Menjadi “detektif” saat anak kita mengalami “regresi”

Sudah tiga minggu, mbak yang pulang pergi bantu ngurus rumah dan nungguin Hana si TK A sebelum saya datang, resign karena kesehatannya kurang memungkinkan. Maka, tiga minggu ini kami sekeluarga disibukkan dengan adaptasi terhadap hal tersebut. Kalau beberes rumah sih…ada solusinya meski tak ideal. Yang paling bikin bingung adalah gak ada yang pegang Hana. Akhirnya saya mengerahkan bantuan dari seluruh penjuru dunia. Haha…hiperbolis. Concern saya adalah, Hana tetep nyaman secara psikologis. Banyak sih alternatif untuk dititipin. Tapi yang bikin dia nyaman???? Akhirnya, solusi sementara ada janjian sama adik saya yang kuliah di Bandung…..hari-hari apa aja dia bisa jaga Hana. Di luar hari-hari yang adik saya gak bisa…saya akan usahakan pulang siang atau Hana dianter ke Jatinangor….Hhhhmmmm…

Di tengah keriweuhan adaptasi itu, Hari Senin dan Selasa minggu lalu, Hana berturut-turut nangis di sekolah. Berjam-jam. Pengen ke ibu.  Setelah ketemu saya, dia meluk eraaaaat banget. Trus dua hari itu, di rumah dia nempeeeel….banget. Fisically. Gak boleh ibunya gak kliayatan. Pengen dipangku terus. Itu kan perilaku anak umur 2-3 tahun….

Nah….perilaku seperti Hana ini, dalam psikologi disebut perilaku “regresi”. Artinya, perilaku anak “mundur” ke tahap sebelumnya. Nangis di sekolah pengen ke ibu kan perilaku anak umur 3 tahun…dan Hana, waktu di PG pun gak pernah kayak gitu. Perilaku-perilaku regresi lain yang sering ditunjukkan anak adalah mengalami gangguan tidur (misal mimpi buruk), ngompol/bab di celana, gak mau tidur sendiri, manja banget, ngemut jari…..dengan catatan, perilaku tersebut sudah lama ditinggalkan anak.

Seberat apa dan sejauh apa regresinya, tergantung dari seberapa berat ketidaknyamanan psikologis yang dialami anak. Temen saya yang di Klinis Dewasa, pernah menemui klien yang mengalami traumatis berat, terus-menerus mempertahankan posisi “meringkuk” seperti janin. Konon, secara teoretis ia “regresi” sedemikian jauhnya sampai ke tahap ia masih dalam kandungan ibunya.

Apa penyebab dari perilaku regresi ? secara sederhana, perilaku regresi disebabkan adanya ketidaknyamanan psikologis yang dirasakan anak. Sebagai orangtua, pastinya kita harus mengetahui apa sumber ketidaknyamanan anak. Setelah mengetahuinya, kita bantu anak untuk mengatasinya agar perasaannya kembali nyaman, secara psikologsi ia kembali aman.

Sayangnya, untuk mengetahui sumber ketidaknyamanan psikologis anak itu, ada yang gamblang-terang benderang misalnya pindah rumah, ortu baru bercerai, berpisah sama orang yang sangat dekat dengan anak, lahirnya adik….ada yang “sulit terdeteksi” oleh kita sebagai orangtua. Mungkin karena secara fisik di luar pengetahuan kita, atau mungkin buat kita itu bukan “masalah”.

Saya masih yakin bahwa teori yang menyatakan bahwa perilaku reresi pada anak disebabkan oleh adanya suatu ketidaknyamanan psikologis adalah benar. Oleh karena itu, kalau kita belum mengetahui apa sumber ketidaknyamanan anak, maka kita harus lebih peka untuk menjadi “detektif” sampai kita menemukan apa sumber masalahnya.

Menghadapi anak yang mengalami regresi, biasanya kita tidak sabar. Penyebab ketidaksabaran kita adalah:

(1) Ya…kesel aja….masa anak 6 tahun bab di celana…..masa anak 7 tahun  yang biasanya mandiri, tiba-tiba gak berani tidur sendiri… Saya memahamiiii sekali kekesalan ini. Saya juga 2 minggu lalu itu kesel banget sama Hana. Pengetahuan bahwa perilaku anak disebabkan oleh hal yang membuatnya tidak nyaman secara psikologis, semoga membantu meredakan kekesalan kita. Jahat banget bukan, kalau kita semakin “menambah ketidaknyamanan psikologis” anak dengan memarahinya. Yakinlah….perilaku anak itu bukan karena dia manja….

(2) Oke…kita sudah tahu bahwa perilaku regresi anak itu merupakan ekspresi ketidaknyamanan psikologisnya. Ada jebakan “ketidaksabaran” yang kedua. Kita ingin segera mengetahui apa yang menyebabkan anak tidak nyaman secara LANGSUNG dan VERBAL dari anak. Maka, tanpa sadar kita pun MENGINTEROGASI anak. “Kenapa sih? anak teman nakal di sekolah?”….”Ayo..ngomong atuh sama ibu..ibu gak akan tau kalau kamu gak cerita…” mungkin kita akan mengatakan hal itu.

Anak yang menunjukkan perilaku regresi, pastilah akan sulit untuk mengungkapkan permasalahannya secara verbal. Da kalau dia bisa mah gak akan regresi atuh….. Ada beberapa hal penyebab anak tidak akan bisa menyampaikan sumber ketidaknyamanannya secara psikologis:

a. Anak juga tidak tahu apa yang terjadi dengan dia. Kenapa dia merasa tidak aman, tidak nyaman…..

b. Kalaupun anak tahu, seringkali kemampuan bahasa anak masih terbatas untuk mengungkapkanya pada kita.

c. Nah, ini yang harus diwaspadai. Bisa jadi perasaan negatif dan rasa tidak aman yang dirasakan anak disebabkan oleh hal-hal yang amat berat untuk dia. Misalnya dia mendapatkan ancaman, atau pelaku ketidaknyamanannya adalah orang yang dekat dengan dia, dll dll.

Maka, menghadapi situasi ini…tak lain tak bukan….kita sebagai figur yang paling dekat dengan anak, haruslah menjadi detektif ulung. Gimana caranya?

(1) Pada anak, berikan keamanan dan kenyamanan yang amat dia butuhkan saat ini. Berikan toleransi pada dia. Pelukan erat dan hangat, elusan di kepala,  biasanya sangat dia butuhkan di saat ini. Berikan dengan tulus. Dia pasti membutuhkannya, apapun penyebab ketidaknyamanan dia dan masalah yang dihadapinya.

(2) Setelah anak merasa aman dan nyaman, biasanya akan lebih mudah bagi anak untuk membuka perasaannya. Tapi jangan harap langsung jreeeeeng….anak menceritakan semuanya secara terbuka. Tetep, butuh kesabaran. Mungkin anak menyampaikannya dalam bentuk simbol. Ini yang harus kita peka.

(3) Selama masa tersebut, cobalah untuk meluangkan waktu menemani aktifitas anak. Mengantar anak ke mobil jemputan, mengantar anak ke sekolah dan ke kelasnya, lalu coba untuk peka menangkap bahasa tubuh anak. Misalnya saat melihat sopir jemputan anak memegang erat-erat tangan kita, atau anak “mogok” pas masuk kelas…..itu pertanda ada sesuatu di situ. Setelah itu, coba “korek” perasaan anak. Perasaan….bukan kejadian. Misalnya: “kaka takut sama pak sopir?” Hindarkan kata tanya “kenapa”.  

Saya punya pengalaman dengan hal ini. Setahun lalu, setiap kali Hana masuk tol, dia pasti teriak-teriak: “gak mau ke jalan tol ! gak mau ke jalan tol !” Tentunya ia gak bisa ditanya kenapa. Akhirnya kita suka “bohong” bahwa ini bukan jalan tol, sambil saya peluk erat. Beberapa minggu kemudian, waktu saya tanya…kakak takut ke jalan tol? emang di jalan tol itu ada yang jahat ya? ada yang gak nyenengin kaka ya? dll dll….barulah dia bilang :“kaka gak mau ke jalan tol soalnya jalan tol berarti ke jatinangor. kaka gak mau ke sekolah jatinangor, soalnya **** nya nakal”. Oh, ternyata waktu dia dititip di day care di Jatinangor, dia punya pengalaman buruk sama salah seorang temannya.

(4) Buka pikiran……siapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang di luar pikiran kita. Jangan bilang “ah, gak mungkin dia mengalami ini”

(5) Saat anak sudah “terbuka”, kita harus terus menjaga kepercayaan anak. “Keep calm” istilahnya mah. Jangan reaktif. Entah reaktif menyalahkan orang lain. Misalnya anak cerita bahwa dia dibully temannya, terus kita langsung marah-marah, “biar ibu laporan tuh anak ke guru….bla..bla..“… Itu akan berat buat anak. Karena pasti kalau ringan mah dia sendiri yang akan laporin ke bu guru. Khusus untuk kasus bullying, banyak anak yang kemudian semakin tertutup karena sikap orangtua nya yang konfrontatif terhadap temannya pelaku bullying. Yang paling gak boleh lagi kalau reaksi kita “marah” ke anak. “Kaka sih, gak bilang engga. Harusnya kaka lawan dong…” Wah, it akan menghancurkan kepercayaan anak pada kita.

(6) Saat anak sudah terbuka, nyatakan secara verbal kalau kita tetap akan melindunginya, dan bicarakan alternatif penyelesaian yang akan kita lakukan (pada anak yang masih muda, umum saja). Tetap, hayati dan pertimbangkan perasaan anak. Misalnya kita bilang ; “ya udah, ibu akan bilang ke bu guru agar anak itu dijauhkan dari kamu dan gak akan pukul kamu lagi”. Kalau dia bilang “tapi kata dia, kalau aku ngadu nanti dibilang cengeng” atau yang paling ekstrim misalnya, “kalau lapor aku mau dibunuh… “ Jangan abaikan perasaan itu dengan bilang…”tenang aja, ibu yang akan beresin”. Menjaga perasaan anak nyaman dan aman, penting sekali untuk kita perhatikan, agar peristiwa yang tak menyenangkan ini tak membekas secara permanen pada kondisi psikologis anak.

(7) Mengunjungi profesional (psikolog) bisa menjadi alternatif bila kita merasa tidak sanggup.

Saya pernah mengikuti workshop Play Therapy dengan instruktur tim psikolog dari Belanda, dan salah satu kasus yang disampaikan oleh mereka adalah, ada seorang ibu ynag menduga anaknay mendapatkan sexual abuse dari kakeknya, yang selama ini menjaga dia kalau ibunya pergi. Nah, si anak sampai akhir gak mau cerita. Tapi lewat beberapa media bermain, akhirnya bisa diketahui bagaimana perasaan anak dan apa yang terjadi.

Untuk masalah Hana, akhirnya di hari Rabu, dugaan saya mengenai penyebab ketidaknyamanan psikologis dia terungkap. PAs mau pergi sekolah diabilang: “nanti kaka  pulangnya dijagain siapa? (sambil mau nangis)”. Saya peluk dia.Saya bilang, selama kita belum ada mbak baru, Kaka jangan khawatir…akan ada om nya yang jaga, atau ibu yang jemput Kaka di sekolah, atau nanti kaka ke kampus ibu dan kita makan bareng di resto favoritnya. Dia pun tersenyum dan situasi kembali “normal”

……………………

Beberapa hari ini kita mendengar banyak cerita mengenai anak 5 tahun yang disodomi di sebuah sekolah internasional. Sedah banyak yang membuat tulisan mengenai mengajarkan anak bagaimana mengatakan “tidak”, atau mengenai pendidikan sexual.

Tulisan ini saya maksudkan untuk melengkapi sisi yang berbeda,  saat anak kita mungkin mengalami hal serupa (semoga Allah selalu melindungi anak kita dari keburukan).

Melalui tulisan ini juga saya ingin mengatakan pada semua ibu…..Saat ada hal yang tak baik pada anak kita….jangan berpikir itu akan “merusak” seluruh kehidupan anak kita ke depannya. Tidak ! pasti Allah tak akan dzalim. Peristiwa itu, jadi pelajaran buat kita. Tapi Allah juga sudah memberi ilmu untuk menghindari keburukan yang lebih lama. Psikologi, telah mengenal yang namanya RESILIENSI. Yaitu kemampuan seseorang _keluarga, ibu, anak, dll_ untuk “bounce back”- bangkit kembali dari kondisi psikologis yang terpuruk. Dan kita, sebagai ibu…punya peran penting dalam menjaga anak kita …. menghindarkan diri dari keburukan yang mungkin menimpanya, dan melindunginya saat keburukan itu telah menimpa, agar efeknya tak menghancurkan sisi hidup anak kita.

 

The reason for regressive behavior can be a big event in your child’s life that she finds disruptive. Some common causes of regression are the birth of a younger sibling, moving to a new home, changing schools, divorce, severe illness or death in the family, or high levels of stress in the family. – See more at: http://www.fisher-price.com/en_US/playtime/parenting/articlesandadvice/articledetail.html?article=tcm:169-25150#sthash.nugBRByk.dpuf

Saat anak kita mengalami kegagalan …..

Kalau ada yang bilang wanita itu tidak bisa mencintai lebih dari satu orang pada waktu yang sama, saya gak setuju. Karena saya bisa. Saya mencintai 4 orang yang berbeda, dalam waktu yang sama. Dengan cinta yang sama besar, namun berbeda rasanya. Empat orang itu tentulah anak-anak saya. Kaka Azka si hampir 11 tahun, Mas Umar si 8 tahun. Kaka Hana si hampir 5 tahun, dan de Azzam si 2 tahun.

Saya mencintai mereka sama besar. Mereka berempat sudah hafal cerita “empat gunung sayang” yang suka saya ceritakan, terutama meladeni request Hana. Saya bilang “ibu punya empat gunung sayang. Satu gunung buat Kaka Azka, satu gunung buat Mas Umar, satu gunung buat de Azzam…….” saya menikmati sekali saat Hana bertanya “Satu gunung lagi buat siapa?” dengan wajah ekspresifnya yang cemas….biasanya, sengaja saya menunjukkan wajah bingung. “Buat siapa ya……buat ab……” nah, dia biasanya sampai nangis kalau dibilangin gitu. Tapi begitu saya bilang “satu gunung lagi buat  si kriwil yang istimewa” ….binar matanya yang rada sipit itu terlihat jelas sambil jerit-jerit kegirangan atau peluk-peluk dan cium basah haha…

Seperti semua ibu yang lain, saya mencintai mereka sama besar namun dengan “romantisme” yang berbeda. Saya punya memori-memori yang tak terlupakan dengan masing-masing dari mereka. Dan, dalam tulisan ini yang ingin saya ceritakan adalah memori bersama Kaka Azka. Saya punya “chemistry” yang kuat dengan Azka. Mungkin karena sama-sama anak pertama. Daaan…kalau Umar itu adalah “little abah”, maka Azka adalah “kembaran ibu”  kata si abah. Mulai dari hal-hal yang positif seperti rajin belajar, gemar menabung dan banyak sahabat haha….sampai hal negatif misalnya cara marah hehe….

azkaWaktu kelas empat, Azka pengen banget jadi dokter kecil. Karena cita-citanya ingin jadi dokter. Saya mendukungnya sepenuh hati. Dan saya pun menyemangatinya dengan menceritakan bagaimana dulu pun saya menjadi dokter kecil waktu SD. “Kebanggaan” memakai jas putih dokter itu, semangat saat mengikuti lomba dokter kecil antar sekolah….dll dll. Sayangnya karena kuota untuk jadi dokter kecil di sekolah Azka terbatas, dilakukan seleksi. Seleksinya 2 tahap. Tulis dan praktek. Di semester pertama dia ikut test, dia gagal. Semester selanjutnya, saya kembali mendorong dia. Dia pun rajin menghafalkan materi-materi yang akan diujiankan. Sampai suatu hari dengan riang dia mengatakan lolos seleksi tertulis. Tinggal test praktek.

Saya ingat banget saat itu suatu sore, sepulang sekolah dia dibawa sopir menjemput saya. Dengan ragu dia berkata…“bu, Kaka gagal lagi”. “Oh kenapa?” saya tak berhasil menyembunyikan kekagetan saya. “Iya, tadi kan ujian prakteknya disuruh praktek P3K membalut luka, terus dikasih batas waktu. Pas waktunya habis Kaka belum selesai“. Saya ingat betul apa yang saya rasakan saat itu. Saya ingat bahwa saya tidak tahu apa nama perasaan yang saya rasa. Yang jelas, rangkaian kalimat ini yang dengan lancar keluar dari diri saya adalah: “tuh kan..ibu kan udah bilang…Kaka itu, kalau apa-apa itu harus lebih cepet. Udah sering loh, ibu bilang gitu. Nah, akibatnya gini kan….Makanya, coba kaka turutin ibu…berusaha lebih cepet kalau apa-apa teh”. Tapi syukurnya, kalimat itu hanya terucap dalam hati.

Ada yang menahan saya untuk tak mengucapkannya. Yaitu kata-kata Azka selanjutnya. “Tapi gak apa-apa bu….banyak kok temen-temen Kaka juga yang gagal”. Dia menyebutkan beberapa nama sahabatnya. “Lagian kan, Kaka mungkin masih bisa ikut lagi semester depan. Kaka akan berusaha lebih keras”. Hiks..hiks…kenapa sekarang jadi berlinang ya…persis seperti saat itu. Saya sangat mengenal kalimat itu. Bukan persis kalimatnya. Tapi “pesan” yang ingin disampikan dibalik kalimat itu.Itu adalah “pesan” yang selalu saya sampaikan pada mama, pada papa saya saat saya mengalami “kegagalan”. “Menghibur mereka”. Karena saya merasa, telah mengecewakan mereka”. Saya harus menunjukkan bahwa saya kuat, I’m oke. Tapi benarkah saya sekuat itu?

Dalam waktu sepersekian detik, saya pun teringat satu pengalaman. Saya pernah bertemu seorang anak remaja. Dia gagal masuk di jurusan-jurusan yang diinginkannya di perguruan tinggi. Ibunya yang terlebih dahulu berkata pada saya, menyampaikan betapa hancur hatinya, betapa cemas dia akan masa depan anaknya. Si ibu pun mengatakan anaknya malah “lempeng-lempeng aja”. Lalu saat saya bertemu si anak, ia menyampaikan sesuatu yang tak pernah saya duga. “Ibu pikir saya tidak kecewa dengan kegagalan saya? saya kecewa bu, sedih, hancur. Dan saya harus mengatasi kekecawaan saya, juga mengatasi kekecewaan orangtua saya”.

Saat itu, saya ingat betul, saya “tersadar” dan memeluk Azka dengan erat. Saya …. secara “refleks” hampir saja akan menjadi ibu yang menambah beban bagi anaknya. Saya tahu, Azka kecewa. Sangat kecewa. Sedih, sangat sedih. Ia begitu ingin menjadi dokter kecil. Tapi dia berusaha tegar. Sikap ibunya membuatnya harus berusaha mengobati kekecawaan dan kesedihannya seorang diri, PLUS mengatasi kekecewaan ibunya. Waktu itu lalu saya tanya….“Kaka sedih ya?” dan pecahlah tangisnya. Kami pun berdua berpelukan sambil menangis. Saya usap-usap kepalanya. Saya tak mau bilang apa-apa. Takut terdengar sebagai basa-basi. Saya cuman mau peluk dia, semoga dia merasa bahwa dia tak perlu merasa  harus menguatkan diri. Saya maluuu sekali. Saya hampir melakukan satu kesalahan fatal. Seharusnya, sebagai seorang ibu saya yang “melindungi” dia, bukan dia yang berusaha “melindungi” saya.

Ya, salah satu hal terindah yang saya pelajari dari anak-anak saya adalah, bagaimana saya harus terus…terus dan terus belajar untuk mencintai mereka. Dalam keadaan apapun. Peka menghayati perasaan mereka, bersikap “bijak” menemani mereka dengan tulus, tanpa syarat. Saat anak kita mengalami kegagalan, yang mereka butuhkan adalah dukungan. Bukan celaan. Ya, seringkali kekecewaan kita sebenarnya lebih pada karena kita merasa bahwa keberhasilan yang seharusnya diraih itu, sangat penting buat anak kita. Kita sangat ingin anak kita bahagia dan berhasil mencapai apa yang kita inginkan. Sayangnya, sikap kita secara spontan sama sekali tak menggambarkan hal itu. Mungkin karena kita terlalu egois untuk lebih peduli pada perasaan kita dibanding perasaan anak kita.

Kaka Azka, Ibu love You…More and more…

Merenungi marah kita pada anak….

Teman-teman yang sudah jadi ibu, pernahkah kita marah pada anak? Kalau jawabannya “tidak pernah” ….ah, saya gak percaya….haha…. #ngapain nanya#

Pernahkah kita liyat ibu yang marah pada anaknya? saya pernah. Waktu itu si anak usia 5 tahun “mengganggu” ibunya yang tengah dengan penuh perasaan “curhat” pada temannya. Tampaknya topiknya sangat serius, karena si ibu “curhat” dengan penuh emosi. Si anak minta dianter pipis. Si ibu, tentu saja merasa terganggu dan meminta anak untuk pipis sendiri. Itu di tempat umum. Saya paham kalau si anak enggan. Kedua kalinya si anak minta dianter ibu, si ibu bereaksi dengan sangat marah, menjewer telinga si anak sekeras-kerasnya….sambil mengatakan si anak manja, penakut, dll dll….Si anak menangis. Saya pun berkaca-kaca. Terbayang rasa sakit yang dialami si anak, karena dari ekspresi wajah si ibu, tampaknya si ibu benar-benar melakukannya dengan sekuat tenaga, dengan sepenuh kemarahan yang dia punya.

Peristiwa itu memunculkan satu pertanyaan pada diri saya. Ibu itu, sebenarnya marah pada anaknya karena anaknya melakukan kesalahan, atau anak itu adalah pelampiasan dari kemarahannya pada hal lain? Pertanyaan itu menjelma menjadi cermin besar buat saya. Tiba-tiba saya menjadi begitu ingin mengingat-ingat….setiap kali marah pada anak-anak saya, apakah itu karena ulah mereka, atau karena saya sedang kesal pada sesuatu dan menumpahkannya pada mereka?

Sejak saat itu, saya iseng “men-tally” setiap kali saya ngomel ke anak-anak, apa penyebabnya. Daaaan….ternyata, hipotesis yang saya rumuskan dalam hati terbukti benar. Bahwa sebagian besar kekesalan saya pada anak-anak saya, bukanlah karena murni anak-anak saya, tapi karena kekesalan saya pada hal lain. Yups…memang sih, Azka kalau dipanggil lama untuk keluar kamarnya….tapi kalau mau jujur, harusnya saya tak se”marah” itu ….saat itu saya marah besar karena lagi sebel sama bos saya.  Ya….kayak gitu-gitu lah kejadiannya.

Kalau mau jujur, banyaaaak sekali kekesalan kita pada anak, bukanlah karena perilakunya. Saat kita omelin anak kita di restoran karena “gak mau diem” misalnya, mungkin itu karena kita kesal kenapa pesanan makanan kita gak dateng-dateng. Saat kita “mencubit” anak kita yang merengek minta jajan misalnya, mungkin itu karena justru pikiran kita lagi pusing karena sedang bokek, dll dll.

Pernahkah teman-teman memarahi panjang lebar anak padahal sebenarnya ditujukan pada suami kita? misalnya: “Kaka, kenapa sih kalau handuk tuh gak dijembrengin di tempatnya…kalau kaka gak biasain dari kecil, nanti sampai besar teruuus aja kayak gini” (sambil lirik suami kita). Atau saat kita kesel karena suami lagi “nyantei” trus gak “proaktif” bantu kita yang kerepotan  ngurus anak-anak, pernah gak ngomel panjang lebar gini….”Adik…kenapa sih apa-apa teh mau sama ibuuuu terus….ibu kan cuman punya dua tangan….emang engga ada orang lain ya, yang bisa adik mintain bantuan?” haha….kok saya menghayati banget gini ya…..maklum, pengalaman pribadi haha….

displacementNah, yang kayak gitu tuh kalau kata om Freud, namanya “displacement”, yaitu suatu upaya “pertahanan diri” dimana kita menumpahkan emosi negatif yang kita rasakan dari orang yang lebih superior dari kita, pada orang yang lebih “inferior” dari kita.

Daaaan…it’s unfair !!! absolutely ! marah yang kayak gini tuh biasanya gak efektif. Kan katanya marah yang efektif itu bisa mengubah situasi. Tapi kalau marahnya model ngomel karena melampiaskan emosi gini, biasanya gak ngefek apa-apa ke anak. Apalagi anaknya masih kecil, yang perkembangan persepsi auditorynya masih terbatas. Mana bisa dia nangkep inti pesan dari serentetan kata-kata omelan yang keluar dari mulut kita….Yang akan anak pelajari dari kita adalah, bahwa kekesalan itu bisa ditumpahkan pada orang lain yang lebih lemah. Maka, jangan heran kalau si kakak sedang kesal pada temannya di sekolah, si adik jadi sasaran kemarahan.

Jadi lain kali, kalau mau marah atau ngomel ke anak, stop….brenti dulu…hayati dulu…apakah mereka memang melakukan sesuatu kesalahan sehingga “layak”  menerima kemarahan ini?  atau karena kita butuh seseorang yang lebih lemah dari kita untuk melampiaskan kemarahan kita?  #ini self talk buat saya# 😉

sumber gambar: http://blogasarea.files.wordpress.com/2010/12/displacement.png

Memberanikan Diri Menghadapi Kematian

Memang dahsyat gelombang politik yang mendera kita di bulan, minggu dan hari-hari terakhir ini. “Pesta demokrasi” yang masih akan berlanjut sampai akhir tahun ini, disadari atau tidak-dihayati atau tidak- telah banyak menyita perhatian kita. Terutama karena 5 tahun lalu, media sosial dan segala macam saluran kumpal-kumpul online mungkin tak sedahsyat sekarang. Ajak-mengajak, dari mulai yang haluuuuus sampai yang vulgar….Ancam mengancam, dari mulai yang santuuuuun sampai yang sarkastis serta hujat menghujat, dengan segala cara tampak secara telanjang. Mungkin karena di media online orang tak berhadapan wajah, jadi rasanya merasa bebas untuk menumpahkan segala macam emosi dan gagasan, tak peduli apa dampaknya bagi orang lain.

Siapapun, dimanapun, kapanpun, dalam tataran apapun, di hari-hari belakangan ini rasanya hampir tak ada dimensi yang luput dari pembicaraan soal politik. Tentang memilih apa, siapa, mengapa. Juga tentang jangan memilih apa, siapa, mengapa. Mulai dari tukang jengkol di pasar cibogo, sampai dengan para profesor di rektorat sana…topik pembicaraannya sama.

Dan yang baru saya hayati di pesta demokrasi tahun ini adalah, tahun ini…entah mengapa saya baru ngeuh bahwa soal memilih apa, siapa dan mengapa vs jangan memilih apa, siapa dan mengapa ini….membuat banyak orang “menelanjangi dirinya”. Maksudnya bukan dalam artian negatif sih….cuman kalau saya mengilustrasikan, banyak orang-orang yang selama ini “invisible”, keluar dari “tempat persembunyiannya”, secara nyata menampilkan dirinya siapa. Nah, “siapa”nya ini amat beragam. Dari sudut pandang keagamaan, kesukuan, kebudayaan, ideologi…intinya, VALUE kehidupan seseorang…itu terlihat jelas..terang benderang dalam situasi ini. Banyak orang yang merasa kini mereka harus membuka “bungkus-bungkus peran sosial” mereka ini dan mengargumenkan bahwa mereka adalah yang paling benar.

Ternyata, perbincangan tentang  memilih apa, siapa dan mengapa itu alasannya….mulai dari hal yaang amat praktiiiiiiis sampai hal yang amat filosofis. Mulai dari hal yang besaaaaaaar…sampai hal super-mikro. Mulai dari pertimbangan peristiwa jaman duluuuuuuuuu sampai dengan mempertimbangkan masa depan, bahkan masa depannya lagi, yaitu akhirat yang abadi.  Saya yang “lugu” ini terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa hal teknis memilih-atau golput, itu alasannya bisa seribu satu. Yang memilih misalnya. Apakah alasan mereka-mereka sama? tidak…..yang memilih satu partai, yang memilih seorang caleg, yang nanti memilih seorang presiden, apakah mereka memiliki latar belakang pemikiran yang sama? TIDAK. Demikian juga dengan tak memilih. Saya terheran-heran begitu kompleks, dalam, makro, buesarrrrr, dan “mengakar”nya alasan-alasan yang mendasari perilaku mencoblos atau tidak ini.

Namanya juga obral-obrol…..seringkali obrolan-obrolan yang saya cermati, meskipun diawali dengan pertanyaan yang sama; milih apa dan siapa….namun pas bab “mengapa” …itu ternyata amat mendalam dan amat meluas. Beyond imagination lah….

Lalu, apa kaitan isi tulisan ini dengan judulnya? perbincangan di bulan, minggu, dan hari-hari terakhir mengenai “mengapa” memilih “apa” dan “siapa” ini membuat begitu banyak informasi dan argumentasi berseliweran dengan liar. Beberapa diantara informasi itu, seperti ombak besar yang menabrak karang. Karangnya itu saya hehe….Pembicaraan mengenai “memilih apa, siapa dan mengapa” ini beberapa diantaranya berhasil membuat saya menjadi berpikir ulang mengenai hal-hal yang paling mendasar dalam hidup saya. Yaitu KESELAMATAN.

Nah, ini dia kaitannya…..Ada masa-masa di mana saya begitu meresahkan satu hal. Kematian. Pasti semua orang juga ya….Tapi ada saat dimana perasaan ini benar-benar teraduk-aduk memikirkan dan menghayati hal yang tak mungkin kita hindari ini. Dan membayangkan kita akan menghadapi satu kejadian  yang tak kita bisa prediksikan waktu, cara dan tempatnya …yang bisa saja datang di bulan, minggu, hari, jam atau menit yang tak kita tahu berapa lama lagi dari sekarang, buat saya begitu meresahkan.

Gagasan bahwa kita akan berada di alam yang tak pernah kita ketahui bagaimana bentuk dan rasanya, buat saya yang saat ini masih belum berani pergi ke luar negeri sendirian, itu begitu mencemaskan. Apalagi menghadapi hari perhitungan dan menghadapi akhirat yang kekal. Dan yang paling menggelisahkan adalah, karena kita tak memiliki probabilitas sekecil apapun untuk menghindarinya !!!! apapun yag ada di dunia ini, bisa kita hindari dengan konsekuensi seberat apapun. Tapi kematian? perhitungan? tidak memberikan pilihan pada kita. Lalu yang double menggelisahkan adalah…bahwa “there’s no second chance !” dalam Al-Qur’an jelas bahwa nanti kita akan minta SATU DETIK saja untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kesalahan kita.

Setiap kali ada teman yang wafat dan saya mengetahui proses detik-detik terakhir kehidupannya (yang saya yakini merupakan abstraksi dari amalan dalam kehidupannya dan memprediksikan “nasib”nya nanti di akhirat), saya selalu membanchmarking mereka dengan saya. Apakah mereka cukup “baik” menjalani kehidupannya sehingga mereka bisa selamat? apakah standar saya harus dinaikkan? apakah sudah cukup?

Buku-buku yang menggambarkan “indahnya kematian” yang beberapa kali saya baca, tak pernah sanggup meredakan seluruh perasaan saya. Dengan kecemasa, kegelisahan, keresahan itu, siapa yang tak jadi sangat concern dengan apakah kita berhasil menjalani kehidupan ini dengan SELAMAT? bukan SUKSES. Tapi SELAMAT.

Kaitannya dengan urusan perpolitikan yang sedang kita hadapi ini….memilih apa, siapa dan mengapa, bagi sebagian orang bukan hanya pertarungan mengenai warna. Tapi buat sebagian orang, ini adalah pertarungan mengenai KESELAMATAN hidup. Maka, “puncak gunung es” memilih warna-warni inipun berhasil menggoyahkan karang KEYAKINAN dan VALUE hidup saya selama ini. Saya jadi mengevaluasi ulang nilai-nilai, pilihan, cara pandang saya mengenai hidup ini. Adanya beragam argumentasi bahwa keyakinan mereka yang BENAR– yang secara otomatis membuat keyakinan dan bangunan value yang saya miliki adalah SALAH, membuat saya benar-benar menelisik kembali kehidupan saya.

Tak nyaman? ya, dalam situasi dis-equlibrium, saat kita dihadapkan dan dibenturkan dengan keyakinan, value dan cara pandang yang berbeda, sangat berbeda, atau bersebrangan dengan kita, pasti sangat tidak nyaman. Tapi saya menikmati prosesnya. Saya tidak tahu dan tidak terlalu mencemaskan hasilnya bagaimana, apakah saya akan tetap memegang teguh nilai akan keselamatan hidup saya dengan cara ini, atau berubah.

Namun sejauh ini, dalam proses pergolakan batin ini, saya masih merasa bahwa keselamatan hidup kita, masih ditentukan oleh hal-hal yang sifatnya “mikro”. Kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan disertai keikhlasan yang besar, pilihan-pilihan tak sempurna yang kita putuskan saat menghadapi masalah keseharian disertai istighfar setiap waktu. Ke”luguan” belajar dari beragam orang tanpa memandang bahwa “mereka bukan dari golongan saya”, ketulusan hati menerima beragam perbedaan, kepekaan kita akan perasaan orang lain, kekuatan untuk mengalahkan ego diri….. Sampai saat ini, dengan nilai-nilai itulah saya memberanikan diri menghadapi kematian.

Yah, di tengah hiruk pikuk choicesdimana semua orang berusaha “memasarkan” kebenaran versi-mereka, menurut saya….kita harus banyak merenung. Bertafakur, berrefleksi…mengevalusi nilai-nilai yang kita miliki….Mencoba membuka pikiran dan menjernihkan hati…agar kompas KEBENARAN dalam hati kita, menunjuk ke arah yang sebenarnya.

Maka, di hari-hari ke depan yang akan penuh dengan hiruk-pikuk warna-warni….menurut saya, perbincangan yang harus kita perbanyak bukanlah dengan teman. Bukan di media sosial. Tapi perbincangan dengan diri, dengan Allah kita. Untuk bertanya… apakah nilai kebanaran yang kita pegang selama ini bisa menyelamatkan kita? dan yang lebih penting lagi, mohon dituntut untuk berada di jalan yang benar, yang menyelamatkan itu.

Saya masih ingat tgl 11 Maret lalu, saat kami berdoa bersama di ulang tahun Umar dan Umar ditanya…apa hal yang paling ia inginkan saat itu. “Masuk syurga sekeluarga” katanya. Semoga keinginan lugu itu didengar olehNya….semoga kami bisa benar-benar di tuntun agar SELAMAT menjalani kehidupan yang begitu super kompleks ini….

Ihdinassirootol mustaqiim….Ya Allah, Tunjukilah dan Bimbing Kami di Jalan yang Lurus ….

 

 

 

Mengajarkan empati pada anak, kapan bisa kita mulai?

Tanggal 31 Maret kemarin, kami merayakan ulang tahun Azzam yang ke-2 dengan membawanya ke Borma Cihanjuang, dan membolehkannya bermain di sana sepuasnya. Murah…gak nyampe 50 ribu hehe…. Di umurnya 2 tahun ini, Azzam lagi seneng banget sama kuda. Kalau gak naik kuda dan delman beneran, maka dia minta naik kuda dan delman di Borma. Tapi dengan gaya naik kuda dan delman beneran haha….

Selain wahana naik kuda dan delman, di Borma ini dia juga paling seneng naik kereta api. Naaah….saya punya satu kenangan terkait dengan wahana kereta api di Borma ini. Sayangnya bukan kenangan manis.

Beberapa bulan yang lalu, seperti biasa sambil jemput Azka dan Umar, saya membawa Hana  dan Azzam ke Borma. Belanja yang dibutuhkan dan membolehkan Azzam main di sana. Waktu itu Azzam lagi seneng banget naik kereta api. Maka, dia pun mengantrilah. Ada 3 anak lain yang udah duluan ngantri. Jadi sambil nunggu, saya alihkan dia untuk naik wahana lain. Pas jatah seorang anak, naiklah si anak. berarti Azzam ada di antrian ketiga. Dua anak lainnya udah pada rewel. Azzam, karena masih kecil jadi masih  mudah dialihkan. Tapi saya sambil mengamati apa yang terjadi. Si ibu anak yang naik tadi, tentunya melihat bahwa anak-anak lain yang mengantri itu sudah pada gak sabar. Tapi begitu kereta berhenti, dengan lempengnya dia bilang sama si anaknya…“mau lagi?” katanya. Si anak umur 3 tahun itu mengangguklah. Okeh. kereta api pun berputar kembali. Dua anak yang menunggu tambah rewel. Kereta pun berhenti. Si ibu menghampiri anaknya. “Mau lagi?” katanya. Ya ampuuuuun..beneran tepok jidat deh…..dan…demikian sampai keempat kalinya. Tentu Azzam akhirnya gak jadi naik si kereta api. Udah ilfil sayanyah.

Dengan semangat 45 saya ceritakan kejadian itu pada si abah. “Gila banget tuh ibu…gak empati banget….bla..bla..bla…“. Dan dengan cool nya si abah menjawab…“Yo yang salah ibu…mungkin dia gak ngeuh…harusnya dikasih tau dong baik-baik…..” Ya..ya..ya…sata tau, harusnya saya ber amar ma’ruf nahi munkar pada si ibu, mengingatkannya. Tapi…sebagai seorang peace maker sejati, mana bisa saya berbuat demikian….

Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, saya benar-benar menyesalkan sikap si ibu itu. Harusnya justru moment tersebut dijadikan media untuk si ibu mengajarkan empati sama anaknya. Tapi…..emang anak umur segitu udah bisa diajarin empati?

Malamnya, pertanyaan saya terjawab oleh papernya Nicole M. McDonald & Daniel S. Messinger dari Departemen Psikologi Universitas Miami yang berjudul The Development of Empathy: How, When, and Why. Saya akan coba semampu saya menyampaikan apa yang ditulis oleh beliau-beliau dengan bahasa yang lebih “ringan”.

Jadi katanya, berlawanan dengan pandangan ahli psikologi terdahulu yang menyebutkan bahwa anak itu bersifat egosentrik sehingga baru bisa dikenalkan dengan empati pada usia tertentu, penulis dalam paper ini memaparkan sejumlah penelitian yang menyebutkan bahwa “bibit-bibit” empati itu sudah dimiliki anak sejak ia bayi. Sangat menarik bukan?

Di usia 18  sampai 72 jam setelah lahir, bayi yang diperdengarkan suara tangis bayi lain menunjukkan reaksi “distress”… sebuah fenomana yang disebut sebagai  reflexive crying atau  reactive crying, atau penularan emosi. Namun ternyata, reaksi “distress” bayi saat diperdengarkan suara tangis bayi lain, lebih intens dibandingkan jika bayi diperdengarkan suara lain seperti suara tangis boongan, suara tangis non-manusia, dan “kebisingan” lain. Hal ini menunjukkan bahwa reaksi tangis bayi terhadap tangis bayi yang lain itu bukanlah semata-mata karena bayi merasa “terganggu” oleh suara bising. Peneliti menyimplukan hal ini sebagai “bibit” empati pada bayi.

Bagaimana perkembangan “bibit empati” itu di usia “todlerhood”  ?

Zahn-Waxler dan rekannya melakukan penelitian longitudinal untuk mempelajari perkembangan perilaku yang terkait dengan empati, pada anak usia dua sampai tiga tahun.  Mereka mengobservasi perilaku anak saat dipaparkan situasi “distress”. Perilaku “respons empati” yang dimaksud meliputi : (1) concern (e.g., sad look,“I’m sorry”), (2) hypothesis testing (e.g., “What happened?”), (3) prosocial behavior (e.g., hugs, “Are you ok?”). Hasilnya, sampai usia 2 tahun anak bisa menunjukkan perilaku “respons empati” tersebut. Setelah dua tahun, respons empati itu berkembang dengan pesat menjadi beragam perilaku menolong.

Mmmh….jadi inget kalau Hana nangis, Azzam akan mendekati, mengusap-usap kepalanya  sambil bilang “jep..jep…jep…” …berarti itu adalah respons empati yang perlu diberikam apresiasi dan dikembangkan ya…..

Empati di usia prasekolah dan sekolah: Cognitive Empathy

Empati ternyata memiliki komponen emosi dan komponen kognisi. Emotional empathy  adalah pengalaman dimana anak seolah merasakan emosi yang dirasakan oleh orang lain, dan berkembang di masa awal kehidupan anak seperti uraian di atas. Nah, cognitive empathy, atau istilah lainnya adalah “perspective taking”, adalah kemampuan untuk membayangkan secara akurat pengalaman orang lain. Pada usia prasekolah dan usia sekolah dasar, kemampuan cognitive empathy ini berkembang pesat. Hal ini seiring dengan perkembangan  bahasa anak yang meningkat pesat. Di usia sekolah dasar, kemampuan ini membuat anak bisa mengembangkan beragam cara yang akurat untuk menolong orang lain. Misalnya ketika ia melihat temannya menangis, maka  emotional empathy akan memunculkan perasaan ingin menolomg. namun cognitive empathy akan membantu anak memahami bahwa ada anak lain yang sedih dan butuh ditenangkan.

Nah…terjawab sudah pertanyaan saya. Bener kan…. harusnya si ibu tadi, termasuk ibu-ibu lain dan saya sendiri, menjadikan wahana permainan umum itu sebagai “fitness empati”, media untuk menumbuhkembangkan bibit empati yang secara “fitrah” sudah ada sejak ia lahir.

empatiSeperti juga beragam keterampilan sosial yang lain, saya yakin bahwa empati ini memang hanya bisa tumbuh dan berkembang bila distimulasi. Gak bisa “nanti kalau udah gede juga ngerti sendiri” . Buktinya? konon katanya beragam persoalan sosial yang muncul sekarang ini diawali oleh terkikisnya empati pada diri manusia-manusia Indonesia.

Dulu, saya suka agak bingung gimana ngadepin oknum mahasiswa yang suka macem-macem. Sejak 7 tahun lalu, saya punya ide dan jurus ampuh untuk “mematahkan” seribu satu alesan mahasiswa yang minta kompensasi atas kemalasannya. Misalnya pernah ada mahasiswa KKN yang gak pernah nongol di TKP, eeeh…pas udahan, nongol trus bikin alesan ini-itu, ngasih bingkisan ini-itu…. waktu itu saya bilang: “Saya bisa aja meluluskan kamu. Tidak ada ruginya buat saya.  Tapi coba kamu tanya teman-teman kamu, apa yang mereka lakukan sebulan ini, dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan sebulan ini.  Kalau kamu bisa meyakinkan saya bahwa apa yang kamu lakukan sama dengan yang mereka lakukan, saya akan meluluskan kamu”

Mengenalkan sudut pandang orang lain juga lah menurut saya, yang harus selalu kita kenalkan pada anak kita, di usia semuda apapun ia. Kita kenalkan gimana rasanya anak lain yang udah menunggu lama kalau kita menikmati wahana terlalu lama, kita ingatkan bahwa walaupun kita sedang nyaman di restoran, setelah makan kita harus segera beranjak karena ada orang lain yang nunggu … kita ajarkan untuk berdiri di sebelah kiri saat di tangga berjalan  agar jika ada orang lain yang sedang terburu-buru, kita tidak menghalanginya…begitu terus…terus dan terus….

Semoga jika setiap ibu melakukan hal ini, sepuluh tahun mendatang, tak ada lagi  orang-orang yang menimbun sembako dan BBM saat sedang langka, tak ada lagi orang yang “menahan” uang sertifikasi guru SD untuk ia tabung biar dapet bunganya…tak ada lagi orang yang hanya peduli pada kepetingannay sendiri… di Indonesia ini.

sumber gambar : http://microrrelatososhortstories.wordpress.com/2012/01/20/think-empathy-sympathy/

 

Jangan puji anak kita “HEBAT” !

Bahwa memuji anak itu adalah sebuah keharusan, hampir semua orang tua tahu itu.

praise 2Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Itulah salah satu bait  terjemahan puisi karya Dorothy Law Nolte yang berjudul “Anak Belajar dari Kehidupannya”. Puisi ini sangat terkenal. Dan saya lihat, di beberapa sekolah puisi ini terpajang di kelas-kelasnya.

Semangat untuk memberikan pujian dan penghargaan pada anak, akan lebih lengkap kalau disertai pula ilmu yang benar tentang “cara memuji ini”. Yups…seperti semua hal lainnya di dunia ini, dari hal paling keciiiiiil sampai hal paling besar, dari dal paling sederhanaaaaa sampai yang aling kompleks, itu ada ilmunya. Demikian pula “ilmu memuji ini”. Karena, niat yang benar tanpa disertai ilmu yang benar pula, bisa berakibat fatal. Ah masa siiih….lebay amat. Saya akan ceritakan satu pengalaman saya yang membuat saya merasa perlu membuat tulisan ini.

Waktu saya masih kuliah di majoring klinis anak 7 tahun lalu, saat membahas satu kasus, dosen saya mengatakan…”nah, jadi kalau memberi pujian pada anak itu, jangan “hebat” atau “pinter” …ya..”. Waktu itu terus terang saya gak ngerti. Tapi kayaknya saya gengsi buat nanya hehe….Dan karena mahasiswanya gak nanya, maka dosen saya pun tampaknya mengasumsikan mahasiswanya baca buku dan sudah paham.

Saya baru paham apa yang dimaksudkan dosen saya waktu beberapa tahun kemudian ketemu seseorang. Dia mengalami satu kegagalan, yang membuatnya merasa dirinya hancur luluh tak berharga lagi. Waktu saya coba bantu dia melihat bahwa kegagalan ini hanya satu aspek dari dirinya dan masih banyak sisi-sisi lain keberhasilan yang dia miliki, tetap…dia merasa satu kegagalan itu membuatnya “noone”. Melalui obral-obrol panjang….akhirnya mengertilah saya. Selama ini, ia selalu diberikan pujian “hebat” oleh orangtuanya. Tanpa dia tahu, apa yang membuatnya “hebat”. Akhirnya dia pun mempersepsikan dirinya “hebat” karena keberhasilannya di bidang yang kini mengalami kegagalan. Dan ketika dalam hal itu dia gagal, maka di apun merasa dirinya “tidak hebat” lagi.

Lebih lanjut, ternyata dia menghayati bahwa “hebat” atau “tidak hebat” itu “melekat pada dirinya” bukan “melekat pada perilakunya”. Mmmmhhh…untuk poin terakhir ini, agak dalem dan “filosofis”. Akan saya coba uraikan lebih teknis.

Gini….jadi, kita harus memahami … apa sih tujuan kita memberikan pujian pada anak? Nah, ini kadang kurang kita sadari. Kadang kita memberi pujian pada anak sebagai “instink” aja. Itulah sebabnya kita jadi kurang “aware” untuk memberikan pujian dengan cara yang benar sesuai dengan harapan kita.

Tujuan Memberikan Pujian

Sebenarnya, pujian adalah cara yang kita lakukan yang bisa meningkatkan perilaku positif pada anak. Konon katanya, setiap anak itu membutuhkan perhatian.  Misalnya, kalau kita punya 4 anak. Dua anak main dengan kooperatif, sementara dua anak yang lain pukul-pukulan. Hayo…..anak mana yang kita beri perhatiaaaaan….secara instinktif kita ngasih perhatian pada dua anak yang pukul-pukulan kan?  dengan mengomelinya panjang lebar misalnya. Nah…itu sebenarnya salah.

Seharusnya kita abaikan si yang pukul-pukulan, dan kasih pujian pada si dua anak yang bermain kooperatif. Pujian menunjukkan bahwa kita memberi perhatian pada mereka, dan kita mendorng mereka untuk mempertahankan perilaku tersebut. Bagaimana dengan si dua anak yang main pukul-pukulan? setelah kita ingatkan, lalu pukul-pukulannya brenti, naaah…dont forget kita kasih pujian. Jadi, anak paham kalau perhatian yang dia butuhkan itu, akan didapat saat dia berperilaku baik.

Mmmmhhh…..jadi inget obral-obrol sama pegawai salah satu kantor; “iya bu, bos di sini mah kalau kita salah, dimarahin abis. kalau kita kerja bener, dicuekin aja. Jadi kayaknya kalau kita salah itu teh salah, kalau kita bener, itu mah biasa…” haha….tanpa kita sadari, kita sering melakukan hal yang sama loh, ke anak-anak kita….atau ke pasangan kita.

Kita merasa saat anak kita lelet mandi, lama sarapan…mereka pantas dimarahi.  Tapi pas on time mandi, sigap pake baju…tiba-tiba kita jadi “buta” dan tak menganggap itu suatu hal yang baik. Atau ketika biasanya kita ngomel karena anak rewel kalau dibawa ke undangan, saat dia dibawa ke undangan dan anteng, kita lupa memberikan pujian. Begitu pula sama pasangan kita. Waktu pasangan kita lupa naro handuk di gantungan handuk, kita ngomel. Pas pasangan kita menyimpan handuk pada tempatnya, lupa deeeh…hehe…eta mah saya deng 😉

Nah, setelah kita menghayati tujuan memuji anak, tahap selanjutnya ialah, kita harus “Aware” cara memuji yang akan mencapai tujuan kita itu. Karena kalau tidak, malah akan menimbulkan “efek samping negatif” yang berbahaya seperti pengalaman yang saya ceritakan di atas.

Berikut adalah poin-poin yang harus kita perhatikan :

(1) Berikan pujian segera setelah anak menunjukkan perilaku yang kita harapkan. Terutama pada anak yang masih kecil, cara ini akan membuat anak paham kaitan antara pujian dengan perilaku yang ditunjukkannya.

(2) Katanya, kalau memuji itu harus menggunakan bahasa yang positif. Jangan bilang ” hebat, sekarang kamu gak nempel terus sama ibu”. tapi sebaiknya bilang “hebat, sekarang dede udah mau main sama teman”. Katanya, hal ini bisa membuat anak paham, perilaku apa yang diharapkan orangtua darinya karena perhatian kita tidak tertuju pada perilaku yang ingin dihilangkan, namun pada perilaku yang ingin dipertahankan.

Poin ketiga ini adalah poin yang terpenting.

(3) Pujian harus diberikan secara spesifik menggambarkan perilaku anak. Jangan bilang “hebat” …”pinter”… “keren”…..apalagi ….”anak mama”. Tapi, jelaskan apa perilakunya…misalnya: “hebat, dede sekarang udah bisa bikin menara yang tinggi”….”pinter…kaka sekarang makannya mau duduk”. Nah, poin ini penting banget nih…anak jadi tahu apa yang membuat dia disebut “hebat” dan “pinter”.

praise 3Hal ini sebenarnya berlaku pula saat kita memberikan umpan balik negatif pada anak, misalnya “mama sedih kamu males belajar jadi nilai ulangannya jelek”.  Kalimat itu benar. Sedangkankalimat “mama sedih kamu kayak gitu” adalah kalimat yang salah, karena efeknya akan membuat anak tidak paham dan akhirnya mempersepsikan dirinya, bukan perilakunya yang bikin mamanya sedih.

Menjelaskan perilaku anak dengan spesifik akan membuat anak paham  bahwa nilai positif dirinya tidak melekat dalam dirinya, tapi pada perilakunya. Artinya, saat ia melakukan perilaku yang buruk  dan mendapatkan umpan balik negatif pun, dia tahu kalau dia masih bisa memperbaiki dengan melakukan perilaku yang baik.

Beda kan, kalau kita lagi males-malesan trus kita dibilang “kamu mah males ih” sama kalau kita dibilang “kamu mah pemalas”. Malas, mengacu pada perilaku saat itu. Bisa diubah. Pemalas, mengacu pada sifat yang melekat pada diri kita.

Nah…ini juga harus diperhatikan nih….sering saya dengan di wahana-wahana permainan ,,,orangtua yang mengatakan pada anaknya..“ih kamu mah penakut”… Padahal pan takutnya cuman pada konteks wahana permainan yang ini aja. Kalau PENAKUT, berarti sifat takut itu melekat pada diri anak. Hati-hati loh bu, pan kata-kata ibu bisa jadi doa….

praiseDan, pujian yang sifatnya “umum” seperti “ah, kamu anak yang paling hebat sedunia” konon katanya tak tepat diberikan pada anak yang sudah besar. karena dia akan tahu kalau itu hanya “basa-basi”. Jadi saat memberikan pujian, kita juga harus tulus.

Jangan-jangan, selama ini kita memberikan pujian pada anak hanya basa-basi saja…Pantas saja hasilnya mungkin belum seperti yang kita harapkan….

Jadi, ternyata…memuji itu ada ilmunya sodara-sodara…saya juga sering lupa. Ribet amat sih? NO GAIN WITHOUT PAIN atuh….

Saya terkesan sekali pada tafsir ayat al Qur’an yang menjelaskan mengapa Allah menciptakan alam semesta dalam waktu “enam masa”. Bukankah Allah bisa mengatakan “Kun Fayakun” ? Jawabannya….itu adalah karena Allah ingin menunjukkan pada manusia, bahwa segala sesuatu yang baik, itu dicapai melalui proses.

Ya, proses itulah yang harus kita nikmati sebagai orangtua. Agar nanti, saat kita tua dan melihat anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang tangguh  jiwanya dan  lembut hatinya….kita bisa mengenang saat-saat kita harus selalu belajar dan belajar dalam menjaga amanah dariNya ini…

 

 

 

Derita VENUS : memutuskan jodoh, memutuskan kerja, memutuskan ART ,,,,,

Dua hari yang lalu, ART saya yang pulang pergi bantu beberes rumah dan nemenin Hana sebelum saya pulang, resign. Meskipun secara finansial masih sangat membutuhkan, namun penyakit yang ia derita tak memungkinnya untuk membantu saya lagi.

Jadilah sejak dua hari lalu saya mulai “menebar jala” untuk cari-cari ART. Yang bisa nginep kalau bisa. Sambil merencanakan Plan A, B, C, D…kalau-kalau sampai minggu depan belum nemu yang bisa bantu.

Nah, dari “jala yang ditebar” itu mulailah ada informasi-informasi. Tadi pagi saya diskusikan sama si abah.

Ada yang mau, tapi cuman bisa siang sampai jam 2. Gimana? terima atau tunggu kemungkinan lain? Kalau  diterima…gak sreg…gak bisa memenuhi semua kebutuhan….kalau gak diterima, gimana kalau nanti gak dapet-dapet juga? Kalau diterima…gimana kalau nanti ada yang bisa nginep….sayang kalau ditolak….tapi masa yang udah diterima ini dibrentiin baru sebentar….

Begitulah kira-kira kecamuk di pikiran saya. Diskusi tadi pagi belum terlalu membantu. Maklum, si abah dengan ke “mars” annya, dengan sederhana mengusulkan: “ya udah kalau gak memenuhi kebutuhan kita, gak usah diterima, tunggu lagi aja nanti sampai ada yang bisa nginep”. Namun dengan ke”venus”an saya, saya menangkal…”nanti kalau gak ada sama sekali….sampai minggu depan…sampai sebulan..gimana?” dengan mudahnya si abah menjawab: “ya nanti kita pikirkan strategi lain”…..saya gak setuju…tapi, parahnya, saya juga gak bisa memutuskan….

venusKegalauan khas VENUS seperti ini mengantarkan ingatan saya pada saat menghadapi situasi yang relatif sama belasan tahun lalu. Saat bingung memutuskan “apakah mau menerima si X ini untuk menjadi suami, tapi ada yang kurang….tapi nanti kalau ditolak…kalau gak nemu jodoh sampai tua gimana…” maupun saat bingung memutuskan waktu ada panggilan kerja dari perusahaan “A”. Kalau ini diterima, nanti  neyesel kalau minggu depan ada panggilan dari perusahaan B yang lebih keren.. tapi kalau ditolak…trus ga ada panggilan juga dari perusahaan B juga …nyesel gak?

Teori-teori manajemen resiko, tak pernah mempan mengatasi kompleksitas pemikiran si Venus seperti saya. Dan saya yakin, saya tak sendiri haha…ada banyak venus-venus lain yang akan mengalami “kompleksitas pemikiran” seperti saya 😉

Konon, itulah katanya mengapa Allah memasangkan venus dengan mars. wanita dengan pria. hawa dengan adam. saya dengan si abah. Biar “kompleksitas pemikiran” yang sering kali tak berujung pada keputusan itu, diimbangi oleh “kesimpelan berpikir” ala Mars.

Baiklah, sepertinya daripada tak bisa memutuskan, saya serahkan saja keputusannya sama si abah…haha…

Previous Older Entries Next Newer Entries