Jangan main-main dengan kata “sayang”

Pada jaman dahulu kala,waktu saya masih sebagai mahasiswa yang culun (antara tahun 1997-2001) ….dalam beberapa kali kesempatan, saya mendengar beberapa ibu mengatakan pada anaknya:
“Kaka, ayo makan yang bener…kalau enggak, mami gak sayang lagi ah..”
“Ade, gak boleh gitu, kalau kamu gitu, bunda gak sayang sama kamu”
“…nah..gitu doong…kalau gitu, baru ibu sayang …”

Saat itu, saya merasa…ada something wrong dengan ucapan si mami-bunda-ibu…
tapi saya gak tau apa…

Jawabannya saya dapat waktu saya kuliah konseling. Dosen saya, Ibu Prof Sawitri mengenalkan sebuah istilah ….UNCONDITIONAL LOVE…CINTA TAK BERSYARAT…

Yups…saya baru ngeuh apa yang membuat saya tidak sreg dengan ungkapan para ibu itu…
Menurut saya, cinta seorang ibu pada anaknya, haruslah TAK BERSYARAT
Itulah seharusnya, yang membedakan cinta ibu dengan cinta-cinta lainnya di dunia ini.

Bahkan menurut kajian sebagian ahli agama,
Itulah sebabnya mengapa seorang ibu dikaruniai RAHIM.
AR-RAHIM adalah salah satu asmaul husna, yang artinya MAHA PENYAYANG
Bersama ARRAHMAN, ARRAHIM adalah dua sifat Allah yang ada pada kalimah basmalah, yang selalu kita baca bila kita akan berbuat kebaikan.

Menurut Tafsir Al Misbah,
Perbedaan antara RAHMAN dan RAHIM adalah :
ARRAHMAN: menggambarkan bahwa Allah mencurahkan rahmatNya, sedangkan ARRAHIM : menggambarkan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diriNya.

ada juga ulama yang memahami bahwa:
ARRAHMAN : sifat Allah swt yang mencurahkan rahmat yang bersifat sementara di dunia ini, sedangkan
ARRAHIIM : rahmatNya yang bersifat kekal

Dari dua penafsiran tersebut, maka saya menghayati bahwa, seorang ibu…haruslah menjadi cerminan bagaimana Allah menyayangi hambanya secara PERMANEN, dengan TANPA SYARAT.

Teringat juga kisah yang diceritakan seorang ustadz:
Nabi Ibrahim adalah nabi yang terkenal selalu menyiapkan jamuan untuk tamunya, baik yang dikenal maupun tak dikenal. Ia tak pernah makan sendiri, kecuali mengundang orang lain. Suatu saat, ia mengundang seorang tamu untuk menemaninya makan. Ketika Nabi Ibrahim menyalakan api, si tamu langsung menyembah api tersebut. Saat Nabi Ibrahim bertanya, ternyata si tamu adalah kaum majusi, penyembah api. Mengetahui hal itu, nabi Ibrahim mengurungkan niatnya untuk menjamu si tamu, dan mengatakan “maaf, saya hanya mau menjamu orang yang beriman pada Tuhan saya”. Konon, saat itu Allah menegur nabi Ibrahim. “Engkau urung memberi makan orang yang tak menyembah Tuhanmu, sedangkan aku tetap memberi makan seluruh makhluk yang ada di muka bumi, walaupun mereka tak         menyembahku”

Kisah di atas menurut saya pas sekali menggambarkan ke MAHA KASIH SAYANG AN ALLAH, yang tak pandang bulu, tak bersyarat…tak harus beriman dulu untuk mendapat semua fasilitas yang Allah berikan di dunia ini.

unconditional loveHarusnya, demikianlah pula seorang ibu.
Tak harus anaknya pinter, penurut, mau belajar, mau sholat, baru ia mencintainya…
Tak harus anak-anaknya “mengemis kasih sayang ibunya” dengan melakukan hal-hal yang baik…
Kalau itu “rule”nya, tak akan pernah ada anak yang menjadi baik setelah ia melakukan kesalahan.

Kasih sayang ibu, yang tak bersyarat, itulah kekuatan yang besar bagi seorang anak manusia untuk menjadi baik…

Setelah seburuk apapun hal yang dilakukannya, kalau seorang anak tahu dan yakin bahwa….sesalah apapun dirinya, akan ada seseorang yang selalu menerimanya kembali, memeluknya, maka tak akan pernah ada anak yang putus asa …

Semoga saya tak berlebihan kalau tiap malam, menjelang tidur…saya sampaikan pada anak-anak….
Apapun yang anak-anak lakukan, ibu dan abah tetap sayang …
Semarah apapun ibu dan abah sama anak-anak, ibu dan abah tetap sayang ….
Sejelek apapun sikap anak-anak, ibu dan abah tetap sayang …

Semoga kata-kata itu akan selalu diingat oleh anak-anak saya.
Ketika kelak mereka berbuat sesuatu kesalahan yang besar, mereka akan ingat bahwa ada yang tetap mencintai mereka,
Sehingga mereka punya energi untuk memperbaiki kesalahan mereka…

 

Catatan: tulisan ini recycle-an dari note di fesbuk  dengan judul yang berbeda:

unconditional love; catatan tentang arrahim
by Fitri Ariyanti (Notes) on Tuesday, July 26, 2011 at 12:20am

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s