulisnya yang ilang)….”mengomeli” …… yang semuanya itu, ternyata tak berhasil menyelesaikan masalah. Saya tetap kesal, perilaku Umar tak berubah. Nangis karena kehilangan barang atau gak tau besok mau ujian apa, sering terjadi.

Sampai suatu saat, saya ketemu dengan seorang anak. Remaja. Dia kecanduan main game. Ada  kata-kata anak itu yang begitu “menusuk” buat saya : “Saya pengen mama bantu saya. Nyita komputer saya kek, apa kek…gak cuman nasehatin atau marahin. Saya tau banget apa yang saya lakukan salah, sia-sia, gak berguna…saya juga pengen berhenti….tapi saya gak bisa sendiri…. saya perlu dibantu….saya gak mau ditinggalin berjuang sendirian” .

Ya Allah…..itulah yang selama ini saya lakukan pada Umarku. Saya “meninggalkannya berjuang sendirian”. Saya hanya menuntutnya…tak mau peduli kesulitan yang ia alami. Ya, sebagai psikolog harusnya saya paham betul bahwa perilakunya selama ini bukan karena dia “lalai”, “tidak bertanggungjawab”, tapi dia mengalami situasi yang harus dibantu !

Saya juga jadi ingat….dua poin dalam kuesioner yang bisa digunakan dalam pemeriksaan psikologi pada siswa adalah poin pertanyaan: (1) a. apa mata pelajaran yang kamu rasakan sulit? b. bagaimana reaksi orangtuamu? (2) a. pada mata pelajaran apa kamu sering mendapat nilai jelek? b. bagaimana reaksi orangtuamu? Dari ratusan data yang pernah saya baca, hampir seluruh  jawaban untuk pertanyaan 1b adalah “menasehati”, dan hampir seluruh jawaban untuk pertanyaan 2b adalah “memarahi”.

Tidak !!! saat anak kita mengalami masalah, dia tidak butuh dinasehati, apalagi dijudge, diomelin, dihukum, dimarahi……yang dia butuhkan adalah diterima, dipahami, ditemani dan dibantu untuk memecahkan masalahnya.
Jangan-jangan, saat kita hanya menuntut dan tak mau “terjun” membantu anak kita mengatasi masalahnya, itu karena kita juga gak tau gimana cara mengatasinya !!! Sebenarnya, kita gak perlu jadi “super” dan “bisa” memecahkan masalah anak kita sendirian….tapi sikap menerima, memahami, menemani dan membantu, akan mengarahkan kita pada upaya mencari bantuan dari pihak lain…jadi anak juga belajar dan punya model untuk melakukan langkha-langkah pemecahan masalah…

Sejak saat itu sikap saya pada Umar berubah. Memang berproses. Saya harus berterima kasih banyak pada Mas, yang banyak membantu saya untuk memahami kondisi Umar (mungkin karena mas memiliki kecenderungan yang sama dengan Umar haha….). Saya mengajarkannya untuk melakukan tindakan antisipasi untuk menanggulangi masalahnya. Setiap kali dia mendapat surat penting, entah itu jadwal uts, jadwal pelajaran, dll saya ajarkan dia untuk menscannya langsung. Jadi, saat hilang dia masih punya kopiannya di komputer. Saya ajarkan dan ingatkan terus untuk menyimpan semua keperluan sekolahnya di meja dan lemari belajarnya. Saya belikan styrofoam buat dia menempelkan seluruh lembaran penting yang dia dapat dari sekolah. Dan dengan cara yang amat sederhana ini, seluruh permasalahan mengenai kehilangan informasi penting dari sekolah, terselesaikan ! Lupa bikin PR yang dulu sering terjadi? sudah tak pernah terjadi lagi dengan aturan membereskan buku dan mengecek pelajaran untuk pelajaran besok siang hari sepulang sekolah, sebagai syarat dia boleh main.

Tentunya masih ada stau-dua insiden. Minggu lalu dia menangis pagi-pagi sambil mencari buku PKNnya hilang. Ada yang berubah dalam diri saya. Dulu, kalau dia nangis gitu, saya akan mengomeli dia….tapi minggu lalu itu, saya tatap wajahnya….saya rasakan kepanikannya dan ketakutannya…ya, saya tahu….dia menangis bukan karena tidak bertanggungjawab seperti yang sebelumnya suka saya bilang ke dia. Dia menangis karena bingung bagaimana dia belajar di sekolah nanti…dia menangis karena menyesal tidak disiplin menyimpan bukunya. Dia menangis, perlu dibantu. Akhirnya saya tenangkan dia, menawarkan mengontak gurunya untuk menjelaskan, dan meminta dia meminjam buku temannya untuk difotokopi kalau sampai besok buku itu dicari tidak ketemu.

Malam ini, dia minta saya membantunya menghafal perkalian. Gurunya bilang  yang belum lulus test gak boleh ikut fieldtrip lusa. Fieldtripnya ke waterboom, yang dia suka banget. Senin dan Selasa dia sudah ditest dan gagal. Saya pandangi wajah kusut dan cemasnya. Saya carikan link di youtube yang bisa memudahkan menghafal perkalian itu. Saya ajak dia liat yutub itu, saya test dia…dan ketika jawabannya selalu salah serta membuat saya secara otomatis ingin marah, saya coba ingatkan diri saya….dia perlu dibantu. Saya minta dia tidur dan janji membangunkannya jam empat untuk mulai menghafal lagi. Setengah jam lalu dia terbangun, mengambil kertas PRnya yaitu menuliskan perkalian itu dalam 3 lembar HVS yang belum dia selesaikan….

you are not aloneSaya selalu menghayati bahwa, setiap anak yang Allah anugerahkan pada kita, mengajarkan sesuatu pada kita. Dan dari Umar-ku, saya belajar bagaimana mencintainya dengan tulus, dan selalu mengatakan “you are not alone, i’m here with you…”

Hot Issue : Test Kematangan Masuk SD (Part Three)

cccccccccccccTulisan ketiga ini akan mencoba menjawab pertanyaan : Apa aja sih, yang “diukur” dalam pemeriksaan kematangan masuk SD?

Pada umumnya, minimal ada 3 hal yang diukur: (1) Potensi kecerdasan; (2) Profil kemampuan dasar belajar; (3) Aspek perilaku belajar.

(1) Potensi kecerdasan

Hal ini diukur untuk mengetahui potensi anak dalam menangkap dan memahami materi pembelajaran maupun memahami lingkungan nantinya. Populer dengan istilah “Test IQ” . Perlu teman-teman ketahui, bahwa ada beberapa alat ukur kecerdasan untuk anak. Beragam alat ukur ini berbeda-beda karakteristik, prosedur pemeriksaan dan hasilnya. Psikolog akan memilih alat ukur mana yang paling pas sesuai dengan kebutuhan, baik dalam proses maupun hasilnya. Intinya, psikolog akan memilih alat ukur yang efektif dan efisien. Biasanya, alat ukur yang digunakan dalam pemeriksaan kematangan masuk SD tidak mengeluarkan angka IQ tertentu, namun memberikan informasi bagaimana taraf potensi kecerdasan anak dibandingkan anak seusianya. Jika hasilnya diatas rata-rata, artinya anak potensial untuk menangkap dan memahami informasi lebih cepat dan lebih baik dibandingkan anak seusianya, dst. Saya ingin menekankan kata POTENSIAL. Kenapa? karena aktualisasi hasil belajar anak nantinya merupakan resultan dari faktor potensi dan perilaku belajar anak.

(2) Kemampuan dasar belajar anak

Jadi, yang diukur sama sekali bukan kemampuan membaca, menulis berhitung. Namun kemampuan dasar belajar untuk belajar calistung. Kalau kemampuan dasarnya udah okeh, udah matang, udah siap, mau diajarin apa aja gampang….ibarat buat rumah, yang diukur adalah kekuatan fondasinya. Kalau fondasinya sudah siap, mau dibikin rumah model apa aja, berapa tingkat pun, tak akan goyah.

Perlu saya sampaikan disini bahwa ….semakin saya mempelajari, semakin saya memahami dan menghayati bahwa….membaca, menulis dan berhitung itu adalah…kemampuan yang amat sangat kompleks ! sama sekali tak mudah ! Itulah sebabnya, dasarnya harus kuat.

Menurut Dechant (1982), inilah “segambreng” keterampilan yang harus dikuasai anak untuk bisa membaca: (1) Keterampilan mendengar dan berbicara, (2) Perkembangan pemahaman konsep, (3) Keterampilam visual-perception, (4) Keterampilan auditory perception, (5) Pengetahuan tentang huruf alphabet, (6) Penguasaan arah dari kiri – kanan, (7) Pengenalan kosa kata.

Beda lagi kemampuan untuk menulis…lalu berhitung….

Makanya suka sediiiiih banget kalau liat guru prasekolah yang maksa anak 4 tahun untuk tulis sambung, ngasih PR baca berlembar-lembar…aduuuuh…..itu teh kayak maksa bayi 6 bulan buat lari…..bullying itu….dzalim….serius….

Salah satu alat ukur yang banyak digunakan di Indonesia untuk mengukur aspek-aspek kemampuan dasar belajar ini namanya adalah NST, singkatan dari Nijmeegse Schoolbekwaamheids Test. Kalau dari kepanjangannya sih kayaknya bahasa batak ya haha…Penyusunnya adalah Prof. F.J. Monks, Drs. H. Rost, dan Drs. N.H. Coffie. Dari Belanda.

Alat ini mengukur kemampuan anak dalam kemampuan: mengamati perbedaan bentuk; motorik halus; pemahaman konsep dasar matematika seperti besar, jumlah, perbandingan dan urutan; ketajaman pengamatan, daya pikir kritis, kemampuan berkonsentrasi, daya ingat, wawasan dan pemahaman konsep-konsep sosial, kemampuan menangkap inti cerita, dan penghayatan anak mengenai bagian tubuhnya.

Mengapa kemampuan-kemampuan itu yang diukur? karena kemampuan-kemampuan itulah sesungguhnya yang akan jadi fondasi yang dibutuhkan agar anak bisa memenuhi tuntutan akademik di SD, termasuk calistung. Untuk bisa membaca, anak harus bisa membedakan beragam bentuk. Maka, kalau kita frustasi dan anak stress karena diajarin baca ketuker terus huruf b,p, d, q, t, f….coba cek dulu kematangan persepsi membedakan bentuknya…apakah anak sudah mengerti belum arah kiri-kanan….mau berapa ratus kali pun kita mengatakan “b itu, yang gendutnya ke arah kanaaaan…kalau d, yang gendutnya ke kiri”…kalau anak belum menghayati mana bagian tubuhnya yang ada di kanan dan di kiri mah…anak gak akan bisa.

Anak kita sudah bisa baca tapi gak ngerti isi bacaan? cek dulu kemampuan anak menangkap isi cerita. Konon katanya, anak-anak Indonesia itu, dibandingkan dengan anak-anak di negara lain,  juara dalam hal “cepat bisa membaca”. Pan anak-anak umur 4 tahun aja udah pada les baca…..Dan, juara pula dalam hal memahami isi bacaan. Cuman untuk pemahaman terhafap bacaan, juaranya dari belakang…. Apalagi dalam minat baca….

Konsentrasi…menurut pengalaman saya, ini nih yang membuat banyak anak dengan potensi kecerdasan yang okeh, tapi kemampuan belajarnya gak optimal. Secara umum, ada 4 kemampuan memusatkan perhatian yang akan membuat anak mampu menyerap informasi dari lingkungan. Entah itu menyerap materi pelajaran yang diajarkan guru, atau melakukan apa-yang disuruh orangtuanya.

(1) Kemampuan memfokuskan perhatian pada sumber tertentu. (2) Kemampuan memfokuskan perhatian pada sumber tertentu, dalam jangka waktu tertentu. (3) Kemampuan mengubah fokus perhatian dari satu kegiatan ke kegiatan lain. (4) Membagi fokus perhatian pada lebih dari satu kegiatan dalam satu waktu.

Anak usia SD, menurut perkembangannya seharusnya sudah bisa mempertahankan fokus perhatian, dan bisa memfokuskan perhatiannya pada lebih dari satu kegiatan. Misalnya, sambil menulis anak bisa mendengar gurunya memberikan instruksi.

Hal yang terkait dengan kemampuan konsentrasi ini adalah…motorik kasar ! Untuk bisa duduk diam memfokuskan perhatiannya, anak harus sudah seimbang tubuhnya. Keseimbangan dan kemampuan mengendalikan tubuh ini, tidak didapat dengan cara instan. Ia adalah dengan latihan. Latihannya, stimulasinya adalah…dengan melakukan beragam kegiatan motorik kasar anak, mulai dari yang mengarahkan energi seperti lari;  melatih kesimbangan seperti berjalan meniti, engklek; melatih koordinasi visual motorik seperti lempar tangkap bola; melatih sensori integrasi seperti berayun, dsb.

Hasil pemeriksaan beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa kemampuan motorik kasar anak, yang kemudian berpengaruh terhadap kemampuan berkonsentrasi biasanya tertinggal dibandingkan kemampuan kognitif. Oleh karena itu saya sangat pesankan…stimulasi motorik !

(3) Sikap belajar anak (kematangan emosi)

Di SD, situasi pembelajarannya pada umumnya bersifat klasikal. Rata-rata rasio guru : murid adalah 1: 12. Di sekolah negeri, bisa jadi 1 guru 35-40 siswa. Situasi ini menyebabkan kemandirian anak dalam mengerjakan tugas menjadi sangat penting. Biasanya informasinya didapat dari guru dan juga observasi selama pemeriksaan.

Demikianlah…semoga bermanfaat. Mata saya sudah 5 watt…alhamdulillah tuntas juga.

Kalau ada pertanyaan-pertanyaan yang masih wara-wiri di pikiran teman-teman, mangga kita diskusikan…

Hot Issue: Test Kematangan Masuk SD (Part Two)

Tulisan kedua ini akan mencoba menjawab pertanyaan : kenapa sih, mau masuk SD anak harus “matang” ? 

Gak ada kan, yang namanya “test kematangan masuk SMP, SMA, Perguruan Tinggi dst…” (hhhmmm…sebenarnya ada juga sih, cuman memang istilahnya bukan”kematangan”, dan gak terlalu bikin panik ibu-ibu hehe….).

Menurut buku yang pernah saya baca (dan saya lupa banget itu buku yang mana ya….). Ada beberapa alasan mengapa anak harus dipersiapkan untuk “siap” (jujur aja saya lebih suka kata “siap” dibanding “matang” 😉 memenuhi pembelajaran di SD. Alasan-alasannya adalah karena Sekolah Dasar sebenarnya adalah institusi formal pertama yang diikuti anak. Sebelum masuk SD, institusi yang anak-anak ikuti kan namanya “Pra-sekolah” bukan? Ada karakteristik dan tuntutan di SD yang berbeda jauh dari karakteristik dan tuntutan di Pra sekolah.

      Ada perubahan dari kegiatan bermain bebas pada tahap sebelumnya menuju kegiatan yang menghasilkan produk tertentu.

Meskipun anak-anak kita sekolah di sekolah swasta yang biasanya gak sepenuhnya memenuhi tuntutan Diknas dan punya awareness terhadap perbedaan kemampuan anak, tetep aja ada target-target pemahaman yang harus dicapai anak. Ada yang namanya KKM. Kriteria Ketuntasan Minimum. Apapun alasannya, si murid harus mencapai nilai itu. Jika tidak? remedial lah jalannya.

       Anak belajar bahwa mereka akan mendapat pengakuan melalui kualitas kerja yang mereka hasilkan.

Di TK, PAUD atau apapun institusi pra-sekolah, kegiatan hanyalah media untuk melatih kemampuan dasar belajar anak. Menggambar, adalah media untuk melatih kemampuan motorik halus anak. Ada anak tak suka menggambar sehingga gak pernah selesai? di prasekolah tetep…dapat bintang. Dan bu guru akan mencari cara lain untuk melatih kemampuan motoriknya. Mencocok, meronce, “menjahit”, menyusun balok, dll. Di SD? ada yang namanya nilai. Di raport, ada nilai. Entah itu skor maupun huruf mutu.

       Dalam bidang akademik, anak harus bisa berkonsentrasi untuk menerima materi pelajaran dan mengembangkan metode untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan padanya.

Sebagai emak yang udah punya dua anak di SD, kelas 5 dan kelas 2, saya menyadari betul bahwa tahapan materi itu, benar adanya. Anak-anak yang belum menguasai penjumlahan dan pengurangan di kelas 1, tidak akan bisa menguasai perkalian di kelas dua. Artinya, mereka akan sangat sulit memahami materi pecahan, desimal dan prosentase di kelas 4. Setiap materi pelajaran di SD, harus ia kuasai karena merupakan syarat untuk bisa menguasai materi selanjutnya. Apalagi sudah bukan rahasia umum lagi, banyak emak yang meradang dan guru-guru yang kebingungan gimana caranya ngajarin pelajaran SD sekarang yang udah bujubune tingkat kesulitannya.

       Dalam bidang sosial, anak harus bisa menyesuaikan diri dengan aturan di lingkungan sekolah yang mungkin berbeda dengan aturan di rumah.

Kalau di prasekolah, aturan relatif “cair”. Misalnya Hana, hampir tiap hari telat 30 menit sampai satu jam … gak pernah tuh dapat hukuman dari sekolahnya hehe….Kalau di SD, mulai ada aturan yang secara mutlak harus dipenuhi anak. Minimal, tidak telat datang, pake seragam, gak boleh bawa mainan, dll dll.

       Anak  juga harus bisa menyesuaikan diri dalam pergaulan dengan teman sebaya agar dapat menjalin persahabatan.

Usia SD adalah usia dimana perkembangan sosial anak berkembang pesat. Anak-anak yang tidak siap secara sosial, potensial mendapatkan masalah. “ditolak” teman, dibully, yang  potensial berdampak negatif panjang.

bbbbbbbbbbbbbbbbbb       Daaan…kalau di luar negeri mah ya, isu kematangan anak masuk SD itu, tak hanya berfokus pada kesiapan anak loh…tapi mereka memandang bahwa kesiapan anak ini merupakan produk dari kesiapan lingkungannya. Orangtua dan sekolah. Kayaknya kita di Indoensia ini harus mulai pula menanamkan paradigma ini.

next : Apa aja sih, yang “diukur” dalam pemeriksaan kematangan masuk SD?

 

Hot Issue : Test Kematangan Masuk SD (part one)

Sebulan ke belakang dan sebulan ke depan saya dan tim disibukkan oleh satu kegiatan rutin setiap bulan Februari dan Maret: membantu beberapa TK untuk melaksanakan pemeriksaan kematangan masuk SD untuk siswa TK B-nya, dan evaluasi perkembangan untuk siswa PG dan TK A-nya. Dalam tulisan ini, yang akan saya ulas adalah mengenai pemeriksaan kematangan masuk SD.

Beberapa teman yang anaknya akan masuk SD tahun ini, yang sudah ada di TK B mungkin putera/puterinya sudah menjalani pemeriksaan kematangan masuk SD ini, baik di TK asalnya maupun SD yang akan dituju. Teman-teman pun mungkin sudah menerima hasil laporan pemeriksaannya. Sebagian mungkin sudah mendapatkan penjelasan langsung dari psikolog bagaimana cara membaca dan memahami isi laporan.

Tulisan ini saya tujuan pada teman-teman yang belum mendapatkan penjelasan utuh mengenai segala macam hal yang terkait dengan pemeriksaan masuk SD ini. Ini adalah rangkuman dari sesi parenting yang kemarin saya berikan di salah satu TK yang saya bantu.

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa(1) Tujuan Pemeriksaan Kematangan Masuk SD

Pemeriksaan kematangan masuk SD memang merupakan kewenangan psikolog, karena merupakan salah satu pemeriksaan psikologi. Pihak yang meminta, bisa institusi bisa individual. Untuk institusi, biasanya ada dua: TK dan SD. Untuk TK, pada umumnya tujuannya adalah untuk “memotret” kondisi kesiapan siswa-siswa TK B-nya untuk masuk SD. “Potret” yang didapat akan dimanfaat untuk mengarahkan stimulasi individual anak baik oleh guru dan orangtua. Saya sangat mendukung tujuan ini. Jika dilaksanakan bulan Februari/Maret, masih ada waktu sekitar 3 atau 4 bulan untuk menstimulasi aspek kemampuan dasar belajar anak yang belum berkembang secara optimal.

Adapun jika dilakukan di SD, biasanya SD swasta. Menurut pengalaman saya ada dua tujuannya: (1) Seleksi. Biasanya dilakukan oleh sekolah-sekolah “paporit” yang jumlah peminatnya jauuuuuh lebih banyak daripada jumlah kursi yang tersedia. Seperti hukum seleksi lainnya, maka yang paling keren hasilnya : yang paling pinter dan yang paling matang-lah yang akan diterima. Secara personal, saya merasa agak kurang sreg dengan tujuan ini. Meskipun saya juga bisa memahami, hal ini dilakukan bukan karena para guru di sekolah tersebut hanya mau menerima calon siswa yang “sudah jadi”, namun karena itu tadi…jumlah murid yang dapat diterima tak sebanding dengan jumlah murid….eh, jumlah orangtua murid yang ingin masuk sekolah tersebut. Tujuan yang ke(2) adalah untuk “inventarisasi potensi psikologi”. Sekolah seperti ini biasanya adalah sekolah inklusi, yang tak memberlakukan sistem seleksi. Prinsip mereka adalah: Siapa daftar cepat, dia dapat” 😉 . Hasil pemeriksaan psikologi akan dijadikan informasi bagi guru untuk menstimulasi anak-anak tersebut secara individual. Guru di SD kelas 1 nanti jadi tahu; Si A, harus dimatengin dulu motorik halusnya. Sedangkan si B, perlu pendekatan semi individual karena rentang konsentrasinya belum sesuai dengan usianya, dst dst.

Ada lagi pemeriksaan yang dilakukan oleh orangtua, ini terbagi dua. (1) Yang diminta oleh sekolah. Biasanya, yang meminta adalah sekolah negeri. Menurut informasi yang saya terima, katanya ada peraturan yang menyatakan bahwa syarat masuk SD di sekolah negeri adalah jika usia anak sudah 7 tahun. Jika masih ada kuota, boleh yang dibawah 7 tahun tapi dengan “rekomendasi” kematangan dari psikolog. (2) Inisiatif orangtua sendiri. Biasanya, orangtua yang datang ke psikolog untuk tujuan mengetahui kamatangan anaknya masuk SD, karena sekolah anaknya tak menyelenggarakan pemeriksaan tersebut  dan alasan terbanyak adalah ragu karena usia anak “nanggung”, sehingga butuh informasi apakah lebih baik memasukkan anaknya ke SD tahun ini atau tahun depan.

bersambung ke bagian dua: “kenapa sih, mau masuk SD anak harus “matang” ?