Berlebay Ria pada si Super Sensi

Hari ini, waktu saya jemput Hana dari sekolahnya, si anak TK A itu bercerita : “Tadi Kaka Hana gak mau main angklung”. Waktu saya tanya kenapa, dia menjawab “takut gak bisa, nanti gak dapet bintang”.

Pengalaman punya dua anak yang telah melewati usia 5 tahun -1 laki 1 perempuan-, membuat saya menyimpulkan bahwa pada anak perempuan, ada masa dimana ia berubah menjadi “sensitif”. Takut salah, takut beda, takut dinilai, takut dikritik.

Yups…ungkapan-ungkapan dan perilaku sensitif terhadap kesalahan, sensitif terhadap perbedaan, sensitif terhadap penilaian, sensitif terhadap penolakan dan sensitif terhadap kritikan sedang tampak menonjol pada diri Hana. Saya ingat waktu Azka umur 5 tahun-an pun, fase ini terasa sekali. Tadinya saya pikir ini terjadi karena memang Azka karakter dasarnya peka.Tapi ketika fase ini juga ternyata dialami si “easy going” Hana, saya curiga ini adalah bagian dari perkembangannya.

Gimana sih gambaran perilaku “sensitif” itu?

sensitiveSaya ingat waktu dulu, ada masa Azka gak mau coba sesuatu. Takut salah. Sama seperti Hana, saat itu juga ia sedang senang-senangnya menulis beragam huruf dan angka. Saya gak berani ngasih tau kalau huruf yang dituliskanya kebalik. Karena pernah sekali saya kasih tau gitu, walaupun dengan cara halus …”bagus, tapi seharusnya baliknya kesini“… dia mogok. “Takut salah” katanya. Saya ingat banget Azka bisa nangis dan merobek kertasnya kalau mewarnai keluar garis.

Hana juga demikian sekarang. Selain dalam konteks belajar seperti perilaku Azka, setiap hari Hana cerita bagaimana dia “gak ditemenin sama temannya”, “Kata *** Kaka gak boleh duduk di kursi kuning”, “Kata ***, *** itu temennya dia, Kaka Hana harus cari temen lain katanya”.

Selain itu, dia jadi gak mau main apapun yang sifatnya kompetisi. Bahkan games pun ! misalnya, dia bisa ketakutan dan jerit-jerit histeris kalau adiknya main zombie (dan pasti kalah karena dia belum tau cara mainnya) ….“takut kalah….takut kalah…” katanya.

Sensitif terhadap penilaian? sangat terlihat jelas. Sering ujug-ujug dia nangis ketika saya atau abahnya “mengomentari” penampilannya. Misalnya : “kok mau bobo pake baju pendek?” atau menegur dia yang sehari bisa lebih dari 3 kali ganti baju dengan alasan “basah kena air minum”.

Beberapa hari lalu, mama dari salah satu teman sekelas Hana cerita bahwa anaknya juga menunjukkan perilaku yang sama. Waktu itu saya mencoba berpikir kenapa ya? Kalau yang saya hayati, sebenarnya ini perkembangan yang positif loh….seiring dengan perkembangan kognitif anak yang mulai bisa melihat dirinya dari sudut pandang orang lain, ia menjadi “peka” terhadap bagaimana sikap dan perilakunya dinilai/diterima/ditolak oleh orang lain. Mungkin ini adalah bagian dari “social awareness”; pemahaman sosial yang didasari oleh perkembangan kognitifnya.

Lalu, bagaimana menyikapinya? saya belum sempat cari di referensi. Namun menurut common sense saya, yang paling penting diberikan anak pada fase ini adalah penghargaan. Agar kesensitifannya ini tak berujung pada “mogoknya” dia untuk melakukan sesuatu dan menghambat eksplorasinya. Teknisnya, seperti waktu menganggapi Azka, saya berikan Hana pujian yang sangat lebay, sebagai ganti “umpan balik objektif”.

Misalnya, ketika saya diperlihatkan tulisannya yang terbalik semua, dengan ekspresif saya mengatakan “ya ampun….bagus banget tulisannya…ini teh tulisan anak TK A atau tulisan anak kelas 4 SD sih….” Menurut saya, saat itu umpan balik bahwa tulisannya terbalik dan belum betul, tidak dibutuhkannya. Yang dibutuhkan adalah “encouragement” terhadap perilakunya untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Mudah-mudahan ini berhasil. Soalnya dengan bangga dia “memamerkan” tulisannya sama Mas-nya, “Mas tebak…ini tulisan anak TK A atau tulisan anak kelas 4 SD….” katanya.

Meskipun sudah tau rumusnya, namun seringkali aplikasinya tak mudah. Misalnya waktu mau pergi ke luar suatu hari, Hana memilih baju yang gak nyambuuuuung banget….Aduh…..susah berlebai ria-nya. Si abah yang sudah menangkap gelagat saya akan memberikan “penilaian objektif” segera mengambil alih … “Wah, Kaka Hana pinter banget gabungin bajunya…kreatif¬† banget…abah gak kepikiran baju itu bisa dipake sama kaos yang itu”

Dengan “dukungan” si abah, saya semakin ahli ber”lebay” ria. Kemarin, saya kaget menemukan potongan-potongan rambut kriwilnya berserakan di lantai. Memang akhir-akhir ini ia lagi seneng “dandan”. Hana memergoki saya yang sedang memunguti potongan rambut itu. Wajahnya tampak cemas, langsung saya berkata “Ini kaka Hana yang potong? wah, Kaka Hana berbakat jadi pemotong rambut di salon nantinya….” wajah cemas dan hampir mau memangis itu berubah menjadi wajah dengan mata berbinar. “Nanti kita ke salon lagi ya, biar Kaka bisa belajar cara potong rambut itu gimana” kata saya.

Jujur saja saya tidak tahu sikap saya benar atau salah. Mungkin ini lebih didorong oleh “insting keibuan” saya. Tapi minimal, dengan cara ini saya bisa menghindari terpupuknya perasaan “saya tidak bisa” dan “tidak percaya diri” yang aya temui pada beberapa anak prasekolah, dikarenakan orantuanya terlalu sering memberikan “umpan balik yang objektif” ūüėČ

Dan menurut pengalaman dengan Azka, ada masanya dimana anak bisa menerima “umpan balik objektif” itu dengan “jernih”. Yaitu, saat masa “sensitif”nya telah berlalu.

Jangan main-main dengan kata “sayang”

Pada jaman dahulu kala,waktu saya masih sebagai mahasiswa yang culun (antara tahun 1997-2001) ….dalam beberapa kali kesempatan, saya mendengar beberapa ibu mengatakan pada anaknya:
“Kaka, ayo makan yang bener…kalau enggak, mami gak sayang lagi ah..”
“Ade, gak boleh gitu, kalau kamu gitu, bunda gak sayang sama kamu”
“…nah..gitu doong…kalau gitu, baru ibu sayang …”

Saat itu, saya merasa…ada something wrong dengan ucapan si mami-bunda-ibu…
tapi saya gak tau apa…

Jawabannya saya dapat waktu saya kuliah konseling. Dosen saya, Ibu Prof Sawitri mengenalkan sebuah istilah ….UNCONDITIONAL LOVE…CINTA TAK BERSYARAT…

Yups…saya baru ngeuh apa yang membuat saya tidak sreg dengan ungkapan para ibu itu…
Menurut saya, cinta seorang ibu pada anaknya, haruslah TAK BERSYARAT
Itulah seharusnya, yang membedakan cinta ibu dengan cinta-cinta lainnya di dunia ini.

Bahkan menurut kajian sebagian ahli agama,
Itulah sebabnya mengapa seorang ibu dikaruniai RAHIM.
AR-RAHIM adalah salah satu asmaul husna, yang artinya MAHA PENYAYANG
Bersama ARRAHMAN, ARRAHIM adalah dua sifat Allah yang ada pada kalimah basmalah, yang selalu kita baca bila kita akan berbuat kebaikan.

Menurut Tafsir Al Misbah,
Perbedaan antara RAHMAN dan RAHIM adalah :
ARRAHMAN: menggambarkan bahwa Allah mencurahkan rahmatNya, sedangkan ARRAHIM : menggambarkan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diriNya.

ada juga ulama yang memahami bahwa:
ARRAHMAN : sifat Allah swt yang mencurahkan rahmat yang bersifat sementara di dunia ini, sedangkan
ARRAHIIM : rahmatNya yang bersifat kekal

Dari dua penafsiran tersebut, maka saya menghayati bahwa, seorang ibu…haruslah menjadi cerminan bagaimana Allah menyayangi hambanya secara PERMANEN, dengan TANPA SYARAT.

Teringat juga kisah yang diceritakan seorang ustadz:
Nabi Ibrahim adalah nabi yang terkenal selalu menyiapkan jamuan untuk tamunya, baik yang dikenal maupun tak dikenal. Ia tak pernah makan sendiri, kecuali mengundang orang lain. Suatu saat, ia mengundang seorang tamu untuk menemaninya makan. Ketika Nabi Ibrahim menyalakan api, si tamu langsung menyembah api tersebut. Saat Nabi Ibrahim bertanya, ternyata si tamu adalah kaum majusi, penyembah api. Mengetahui hal itu, nabi Ibrahim mengurungkan niatnya untuk menjamu si tamu, dan mengatakan “maaf, saya hanya mau menjamu orang yang beriman pada Tuhan saya”. Konon, saat itu Allah menegur nabi Ibrahim. “Engkau urung memberi makan orang yang tak menyembah Tuhanmu, sedangkan aku tetap memberi makan seluruh makhluk yang ada di muka bumi, walaupun mereka tak¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† menyembahku”

Kisah di atas menurut saya pas sekali menggambarkan ke MAHA KASIH SAYANG AN ALLAH, yang tak pandang bulu, tak bersyarat…tak harus beriman dulu untuk mendapat semua fasilitas yang Allah berikan di dunia ini.

unconditional loveHarusnya, demikianlah pula seorang ibu.
Tak harus anaknya pinter, penurut, mau belajar, mau sholat, baru ia mencintainya…
Tak harus anak-anaknya “mengemis kasih sayang ibunya” dengan melakukan hal-hal yang baik…
Kalau itu “rule”nya, tak akan pernah ada anak yang menjadi baik setelah ia melakukan kesalahan.

Kasih sayang ibu, yang tak bersyarat, itulah kekuatan yang besar bagi seorang anak manusia untuk menjadi baik…

Setelah seburuk apapun hal yang dilakukannya, kalau seorang anak tahu dan yakin bahwa….sesalah apapun dirinya, akan ada seseorang yang selalu menerimanya kembali, memeluknya, maka tak akan pernah ada anak yang putus asa …

Semoga saya tak berlebihan kalau tiap malam, menjelang tidur…saya sampaikan pada anak-anak….
Apapun yang anak-anak lakukan, ibu dan abah tetap sayang …
Semarah apapun ibu dan abah sama anak-anak, ibu dan abah tetap sayang ….
Sejelek apapun sikap anak-anak, ibu dan abah tetap sayang …

Semoga kata-kata itu akan selalu diingat oleh anak-anak saya.
Ketika kelak mereka berbuat sesuatu kesalahan yang besar, mereka akan ingat bahwa ada yang tetap mencintai mereka,
Sehingga mereka punya energi untuk memperbaiki kesalahan mereka…

 

Catatan: tulisan ini recycle-an dari note di fesbuk  dengan judul yang berbeda:

unconditional love; catatan tentang arrahim
by Fitri Ariyanti (Notes) on Tuesday, July 26, 2011 at 12:20am