Sinetron Indonesia, Film-Film PIXAR, Franklin The Turtle dan Umar Bin Khatab

Anak-anak saya suka banget film-film pixar. Toy story 1,2 dan 3; Bug’s Life, Monster Ink 1 & 2, Finding Nemo, The Incredibles, Cars, Ratatoulite, Monster University 1&2. Saya? Gak suka banget. Tapi sukaaaaaa bangggeeeeets…Kalau anak-anak saya cuman suka sama aspek visualnya, saya sebagai orang dewasa menangkap hal-hal yang lebih esensial; “value” yang ingin disampaikan lewat film-film tersebut.
Meskipun tokoh, konteks alur cerita, maupun value utama yang disampaikan berbeda, namun ada beberapa kesamaan dari semua film-film PIXAR yang saya sebut diatas.

Kesamaan-kesamaan itu adalah, bahwa si pemeran utamanya, bukanlah orang yang “sempurna”.

Mereka memiliki kelemahan, pernah melakukan kesalahan, mengalami masalah, menghayati “pergulatan psikologis”, lalu….ini bagian kerennya…mereka menyadari kesalahan dan kelemahan mereka, berjuang  menemukan cara untuk mengatasi permasalahan mereka, dan akhirnya ….berhasil memenangkan pergulatan psikologis yang berat mereka rasakan, dengan nilai kebaikan yang menang. Dan, permasalahan-permasalahan yang mereka alami itu adalah persoalan “sederhana”, yang “natural”, tapi memang itulah persoalan psikologis keseharian yang dialami oleh anak-anak kita maupun kita.

Woody sebagai tokoh utama Toy Story, misalnya….di Toy Story 1 mengalami permasalahan “rivalry” dengan si Buzz. Betapa “berat”nya beban psikologis yang ia rasakan saat ia “dicuekin” teman-temannya yang beralih “mengagumi” si mainan ruang angkasa, Buzz. Itu yang kita dan anak-anak yang secara natural kita rasakan dalam keseharian kan…di dunia pertetanggaan, di dunia kerja, anak-anak kita di sekolahnya, di rumah karena lahirnya adik baru… Dalam film ini, diceritakan juga bagaimana dia sempat merasakan iri dan dengki sampai mencelakakan si Buzz, namun akhirnya….melalui pergulatan psikologis yang tergambar dengan keren di film itu, justru ia yang menyadarkan dan menemani si Buzz saat si Buzz merasa “down” akibat menyadari bahwa ia “hanyalah sebuah mainan”.

Di film the Incredibles, kita diajarin gimana setiap orang itu punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri yang kalau bersatu…akan dahsyat hasilnya. Di Monster University 2, kita melihat betapa si Mike yang “biasa-biasa saja” berusaha begitu keras untuk mencapai keinginannya kuliah di MU…

Nah, “pelajaran-pelajaran”  itu yang gak saya dapat kalau saya nonton sinetron Indonesia. Sebenarnya udah lamaaaaa banget saya gak nonton sinetron Indonesia. Dulu yang sesekali saya tonton adalah sinetron Tersanjung 1 yang pemeran utamanya adalah Lulu Tobing. Haha….itu tahun berapa ya?

Setelah itu, saya “gak kuat” nonton lagi. Kenapa? Because it is not real. Yang jahat, digambarkan jahaaaaaaat banget. One hundred percent evil. Yang baik? Aduuuuh…sempurna…banget. Cantik, baik, sholeh, rajin menabung, taat pada orangtua, ….. Dan ekpresi para pemainnya itu loh, yang lebih bikin gak kuat. Sebagai orang psikologi yang belajar mengenai emosi, saya begitu amat sangat kagum sama si PIXAR yang bisa banget, menggambarkan emosi itu secara mendalam melalui bahasa non verbal si tokoh. Padahal, tokonya itu kartun. Mobil. Semut. Tikus. Monster. Tapi bener kerasaaa banget … Kalau sinetron Indonesia? Superfisial banget. Kalau marah, matanya melotot, teriak sekeras-kerasnya, lalu wajahnya di zooom…….terus kalau si tokoh soleh, pasti ngomongnya lempeeeeng…kayak malaikat gitu. Haduuuh….gak kuat sayah nontonnya…

Itu yang pertama. Yang kedua, saya gak suka nonton sinetron Indonesia karena tak mengajarkan kemampuan menyelesaikan masalah. Gak ada “pergulatan psikologis yang natural” di dalamnya. Yang ada adalah jalan pintas yang tak melibatkan upaya si tokoh. Misalnya, jreeeeeng….tiba-tiba diketahui bahwa ia cucu orang yang kayaaaaa banget. Sama sekali tidak mengajarkan apa-apa selain mengajarkan adanya “keberuntungan”.

Padahal, salah satu teori kepribadian “Locus of Control”, menyatakan bahwa hal-hal yang baik akan dicapai oleh orang yang punya kepribadian Locus of Control Internal, dimana ia berprinsip pencapaian yang ia raih adalah disebabkan upayanya, bukan karena hal-hal yang sifatnya unpredict seperti keberuntungan. Dan di agama pun, bukankan kita diajarkan konsep ikhtiar, bahwa “Allah tidak akan menolong suatu kaum jika kaum itu tak mau merubah keadaannya” ….

Dengan alasan yang sama seperti pada film-film PIXAR, itu sebabnya pula saya ngefans berat sama buku si FRANKLIN THE TURTLE. Kami mengoleksi puluhan bukunya. Kalau saya perhatikan, seluruh kisah di seri si Franklin, menunjukkan hal yang sama dengan “pesan” yang ingin disampaikan film-film PIXAR.

Bahwa kita, manusia ini tak sempurna. Kita punya kelemahan. Kita melakukan kesalahan. Bahkan kesalahan yang buruk. Kita mengalami ketidakberdayaan karena kelemahan kita. Tapi di sisi lain, kita punya kelebihan. Kelebihan yang bisa kita gunakan untuk mengatasi masalah yang kita hadapi. Untuk bangkit memperbaiki kesalahan. BAngkit dari ketidakberdayaan. Memang tidak mudah, namun bukan tidak mungkin. Dengan bantuan dari orang-orang yang kita cintai- keluarga dan teman- yang membantu kita menerima kekurangan kita, dan saling melengkapi sehingga masalah selesai dan …. kita bisa bahagia.

Contohnya, semalam saya bacakan buku “Franklin di rumah sakit” ke Hana. Cerita tentang bagaimana Franklin sangat ketakutan menghadapi operasi, sampai dia gak mau difoto rontgen. Saya masih ingat kata-kata Franklin pada dokter Bear: “Semua orang mengatakan aku pemberani, padahal aku sangat takut. Aku takut kalau dadaku dipotret, akan ketahuan bahwa aku adalah penakut”. Jujuuuur, banget. Natural. Alami.

franklinDemikian juga di bukunya yang berjudul “Franklin di Kegelapan”, diceritakan bagaimana ia sangat takut akan kegelapan, padahal ia harus tidur di tempurungnya yang gelap. Akhirnya ia pun bertanya pada teman-temannya yang ia pikir sangat pemberani. Ia bertanya pada si singa. Si singa bilang, pada awalnya dia sangat takut mendengar aumannya yang keras. Lalu untuk mengurangi ketakutannya, ia memakai headphone. Si angsa mengatakan, pada awalnya ia takut berenang, maka ia memakai ban renang dulu….terus ke beberapa binatang lain…sampai akhirnya Franklin merasa ia tak sendirian, dan mengikuti teman-temannya untuk mengatasi ketakutannya dengan menyalakan lampu di tempurungnya.

Saya merasakan banget apa yang dialami si Franklin, karena saya seriiing sekali mengalami itu. Saya sangat bersyukur berada di antara teman-teman psikologi….Sering sekali saya melihat teman-teman saya begitu “sempurna”. Setelah saya dekat dengan mereka, ternyata meraka tak sempurna. Mereka punya kelemahan. Mereka tahu itu, menyadari itu, mengakui itu, namun menerima itu. Dan mereka berupaya keras untuk mengatasinya. Persis seperti si Franklin yang terkaget-kaget mengetahui si singa yang begitu perkasa dengan aumannya ternyata dulu takut dengan aumannya yang terlalu keras, saya juga sering kaget bahwa…teman saya yang public speakingnya hebat, ternyata punya kecemasan yang besaaar setiap kali akan tampil. Saya senang, sekali saat kami bercurhat-curhatan mengenai kekurangan kami. “You know lah, gue kan oon banget kalau soal ini”…”tau gak…gue tuh takut banget kalau telpon senior…”. Lalu setelah itu kami akan saling menguatkan….dan ketika satu demi satu persoalan berhasil dilalui…bahagiaaaa banget. Dan anehnya, mengetahui bahwa teman-teman saya yang “hebat”-“hebat” itu punya kekurangan, tak membuat saya berkurang mengagumi mereka. Malah bertambah.

Ya, mengapa sesuatu yang jujur, yang natural, yang alami. yang “manusiawi” itu punya kekuatan yang besar buat kita?  karena kita manusia. Kita manusia yang sudah amat jelas, bukan malaikat yang sempurna. Tak seperti malaikat, hidup manusia is never flat. Tapi kita dikasih potensi sama Allah buat bisa lebih hebat dari malaikat. Itulah sebabnya kealamian, kejujuran, ke”manusiawi”an kita yang kemudian diiringi oleh “jatuh bangun upaya” yang kita lakukan, itu begitu menyentuh, dan lalu “menggerakkan”.

Itu sebabnya pula saya gak suka sama yang jaim-jaim. Yang menunjukkan pada dunia bahwa ia sempurna. Biasanya, orang-orang yang menampilkan dirinya demikian adalah orang-orang yang “rapuh”, yang tak berani mengakui dan menerima kekurangan dirinya.

Jadi, menurut saya….tontonan dan bacaan buat anak-anak kita…bukanlah hal yang “tak berarti”. Tontonan dan bacaan itu, sangat berarti untuk membentuk nilai-nilai kehidupan mereka.

Ah, mereka kan gak akan ngerti. Ya, itu sebabnya mari kita amati apa yang ditonton dan dibaca anak-anak kita, berikan mereka tontonan dan bacaan yang “powerfull”, lalu kemudian…ajak mereka untuk memahami maknanya…beri contoh penerapan value tersebut dalam keseharian mereka. Saat mereka mengalami “persoalan” yang sama, ingatkan perasaan yang sama yang dialami si tokoh-tokoh itu, lalu ingatkan pula bagaimana mereka mengatasi masalah mereka.

Ah, tokoh-tokoh itu kan tak islami? hehe…..

Ada satu tokoh yang sangat islami banget, yang sangat menghayati kekurangannya, menerima kekurangannya, tapi melakukan upaya sekuat tenaga untuk mengatasi kekurangannya. Dia adalah Umar Bin Khattab, sahabat Rasul yang dijamin masuk syurga, yang dikenal amat “keras” dan “kasar”. Dalam salah satu biografinya, diungkap satu doa yang selalu beliau panjatkan: “Allahumma ya Allah, aku ini sungguh keras, kasar maka lunakkanlah hatiku, Allahumma ya Allah, aku sangat lemah maka berilah aku kekuatan. Allahumma ya Allah, aku ini kikir, jadikanlah aku dermawan bermurah hati,”

Doa yang jujur dan tulus.

Jadi, buat saya, anak yang sempurna itu….bukan anak yang tak memiliki kekurangan. Tapi anak yang di satu sisi menyadari dan menerima kekurangannya, di sisi lain menghayati kelebihan yang ia miliki, dan punya keyakinan bahwa kelebihan yang ia miliki sudah Allah “setting” untuk bisa mengatasi masalah. Masalah yang akan dihadapi berat, tapi bukan tak mungkin untuk diselesaikan.

Anak yang tangguh itu bukanlah anak yang tak pernah sedih, tak pernah merasa tak berdaya , tak pernah mengalami kegagalan. Namun anak-anak yang mengalami kesedihan, ketakberdayaan dan kegagalan, namun mereka punya keyakinan untuk bisa bangkit dari kesedihan, ketakberdayaan dan kegagalan itu melalui kemampuan problem solving mereka. Mereka yakin akan kemampuannya dan yakin kalau Tuhannya, orangtuanya, teman-temannya menyayangi mereka. Itulah yang namanya anak yang “resilient”.

Nilai ini yang ingin saya tanamkan pada anak-anak saya.

Teknisnya?

  • Sedari dini, ajak anak untuk mengeksplorasi, mengenali dan menghayati kelebihan dan kekurangan dirinya
  • Jadi role model untuk semua tahap diatas. “Menampilkan diri sebagai orangtua yang sempurna” adalah hal yang salah menurut saya. Pelajaran penting yang didapat anak saat mereka melihat kita begitu sempurna, amat sedikit dibanding saat mereka melihat kita mengalami fase-fase down, bagaimana kita berjuang untuk mengatasi masalah-masalah kita.

Yang alami itu, akan menyentuh. Yang menyentuh itu, akan menggerakkan…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s