Memberanikan Diri Menghadapi Kematian

Memang dahsyat gelombang politik yang mendera kita di bulan, minggu dan hari-hari terakhir ini. “Pesta demokrasi” yang masih akan berlanjut sampai akhir tahun ini, disadari atau tidak-dihayati atau tidak- telah banyak menyita perhatian kita. Terutama karena 5 tahun lalu, media sosial dan segala macam saluran kumpal-kumpul online mungkin tak sedahsyat sekarang. Ajak-mengajak, dari mulai yang haluuuuus sampai yang vulgar….Ancam mengancam, dari mulai yang santuuuuun sampai yang sarkastis serta hujat menghujat, dengan segala cara tampak secara telanjang. Mungkin karena di media online orang tak berhadapan wajah, jadi rasanya merasa bebas untuk menumpahkan segala macam emosi dan gagasan, tak peduli apa dampaknya bagi orang lain.

Siapapun, dimanapun, kapanpun, dalam tataran apapun, di hari-hari belakangan ini rasanya hampir tak ada dimensi yang luput dari pembicaraan soal politik. Tentang memilih apa, siapa, mengapa. Juga tentang jangan memilih apa, siapa, mengapa. Mulai dari tukang jengkol di pasar cibogo, sampai dengan para profesor di rektorat sana…topik pembicaraannya sama.

Dan yang baru saya hayati di pesta demokrasi tahun ini adalah, tahun ini…entah mengapa saya baru ngeuh bahwa soal memilih apa, siapa dan mengapa vs jangan memilih apa, siapa dan mengapa ini….membuat banyak orang “menelanjangi dirinya”. Maksudnya bukan dalam artian negatif sih….cuman kalau saya mengilustrasikan, banyak orang-orang yang selama ini “invisible”, keluar dari “tempat persembunyiannya”, secara nyata menampilkan dirinya siapa. Nah, “siapa”nya ini amat beragam. Dari sudut pandang keagamaan, kesukuan, kebudayaan, ideologi…intinya, VALUE kehidupan seseorang…itu terlihat jelas..terang benderang dalam situasi ini. Banyak orang yang merasa kini mereka harus membuka “bungkus-bungkus peran sosial” mereka ini dan mengargumenkan bahwa mereka adalah yang paling benar.

Ternyata, perbincangan tentang  memilih apa, siapa dan mengapa itu alasannya….mulai dari hal yaang amat praktiiiiiiis sampai hal yang amat filosofis. Mulai dari hal yang besaaaaaaar…sampai hal super-mikro. Mulai dari pertimbangan peristiwa jaman duluuuuuuuuu sampai dengan mempertimbangkan masa depan, bahkan masa depannya lagi, yaitu akhirat yang abadi.  Saya yang “lugu” ini terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa hal teknis memilih-atau golput, itu alasannya bisa seribu satu. Yang memilih misalnya. Apakah alasan mereka-mereka sama? tidak…..yang memilih satu partai, yang memilih seorang caleg, yang nanti memilih seorang presiden, apakah mereka memiliki latar belakang pemikiran yang sama? TIDAK. Demikian juga dengan tak memilih. Saya terheran-heran begitu kompleks, dalam, makro, buesarrrrr, dan “mengakar”nya alasan-alasan yang mendasari perilaku mencoblos atau tidak ini.

Namanya juga obral-obrol…..seringkali obrolan-obrolan yang saya cermati, meskipun diawali dengan pertanyaan yang sama; milih apa dan siapa….namun pas bab “mengapa” …itu ternyata amat mendalam dan amat meluas. Beyond imagination lah….

Lalu, apa kaitan isi tulisan ini dengan judulnya? perbincangan di bulan, minggu, dan hari-hari terakhir mengenai “mengapa” memilih “apa” dan “siapa” ini membuat begitu banyak informasi dan argumentasi berseliweran dengan liar. Beberapa diantara informasi itu, seperti ombak besar yang menabrak karang. Karangnya itu saya hehe….Pembicaraan mengenai “memilih apa, siapa dan mengapa” ini beberapa diantaranya berhasil membuat saya menjadi berpikir ulang mengenai hal-hal yang paling mendasar dalam hidup saya. Yaitu KESELAMATAN.

Nah, ini dia kaitannya…..Ada masa-masa di mana saya begitu meresahkan satu hal. Kematian. Pasti semua orang juga ya….Tapi ada saat dimana perasaan ini benar-benar teraduk-aduk memikirkan dan menghayati hal yang tak mungkin kita hindari ini. Dan membayangkan kita akan menghadapi satu kejadian  yang tak kita bisa prediksikan waktu, cara dan tempatnya …yang bisa saja datang di bulan, minggu, hari, jam atau menit yang tak kita tahu berapa lama lagi dari sekarang, buat saya begitu meresahkan.

Gagasan bahwa kita akan berada di alam yang tak pernah kita ketahui bagaimana bentuk dan rasanya, buat saya yang saat ini masih belum berani pergi ke luar negeri sendirian, itu begitu mencemaskan. Apalagi menghadapi hari perhitungan dan menghadapi akhirat yang kekal. Dan yang paling menggelisahkan adalah, karena kita tak memiliki probabilitas sekecil apapun untuk menghindarinya !!!! apapun yag ada di dunia ini, bisa kita hindari dengan konsekuensi seberat apapun. Tapi kematian? perhitungan? tidak memberikan pilihan pada kita. Lalu yang double menggelisahkan adalah…bahwa “there’s no second chance !” dalam Al-Qur’an jelas bahwa nanti kita akan minta SATU DETIK saja untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan kita.

Setiap kali ada teman yang wafat dan saya mengetahui proses detik-detik terakhir kehidupannya (yang saya yakini merupakan abstraksi dari amalan dalam kehidupannya dan memprediksikan “nasib”nya nanti di akhirat), saya selalu membanchmarking mereka dengan saya. Apakah mereka cukup “baik” menjalani kehidupannya sehingga mereka bisa selamat? apakah standar saya harus dinaikkan? apakah sudah cukup?

Buku-buku yang menggambarkan “indahnya kematian” yang beberapa kali saya baca, tak pernah sanggup meredakan seluruh perasaan saya. Dengan kecemasa, kegelisahan, keresahan itu, siapa yang tak jadi sangat concern dengan apakah kita berhasil menjalani kehidupan ini dengan SELAMAT? bukan SUKSES. Tapi SELAMAT.

Kaitannya dengan urusan perpolitikan yang sedang kita hadapi ini….memilih apa, siapa dan mengapa, bagi sebagian orang bukan hanya pertarungan mengenai warna. Tapi buat sebagian orang, ini adalah pertarungan mengenai KESELAMATAN hidup. Maka, “puncak gunung es” memilih warna-warni inipun berhasil menggoyahkan karang KEYAKINAN dan VALUE hidup saya selama ini. Saya jadi mengevaluasi ulang nilai-nilai, pilihan, cara pandang saya mengenai hidup ini. Adanya beragam argumentasi bahwa keyakinan mereka yang BENAR– yang secara otomatis membuat keyakinan dan bangunan value yang saya miliki adalah SALAH, membuat saya benar-benar menelisik kembali kehidupan saya.

Tak nyaman? ya, dalam situasi dis-equlibrium, saat kita dihadapkan dan dibenturkan dengan keyakinan, value dan cara pandang yang berbeda, sangat berbeda, atau bersebrangan dengan kita, pasti sangat tidak nyaman. Tapi saya menikmati prosesnya. Saya tidak tahu dan tidak terlalu mencemaskan hasilnya bagaimana, apakah saya akan tetap memegang teguh nilai akan keselamatan hidup saya dengan cara ini, atau berubah.

Namun sejauh ini, dalam proses pergolakan batin ini, saya masih merasa bahwa keselamatan hidup kita, masih ditentukan oleh hal-hal yang sifatnya “mikro”. Kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan disertai keikhlasan yang besar, pilihan-pilihan tak sempurna yang kita putuskan saat menghadapi masalah keseharian disertai istighfar setiap waktu. Ke”luguan” belajar dari beragam orang tanpa memandang bahwa “mereka bukan dari golongan saya”, ketulusan hati menerima beragam perbedaan, kepekaan kita akan perasaan orang lain, kekuatan untuk mengalahkan ego diri….. Sampai saat ini, dengan nilai-nilai itulah saya memberanikan diri menghadapi kematian.

Yah, di tengah hiruk pikuk choicesdimana semua orang berusaha “memasarkan” kebenaran versi-mereka, menurut saya….kita harus banyak merenung. Bertafakur, berrefleksi…mengevalusi nilai-nilai yang kita miliki….Mencoba membuka pikiran dan menjernihkan hati…agar kompas KEBENARAN dalam hati kita, menunjuk ke arah yang sebenarnya.

Maka, di hari-hari ke depan yang akan penuh dengan hiruk-pikuk warna-warni….menurut saya, perbincangan yang harus kita perbanyak bukanlah dengan teman. Bukan di media sosial. Tapi perbincangan dengan diri, dengan Allah kita. Untuk bertanya… apakah nilai kebanaran yang kita pegang selama ini bisa menyelamatkan kita? dan yang lebih penting lagi, mohon dituntut untuk berada di jalan yang benar, yang menyelamatkan itu.

Saya masih ingat tgl 11 Maret lalu, saat kami berdoa bersama di ulang tahun Umar dan Umar ditanya…apa hal yang paling ia inginkan saat itu. “Masuk syurga sekeluarga” katanya. Semoga keinginan lugu itu didengar olehNya….semoga kami bisa benar-benar di tuntun agar SELAMAT menjalani kehidupan yang begitu super kompleks ini….

Ihdinassirootol mustaqiim….Ya Allah, Tunjukilah dan Bimbing Kami di Jalan yang Lurus ….

 

 

 

Mengajarkan empati pada anak, kapan bisa kita mulai?

Tanggal 31 Maret kemarin, kami merayakan ulang tahun Azzam yang ke-2 dengan membawanya ke Borma Cihanjuang, dan membolehkannya bermain di sana sepuasnya. Murah…gak nyampe 50 ribu hehe…. Di umurnya 2 tahun ini, Azzam lagi seneng banget sama kuda. Kalau gak naik kuda dan delman beneran, maka dia minta naik kuda dan delman di Borma. Tapi dengan gaya naik kuda dan delman beneran haha….

Selain wahana naik kuda dan delman, di Borma ini dia juga paling seneng naik kereta api. Naaah….saya punya satu kenangan terkait dengan wahana kereta api di Borma ini. Sayangnya bukan kenangan manis.

Beberapa bulan yang lalu, seperti biasa sambil jemput Azka dan Umar, saya membawa Hana  dan Azzam ke Borma. Belanja yang dibutuhkan dan membolehkan Azzam main di sana. Waktu itu Azzam lagi seneng banget naik kereta api. Maka, dia pun mengantrilah. Ada 3 anak lain yang udah duluan ngantri. Jadi sambil nunggu, saya alihkan dia untuk naik wahana lain. Pas jatah seorang anak, naiklah si anak. berarti Azzam ada di antrian ketiga. Dua anak lainnya udah pada rewel. Azzam, karena masih kecil jadi masih  mudah dialihkan. Tapi saya sambil mengamati apa yang terjadi. Si ibu anak yang naik tadi, tentunya melihat bahwa anak-anak lain yang mengantri itu sudah pada gak sabar. Tapi begitu kereta berhenti, dengan lempengnya dia bilang sama si anaknya…“mau lagi?” katanya. Si anak umur 3 tahun itu mengangguklah. Okeh. kereta api pun berputar kembali. Dua anak yang menunggu tambah rewel. Kereta pun berhenti. Si ibu menghampiri anaknya. “Mau lagi?” katanya. Ya ampuuuuun..beneran tepok jidat deh…..dan…demikian sampai keempat kalinya. Tentu Azzam akhirnya gak jadi naik si kereta api. Udah ilfil sayanyah.

Dengan semangat 45 saya ceritakan kejadian itu pada si abah. “Gila banget tuh ibu…gak empati banget….bla..bla..bla…“. Dan dengan cool nya si abah menjawab…“Yo yang salah ibu…mungkin dia gak ngeuh…harusnya dikasih tau dong baik-baik…..” Ya..ya..ya…sata tau, harusnya saya ber amar ma’ruf nahi munkar pada si ibu, mengingatkannya. Tapi…sebagai seorang peace maker sejati, mana bisa saya berbuat demikian….

Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, saya benar-benar menyesalkan sikap si ibu itu. Harusnya justru moment tersebut dijadikan media untuk si ibu mengajarkan empati sama anaknya. Tapi…..emang anak umur segitu udah bisa diajarin empati?

Malamnya, pertanyaan saya terjawab oleh papernya Nicole M. McDonald & Daniel S. Messinger dari Departemen Psikologi Universitas Miami yang berjudul The Development of Empathy: How, When, and Why. Saya akan coba semampu saya menyampaikan apa yang ditulis oleh beliau-beliau dengan bahasa yang lebih “ringan”.

Jadi katanya, berlawanan dengan pandangan ahli psikologi terdahulu yang menyebutkan bahwa anak itu bersifat egosentrik sehingga baru bisa dikenalkan dengan empati pada usia tertentu, penulis dalam paper ini memaparkan sejumlah penelitian yang menyebutkan bahwa “bibit-bibit” empati itu sudah dimiliki anak sejak ia bayi. Sangat menarik bukan?

Di usia 18  sampai 72 jam setelah lahir, bayi yang diperdengarkan suara tangis bayi lain menunjukkan reaksi “distress”… sebuah fenomana yang disebut sebagai  reflexive crying atau  reactive crying, atau penularan emosi. Namun ternyata, reaksi “distress” bayi saat diperdengarkan suara tangis bayi lain, lebih intens dibandingkan jika bayi diperdengarkan suara lain seperti suara tangis boongan, suara tangis non-manusia, dan “kebisingan” lain. Hal ini menunjukkan bahwa reaksi tangis bayi terhadap tangis bayi yang lain itu bukanlah semata-mata karena bayi merasa “terganggu” oleh suara bising. Peneliti menyimplukan hal ini sebagai “bibit” empati pada bayi.

Bagaimana perkembangan “bibit empati” itu di usia “todlerhood”  ?

Zahn-Waxler dan rekannya melakukan penelitian longitudinal untuk mempelajari perkembangan perilaku yang terkait dengan empati, pada anak usia dua sampai tiga tahun.  Mereka mengobservasi perilaku anak saat dipaparkan situasi “distress”. Perilaku “respons empati” yang dimaksud meliputi : (1) concern (e.g., sad look,“I’m sorry”), (2) hypothesis testing (e.g., “What happened?”), (3) prosocial behavior (e.g., hugs, “Are you ok?”). Hasilnya, sampai usia 2 tahun anak bisa menunjukkan perilaku “respons empati” tersebut. Setelah dua tahun, respons empati itu berkembang dengan pesat menjadi beragam perilaku menolong.

Mmmh….jadi inget kalau Hana nangis, Azzam akan mendekati, mengusap-usap kepalanya  sambil bilang “jep..jep…jep…” …berarti itu adalah respons empati yang perlu diberikam apresiasi dan dikembangkan ya…..

Empati di usia prasekolah dan sekolah: Cognitive Empathy

Empati ternyata memiliki komponen emosi dan komponen kognisi. Emotional empathy  adalah pengalaman dimana anak seolah merasakan emosi yang dirasakan oleh orang lain, dan berkembang di masa awal kehidupan anak seperti uraian di atas. Nah, cognitive empathy, atau istilah lainnya adalah “perspective taking”, adalah kemampuan untuk membayangkan secara akurat pengalaman orang lain. Pada usia prasekolah dan usia sekolah dasar, kemampuan cognitive empathy ini berkembang pesat. Hal ini seiring dengan perkembangan  bahasa anak yang meningkat pesat. Di usia sekolah dasar, kemampuan ini membuat anak bisa mengembangkan beragam cara yang akurat untuk menolong orang lain. Misalnya ketika ia melihat temannya menangis, maka  emotional empathy akan memunculkan perasaan ingin menolomg. namun cognitive empathy akan membantu anak memahami bahwa ada anak lain yang sedih dan butuh ditenangkan.

Nah…terjawab sudah pertanyaan saya. Bener kan…. harusnya si ibu tadi, termasuk ibu-ibu lain dan saya sendiri, menjadikan wahana permainan umum itu sebagai “fitness empati”, media untuk menumbuhkembangkan bibit empati yang secara “fitrah” sudah ada sejak ia lahir.

empatiSeperti juga beragam keterampilan sosial yang lain, saya yakin bahwa empati ini memang hanya bisa tumbuh dan berkembang bila distimulasi. Gak bisa “nanti kalau udah gede juga ngerti sendiri” . Buktinya? konon katanya beragam persoalan sosial yang muncul sekarang ini diawali oleh terkikisnya empati pada diri manusia-manusia Indonesia.

Dulu, saya suka agak bingung gimana ngadepin oknum mahasiswa yang suka macem-macem. Sejak 7 tahun lalu, saya punya ide dan jurus ampuh untuk “mematahkan” seribu satu alesan mahasiswa yang minta kompensasi atas kemalasannya. Misalnya pernah ada mahasiswa KKN yang gak pernah nongol di TKP, eeeh…pas udahan, nongol trus bikin alesan ini-itu, ngasih bingkisan ini-itu…. waktu itu saya bilang: “Saya bisa aja meluluskan kamu. Tidak ada ruginya buat saya.  Tapi coba kamu tanya teman-teman kamu, apa yang mereka lakukan sebulan ini, dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan sebulan ini.  Kalau kamu bisa meyakinkan saya bahwa apa yang kamu lakukan sama dengan yang mereka lakukan, saya akan meluluskan kamu”

Mengenalkan sudut pandang orang lain juga lah menurut saya, yang harus selalu kita kenalkan pada anak kita, di usia semuda apapun ia. Kita kenalkan gimana rasanya anak lain yang udah menunggu lama kalau kita menikmati wahana terlalu lama, kita ingatkan bahwa walaupun kita sedang nyaman di restoran, setelah makan kita harus segera beranjak karena ada orang lain yang nunggu … kita ajarkan untuk berdiri di sebelah kiri saat di tangga berjalan  agar jika ada orang lain yang sedang terburu-buru, kita tidak menghalanginya…begitu terus…terus dan terus….

Semoga jika setiap ibu melakukan hal ini, sepuluh tahun mendatang, tak ada lagi  orang-orang yang menimbun sembako dan BBM saat sedang langka, tak ada lagi orang yang “menahan” uang sertifikasi guru SD untuk ia tabung biar dapet bunganya…tak ada lagi orang yang hanya peduli pada kepetingannay sendiri… di Indonesia ini.

sumber gambar : http://microrrelatososhortstories.wordpress.com/2012/01/20/think-empathy-sympathy/

 

Jangan puji anak kita “HEBAT” !

Bahwa memuji anak itu adalah sebuah keharusan, hampir semua orang tua tahu itu.

praise 2Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Itulah salah satu bait  terjemahan puisi karya Dorothy Law Nolte yang berjudul “Anak Belajar dari Kehidupannya”. Puisi ini sangat terkenal. Dan saya lihat, di beberapa sekolah puisi ini terpajang di kelas-kelasnya.

Semangat untuk memberikan pujian dan penghargaan pada anak, akan lebih lengkap kalau disertai pula ilmu yang benar tentang “cara memuji ini”. Yups…seperti semua hal lainnya di dunia ini, dari hal paling keciiiiiil sampai hal paling besar, dari dal paling sederhanaaaaa sampai yang aling kompleks, itu ada ilmunya. Demikian pula “ilmu memuji ini”. Karena, niat yang benar tanpa disertai ilmu yang benar pula, bisa berakibat fatal. Ah masa siiih….lebay amat. Saya akan ceritakan satu pengalaman saya yang membuat saya merasa perlu membuat tulisan ini.

Waktu saya masih kuliah di majoring klinis anak 7 tahun lalu, saat membahas satu kasus, dosen saya mengatakan…”nah, jadi kalau memberi pujian pada anak itu, jangan “hebat” atau “pinter” …ya..”. Waktu itu terus terang saya gak ngerti. Tapi kayaknya saya gengsi buat nanya hehe….Dan karena mahasiswanya gak nanya, maka dosen saya pun tampaknya mengasumsikan mahasiswanya baca buku dan sudah paham.

Saya baru paham apa yang dimaksudkan dosen saya waktu beberapa tahun kemudian ketemu seseorang. Dia mengalami satu kegagalan, yang membuatnya merasa dirinya hancur luluh tak berharga lagi. Waktu saya coba bantu dia melihat bahwa kegagalan ini hanya satu aspek dari dirinya dan masih banyak sisi-sisi lain keberhasilan yang dia miliki, tetap…dia merasa satu kegagalan itu membuatnya “noone”. Melalui obral-obrol panjang….akhirnya mengertilah saya. Selama ini, ia selalu diberikan pujian “hebat” oleh orangtuanya. Tanpa dia tahu, apa yang membuatnya “hebat”. Akhirnya dia pun mempersepsikan dirinya “hebat” karena keberhasilannya di bidang yang kini mengalami kegagalan. Dan ketika dalam hal itu dia gagal, maka di apun merasa dirinya “tidak hebat” lagi.

Lebih lanjut, ternyata dia menghayati bahwa “hebat” atau “tidak hebat” itu “melekat pada dirinya” bukan “melekat pada perilakunya”. Mmmmhhh…untuk poin terakhir ini, agak dalem dan “filosofis”. Akan saya coba uraikan lebih teknis.

Gini….jadi, kita harus memahami … apa sih tujuan kita memberikan pujian pada anak? Nah, ini kadang kurang kita sadari. Kadang kita memberi pujian pada anak sebagai “instink” aja. Itulah sebabnya kita jadi kurang “aware” untuk memberikan pujian dengan cara yang benar sesuai dengan harapan kita.

Tujuan Memberikan Pujian

Sebenarnya, pujian adalah cara yang kita lakukan yang bisa meningkatkan perilaku positif pada anak. Konon katanya, setiap anak itu membutuhkan perhatian.  Misalnya, kalau kita punya 4 anak. Dua anak main dengan kooperatif, sementara dua anak yang lain pukul-pukulan. Hayo…..anak mana yang kita beri perhatiaaaaan….secara instinktif kita ngasih perhatian pada dua anak yang pukul-pukulan kan?  dengan mengomelinya panjang lebar misalnya. Nah…itu sebenarnya salah.

Seharusnya kita abaikan si yang pukul-pukulan, dan kasih pujian pada si dua anak yang bermain kooperatif. Pujian menunjukkan bahwa kita memberi perhatian pada mereka, dan kita mendorng mereka untuk mempertahankan perilaku tersebut. Bagaimana dengan si dua anak yang main pukul-pukulan? setelah kita ingatkan, lalu pukul-pukulannya brenti, naaah…dont forget kita kasih pujian. Jadi, anak paham kalau perhatian yang dia butuhkan itu, akan didapat saat dia berperilaku baik.

Mmmmhhh…..jadi inget obral-obrol sama pegawai salah satu kantor; “iya bu, bos di sini mah kalau kita salah, dimarahin abis. kalau kita kerja bener, dicuekin aja. Jadi kayaknya kalau kita salah itu teh salah, kalau kita bener, itu mah biasa…” haha….tanpa kita sadari, kita sering melakukan hal yang sama loh, ke anak-anak kita….atau ke pasangan kita.

Kita merasa saat anak kita lelet mandi, lama sarapan…mereka pantas dimarahi.  Tapi pas on time mandi, sigap pake baju…tiba-tiba kita jadi “buta” dan tak menganggap itu suatu hal yang baik. Atau ketika biasanya kita ngomel karena anak rewel kalau dibawa ke undangan, saat dia dibawa ke undangan dan anteng, kita lupa memberikan pujian. Begitu pula sama pasangan kita. Waktu pasangan kita lupa naro handuk di gantungan handuk, kita ngomel. Pas pasangan kita menyimpan handuk pada tempatnya, lupa deeeh…hehe…eta mah saya deng 😉

Nah, setelah kita menghayati tujuan memuji anak, tahap selanjutnya ialah, kita harus “Aware” cara memuji yang akan mencapai tujuan kita itu. Karena kalau tidak, malah akan menimbulkan “efek samping negatif” yang berbahaya seperti pengalaman yang saya ceritakan di atas.

Berikut adalah poin-poin yang harus kita perhatikan :

(1) Berikan pujian segera setelah anak menunjukkan perilaku yang kita harapkan. Terutama pada anak yang masih kecil, cara ini akan membuat anak paham kaitan antara pujian dengan perilaku yang ditunjukkannya.

(2) Katanya, kalau memuji itu harus menggunakan bahasa yang positif. Jangan bilang ” hebat, sekarang kamu gak nempel terus sama ibu”. tapi sebaiknya bilang “hebat, sekarang dede udah mau main sama teman”. Katanya, hal ini bisa membuat anak paham, perilaku apa yang diharapkan orangtua darinya karena perhatian kita tidak tertuju pada perilaku yang ingin dihilangkan, namun pada perilaku yang ingin dipertahankan.

Poin ketiga ini adalah poin yang terpenting.

(3) Pujian harus diberikan secara spesifik menggambarkan perilaku anak. Jangan bilang “hebat” …”pinter”… “keren”…..apalagi ….”anak mama”. Tapi, jelaskan apa perilakunya…misalnya: “hebat, dede sekarang udah bisa bikin menara yang tinggi”….”pinter…kaka sekarang makannya mau duduk”. Nah, poin ini penting banget nih…anak jadi tahu apa yang membuat dia disebut “hebat” dan “pinter”.

praise 3Hal ini sebenarnya berlaku pula saat kita memberikan umpan balik negatif pada anak, misalnya “mama sedih kamu males belajar jadi nilai ulangannya jelek”.  Kalimat itu benar. Sedangkankalimat “mama sedih kamu kayak gitu” adalah kalimat yang salah, karena efeknya akan membuat anak tidak paham dan akhirnya mempersepsikan dirinya, bukan perilakunya yang bikin mamanya sedih.

Menjelaskan perilaku anak dengan spesifik akan membuat anak paham  bahwa nilai positif dirinya tidak melekat dalam dirinya, tapi pada perilakunya. Artinya, saat ia melakukan perilaku yang buruk  dan mendapatkan umpan balik negatif pun, dia tahu kalau dia masih bisa memperbaiki dengan melakukan perilaku yang baik.

Beda kan, kalau kita lagi males-malesan trus kita dibilang “kamu mah males ih” sama kalau kita dibilang “kamu mah pemalas”. Malas, mengacu pada perilaku saat itu. Bisa diubah. Pemalas, mengacu pada sifat yang melekat pada diri kita.

Nah…ini juga harus diperhatikan nih….sering saya dengan di wahana-wahana permainan ,,,orangtua yang mengatakan pada anaknya..“ih kamu mah penakut”… Padahal pan takutnya cuman pada konteks wahana permainan yang ini aja. Kalau PENAKUT, berarti sifat takut itu melekat pada diri anak. Hati-hati loh bu, pan kata-kata ibu bisa jadi doa….

praiseDan, pujian yang sifatnya “umum” seperti “ah, kamu anak yang paling hebat sedunia” konon katanya tak tepat diberikan pada anak yang sudah besar. karena dia akan tahu kalau itu hanya “basa-basi”. Jadi saat memberikan pujian, kita juga harus tulus.

Jangan-jangan, selama ini kita memberikan pujian pada anak hanya basa-basi saja…Pantas saja hasilnya mungkin belum seperti yang kita harapkan….

Jadi, ternyata…memuji itu ada ilmunya sodara-sodara…saya juga sering lupa. Ribet amat sih? NO GAIN WITHOUT PAIN atuh….

Saya terkesan sekali pada tafsir ayat al Qur’an yang menjelaskan mengapa Allah menciptakan alam semesta dalam waktu “enam masa”. Bukankah Allah bisa mengatakan “Kun Fayakun” ? Jawabannya….itu adalah karena Allah ingin menunjukkan pada manusia, bahwa segala sesuatu yang baik, itu dicapai melalui proses.

Ya, proses itulah yang harus kita nikmati sebagai orangtua. Agar nanti, saat kita tua dan melihat anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang tangguh  jiwanya dan  lembut hatinya….kita bisa mengenang saat-saat kita harus selalu belajar dan belajar dalam menjaga amanah dariNya ini…

 

 

 

Derita VENUS : memutuskan jodoh, memutuskan kerja, memutuskan ART ,,,,,

Dua hari yang lalu, ART saya yang pulang pergi bantu beberes rumah dan nemenin Hana sebelum saya pulang, resign. Meskipun secara finansial masih sangat membutuhkan, namun penyakit yang ia derita tak memungkinnya untuk membantu saya lagi.

Jadilah sejak dua hari lalu saya mulai “menebar jala” untuk cari-cari ART. Yang bisa nginep kalau bisa. Sambil merencanakan Plan A, B, C, D…kalau-kalau sampai minggu depan belum nemu yang bisa bantu.

Nah, dari “jala yang ditebar” itu mulailah ada informasi-informasi. Tadi pagi saya diskusikan sama si abah.

Ada yang mau, tapi cuman bisa siang sampai jam 2. Gimana? terima atau tunggu kemungkinan lain? Kalau  diterima…gak sreg…gak bisa memenuhi semua kebutuhan….kalau gak diterima, gimana kalau nanti gak dapet-dapet juga? Kalau diterima…gimana kalau nanti ada yang bisa nginep….sayang kalau ditolak….tapi masa yang udah diterima ini dibrentiin baru sebentar….

Begitulah kira-kira kecamuk di pikiran saya. Diskusi tadi pagi belum terlalu membantu. Maklum, si abah dengan ke “mars” annya, dengan sederhana mengusulkan: “ya udah kalau gak memenuhi kebutuhan kita, gak usah diterima, tunggu lagi aja nanti sampai ada yang bisa nginep”. Namun dengan ke”venus”an saya, saya menangkal…”nanti kalau gak ada sama sekali….sampai minggu depan…sampai sebulan..gimana?” dengan mudahnya si abah menjawab: “ya nanti kita pikirkan strategi lain”…..saya gak setuju…tapi, parahnya, saya juga gak bisa memutuskan….

venusKegalauan khas VENUS seperti ini mengantarkan ingatan saya pada saat menghadapi situasi yang relatif sama belasan tahun lalu. Saat bingung memutuskan “apakah mau menerima si X ini untuk menjadi suami, tapi ada yang kurang….tapi nanti kalau ditolak…kalau gak nemu jodoh sampai tua gimana…” maupun saat bingung memutuskan waktu ada panggilan kerja dari perusahaan “A”. Kalau ini diterima, nanti  neyesel kalau minggu depan ada panggilan dari perusahaan B yang lebih keren.. tapi kalau ditolak…trus ga ada panggilan juga dari perusahaan B juga …nyesel gak?

Teori-teori manajemen resiko, tak pernah mempan mengatasi kompleksitas pemikiran si Venus seperti saya. Dan saya yakin, saya tak sendiri haha…ada banyak venus-venus lain yang akan mengalami “kompleksitas pemikiran” seperti saya 😉

Konon, itulah katanya mengapa Allah memasangkan venus dengan mars. wanita dengan pria. hawa dengan adam. saya dengan si abah. Biar “kompleksitas pemikiran” yang sering kali tak berujung pada keputusan itu, diimbangi oleh “kesimpelan berpikir” ala Mars.

Baiklah, sepertinya daripada tak bisa memutuskan, saya serahkan saja keputusannya sama si abah…haha…

Berlebay Ria pada si Super Sensi

Hari ini, waktu saya jemput Hana dari sekolahnya, si anak TK A itu bercerita : “Tadi Kaka Hana gak mau main angklung”. Waktu saya tanya kenapa, dia menjawab “takut gak bisa, nanti gak dapet bintang”.

Pengalaman punya dua anak yang telah melewati usia 5 tahun -1 laki 1 perempuan-, membuat saya menyimpulkan bahwa pada anak perempuan, ada masa dimana ia berubah menjadi “sensitif”. Takut salah, takut beda, takut dinilai, takut dikritik.

Yups…ungkapan-ungkapan dan perilaku sensitif terhadap kesalahan, sensitif terhadap perbedaan, sensitif terhadap penilaian, sensitif terhadap penolakan dan sensitif terhadap kritikan sedang tampak menonjol pada diri Hana. Saya ingat waktu Azka umur 5 tahun-an pun, fase ini terasa sekali. Tadinya saya pikir ini terjadi karena memang Azka karakter dasarnya peka.Tapi ketika fase ini juga ternyata dialami si “easy going” Hana, saya curiga ini adalah bagian dari perkembangannya.

Gimana sih gambaran perilaku “sensitif” itu?

sensitiveSaya ingat waktu dulu, ada masa Azka gak mau coba sesuatu. Takut salah. Sama seperti Hana, saat itu juga ia sedang senang-senangnya menulis beragam huruf dan angka. Saya gak berani ngasih tau kalau huruf yang dituliskanya kebalik. Karena pernah sekali saya kasih tau gitu, walaupun dengan cara halus …”bagus, tapi seharusnya baliknya kesini“… dia mogok. “Takut salah” katanya. Saya ingat banget Azka bisa nangis dan merobek kertasnya kalau mewarnai keluar garis.

Hana juga demikian sekarang. Selain dalam konteks belajar seperti perilaku Azka, setiap hari Hana cerita bagaimana dia “gak ditemenin sama temannya”, “Kata *** Kaka gak boleh duduk di kursi kuning”, “Kata ***, *** itu temennya dia, Kaka Hana harus cari temen lain katanya”.

Selain itu, dia jadi gak mau main apapun yang sifatnya kompetisi. Bahkan games pun ! misalnya, dia bisa ketakutan dan jerit-jerit histeris kalau adiknya main zombie (dan pasti kalah karena dia belum tau cara mainnya) ….“takut kalah….takut kalah…” katanya.

Sensitif terhadap penilaian? sangat terlihat jelas. Sering ujug-ujug dia nangis ketika saya atau abahnya “mengomentari” penampilannya. Misalnya : “kok mau bobo pake baju pendek?” atau menegur dia yang sehari bisa lebih dari 3 kali ganti baju dengan alasan “basah kena air minum”.

Beberapa hari lalu, mama dari salah satu teman sekelas Hana cerita bahwa anaknya juga menunjukkan perilaku yang sama. Waktu itu saya mencoba berpikir kenapa ya? Kalau yang saya hayati, sebenarnya ini perkembangan yang positif loh….seiring dengan perkembangan kognitif anak yang mulai bisa melihat dirinya dari sudut pandang orang lain, ia menjadi “peka” terhadap bagaimana sikap dan perilakunya dinilai/diterima/ditolak oleh orang lain. Mungkin ini adalah bagian dari “social awareness”; pemahaman sosial yang didasari oleh perkembangan kognitifnya.

Lalu, bagaimana menyikapinya? saya belum sempat cari di referensi. Namun menurut common sense saya, yang paling penting diberikan anak pada fase ini adalah penghargaan. Agar kesensitifannya ini tak berujung pada “mogoknya” dia untuk melakukan sesuatu dan menghambat eksplorasinya. Teknisnya, seperti waktu menganggapi Azka, saya berikan Hana pujian yang sangat lebay, sebagai ganti “umpan balik objektif”.

Misalnya, ketika saya diperlihatkan tulisannya yang terbalik semua, dengan ekspresif saya mengatakan “ya ampun….bagus banget tulisannya…ini teh tulisan anak TK A atau tulisan anak kelas 4 SD sih….” Menurut saya, saat itu umpan balik bahwa tulisannya terbalik dan belum betul, tidak dibutuhkannya. Yang dibutuhkan adalah “encouragement” terhadap perilakunya untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Mudah-mudahan ini berhasil. Soalnya dengan bangga dia “memamerkan” tulisannya sama Mas-nya, “Mas tebak…ini tulisan anak TK A atau tulisan anak kelas 4 SD….” katanya.

Meskipun sudah tau rumusnya, namun seringkali aplikasinya tak mudah. Misalnya waktu mau pergi ke luar suatu hari, Hana memilih baju yang gak nyambuuuuung banget….Aduh…..susah berlebai ria-nya. Si abah yang sudah menangkap gelagat saya akan memberikan “penilaian objektif” segera mengambil alih … “Wah, Kaka Hana pinter banget gabungin bajunya…kreatif  banget…abah gak kepikiran baju itu bisa dipake sama kaos yang itu”

Dengan “dukungan” si abah, saya semakin ahli ber”lebay” ria. Kemarin, saya kaget menemukan potongan-potongan rambut kriwilnya berserakan di lantai. Memang akhir-akhir ini ia lagi seneng “dandan”. Hana memergoki saya yang sedang memunguti potongan rambut itu. Wajahnya tampak cemas, langsung saya berkata “Ini kaka Hana yang potong? wah, Kaka Hana berbakat jadi pemotong rambut di salon nantinya….” wajah cemas dan hampir mau memangis itu berubah menjadi wajah dengan mata berbinar. “Nanti kita ke salon lagi ya, biar Kaka bisa belajar cara potong rambut itu gimana” kata saya.

Jujur saja saya tidak tahu sikap saya benar atau salah. Mungkin ini lebih didorong oleh “insting keibuan” saya. Tapi minimal, dengan cara ini saya bisa menghindari terpupuknya perasaan “saya tidak bisa” dan “tidak percaya diri” yang aya temui pada beberapa anak prasekolah, dikarenakan orantuanya terlalu sering memberikan “umpan balik yang objektif” 😉

Dan menurut pengalaman dengan Azka, ada masanya dimana anak bisa menerima “umpan balik objektif” itu dengan “jernih”. Yaitu, saat masa “sensitif”nya telah berlalu.

Jangan main-main dengan kata “sayang”

Pada jaman dahulu kala,waktu saya masih sebagai mahasiswa yang culun (antara tahun 1997-2001) ….dalam beberapa kali kesempatan, saya mendengar beberapa ibu mengatakan pada anaknya:
“Kaka, ayo makan yang bener…kalau enggak, mami gak sayang lagi ah..”
“Ade, gak boleh gitu, kalau kamu gitu, bunda gak sayang sama kamu”
“…nah..gitu doong…kalau gitu, baru ibu sayang …”

Saat itu, saya merasa…ada something wrong dengan ucapan si mami-bunda-ibu…
tapi saya gak tau apa…

Jawabannya saya dapat waktu saya kuliah konseling. Dosen saya, Ibu Prof Sawitri mengenalkan sebuah istilah ….UNCONDITIONAL LOVE…CINTA TAK BERSYARAT…

Yups…saya baru ngeuh apa yang membuat saya tidak sreg dengan ungkapan para ibu itu…
Menurut saya, cinta seorang ibu pada anaknya, haruslah TAK BERSYARAT
Itulah seharusnya, yang membedakan cinta ibu dengan cinta-cinta lainnya di dunia ini.

Bahkan menurut kajian sebagian ahli agama,
Itulah sebabnya mengapa seorang ibu dikaruniai RAHIM.
AR-RAHIM adalah salah satu asmaul husna, yang artinya MAHA PENYAYANG
Bersama ARRAHMAN, ARRAHIM adalah dua sifat Allah yang ada pada kalimah basmalah, yang selalu kita baca bila kita akan berbuat kebaikan.

Menurut Tafsir Al Misbah,
Perbedaan antara RAHMAN dan RAHIM adalah :
ARRAHMAN: menggambarkan bahwa Allah mencurahkan rahmatNya, sedangkan ARRAHIM : menggambarkan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diriNya.

ada juga ulama yang memahami bahwa:
ARRAHMAN : sifat Allah swt yang mencurahkan rahmat yang bersifat sementara di dunia ini, sedangkan
ARRAHIIM : rahmatNya yang bersifat kekal

Dari dua penafsiran tersebut, maka saya menghayati bahwa, seorang ibu…haruslah menjadi cerminan bagaimana Allah menyayangi hambanya secara PERMANEN, dengan TANPA SYARAT.

Teringat juga kisah yang diceritakan seorang ustadz:
Nabi Ibrahim adalah nabi yang terkenal selalu menyiapkan jamuan untuk tamunya, baik yang dikenal maupun tak dikenal. Ia tak pernah makan sendiri, kecuali mengundang orang lain. Suatu saat, ia mengundang seorang tamu untuk menemaninya makan. Ketika Nabi Ibrahim menyalakan api, si tamu langsung menyembah api tersebut. Saat Nabi Ibrahim bertanya, ternyata si tamu adalah kaum majusi, penyembah api. Mengetahui hal itu, nabi Ibrahim mengurungkan niatnya untuk menjamu si tamu, dan mengatakan “maaf, saya hanya mau menjamu orang yang beriman pada Tuhan saya”. Konon, saat itu Allah menegur nabi Ibrahim. “Engkau urung memberi makan orang yang tak menyembah Tuhanmu, sedangkan aku tetap memberi makan seluruh makhluk yang ada di muka bumi, walaupun mereka tak         menyembahku”

Kisah di atas menurut saya pas sekali menggambarkan ke MAHA KASIH SAYANG AN ALLAH, yang tak pandang bulu, tak bersyarat…tak harus beriman dulu untuk mendapat semua fasilitas yang Allah berikan di dunia ini.

unconditional loveHarusnya, demikianlah pula seorang ibu.
Tak harus anaknya pinter, penurut, mau belajar, mau sholat, baru ia mencintainya…
Tak harus anak-anaknya “mengemis kasih sayang ibunya” dengan melakukan hal-hal yang baik…
Kalau itu “rule”nya, tak akan pernah ada anak yang menjadi baik setelah ia melakukan kesalahan.

Kasih sayang ibu, yang tak bersyarat, itulah kekuatan yang besar bagi seorang anak manusia untuk menjadi baik…

Setelah seburuk apapun hal yang dilakukannya, kalau seorang anak tahu dan yakin bahwa….sesalah apapun dirinya, akan ada seseorang yang selalu menerimanya kembali, memeluknya, maka tak akan pernah ada anak yang putus asa …

Semoga saya tak berlebihan kalau tiap malam, menjelang tidur…saya sampaikan pada anak-anak….
Apapun yang anak-anak lakukan, ibu dan abah tetap sayang …
Semarah apapun ibu dan abah sama anak-anak, ibu dan abah tetap sayang ….
Sejelek apapun sikap anak-anak, ibu dan abah tetap sayang …

Semoga kata-kata itu akan selalu diingat oleh anak-anak saya.
Ketika kelak mereka berbuat sesuatu kesalahan yang besar, mereka akan ingat bahwa ada yang tetap mencintai mereka,
Sehingga mereka punya energi untuk memperbaiki kesalahan mereka…

 

Catatan: tulisan ini recycle-an dari note di fesbuk  dengan judul yang berbeda:

unconditional love; catatan tentang arrahim
by Fitri Ariyanti (Notes) on Tuesday, July 26, 2011 at 12:20am

Cinta itu, biarkanlah bersemi….Rasa itu, biarkanlah terhayati…

#Fragmen 1# Umar, 5 tahun . “Bu, ini Borma ya? mas Umar gak akan turun ya? kalau turun nanti mas Umar tergoda untuk beli cd ultraman, terus nanti mas Umar ngamuk”

#Fragmen 2# Abah, 37 tahun. “De, aku gak ikut ke dokter ya…nanti aku marah sama dokter itu”

………

Dua fragmen itu membuat hati saya senang. Kenapa? nanti saya ceritakan. Saya mau cerita yang lain dulu.

Beberapa waktu lalu, saya menulis status tentang Mas Umar, si 8 tahun yang bilang bahwa ia “suka” sama seorang teman perempuannya. Waktu saya tanya “emang suka itu rasanya gimana sih mas?” Dia menjawab “setiap kali ngeliat ******* teh, Mas Umar teh seperti tersenyum dalam hati”. 

Di luar dugaan saya, comment terhadap status itu tidak seperti yang ingin saya ungkapkan. Ini bukan mengenai benar atau salah…..Hanya berbeda saja. Nada-nada dari komentar-komentar terhadap status itu, arahnya “berbeda” dengan apa yang saya rasakan. Emang apa yang saya rasakan. Senang. Kenapa? karena Umar sudah memiliki ketertarikan pada lingkungannya, pada orang lain. Lebih senang lagi ketika dia bisa menggambarkan perasaannya dengan penghayatan yang original. “Rasanya seperti tersenyum dalam hati” itu, buat saya adalah kalimat yang romantiiiiis banget. Super senang, karena itu keluar dari mulut Umar. Anak yang saya khawatirkan dalam aspek sosialnya, karena ia kurang tertarik pada relasi interpersonal.

Rasa senang saya itu, didasari oleh penghayatan saya bahwa “mengenali emosi diri”, adalah kompetensi dasar dari apa yang disebut “kecerdasan emosional”.  Sejak Daniel Goleman meluncurkan bukunya Emotional Intelligence tahun 1995 silam, maka pemahaman bahwa ada kecerdasan yang lebih “powerfull” selain kecerdasan intelektual mulai merebak.

Yups, bukti-bukti memang menunjukkan bahwa seringkali, emosi seseorang “mensabotase” kemampuan berpikirnya, sehingga kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang menjadi “tak ada gunanya” pada kehidupan nyata. Dalam berumahtangga, dalam bertetangga, dalam pendidikan, dalam bekerja…..

Lalu, apa sih yang disebut dengan “kecerdasan emosi” itu? intinya ialah, bagaimana sesorang dapat mengendalikan emosinya, sehingga tak “mengganggu”. Dan…..pengendalian emosi itu diawali dengan kemampuan dasar: memahami emosi diri.

Dari link http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/5.kecerdasan.emosional/001/007/846/1/1; kita mendapatkan gambaran tahapan dari kecerdasan emosi ini:

  1. Kemampuan Mengenali Emosi Diri: anak kenal perasaannya sendiri sewaktu emosi itu muncul. Seseorang yang mampu mengenali emosinya akan memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan yang muncul seperti senang, bahagia, sedih, marah, benci dan sebagainya.
  2. Kemampuan mengelola emosi : anak mampu mengendalikan perasaannya sehingga emosinya tidak meledak-ledak yang akibatnya memengaruhi perilakunya secara salah. Meski sedang marah, orang yang mampu mengelola emosinya akan mengendalikan kemarahannya dengan baik, tidak teriak-teriak atau bicara kasar, misalnya.
  3. Kemampuan memotivasi diri : anak dapat memberikan semangat pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Ia punya harapan dan optimisme yang tinggi sehingga memiliki semangat untuk melakukan suatu aktivitas.
  4. Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain: balita bisa mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lain merasa senang dan dimengerti perasaannya. Kemampuan ini sering juga disebut sebagai kemampuan berempati. Orang yang memiliki empati cenderung disukai orang lain.
  5. Kemampuan membina hubungan: anak sanggup mengelola emosi orang lain sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang lebih luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung punya banyak teman, pandai bergaul dan  populer.

Jadi…sudah paham kan, mengapa saya senang dengan dua fragmen di awal tulisan ini?

Yups……di fragmen 1, saya senang karena Umar telah menghayati bahwa ia suka tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menginginkan cd ultraman, meskipun aturannya adalah jatah membeli cd dua minggu sekali (waktu itu dia lagi tergila-gila dengan ultraman). Ia sudah mengenali emosi yang ia rasakan. Dan ia sudah belajar lanjut ke tahap 2, yaitu mengelola emosinya dengan melakukan “pencegahan” agar itu tak terjadi.

Di fragmen 2, si abah sangat tidak suka dokternya yang cenderung meremehkan orang lain dan kurang punya keterampilan “doctor-patient communication”. Saya senaaaaang sekali karena si abah yang “lempeng” ini sekarang peka dengan perasaannya, dan seperti Umar, jadi bisa mengantisipasi situasi.

emotionKhusus untuk “menghayati perasaan” ini…saya ingin bilang….saat anak kita merasakan cinta yang begitu mendalam, marah yang amat sangat, kesal yang menyebalkan….sedih yang amat mengiris hati….biarkanlah rasa itu mereka rasa dan hayati. Jangan dipotong dengan kata-kata “eh, kecil-kecil udah cinta-cintaan”…atau “gak boleh marah….”….”lebay banget gitu aja sedih…”

Biarkanlah cinta itu bersemi, rasa itu terhayati…karena dengan cara itulah ia akan bisa menghayati emosi yang dirasakan oleh orang lain.

Semoga anak kita menjadi anak yang tumbuh dewasa dengan berupaya tak melukai perasaan orang lain, karena ia tahu rasanya sedih. Tak mengganggu orang lain, karena ia tahu rasanya kesal dan marah, dan selalu menyenangkan orang lain karena ia tahu rasanya bahagia.

Khusus untuk rasa cinta, dulu saya inget banget istilah “Virus Merah Jambu”, yaitu rasa suka dan cinta yang biasanya dirasakan para “aktivis islam”. Ada yang berpendapat itu harus ditumpas. Menurut saya tak perlu. Biarkan rasa itu bersemi, namun sedari kecil kita harus ajarkan anak-anak kita mengendalikannya. Jangan vulgar mengekspresikan cinta, sama pentingnya dengan mengajarkan anak kita “marah boleh tapi gak boleh memukul”, “kesal boleh tapi gak boleh banting pintu”.

Saya kadang suka iri sama teman-teman yang merasakan saling cinta secara mendalam, namun bisa mengendalikannya, dan ketika saatnya tiba, mereka bersatu dan bersama….semoga rumahtangga mereka menjadi terasa sangat bahagia.

Sebagai muslim, ada satu persitiwa yang menggambarkan bagaimana siroh mengajarkan kecerdasan emosi ini. Saya kutip dari http://m.dakwatuna.com/2012/09/06/22682/seperti-ketersadaran-ali/ :

Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil melumpuhkan musuhnya. Jika ingin, mudah saja baginya mengayunkan pedang guna memenggal kepala lawannya. Namun tak ia lakukan itu. Mengetahui Ali tidak segera bertindak, musuh Allah tersebut justru meludahi wajah Ali. Sungguh ejekan yang menghinakan. Diperlakukan demikian, Ali naik pitam. Alih-alih menghabisi lawannya, Ali justru menurunkan pedangnya. Ia urung memenggal. “Mengapa engkau tak jadi memenggal kepalaku?” tanya musuhnya heran. “Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin membunuhmu karena Allah. Akan tetapi ketika engkau meludahiku, maka niatku membunuhmu karena marahku kepadamu.” tukas Ali.

Penghayatan terhadap emosi diri yang ditunjukkan Ali Bin Abi Thalib, mengajarkan pada kita….bahwa penghayatan perasaan, adalah langkah awal untuk menuju kebahagiaan dan keselamatan.

Hayatilah perasaan kita, lalu kendalikan. Karena tak mungkin Allah menciptakan rasa, kalau tak ada gunanya.

 

 

Seperti tulisan di pantai yang terhapus ombak ….

Bahwa dalam kehidupan yang singkat ini kita harus berlomba-lomba melakukan amal, semua sudah tahu itu. Namun amal yang bagaimana, mungkin tak semua tahu. Dalam AlQur’an, kita diperintahkan untuk berlomba-berlomba melakukan “ahsanu amala”.

Amal yang baik. Bukan amal yang banyak.

Abu Nu’aim rahimahullahu dalam Hilyatul Auliya (8/95) berkata:

Menceritakan kepada kami Bapakku, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Yazid dan Muhammad bi Ja’far berkata keduanya, menceritakan kepada kami Ismail bin Yazid, menceritakan kepada kami Ibrohim bin Al-’Asy’ats, beliau berkata aku mendengar Al-Fudhail bin ’Iyadh berkata tentang firman Allah: ”Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”, beliau berkata: ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah”.

Konon, katanya…concern kita lebih sering tertuju pada melakukan banyak amal, namun tak begitu concern apakah amal kita itu diterima atau tidak oleh Allah. Salah satu upaya agar amal kita diterima, adalah dengan memperhatikan keikhlasan kita. Itulah yang ingin saya ulas dalam tulisan ini.

Kalau di buku pelajaran SD, ikhlas itu artinya “melakukan sesuatu tanpa mengharapkan balasan”. Di sinetron-sinetron atau dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dengar ada orang yang  bicara…”walaupun dia itu bla..bla..bla..saya mah ikhlas…” Mmmmhhh…ternyata mengikuti prinsip NO GAIN WITHOUT PAIN, ikhlas itu tak mudah loh…karena balasan keikhlasan itu sungguh besar….

Ustadzah yang rutin mengisi kajian rutin ibu-ibu di komplek saya menggambarkan “ikhlas” dengan sangat indah. “Seperti kalau kita nulis di pantai, lalu tiba-tiba datang ombak menyapu tulisan itu…sebanyak apapun tulisan kita, sepenting apapun tulisan kita, hilang….tak berbekas. Itulah ikhlas”…kata beliau. Dalem banget…..Artinya, saat kita mengungkit-ungkit apa yang telah kita lakukan, baik pada orang lain maupun pada diri kita sendiri (kan ada percakapan inter-personal, ada percakapan intra-personal), maka itu berarti kita sudah tak ikhlas.

Ikhlas itu berat? ya….sesuai dengan kemuliaan balasanNya. Bu ustadzah memberikan contoh. Misalnya kita pernah masukin kerja seseorang. Berpuluh tahuuuuun….kita sudah tak ingat. Lalu pada suatu hari, orang itu sukses melebihi kita, lalu kita bicara “coba kalau dulu aku gak masukin dia kerja….gak akan dia sukses kayak gitu..”, nah….itu udah gak ikhlas kita.

Makanya, ikhlas itu gak bisa kita “bilang di awal”. Misalnya…”ini saya ngasih ini, saya ikhlas”. Waktu-lah yang akan membuktikan apakah kita “selamat” menjaga keikhlasan kita atau tak selamat.

Karena ikhlas ini amatlah agung, pastilah si syetan akan mencari seribu satu cara untuk merusaknya. Saya pernah menghadapi seseorang yang amat sangat “menyebalkan”, menyebutkan semua kebaikannya pada keluarga saya … saya ingiiiin sekali membalas dengan menyebutkan semua kebaikan keluarga saya pada dia, biar dia ngeuh…bukankah katanya kesombongan harus dibalas dengan kesombongan? Untunglah saat itu Mas mengingatkan saya. “Kasian dia…seluruh kebaikannya habis ketika ia menyebutkan itu tadi…kita jangan seperti itu….”

Salah satu ujian keikhlasan ibu-ibu, adalah pada para ARTnya. Saya juga beberapa kali sering merasa seperti ini: “aduh, si mbak/bibi/teteh/ teh meni gitu…segitu saya udah baik…….(bla bla bla mengingat segala kebaikan saya)…tapi kenapa balasannya begini…pulang gak balik lagi/ atau gak masuk kerja tanpa izin…”

Tah, itu adalah contoh nyata bahwa kita ternyata tak ikhlas. Ternyata, semua kebaikan yang kita lakukan padanya …. secara tak sadar sebenarnya kita berharap belasan dari dia, bahwa dia akan “loyal” pada kita.

Apalagi di jaman ini, dimana ke”narsis”an dianggap sebagai hal biasa…Saya merasakan sekali…sering tak sadar tak menjaga keikhlasan. Kadang saya suka merenung….ada gak ya, sisa amal saya yang “selamat” dan jadi tabungan di akhirat nanti….

Yah..begitulah…banyaaaak sekali hal yang kita lakukan, yang sulit untuk kita jaga keikhlasannya. Kalau kata saya mah, ikhlas itu amalan malaikat. Kenapa? karena sudah “nature”nya manusia itu ingin terlihat kebaikannya. Tapi apakah kita tak mungkin menjadi seorang yang ikhlas? mungkin dooong…kan kita makhluk yang lebih mulia dari malaikat.

ikhlasMENYEMBUNYIKAN AMAL tampaknya adalah rumus generiknya. Memang, untuk amal yang wajib seperti sholat wajib, puasa, haji, zakat…itu mah harus kita tampakkan, karena sebagai syiar. Itulah sebabnya sholat wajib itu, berjamaah di masjid.

Tapi selain amalam wajib, yang sunnah harus kita sembunyikan. Shodaqoh, shalat sunnah…Itulah sebabnya shalat sunnah itu kita lakukan di rumah (konon katanya, di Indonesia ini sering salah…”jarak” antara adzan dan iqomah terlalu pendek, sehingga orang yang sholat sunnah di rumah suka gak kebagian sholat jamaah).

DOA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH AGAR AMALAN KITA DITERIMA, adalah untuk melengkapi ikhtiar kita.

Robbana taqobbal minna innaka antas sami’ul ‘alim

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar
Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah
dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Mendengar lagi
Maha Mengetahui.”

(QS 2 Al Baqoroh Ayat 127)

Indahnya Warna-Warni

Tulisan ini sebenarnya di luar mainstream topik yang biasa saya tulis. Tapi karena ada rikues dari dek Hari di Prancis sana, sambil menunggu Umar dan Hana dioprek giginya di dokter gigi, saya coba untuk menuliskan pengalaman dan penghayatan saya hidup nyaman di tengah perbedaan.

Sekali lagi, karena saya bukanlah social psychologist, saya tak akan mengutip referensi tertentu; referensi yang saya gunakan adalah murni pengalaman dan penghayatan saya.

Jujur saja, rasanya saya tidak pernah hidup dalam suatu lingkungan yang benar-benar homogen dalam segala sisinya. Dan sebagai seorang psikolog, pendidikan saya selalu menempa, mendrill saya untuk melihat dan “memahami” perbedaan. Tanpa itu, sebagai psychologist saya tak akan survive. Karena “memahami” perbedaan ini adalah pintu masuk dari “helping relationship” yang menjadi inti profesi ini.

Namun cikal bakalnya, tak pernah saya lupakan adalah pengalaman di Karisma. Saya ingat sekali, ada seorang akang penganut sebuah “aliran” yang “cukup ekstrim” saat itu. Apakah beliau “direject”? Tidak. Saya ingat beliau dulu diminta menjadi narasumber. Karena prinsip beliau ikhwan akhwat tak boleh saling melihat, maka disiapkanlah hijab antara ikhwan-akhwat dan beliau mengisi di tempat ikhwan. Saya ingat saat itu kami para akhwat bandel bebas mendengarkan materi sambil tidur-tiduran.

Di Karisma saat saya beraktifitas, ada kelompok yg terkenal dengan “liqo”nya, ada yang “dunia lainnya” adalah Menwa, teater, ada yang berprinsip pakaian yang baik itu adalah jubah dengan kerudung panjang, ada yang termasuk golongan “ikhwit” kayak saya yang merasa “there’s nothing wrong with celana panjang”.

Perdebatan? Seru pastinya…saya ingat dulu ada sahabat yang rajin ikut pengajian kang Jalal dan sering saya pinjem koleksi buku kang Jalalnya, kalau debat sama teman yang rutin liqo, bisa panjaaaaang….banget. Tapi ya itu…no hurt feelings.

Justru keuntungannya buat saya yang culun, adalah saya seperti orang yang kehausan, dan dikucurin beragam minuman menyegarkan. Kalau di kartun mah, masa itu saya banyaaaaak banget ber “ooooo” ria 😉

Mungkin karena saya merasakan serunya berbeda, maka pengajian yang saya pilih pun adalah pengajian yang menyerukan “indahnya perbedaan”. Waktu ke tanah suci, saya pilih KBIH DT. Kelompok kami ada yang bercadar, ada yang “celananya ngatung”, ada yang hijaber seksi, ada yang belum berkerudung, ada yang ustadz, ada yang masih merokok…ada yang berpendapat ini, itu, ini, itu dalam ibadahnya. Tapi kami nyaman-nyaman aja. Dua pembimbing haji kami, kalau imamin sholat subuh yang satu pake qunut yang satu lagi engga.

Pengajian rutin yang saya ikuti adalah pengajian Percikan Iman Ustad  Aam Amiruddin. Mungkin nyambung sama saya karena sama-sama akademisi. Beliau yang doktor komunikasi, bisa menyampaikan pesan-pesan agama dengan cara yang amat menyenangkan namun mendalam, serta menghargai perbedaan. Di majelis percikan iman, beragam warna seperti yang saya temukan di DT, juga bisa dijumpai. Di tempat kerja, keunikan setiap teman saya amat beragam. Prinsip hidup, cara berpikir, dll dllnya sangat beragam, dan orang psikologi biasanya pede menampilkan “keunikan” dirinya.

Kalau saya abstraksikan pengalaman dan penghayatan saya sehingga nyaman hidup dalam perbedaan, mungkin bisa saya sampaikan dalam poin-poin di bawah ini.

A. Secara Filosofis

1. Perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Gak mungkin kita hindari. Sebagai muslim, kita bisa berkaca pada banyaaaak sekali siroh yang menjelaskan perbedaan pendapat para sahabat. Kita pun tahu bagaimana sikap Rasulullah terhadap perbedaan itu. Saya kutip salah satu kisah siroh dari http://pang5kholid.wordpress.com/2010/02/19/berbeda-pendapat-bolehkah/

Sewaktu Nabi saw dan para sahabatnya jihad perang khandak yang di menagkan kaum muslimin mereka tidak langsung pulang. Tetapi mereka diseru oleh Nabi saw. Untuk langsung berangkat jihad melawan Israel Bani Qraidhah karena telah menlanggar perjanjian dengan negara Islam yang berdaulat. Di tengah-tengah persiapan pasukan rupanya Nabi saw. Menginginkan segera sampai di daerah Bani Quraidhah. Nabi saw bersabda : ‘’Janganlah salah seorang dari kalian melaksanakan Shalat Ashar kecuali di (daerah) Bani Quraidhah’’ maka para sahabat ketika di tengah perjalanan waktu Ashar mau habis mereka berhenti dan bertukar pikiran mengenai Shalat Ashar tersebut. Kemudian mereka berselisih pendapat terhadap seruan Nabi saw diatas. Diantara mereka ada yang melaksanakan shalat ashar di tengah perjalanan karena waktu shalat ashar mau habis. Mereka memahami maksud dari ucapan Nabi saw. Tersebut adalah menyuruh segera berangkat dan berjalan dengan cepat-cepat hingga karena jalan cepat itu waktu shalat ashar itu masih ada ketika pasukan sudah sampai di Bani Quraidhah. Dengan demikian pasukan bisa melaksanakan shalat ashar di daerah Bani Quraidhah. Adapun sebagian sahabat yang lain tetap tidak melaksanakan shalat ashar ditengah perjalanan. Mereka akan shalat ashar nanti setelah sampai di Bani Quraidhah. Mereka demikian karena memahami ucapan Nabi saw. Memang pasukan dilarang shalat ashar kecuali di daerah Bani Quraidhah. Meskipun ternyata mereka melaksaakan shalat ashar di Bani Quradhah telah habis waktunya. Ketika kepada Nabi saw tentang peristiwa ini, maka Nabi saw membenarkan semuanya. Dan sahabat tidaklah berpecah belah walaupun telah terjadi perbedaan pendapat.

2. Tidak harus perbedaan itu bermuara pada satu “kesepakatan”. Banyak perbedaan di dunia ini yang harus kita sikapi dengan …”Biarkanlah hal itu berbeda”

Seringkali kita membuang banyak energi psikologis karena memandang hal yang berbeda itu harus sama. Dan biasanya, “sama” itu berarti sama dengan kita. Kita menuntut pasangan untuk punya hobi yang sama dengan kita, menuntut teman kerja untuk bekerja dengan cara yang sama dengan kita, menuntut sahabat kita untuk sama “wise”nya dengan kita….

B. Secara “psikologis”
1. Active listening. 

Nah, kemampuan ini penting banget nih….Saat ada yang berbeda, jangan dengar. Tapi dengarKAN. Kalau kita mau mendengarkan, kita akan bisa secara utuh memahami landasan berpikir orang tersebut, dan secara objektif bisa menilai bahwa perbedaan itu mungkin tidak hitam-putih. Ada persamaannya di titik ini, ada perbedaannya di sudut itu. Active listening juga membuat kita bisa memahami apa “dibalik” kata-kata verbal yang diungkap orang lain. Dan, mungkin kita akan terkaget-kaget kalau ternyata perbedaan itu dipicu oleh keinginan yang sama dengan keinginan yang kita miliki.

Saya pernah punya dua pengalaman dengan hal ini. Satu waktu saya di Karisma. Ada sahabat yang ingin melebarkan pendekatan ke remaja, namun idenya kurang didukung mayoritas yang membuatnya naik pitam. Waktu ngobrol dalam keadaan tenang, tahulah saya bahwa cara yang ia  inovasikan itu diawali oleh keinginan besar dirinya untuk mengajak remaja ke arah kebaikan. Hanya memang caranya, waktu itu dirasa keluar dari koridor organisasi kita. Tapi memahami bahwa dia punya greget yang sama, itu membuat pandangan saya jauh berbeda terhadapnya, tidak menganggapnya sebagai “lawan yang harus dikalahkan”.

Pengalaman kedua, terkait sama ustadz seleb. Saya tidak pernah mau mendengarkan ceramahnya. Sampai suatu hari, saya accidentally mendengar bagaimana ia mengajak remaja-remaji untuk tak pacaran karena mendekati zina, dll dll…oh, ternyata kita punya pandangan yang sama. Hanya caranya yang berbeda…segmennya yang berbeda…

2. Jangan merasa bahwa kita paling benar.

Perbedaan itu, pandanglah sebagai differensiasi. Bukan sebagai stratifikasi.  Penghayatan bahwa kebenaran itu banyak bentuk dan jalannya harus kita pegang. Saya ingat waktu di tanah suci, setiap orang di kamar saya punya cara masak mie instan  yang berbeda. Saat kita memandang bahwa “ada banyak cara masak mie yang sama-sama benar”, masalah itu jadi kecil. Tapi buat yang merasa bahwa “cara masak mie saya yang benar, yang lain salah” … itu bisa membuat sekian banyak energi psikologis yang seharusnya difokuskan untuk ibadah, jadi tersita.

Banyak sekali pengalaman saya berinteraksi dengan orang-orang yang saya cap “tidak bagus”, setelah saya mengenal mereka, wow! banyak “hal baik” yang bisa saya temukan. Keberbauran kita hanya bisa terjadi kalau kita tak “membuat pagar” terlebih dahulu dengan mereka. Apalagi kalau “pagar”nya gak penting banget: beda gaya jilbab, beda partai, beda profesi, dll…

3. Hayati bahwa “pilihan seseorang ” (pemikiran, sikap, dll) dilandasi oleh pengetahuan, pengalaman dan karakteristik kepribadiannya. 

Nah, ini poin favorit saya. Dan kisah siroh favorit saya mengenai hal ini saya kutip dari http://rumaysho.com/shalat/panduan-shalat-witir-1006:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, ” Kapankah kamu melaksanakan witir?” Abu Bakr menjawab, “Saya melakukan witir di permulaan malam”. Dan beliau bertanya kepada Umar, “Kapankah kamu melaksanakan witir?” Umar menjawab, “Saya melakukan witir pada akhir malam”. Kemudian beliau berkata kepada Abu Bakar, “Orang ini melakukan dengan penuh hati-hati.” Dan kepada Umar beliau mengatakan, “Sedangkan orang ini begitu kuat.” (HR. Abu Daud no. 1434 dan Ahmad 3/309. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Saat seorang begitu keukeuh dengan pilihannya terhadap partai X, coba hayati….mungkin partai itu sangat bernuansa kekeluargaan. Dan kehangatan keluarga, adalah kebutuhan psikologis yang besar buat orang tersebut. Dll…dll. Saat ada teman kita yang kurang “pas” perilakunya, coba hayati kebutuhan psikologis apa yang mendorongnya….sejauh mana pengetahuannya, dll.

4. Gunakan kacamatan “abundant mentality“, bukanscarcity mentallity“.

Abundant mentality adalah mental berkelimpahan, yang memandang bahwa lingkungan punya sumberdaya. Jadi, jangan pikir bahwa segala sesuatu itu hanya kita yang punya, golongan kita yang bisa, partai kita jagonya. Ini berarti yang ia miliki adalah scarcity mentallity, mental kelangkaan. Namun kalau melihat bahwa masing-masing kita yang berbeda ini sebagai puzzle, maka pasti kita akan merasa lebih nyaman.

Saya belajar banyak mengenai hal ini dari salah seorang bos saya. Ada beberapa orang teman yang “tidak produktif bekerja” namun punya relasi luas. Oleh boss saya, teman yang “tidak produktif bekerja” ini ditempatkan di posisi untuk menjalin relasi. Sukses! si “produktif bekerja” menjadi terbantu dengan relasi yang dibangun temannya. Berorganisasi, bekerjasama, berpartai, bertetangga, apapun itu….akan lebih nyaman dan melegakan kalau pake kacamata abundant mentallity.

5. The sast but not least, saya suka banget kata-kata John Nash dalam film Beautiful Mind. Kita tak bisa menghilangkan, namun kita bisa mengabaikan. Yups…perbedaan tak akan bisa dihilangkan namun bisa kita abaikan. Gak peru kita ngomentarin, berdebat dengan orang yang berbeda dengan kita, kalau memang urusannya gak penting-penting amat. Pilihan capres misalnya…

different 2Apakah semua poin tersebut membuat kita jadi tak peka untuk mengingatkan teman-teman kita yang “berbeda” dalam artian mereka melakukan keburukan? Tentu tidak. Mengajak itu perlu. Apalagi mengajak dalam kebaikan. Harus itu. Namun kalau kita sudah mengajak tak berhasil, sudah gugur kewajiban kita. Tinggal kita berpegang teguh pada apa yang kita anggap benar, sambil menghargai perbedaan yang ada.

 

Suatu hari….di kala kita duduk di tepi pantai …

Berawal dari obral-obrol di wa grup, alhamdulillah long wiken kemarin saya bisa bersilaturahim dengan 9 keluarga sahabat aktivitas di KARISMA Salman ITB di salah satu villa di kawasan Pantai Carita-Cilegon. Acara kumpul-kumpul pasca kami menjadi “alumni” ini adalah yang kedua kalinya. Kumpul-kumpul pertama adalah di Gambung, Ciwidey. Bulan Maret juga. Lima tahun lalu. Dari 9 keluarga itu, 5 diantaranya “pasangan incest” termasuk saya hehe…

Acaranya? tak ada yang terjadwal. Karena semua sibuk dengan balita-nya masing-masing. Apalagi TKPnya di pantai. Tak kenal waktu, anak-anak selalu tak bisa tertahankan untuk bermain di pantai. Beres main di pantai? langsung nyebur ke kolam renang. Begitu terus siklusnya dari sabtu siang sampai minggu siang kita berpisah.

Di sela-sela kehebohan mengurus anaknya masing-masing, minggu pagi kami sempat berkumpul “mengenang” mentoring pagi yang kami lakukan belasan tahun lalu. Belasan tahun lalu, waktu sebagian besar kami masih “belum berbobot”, waktu belum ada balita yang mengganduli kami. Meskipun hanya kurang lebih setengah jam, sesi itu berhasil mengundang gelak tawa. Si bapak-bapak, semalam setelah acara barbeque ternyata melanjutkan percakapannya sampai jam setengah 12 membocorkan sedikit apa yang mereka bahas semalam. Walau tak tahu pasti apa yang dibicarakan, saya jamin pasti seru. Pasti temanya macem-macem dari sabang sapai merauke, debatnya panas, yang ujungnya satu : gelak tawa. Persis belasan tahun lalu. Ibu-ibunya? juga masih seperti belasan tahun lalu. Kalau ketemu curcol. Cuman beda topik. curcolnya kini tentang anak.

Setelah itu, ada sedikit game untuk anak-anak. Mengamati interaksi ke-26 anak yang hadir, menjadi keseruan tersendiri buat saya. Senaaaang sekali mereka masing-masing menjalin “geng-geng” persahabatan, dengan caranya masing-masing. Melihat interaksi para bapak-bapak yang begitu hangat sama anak-anaknya, juga sangat memperkaya hati. Sementara ibu-ibunya, setelah bertransformasi menjadi emak dengan beberapa anak, ternyata kemampuan manajemennya tak berkurang sama sekali. Masih setangkas waktu mengelola mentoring atau pembinaan calon pembina belasan tahun lalu. Cuman beda aja yang dikelola. Kali ini yang dikelola adalah beragam masakan yang maknyusss waktu disantap beramai-ramai.

Dulu, sekitar tahun 2011, ketika waktu saya beraktifitas di karisma telah habis karena mau lulus, saya pernah duduk di tangga masjid Salman ITB, menatap satu demi satu tempat kami biasa berkumpul entah untuk rapat ataupun hanya ngobrol-ngobrol. Koridor, lantai kayu, halaman rumput….aduuuh…saya gak kuat nangis waktu itu (hiks…kenapa jadi berkaca-kaca gini ya…). Saya ingat waktu itu bertanya dalam hati..”bagaimana saya dan sahabat-sahabat saya 1o tahun lagi ya? semoga dipanjangkan umur…”. Kini ….10 tahun itu sudah berlalu. Saya bersyukuuur sekali masih bisa bertemu dan “menjalin persahabatan” dengan teman-teman di Karisma.

Dari sekian banyak kegiatan dan pertemanan yang saya alami, jujur saja pertemanan dengan orang-orang Karisma adalah yang paling berkesan untuk saya. Mungkin karena waktunya pas di tahap usia saya “sedang mencari jatidiri”; sehingga pengalaman yang  saya hayati dari  sahabat-sahabat di Karisma cukup memberi warna pada diri saya sekarang.

karismaUniknya, pertemanan kami justru erat karena kami yang amat berbeda. Dari jaman kita culun dulu sampai jaman sekarang kami, kami mengambil jalan yang berbeda. Mulai dari cara berpakaian, aspirasi politik, madzhab fikih, pilihan profesi…apapun…..di WA grup, diskusi kami bisa sangat panas….sepanas raker belasan tahun lalu. Tapi….mungkin teori “sibling” berlaku pada kami. Kan katanya, antar saudara itu berantemnya bisa hebat banget karena masing-masing merasa “aman” dan yakin bahwa saudaranya tak akan melakukan hal yang menyakiti dan melukai. Sepanas apapun perdebatan kami, setelah itu tak ada jejak perasaan personal apapun. Akhirnya, selalu kami mengambil jalan masing-masing dan menghargai perbedaan yang ada.

Waktu koordinasi untuk ketemuan di Gambung Ciwidey 5 tahun lalu, kami masih menggunakan media milis sebagai sarana komunikasi. Setelah milis cuman diisi jangkrik yang mengisi keheningan, akhir tahun lalu tiba-tiba saya diinvite ke grup wa. Tahun-tahun ke depan, entah apa lagi yang jadi media kami. Yang jelas, saya senaaaaang sekali ikatan antara kami tak terputus. Minimal di milestone kehidupan sahabat kami  bertemu. Menikah, punya anak…mudah-mudahan  teruuuus sampai nanti saatnya menikahkan putera-puterinya, dan merayakan kelahiran cucu-cucunya.

Sebenarnya, di luar romantisme persahabatan, saya dapat satu hal dari sahabat-sahabat saya ini. Role model. Kesederhanaan, keikhlasan, konsistensi, kesungguhan, dll dll  yang sejak dulu kita bicarakan sebagai idealisme, mewujud dalam bentuk tiga dimensi dalam diri sahabat-sahabat saya itu. Saya punya role model sahabat yang sangat menonjol keistiqomahannya, saya punya role model sahabat yang unggul dalam kesungguhannya, dll dll…..

Semoga persahabatan kita abadi. Dengan media doa, tak hanya di dunia. Tapi juga di akhirat. Nanti kita bisa mentoring lagi disana.

 

Next Newer Entries