Merenungi marah kita pada anak….

Teman-teman yang sudah jadi ibu, pernahkah kita marah pada anak? Kalau jawabannya “tidak pernah” ….ah, saya gak percaya….haha…. #ngapain nanya#

Pernahkah kita liyat ibu yang marah pada anaknya? saya pernah. Waktu itu si anak usia 5 tahun “mengganggu” ibunya yang tengah dengan penuh perasaan “curhat” pada temannya. Tampaknya topiknya sangat serius, karena si ibu “curhat” dengan penuh emosi. Si anak minta dianter pipis. Si ibu, tentu saja merasa terganggu dan meminta anak untuk pipis sendiri. Itu di tempat umum. Saya paham kalau si anak enggan. Kedua kalinya si anak minta dianter ibu, si ibu bereaksi dengan sangat marah, menjewer telinga si anak sekeras-kerasnya….sambil mengatakan si anak manja, penakut, dll dll….Si anak menangis. Saya pun berkaca-kaca. Terbayang rasa sakit yang dialami si anak, karena dari ekspresi wajah si ibu, tampaknya si ibu benar-benar melakukannya dengan sekuat tenaga, dengan sepenuh kemarahan yang dia punya.

Peristiwa itu memunculkan satu pertanyaan pada diri saya. Ibu itu, sebenarnya marah pada anaknya karena anaknya melakukan kesalahan, atau anak itu adalah pelampiasan dari kemarahannya pada hal lain? Pertanyaan itu menjelma menjadi cermin besar buat saya. Tiba-tiba saya menjadi begitu ingin mengingat-ingat….setiap kali marah pada anak-anak saya, apakah itu karena ulah mereka, atau karena saya sedang kesal pada sesuatu dan menumpahkannya pada mereka?

Sejak saat itu, saya iseng “men-tally” setiap kali saya ngomel ke anak-anak, apa penyebabnya. Daaaan….ternyata, hipotesis yang saya rumuskan dalam hati terbukti benar. Bahwa sebagian besar kekesalan saya pada anak-anak saya, bukanlah karena murni anak-anak saya, tapi karena kekesalan saya pada hal lain. Yups…memang sih, Azka kalau dipanggil lama untuk keluar kamarnya….tapi kalau mau jujur, harusnya saya tak se”marah” itu ….saat itu saya marah besar karena lagi sebel sama bos saya.  Ya….kayak gitu-gitu lah kejadiannya.

Kalau mau jujur, banyaaaak sekali kekesalan kita pada anak, bukanlah karena perilakunya. Saat kita omelin anak kita di restoran karena “gak mau diem” misalnya, mungkin itu karena kita kesal kenapa pesanan makanan kita gak dateng-dateng. Saat kita “mencubit” anak kita yang merengek minta jajan misalnya, mungkin itu karena justru pikiran kita lagi pusing karena sedang bokek, dll dll.

Pernahkah teman-teman memarahi panjang lebar anak padahal sebenarnya ditujukan pada suami kita? misalnya: “Kaka, kenapa sih kalau handuk tuh gak dijembrengin di tempatnya…kalau kaka gak biasain dari kecil, nanti sampai besar teruuus aja kayak gini” (sambil lirik suami kita). Atau saat kita kesel karena suami lagi “nyantei” trus gak “proaktif” bantu kita yang kerepotan  ngurus anak-anak, pernah gak ngomel panjang lebar gini….”Adik…kenapa sih apa-apa teh mau sama ibuuuu terus….ibu kan cuman punya dua tangan….emang engga ada orang lain ya, yang bisa adik mintain bantuan?” haha….kok saya menghayati banget gini ya…..maklum, pengalaman pribadi haha….

displacementNah, yang kayak gitu tuh kalau kata om Freud, namanya “displacement”, yaitu suatu upaya “pertahanan diri” dimana kita menumpahkan emosi negatif yang kita rasakan dari orang yang lebih superior dari kita, pada orang yang lebih “inferior” dari kita.

Daaaan…it’s unfair !!! absolutely ! marah yang kayak gini tuh biasanya gak efektif. Kan katanya marah yang efektif itu bisa mengubah situasi. Tapi kalau marahnya model ngomel karena melampiaskan emosi gini, biasanya gak ngefek apa-apa ke anak. Apalagi anaknya masih kecil, yang perkembangan persepsi auditorynya masih terbatas. Mana bisa dia nangkep inti pesan dari serentetan kata-kata omelan yang keluar dari mulut kita….Yang akan anak pelajari dari kita adalah, bahwa kekesalan itu bisa ditumpahkan pada orang lain yang lebih lemah. Maka, jangan heran kalau si kakak sedang kesal pada temannya di sekolah, si adik jadi sasaran kemarahan.

Jadi lain kali, kalau mau marah atau ngomel ke anak, stop….brenti dulu…hayati dulu…apakah mereka memang melakukan sesuatu kesalahan sehingga “layak”  menerima kemarahan ini?  atau karena kita butuh seseorang yang lebih lemah dari kita untuk melampiaskan kemarahan kita?  #ini self talk buat saya# 😉

sumber gambar: http://blogasarea.files.wordpress.com/2010/12/displacement.png

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s