Mendengar(kan)….

“Ih, de Azzam kayak anak kampung”

“Bu, hari ini Ghaza romantis banget sama kaka Hana”

Pernah gak temen-temen mendengar hal-hal yang “mengagetkan” dari di kecil, seperti yang saya dengar dari Hana si TK A di atas? Mungkin pernah, atau pasti pernah?

Apa reaksi kita saat mendengar hal-hal yang kita rasa “kurang pas” dikatakan oleh anak kita, seperti sebutan “anak kampung” yang merendahkan, atau kata “romantis” yang rasanya kurang pantas diucapkan anak 4,5 tahun? Mungkin kita kaget. Sebagai bentuk kekagetan kita, mungkin kita langsung bereaksi memberi umpan balik pada anak, misalnya: “eh, gak boleh bilang anak kampung. Kita tidak boleh mengejek orang lain“. … atau “anak kecil kok udah tau romantis-romantisan…nanti gak boleh nonton TV lagi ya…”

Katanya, kalau sikap kita cenderung dan terus menerus seperti itu, artinya kita tidak membangun pola komunikasi yang positif dengan anak. Kenapa? karena kita tidak mendasari komunikasi kita dengan satu kemampuan dasar yang amat penting, yaitu kemampuan mendengarkan. Kita mendengar rangkaian kalimat yang diucapkan anak, tapi kita tidak mau mendengarkan apa yang sesungguhnya. Langkah pertama dari kemampuan mendengarkan adalah mengklarifikasi. Dan ini mutlak harus kita lakukan pada anak. Kenapa? karena seringkali, apa yang dimaksudkan oleh anak melalui kata yang ia sampaikan, bukanlah seperti apa yang ada di pikiran kita sebagai orang dewasa.

“Anekdot” yang pernah sangat terkenal menjelaskan hal ini adalah beberapa tahun lalu, ada cerita yang cukup terkenal. Gini ceritanya: seorang anak bertanya pada orangtuanya. “Bu, sex itu apa sih?” si orangtua langsung panik lah….menasehati ini itu pada anaknya. Si anak lalu dengan wajah bingung setelah mendengarkan segambreng nasehat dari ibunya, berkata “aku cuman mau tanya ini….” katanya sambil memperlihatkan formulir bertuliskan NAME : ….. SEX:….

Beberapa tahun lalu, saya ingat betul ada seorang ibu yang panik “curhat” sama saya. Anaknya yang kelas 2 SD, setiap kali liat mamanya pake daster pendek bilang gini: “ih, mama seksi. aku jadi tegang”. Ibunya panik. Pastilah saya juga akan panik kalau denger misalnya Umar bilang gitu. Waktu itu saya baca-baca buku untuk bisa jawab pertanyaan si ibu. Dari buku yang saya baca, dibilang jangan kaget dulu. Klarifikasi, tanya ke anak maksudnya apa. Saya sarankan demikian ke si ibu. Ternyata….waktu si anak ditanya, si anak gak tau apa itu maksudnya “tegang”.  Beda banget sama bayangan si ibu yang kepikiran anaknya punya pemikiran yang porno. Ternyata, si anak itu sering aja denger si tukang ojek depan rumahnya bilang gitu.

Nah, kalau udah ketauan bahwa anak kita sebenarnya masih polos dan tak mengkhawatirkan, langkah selanjutnya adalah memberi umpan balik. “Itu bukan  kata-kata yang bagus. Gak boleh diomongin lagi”. Beberapa anak cukup diarahkan demikian. Atau kalau ada konsep yang gak bener, kita lurusin.

Kemampuan mendengarkan ini, juga menjadi kemampuan dasar berkomunikasi pada beragam setting. Suami-istri, atasan-bawahan, bahkan psikolog-klien. Waktu menguji mahasiswa magister psikolog dalam praktikum konseling, kami menekankan sekali kemampuan ini. Gak bisa kita bantu orang lain, kalau kita tak paham betul apa yang ada di pikiran orang tersebut. Dan untuk bisa “paham” dan menghayati, satu-satunya jalan adalah dengan mau mendengarkan. Active listening bahasa kerennya.

Dan, kalau dipraktekkan….mendengarkan aktif pada anak kecil itu … bisa jadi refreshing loh…misalnya, waktu Hana bilang “de Azzam kayak anak kampung”, saya tanya “emang anak kampung itu kayak gimana sih“….dia jawab ” itu, ada bekas umbel kering di pipinya” haha….saya tanya lagi darimana dia tau itu. Dia bilang dari teh Rini, yang ngasuhnya… Lalu saya bilangin bahwa sebaiknya gak bilang anak kampung lagi, karena itu bisa berarti mengejek anak-anak yang tinggalnya di desa.

listeningSaya selalu mengingat-ingat untuk melakukan proses “klarifikasi” ini, karena kata literatur, hal ini akan menentukan sejauhmana anak akan terbuka sama kita. Padahal, keterbukaan anak pada kita sebagai orangtua akan sangat kita butuhkan terutama saat anak remaja. Kan katanya, kenapa anak lebih milih curhat sama pacar, curhat sama bandar narkoba….itu adalah karena mereka lebih didengarkan oleh pacar atau bandar narkoba itu ketimbang oleh ibu-bapaknya.

God news-nya, kemampuan active listening ini bisa dipelajari ! So….mari kita belajar mendengarkan, bukan hanya mendengar.

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. memerumaysa
    Apr 12, 2016 @ 14:37:45

    Mbak Fitri, terima kasih sharingnya. Memang kita sebagai orang tua jauh lebih sering panik duluan ya, ketimbang mendengarkan untuk mengklarifikasi apa maksud si kecil bicara begitu. Untung baca tulisan ini sebelum anak saya terlanjur besar Mbak, jadi bisa siap-siap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s