Menjadi “detektif” saat anak kita mengalami “regresi”

Sudah tiga minggu, mbak yang pulang pergi bantu ngurus rumah dan nungguin Hana si TK A sebelum saya datang, resign karena kesehatannya kurang memungkinkan. Maka, tiga minggu ini kami sekeluarga disibukkan dengan adaptasi terhadap hal tersebut. Kalau beberes rumah sih…ada solusinya meski tak ideal. Yang paling bikin bingung adalah gak ada yang pegang Hana. Akhirnya saya mengerahkan bantuan dari seluruh penjuru dunia. Haha…hiperbolis. Concern saya adalah, Hana tetep nyaman secara psikologis. Banyak sih alternatif untuk dititipin. Tapi yang bikin dia nyaman???? Akhirnya, solusi sementara ada janjian sama adik saya yang kuliah di Bandung…..hari-hari apa aja dia bisa jaga Hana. Di luar hari-hari yang adik saya gak bisa…saya akan usahakan pulang siang atau Hana dianter ke Jatinangor….Hhhhmmmm…

Di tengah keriweuhan adaptasi itu, Hari Senin dan Selasa minggu lalu, Hana berturut-turut nangis di sekolah. Berjam-jam. Pengen ke ibu.  Setelah ketemu saya, dia meluk eraaaaat banget. Trus dua hari itu, di rumah dia nempeeeel….banget. Fisically. Gak boleh ibunya gak kliayatan. Pengen dipangku terus. Itu kan perilaku anak umur 2-3 tahun….

Nah….perilaku seperti Hana ini, dalam psikologi disebut perilaku “regresi”. Artinya, perilaku anak “mundur” ke tahap sebelumnya. Nangis di sekolah pengen ke ibu kan perilaku anak umur 3 tahun…dan Hana, waktu di PG pun gak pernah kayak gitu. Perilaku-perilaku regresi lain yang sering ditunjukkan anak adalah mengalami gangguan tidur (misal mimpi buruk), ngompol/bab di celana, gak mau tidur sendiri, manja banget, ngemut jari…..dengan catatan, perilaku tersebut sudah lama ditinggalkan anak.

Seberat apa dan sejauh apa regresinya, tergantung dari seberapa berat ketidaknyamanan psikologis yang dialami anak. Temen saya yang di Klinis Dewasa, pernah menemui klien yang mengalami traumatis berat, terus-menerus mempertahankan posisi “meringkuk” seperti janin. Konon, secara teoretis ia “regresi” sedemikian jauhnya sampai ke tahap ia masih dalam kandungan ibunya.

Apa penyebab dari perilaku regresi ? secara sederhana, perilaku regresi disebabkan adanya ketidaknyamanan psikologis yang dirasakan anak. Sebagai orangtua, pastinya kita harus mengetahui apa sumber ketidaknyamanan anak. Setelah mengetahuinya, kita bantu anak untuk mengatasinya agar perasaannya kembali nyaman, secara psikologsi ia kembali aman.

Sayangnya, untuk mengetahui sumber ketidaknyamanan psikologis anak itu, ada yang gamblang-terang benderang misalnya pindah rumah, ortu baru bercerai, berpisah sama orang yang sangat dekat dengan anak, lahirnya adik….ada yang “sulit terdeteksi” oleh kita sebagai orangtua. Mungkin karena secara fisik di luar pengetahuan kita, atau mungkin buat kita itu bukan “masalah”.

Saya masih yakin bahwa teori yang menyatakan bahwa perilaku reresi pada anak disebabkan oleh adanya suatu ketidaknyamanan psikologis adalah benar. Oleh karena itu, kalau kita belum mengetahui apa sumber ketidaknyamanan anak, maka kita harus lebih peka untuk menjadi “detektif” sampai kita menemukan apa sumber masalahnya.

Menghadapi anak yang mengalami regresi, biasanya kita tidak sabar. Penyebab ketidaksabaran kita adalah:

(1) Ya…kesel aja….masa anak 6 tahun bab di celana…..masa anak 7 tahun  yang biasanya mandiri, tiba-tiba gak berani tidur sendiri… Saya memahamiiii sekali kekesalan ini. Saya juga 2 minggu lalu itu kesel banget sama Hana. Pengetahuan bahwa perilaku anak disebabkan oleh hal yang membuatnya tidak nyaman secara psikologis, semoga membantu meredakan kekesalan kita. Jahat banget bukan, kalau kita semakin “menambah ketidaknyamanan psikologis” anak dengan memarahinya. Yakinlah….perilaku anak itu bukan karena dia manja….

(2) Oke…kita sudah tahu bahwa perilaku regresi anak itu merupakan ekspresi ketidaknyamanan psikologisnya. Ada jebakan “ketidaksabaran” yang kedua. Kita ingin segera mengetahui apa yang menyebabkan anak tidak nyaman secara LANGSUNG dan VERBAL dari anak. Maka, tanpa sadar kita pun MENGINTEROGASI anak. “Kenapa sih? anak teman nakal di sekolah?”….”Ayo..ngomong atuh sama ibu..ibu gak akan tau kalau kamu gak cerita…” mungkin kita akan mengatakan hal itu.

Anak yang menunjukkan perilaku regresi, pastilah akan sulit untuk mengungkapkan permasalahannya secara verbal. Da kalau dia bisa mah gak akan regresi atuh….. Ada beberapa hal penyebab anak tidak akan bisa menyampaikan sumber ketidaknyamanannya secara psikologis:

a. Anak juga tidak tahu apa yang terjadi dengan dia. Kenapa dia merasa tidak aman, tidak nyaman…..

b. Kalaupun anak tahu, seringkali kemampuan bahasa anak masih terbatas untuk mengungkapkanya pada kita.

c. Nah, ini yang harus diwaspadai. Bisa jadi perasaan negatif dan rasa tidak aman yang dirasakan anak disebabkan oleh hal-hal yang amat berat untuk dia. Misalnya dia mendapatkan ancaman, atau pelaku ketidaknyamanannya adalah orang yang dekat dengan dia, dll dll.

Maka, menghadapi situasi ini…tak lain tak bukan….kita sebagai figur yang paling dekat dengan anak, haruslah menjadi detektif ulung. Gimana caranya?

(1) Pada anak, berikan keamanan dan kenyamanan yang amat dia butuhkan saat ini. Berikan toleransi pada dia. Pelukan erat dan hangat, elusan di kepala,  biasanya sangat dia butuhkan di saat ini. Berikan dengan tulus. Dia pasti membutuhkannya, apapun penyebab ketidaknyamanan dia dan masalah yang dihadapinya.

(2) Setelah anak merasa aman dan nyaman, biasanya akan lebih mudah bagi anak untuk membuka perasaannya. Tapi jangan harap langsung jreeeeeng….anak menceritakan semuanya secara terbuka. Tetep, butuh kesabaran. Mungkin anak menyampaikannya dalam bentuk simbol. Ini yang harus kita peka.

(3) Selama masa tersebut, cobalah untuk meluangkan waktu menemani aktifitas anak. Mengantar anak ke mobil jemputan, mengantar anak ke sekolah dan ke kelasnya, lalu coba untuk peka menangkap bahasa tubuh anak. Misalnya saat melihat sopir jemputan anak memegang erat-erat tangan kita, atau anak “mogok” pas masuk kelas…..itu pertanda ada sesuatu di situ. Setelah itu, coba “korek” perasaan anak. Perasaan….bukan kejadian. Misalnya: “kaka takut sama pak sopir?” Hindarkan kata tanya “kenapa”.  

Saya punya pengalaman dengan hal ini. Setahun lalu, setiap kali Hana masuk tol, dia pasti teriak-teriak: “gak mau ke jalan tol ! gak mau ke jalan tol !” Tentunya ia gak bisa ditanya kenapa. Akhirnya kita suka “bohong” bahwa ini bukan jalan tol, sambil saya peluk erat. Beberapa minggu kemudian, waktu saya tanya…kakak takut ke jalan tol? emang di jalan tol itu ada yang jahat ya? ada yang gak nyenengin kaka ya? dll dll….barulah dia bilang :“kaka gak mau ke jalan tol soalnya jalan tol berarti ke jatinangor. kaka gak mau ke sekolah jatinangor, soalnya **** nya nakal”. Oh, ternyata waktu dia dititip di day care di Jatinangor, dia punya pengalaman buruk sama salah seorang temannya.

(4) Buka pikiran……siapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang di luar pikiran kita. Jangan bilang “ah, gak mungkin dia mengalami ini”

(5) Saat anak sudah “terbuka”, kita harus terus menjaga kepercayaan anak. “Keep calm” istilahnya mah. Jangan reaktif. Entah reaktif menyalahkan orang lain. Misalnya anak cerita bahwa dia dibully temannya, terus kita langsung marah-marah, “biar ibu laporan tuh anak ke guru….bla..bla..“… Itu akan berat buat anak. Karena pasti kalau ringan mah dia sendiri yang akan laporin ke bu guru. Khusus untuk kasus bullying, banyak anak yang kemudian semakin tertutup karena sikap orangtua nya yang konfrontatif terhadap temannya pelaku bullying. Yang paling gak boleh lagi kalau reaksi kita “marah” ke anak. “Kaka sih, gak bilang engga. Harusnya kaka lawan dong…” Wah, it akan menghancurkan kepercayaan anak pada kita.

(6) Saat anak sudah terbuka, nyatakan secara verbal kalau kita tetap akan melindunginya, dan bicarakan alternatif penyelesaian yang akan kita lakukan (pada anak yang masih muda, umum saja). Tetap, hayati dan pertimbangkan perasaan anak. Misalnya kita bilang ; “ya udah, ibu akan bilang ke bu guru agar anak itu dijauhkan dari kamu dan gak akan pukul kamu lagi”. Kalau dia bilang “tapi kata dia, kalau aku ngadu nanti dibilang cengeng” atau yang paling ekstrim misalnya, “kalau lapor aku mau dibunuh… “ Jangan abaikan perasaan itu dengan bilang…”tenang aja, ibu yang akan beresin”. Menjaga perasaan anak nyaman dan aman, penting sekali untuk kita perhatikan, agar peristiwa yang tak menyenangkan ini tak membekas secara permanen pada kondisi psikologis anak.

(7) Mengunjungi profesional (psikolog) bisa menjadi alternatif bila kita merasa tidak sanggup.

Saya pernah mengikuti workshop Play Therapy dengan instruktur tim psikolog dari Belanda, dan salah satu kasus yang disampaikan oleh mereka adalah, ada seorang ibu ynag menduga anaknay mendapatkan sexual abuse dari kakeknya, yang selama ini menjaga dia kalau ibunya pergi. Nah, si anak sampai akhir gak mau cerita. Tapi lewat beberapa media bermain, akhirnya bisa diketahui bagaimana perasaan anak dan apa yang terjadi.

Untuk masalah Hana, akhirnya di hari Rabu, dugaan saya mengenai penyebab ketidaknyamanan psikologis dia terungkap. PAs mau pergi sekolah diabilang: “nanti kaka  pulangnya dijagain siapa? (sambil mau nangis)”. Saya peluk dia.Saya bilang, selama kita belum ada mbak baru, Kaka jangan khawatir…akan ada om nya yang jaga, atau ibu yang jemput Kaka di sekolah, atau nanti kaka ke kampus ibu dan kita makan bareng di resto favoritnya. Dia pun tersenyum dan situasi kembali “normal”

……………………

Beberapa hari ini kita mendengar banyak cerita mengenai anak 5 tahun yang disodomi di sebuah sekolah internasional. Sedah banyak yang membuat tulisan mengenai mengajarkan anak bagaimana mengatakan “tidak”, atau mengenai pendidikan sexual.

Tulisan ini saya maksudkan untuk melengkapi sisi yang berbeda,  saat anak kita mungkin mengalami hal serupa (semoga Allah selalu melindungi anak kita dari keburukan).

Melalui tulisan ini juga saya ingin mengatakan pada semua ibu…..Saat ada hal yang tak baik pada anak kita….jangan berpikir itu akan “merusak” seluruh kehidupan anak kita ke depannya. Tidak ! pasti Allah tak akan dzalim. Peristiwa itu, jadi pelajaran buat kita. Tapi Allah juga sudah memberi ilmu untuk menghindari keburukan yang lebih lama. Psikologi, telah mengenal yang namanya RESILIENSI. Yaitu kemampuan seseorang _keluarga, ibu, anak, dll_ untuk “bounce back”- bangkit kembali dari kondisi psikologis yang terpuruk. Dan kita, sebagai ibu…punya peran penting dalam menjaga anak kita …. menghindarkan diri dari keburukan yang mungkin menimpanya, dan melindunginya saat keburukan itu telah menimpa, agar efeknya tak menghancurkan sisi hidup anak kita.

 

The reason for regressive behavior can be a big event in your child’s life that she finds disruptive. Some common causes of regression are the birth of a younger sibling, moving to a new home, changing schools, divorce, severe illness or death in the family, or high levels of stress in the family. – See more at: http://www.fisher-price.com/en_US/playtime/parenting/articlesandadvice/articledetail.html?article=tcm:169-25150#sthash.nugBRByk.dpuf
Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. ogi
    Feb 05, 2015 @ 21:11:47

    Teteh maaf nih mau tanya kalo anak lagi hospitalisasi terus dia jadi manja apa itu disebut regresi? Terus teh anak dibsebut mengalami regresi apa ada acuan ahok tau standarnya kaya komponen nya gitu teh? Tolong di balas ya teh

  2. Ratih
    Dec 06, 2015 @ 05:40:13

    Teteh, anakku umur 4 tahun..dia sdh 3 mggu ini bab di celana terus kalau siang..sebulan yg lalu dia sy masukin ke playgroup..awalnya dia senang sekali sekolah, tp seminggu kemudian dia jd ngga mau sekolah, banyak sekali alasannya..apakah ini regresi? Haruskah sekolahnya sy berhentikan dulu? Atau bagaimana? Terima kasih jawabannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s