Seperti tulisan di pantai yang terhapus ombak ….

Bahwa dalam kehidupan yang singkat ini kita harus berlomba-lomba melakukan amal, semua sudah tahu itu. Namun amal yang bagaimana, mungkin tak semua tahu. Dalam AlQur’an, kita diperintahkan untuk berlomba-berlomba melakukan “ahsanu amala”.

Amal yang baik. Bukan amal yang banyak.

Abu Nu’aim rahimahullahu dalam Hilyatul Auliya (8/95) berkata:

Menceritakan kepada kami Bapakku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Yazid dan Muhammad bi Ja’far berkata keduanya, menceritakan kepada kami Ismail bin Yazid, menceritakan kepada kami Ibrohim bin Al-’Asy’ats, beliau berkata aku mendengar Al-Fudhail bin ’Iyadh berkata tentang firman Allah: ”Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”, beliau berkata: ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah”.

Konon, katanya…concern kita lebih sering tertuju pada melakukan banyak amal, namun tak begitu concern apakah amal kita itu diterima atau tidak oleh Allah. Salah satu upaya agar amal kita diterima, adalah dengan memperhatikan keikhlasan kita. Itulah yang ingin saya ulas dalam tulisan ini.

Kalau di buku pelajaran SD, ikhlas itu artinya “melakukan sesuatu tanpa mengharapkan balasan”. Di sinetron-sinetron atau dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dengar ada orang yang  bicara…”walaupun dia itu bla..bla..bla..saya mah ikhlas…” Mmmmhhh…ternyata mengikuti prinsip NO GAIN WITHOUT PAIN, ikhlas itu tak mudah loh…karena balasan keikhlasan itu sungguh besar….

Ustadzah yang rutin mengisi kajian rutin ibu-ibu di komplek saya menggambarkan “ikhlas” dengan sangat indah. “Seperti kalau kita nulis di pantai, lalu tiba-tiba datang ombak menyapu tulisan itu…sebanyak apapun tulisan kita, sepenting apapun tulisan kita, hilang….tak berbekas. Itulah ikhlas”…kata beliau. Dalem banget…..Artinya, saat kita mengungkit-ungkit apa yang telah kita lakukan, baik pada orang lain maupun pada diri kita sendiri (kan ada percakapan inter-personal, ada percakapan intra-personal), maka itu berarti kita sudah tak ikhlas.

Ikhlas itu berat? ya….sesuai dengan kemuliaan balasanNya. Bu ustadzah memberikan contoh. Misalnya kita pernah masukin kerja seseorang. Berpuluh tahuuuuun….kita sudah tak ingat. Lalu pada suatu hari, orang itu sukses melebihi kita, lalu kita bicara “coba kalau dulu aku gak masukin dia kerja….gak akan dia sukses kayak gitu..”, nah….itu udah gak ikhlas kita.

Makanya, ikhlas itu gak bisa kita “bilang di awal”. Misalnya…”ini saya ngasih ini, saya ikhlas”. Waktu-lah yang akan membuktikan apakah kita “selamat” menjaga keikhlasan kita atau tak selamat.

Karena ikhlas ini amatlah agung, pastilah si syetan akan mencari seribu satu cara untuk merusaknya. Saya pernah menghadapi seseorang yang amat sangat “menyebalkan”, menyebutkan semua kebaikannya pada keluarga saya … saya ingiiiin sekali membalas dengan menyebutkan semua kebaikan keluarga saya pada dia, biar dia ngeuh…bukankah katanya kesombongan harus dibalas dengan kesombongan? Untunglah saat itu Mas mengingatkan saya. “Kasian dia…seluruh kebaikannya habis ketika ia menyebutkan itu tadi…kita jangan seperti itu….”

Salah satu ujian keikhlasan ibu-ibu, adalah pada para ARTnya. Saya juga beberapa kali sering merasa seperti ini: “aduh, si mbak/bibi/teteh/ teh meni gitu…segitu saya udah baik…….(bla bla bla mengingat segala kebaikan saya)…tapi kenapa balasannya begini…pulang gak balik lagi/ atau gak masuk kerja tanpa izin…”

Tah, itu adalah contoh nyata bahwa kita ternyata tak ikhlas. Ternyata, semua kebaikan yang kita lakukan padanya …. secara tak sadar sebenarnya kita berharap belasan dari dia, bahwa dia akan “loyal” pada kita.

Apalagi di jaman ini, dimana ke”narsis”an dianggap sebagai hal biasa…Saya merasakan sekali…sering tak sadar tak menjaga keikhlasan. Kadang saya suka merenung….ada gak ya, sisa amal saya yang “selamat” dan jadi tabungan di akhirat nanti….

Yah..begitulah…banyaaaak sekali hal yang kita lakukan, yang sulit untuk kita jaga keikhlasannya. Kalau kata saya mah, ikhlas itu amalan malaikat. Kenapa? karena sudah “nature”nya manusia itu ingin terlihat kebaikannya. Tapi apakah kita tak mungkin menjadi seorang yang ikhlas? mungkin dooong…kan kita makhluk yang lebih mulia dari malaikat.

ikhlasMENYEMBUNYIKAN AMAL tampaknya adalah rumus generiknya. Memang, untuk amal yang wajib seperti sholat wajib, puasa, haji, zakat…itu mah harus kita tampakkan, karena sebagai syiar. Itulah sebabnya sholat wajib itu, berjamaah di masjid.

Tapi selain amalam wajib, yang sunnah harus kita sembunyikan. Shodaqoh, shalat sunnah…Itulah sebabnya shalat sunnah itu kita lakukan di rumah (konon katanya, di Indonesia ini sering salah…”jarak” antara adzan dan iqomah terlalu pendek, sehingga orang yang sholat sunnah di rumah suka gak kebagian sholat jamaah).

DOA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH AGAR AMALAN KITA DITERIMA, adalah untuk melengkapi ikhtiar kita.

Robbana taqobbal minna innaka antas sami’ul ‘alim

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar
Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah
dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Mendengar lagi
Maha Mengetahui.”

(QS 2 Al Baqoroh Ayat 127)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s