Oleh-Oleh Solution Focused Therapi Workshop : side effect benefit

Selama empat hari kemarin;  Senin sampai Kamis saya mengikuti Workshop Solution Focused Therapi for Children and Adolscence. Workshop ini diselenggarakan oleh Pusat Kajian dan Pelatihan Profesi Psikologi (PKP3) Fakultas kami, Psikologi UNPAD. Alhamdulillah dapat diskon 50 % sebagai staf pengajar. Meskipun 50 % sisanya masih tetep cukup “besar” untuk ukuran kantong saya (haha….gak bersyukur….) plus harus melewatkan 2 hari libur di hari selasa dan kamis, namun saya sama sekali tak menyesal.

Banyaaak banget yang didapat selama 4 hari kemaren. Lebih terasa “nikmatnya” karena sempat bolos setengah hari di hari Rabu kemarin dan sempat “hopeless” hari Kamis bisa lanjut ikutan. Kenapa? karena di hari selasa sore, si teteh ART yang baru 2 hari menginap tiba-tiba berkeras untuk pulang. Baiklah….jadi, rabu siang sepulang sekolah Hana gak ada yang megang dan….akhirnya saya putuskan untuk “bolos” meskipun saya tahu bahwa saya akan melewatkan hal yang amat berharga. Tapi Hana tentunya lebih berharga bukan? ;). Di hari Kamis, pasangan sopir kami+istrinya yang mengasuh Azzam, izin ada acara keluarga.

Menitipkan 4 anak pada mas seharian? plus ada jadwal turnamen futsal Umar and jadwal Azka ke undangan nikahan gurunya? sementara saya “menikmati pengembangan intelektual” di tempat yang amat nyaman? hati nurani saya sempat “protes”. Makanya sempat akan “merelakan” saja sesi hari Kamis. Tapi mas justru yang menguatkan. Jam 6.15 mas pergi duluan dengan anak-anak, mengantar Umar ke turnamen futsalnya. Hari ini, saat jam setengah lima ketemu anak-anak saya yang menjemput, saya menyatakan 100% percaya kalau mas bisa mengasuh anak-anak tak kalah “baik” dengan saya sebagai emaknya haha….Fisically, anak-anak masih pake baju tadi pagi-karena emang belum pulang ke rumah. Baju dan wajah mereka kucel. Tapi secara psikologis, anak-anak berlarian menuju saya dengan mata berbinar. Lalu mereka pun berebut menceritakan pengalaman seru mereka seharian bersama si abah. Mas? no complaining at all. Tampaknya kami ber-enam; saya-mas-anak2, sama-sama hepinya hari ini.

Trainer workshop ini adalah ahlinya dari Belanda. Memang selama ini PKP3 bekerjasama RINO GROEP, kalau tidak salah asosiasi psikoterapis Belanda. Sebelumnya saya pernah ikut juga beberapa workshop psikoterapi-nya. Namun jujur saja, yang ini yang paling berkesan. Kenapa? karena konsep terapi ini, tak hanya baru tapi benar-benar “bersebrangan” dengan pendekatan-pendekatan dan konsep-konsep yang ada di kepala kami selama ini. Dalam 2 hari pertama, kami “tertatih-tatih” untuk mem-brain wash kerangka pikir yang selama ini kami gunakan, yaitu “problem focused approach”. Tulisan selanjutnya, akan khusus membahas mengenai “solution focused approach” ini. Di tulisan ini, saya mau cerita benefit lain di luar konten materi yang saya dapat.

Peserta workshop ini adalah 20-an profesional yang terdiri dari psikolog dan psikiater. Bandung, Jakarta, Jogja, Bali. Sebagian sudah saya kenal karena sudah jadi “langganan” peserta workshop PKP3 ini. Dari segi profesional, bertemu dengan “kolega” dengan pengalamannya masing-masing, selalu menyenangkan. Sebagian  diantara mereka senior-senior yang sudah “punya nama”. Dari mereka, tentunya kita bisa belajar banyak hal. Memperkaya wawasan banget. Di sisi lain, buat saya sendiri … bertemu dan bertukar pikiran dengan mereka juga menguatkan keyakinan akan “kemampuan profesional” saya. Maklum, di tahap perkembangan keluarga saya saat ini, praktek psikolog menjadi nomer selanjutnya dari prioritas ngampus dan keluarga. Dengan intensitas menerima klien yang menjadi terbatas, kadang “mengikis” ke-pede-an terutama saat menghadapi kasus-kasus “sulit”.

Dalam prosesnya, karena ini namanya workshop, maka 75% adalah “praktikum”. “Experiencing”. Nah, dalam proses role playing menerapkan pendekatan ini, kami bergiliran dalam grup kecil, menjadi klien dan psikoterapis. Hasilnya? saat menjadi klien, beberapa “actual problem” yang tengah saya hadapi …. solved ! saya mendapat insight-insight berharga dengan menerapkan pendekatan ini … beneran deh, kalau jadi psikolog itu, setiap belajar sesuatu adalah … sambil “berobat jalan” haha….

side effectAda dua hal lagi “side effect benefit” yang saya dapat dari kegiatan ini. Personal banget, terkait dengan peran saya sebagai emak-emak. Siapa bilang “manfaat” dari kegiatan ini hanya didapat dari sesi-sesi di kelas? sesi di luar kelas, yaitu sesi break dan sesi makan siang, gak kalah ngasih benefit. Di saat break dan makan siang, sebagai emak-emak, yang dilakukan pastinya adalah …ngobrol. Tapi selain ngobrol hal-hal yang terkait konten “profesional” seperti menceritakan beragam psikoterapi dan kegiatan yang pernah diikuti masing-masing, cerita tentang teknik penanganan terbaru, pengalaman-pengalaman, jenis-jenis klien….satu tema yang ternyata jadi isu buat emak-emak adalah …. anak-anak dan kehidupan berkeluarga serta…..isu “work-family balance”.

Dari obrolan itu, seneng deh…I’m not alone ternyata. Saya bukan satu-satunya yang sedang “berjuang” memenuhi seluruh kebutuhan saya secara proporsional: kebutuhan menjalankan peran domestik dan kebutuhan menjalankan peran profesional di luar rumah dengan sama baiknya. Merasa menjadi “good wife and good mother” dan menjadi “good lecturer dan good psychologist” di saat yang bersamaan. Persoalan pembantu? sammmma….persoalan riweuh bagi waktu untuk anak dan pekerjaan? sammmmaaaa…. persoalan “jatuh bangun menerapkan ilmu psikologi” pada kehidupan kita, pada relasi dengan pasangan kita, pada anak-anak kita saat sedang mengalami masalah? sammmmaaaa…..ternyata menjadi “isu nasional” bagi kami.

Kami pun lalu bercerita mengenai “persoalan-persoalan” yang dialami anak-anak kami. Ada seorang ibu, yang latar belakang pendidikannya sains, bukan psikologi. Tapi di usia 40 tahun, dia kuliah psikologi dan lanjut menjadi psikolog karena terdorong oleh puteranya yang memiliki kebutuhan khusus….. Ada seorang ibu yang mengikuti workshop ini karena anaknya menjadi korban bullying. Saling berbagi mengenai persoalan yang dialami anak-anak kami, membuat saya semakin yakin kalau permasalahan yang Allah berikan pada anak-anak kami, adalah media untuk mengasah kompetensi kami sebagai psikolog/psikiater. Penghayatan terhadap beragam masalah yang dialami anak-anak kami, adalah satu pengalaman dan pelajaran berharga yang tak akan didapat dari bangku kuliah dimanapun.

Berbagi dengan orang-orang yang “punya masalah” atau “pernah punya masalah” yang sama dengan kita, itu sangat memberikan kekuatan. Tapi ada “super power” yang saya rasakan lebih dahsyat; yaitu …. bertemu dengan orang-orang, yang mengalami perjuangan yang sama, dan lalu sukses melewatinya… itu menghembuskan energi yang amat sangat. Salah satu sosoknya yaitu seorang “senior” yang usianya terpaut belasan tahun di atas saya, saat ini telah menjadi seorang yang “hebat” lah kalau kata saya mah di dunia profesional. Dia sudah mencapai prestasi dan menjadi seseorang yang keren banget, yang saya pengen banget kayak gitu. Apakah pencapaian itu ia dapat dengan cara “mengorbankan keluarga” ? tidak !!! waktu tahu saya hari rabu terpaksa harus bolos karena Hana gak ada yang jaga, beliau bercerita bahwa beliau pun demikian, baru bisa “all out” dalam profesinya setelah anak bungsunya “bisa ditinggal”. Sebelum itu? ia mengalami “konflik” yang sama seperti saya…peluang dan kesempatan di luar sana begitu terbuka lebar…tapi harus menetapkan pilihan mana yang menjadi prioritas.

Pengalaman senior tersebut, buat saya memberi keyakinana bahwa I’m in the right track. Bahwa setelah saya menyelesaikan “my main business” yaitu memberikan proporsi yang lebih untuk anak-anak saya di tahap perkembangan ini, maka don’t worry…saya pun akan bisa “mengejar” dan menjadi “hebat” seperti beliau !!! yeeeaayyyy… semangat !!! Saya seperti diperlihatkan kompas hidup saya, dan melompat kegirangan karena saya dalam arah yang benar ! Pengalaman ini membuat saya memiliki “segudang energi” untuk benar-benar tambah menikmati hari-hari keriweuhan saya “take care of”  4 anak saya sambil tetap “menjaga mimpi-mimpi besar dalam diri saya”. Dan ditambah dengan mas yang amat supportif baik secara emosional maupun teknis, lengkaplah “kebahagiaan” saya. My life is perfect.

Waktu Selasa lalu kami harus kembali menghadapi kenyataan bahwa tak ada yang bisa bantu pekerjaan rumah dan jaga Hana, saya bilang sama mas: kita harus memperbanyak shalat Dhuha. Meminta berkah. Berkah itu adalah kebaikan yang tak henti-henti. Yups, waktu kita memang menjadi amat terbatas karena saya harus nyiapin sarapan sambil nyuci di pagi hari, beberes rumah sepulang ngampus, gak bisa ambil proyekan sehingga “recehan” yang bisa didapat berkurang….mas juga harus back-up saya …..”energi fisik” kita memang berkurang. Namun jika energi psikologis dan energi spiritual kita membuncah…..kita akan bisa selalu mengikuti detak jarum jam dengan tepat, tanpa kelelahan. Karena kita tahu, kita menuju arah yang tepat sesuai dengan kompas kehidupan kita.

Semangat !!! Siapapun…yang kini belum bisa mencapai mimpinya karena keterbatasan sana-sini; what you have to do is make sure…that your are ini the right track. Bahwa kita kini tengah meniti tangga kebahagiaan, menuju kebahagiaan besar yang kita inginkan, dengan perasaan bahagia….

 

Advertisements

Dengan siapa kita lebih sering “berbincang”?

Para ahli komunikasi membagi komunikasi menjadi beberapa level atau beberapa jenis. Salah satu pembagiannya adalah berdasarkan “pola komunikasinya”; yang terbagi menjadi 4 pola: (1) intrapersonal, (2) direct interpersonal, (3) mediated interpersonal, dan (4) mass.

Kalau disederhanakan, maknanya adalah sebagai berikut :

(1) Komunikasi Intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi dalam diri kita. Antara diri kita dengan …. diri kita sendiri. Sebagian merasa perbincangan ini antara diri kita dengan “hati nurani” kita.

(2) Komunikasi direct interpersonal adalah komunikasi langsung face to face. Katanya, ada dua karakteristik utama dari pola komunikasi ini; yaitu immediacy (it is taking place now) dan primacy (it is taking place here). Kedua elemen ini membuat komunikasi jenis ini memiliki sifat strong feedback; karena semua channel komunikasinya baik verbal maupun nonverbal terbuka. Dilihat dari aspek orangyang terlibat, komunikasi jenis ini bisa antara 2 orang, antara dua kelompok, atau antara 1 orang pada kelompok.

(3) Komunikasi mediated interpersonal adalah komunikasi interpersonal yang melibatkan teknologi. Bisa bersifat immediacy, namun tidak primacy. Komunikasi ini juga bisa antara dua orang (misalnya chatting di ym)  atau di grup (misal wa grup, bbm grup, facebook).

(4) Komunikasi massa. Contohnya ada komunikasi melalui majalah,  TV, radio, koran.

Sebagai seorang yang bukan ber-background fikom, tentunya saya tak akan membahas terlalu jauh pola-pola komunikasi ini. Saya ingin menyampaikan “renungan” saya terhadap pola komunikasi yang kita lakukan sehari-hari. Menurut saya,  4 pola komunikasi dari no. 1 sampai 4, bergradasi dalam tingkat “keintiman” dan “kedalaman efek psikologis”nya.

Secara ekstrim, menurut saya…. seharusnya porsi komunikasi kita, lebih banyak di no. 1 , lalu selanjutnya no. 2, 3 dan selanjutnya.

Secara proporsional, porsi no. 1 dan 2 menurut saya yang harus lebih banyak dibanding porsi no. 3 dan 4.

Secara realistis, kita harus mengevaluasi apakah jenis komunikasi no. 1, yaitu “berbincang dengan diri sendiri” – selalu, sering, kadang-kadang, jarang, atau tidak pernah kita lakukan.

Kenapa? karena menurut pengamatan saya, kalau saya boleh membagi secara kasar 2 tipe orang…maka kita bisa menemukan orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk “berbincang dengan dunia”, dan ada orang-orang yang meluangkan lebih banyak waktunya untuk “berbincang dengan hati nuraninya”. Kita sebut saja tipe A dan B.

Tipe A adalah tipe orang yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk “berbincang dengan dunia”, biasanya orang yang sangat sibuk dengan beragam kegiatannya. Secara kontinuum, di ujung kiri ada subtipe yang hanya membangun citra alias jaim dan suka riweuh teu puguh, di ujung kanan ada subtipe yang memang benar-benar mengorganisir kegiatannya menuju satu tujuan tertentu.

Tipe B adalah tipe orang yang lebih banyak meluangkan waktunya untuk “berbincang dengan hati nuraninya”, secara kontinuum di ujung kiri ada subtipe yang “mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia”, di sisi kontinuum kanan adalah subtipe yang tetap meleburkan diri dalam segala aktifitas namun ia punya waktu untuk …. berefleksi, merenung, “tafakur”, apapun sebutannya. Bagi muslim yang taat, mungkin itu dilakukannya saat bertahajjud di keheningan malam. Bagi yang lainnya…. ia senantiasa menyempatkan satu momen untuk bertanya dan mengevaluasi apa yang ia lakukan dalam hiruk pikuk kesehariannya.

Mari kita bandingkan subtipe kanan dari tipe A dan tipe B.

Kalau boleh meminjam istilah dalam buku “First Thing First”, saya merasa…. tipe A subtipe kanan; secara kasat mata adalah orang-orang yang oke. Mereka adalah orang-orang yang tergolong “manajer” dari kehidupannya. Yang memastikan “do the things right”. Karirnya menanjak, pengembangan diri dan aktualisasi dirinya sampai puncak. Target-target pekerjaannya done. Mereka menyandarkan ritme kehidupannya berdasarkan “jam”. Umur segini harus sudah mencapai ini. Bulan ini mencapai itu. Tahun segini harus sudah bisa eta. Apakah salah? tidak….

Namun, kembali menurut pengamatan saya terhadap orang-orang di lingkungan saya, sebagian orang dari tipe A subtipe kanan ini, adalah orang-orang yang …. seringkali tak menghayati betul apa yang sesungguhnya berharga buat dia, buat orang-orang terdekatnya yang mencintai dan dicintainya. Dan ini, akan tampak sekali di akhir kehidupannya, atau pada kebahagiaannya dan kebahagiaan orang-orang terdekat yang mencintai dan dicintainya. Seringkali kebanggaan yang ia rasakan adalah kebanggaan karena ia merasa “hebat” di mata orang lain. Itulah kenapa ia lebih “sibuk” untuk mengkomunikasikan semua kehebatan dirinya, pada dunia.

Tipe B subtipe kanan, dalam “penampakannya” bisa sama dengan Tipe A subtipe kanan. Atau bisa jadi, dia tak se”hebat” si tipe A kanan. Namun berdasarkan pengamatan saya, tipe B-kanan ini…adalah orang-orang yang kalau meminjam istilah buku “First Thing First”, adalah seorang “leader “dari kehidupannya. Concern-nya, tak hanya pada “do the things right”, namun lebih pada “do the right things”. Ritme kehidupannya tak ia sandarkan pada jam, namun pada kompas. Itulah sebabnya, orang-orang di tipe ini tak selalu mengambil kesempatan yang “hebat”. “Apa kata dunia” tak penting baginya. Yang lebih penting baginya adalah, memastikan setiap langkah yang ia ambil, setiap yang ia lakukan sesuai dengan nilai-nilai yang ia pegang dan tujuan akhir hidupnya.

Biasanya, orang-orang dengan tipe ini adalah orang-orang yang bahagia, dan membahagiakan orang-orang yang ia cintai dan mencintainya. Bisa jadi ia adalah orang hebat, tapi bisa jadi tidak hebat-hebat amat di mata dunia. Buat dia, yang membuat ia nyaman adalah keyakinan diri mengenai arah kehidupannya, pemaknaan terhadap apa yang ia lakukan. Ia merasa tak perlu meyakinkan dunia. Yang perlu ia yakinkan adalah lubuk hati terdalamnya.

Saya, sejujurnya ingin termasuk ke dalam tipe B, subtipe kanan. Saya ingin selalu meluangkan waktu untuk “berbincang” dengan hati nurani saya. Meskipun saya tahu, dalam prosesnya tidak mudah. Menjadi tipe A subtipe kanan itu, sangat menggoda. Siapa yang tak ingin dihargai dan dinilai “hebat” oleh dunia?

self reflection‘Sedangkan “berbincang dengan diri sendiri” itu, berefleksi itu, membutuhkan kejujuran. Untuk “menelanjangi” seluruh motif-motif kita. Untuk mengakui bahwa keinginan kita untuk “dihargai” oleh dunia, melenceng dari kompas kehidupan kita. Butuh juga “kekuatan untuk mengalah”. Mengalah dari kepentingan diri sendiri terhadap kepentingan-kepentingan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Karena saat “berefleksi”, kita harus mengevaluasi seluruh keinginan, harapan, realitas yang kita alami, kita bandingkan dengan tujuan hidup kita.

Ya, memang tak mudah. Tapi saya tetap ingin. Karena buah dari proses itu, adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang “deep impact”. Yang memperkaya jiwa. Bukan hanya kebahagiaan yang tertulis di status atau di ekspresi foto selfie. Kebahagiaan yang tak perlu kita komunikasikan pada orang lain. Cukup pada diri kita sendiri, dan pada orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita.

Semoga saya bisa.

 

 

 

 

 

 

 

 

Yaaaah…..anak kita tinggal dua …

Ada beragam reaksi dan “komentar” orang-orang ketika pertama kali mengetahui saya, si “ibu bekerja yang masih muda” ini udah punya anak empat. Pertanyaan lanjutannya biasanya ” emang umurnya berapa?” , “nikah umur berapa?” dan komentar-komentarnya antara lain “hebat ih..”, “kebayang repotnya…”, “waaah, rame banget pastinya ya..”…dll. Kalau yang senior dan puteranya banyak, biasanya melanjutkan; “tapi gak akan kerasa loh, nanti teh udah pada besar aja….nanti teh jadi sepi lagi, berdua lagi ”

Untuk komentar yang paling terakhir, yups….jangankan “nanti”. Sekarang saja, kami – saya dan mas- sudah mulai merasakannya. pernah suatu saat saya dan beberapa orang teman ngobrol tentang “kehebohan” mangatur waktu antara tugas kampus dan profesi vs domestik terutama anak. Teman-teman saya yang pada umumnya memiliki 2 anak, bilang “gue dua anak aja udah pengen pingsan …kebayang elu 4 anak..”. Saya bilang …. engga… secara “fisik”, sebenarnya saya cuman punya 2 anak saat ini. Cuman si 2 anak itu, umurnya 5 tahun dan 2 tahun. Itu yang bikin “pusing”.

Dua kakaknya, si 11 tahun dan si 8 tahun, secara “fisik” udah bener-bener saya lepas tangan. Pagi-pagi…paling mereka “setor muka” untuk tanya sarapan aja dan cium tangan pas pamit. Sarapan,  kadang mereka inisiatif bakar roti sendiri, atau bikin sereal sendiri kalau lagi gak mau makan nasi. Sejak ada teteh yang nginep, senin-kamis mereka sahur sendiri, bangunin teteh sendiri. Pulang jam 4…kalau gak ngobrol, mereka baca buku atau nonton TV. Nah, si 5 dan 2 tahun ini yang masih harus “dilayani” segalanya. Dimandiin, disuapin, dibacain cerita, plus…..dilerai saat berantem.

Daaaan…. sekarang yang lagi kerasa banget adalah, si dua kakak itu, udah sering gak mau diajak keluar. Kalau mau diajak jalan, pertanyaannya segambreng: “mau kemana?”, “ngapain nanti disana?”, “berapa lama?”, kalau mau ketemuan…”ketemuan sama siapa?”. Daaan…kalau mereka memutuskan “tidak ada benefitnya buat mereka”, dengan tegas mereka akan mengatakan milih di rumah aja.  Untuk beberapa kegiatan, seperti acara keluarga memang saya dan mas tegas mereka harus ikut. Tapi di luar itu? kalau saya atau mas berusaha membujuk mereka dengan segala macam cara dan iming-iming, Umar akan bilang “kan kata di pengajian juga walaupun masih kecil, anak itu harus dihargai pendapatnya”. Ya..ya…ya…. ini “salah” kami juga siiih…. tiap ahad pagi ngajak anak-anak ke pengajian Percikan Iman yang diasuh Ustadz Aam. Suatu hari, bahasannya adalah “mendidik anak”. Dan memang, pak Ustadz menyampaikan apa yang Umar sampaikan tadi. Tumben dia menyimak…biasanya asik main bola haha…

Suatu hari, kami akan ketemuan sama temen mas. Di suatu tempat makan. Mas berusaha membujuk Azka dan Umar. Mereka tetep memilih di rumah, sampai Umar mengeluarkan jurus “kata di pengajian kan…..”. Yo wis…..kami “menyerah”. Di garasi, sebelum masuk mobil, saya masih inget banget kata-kata dan ekspresi mas: “Yaaaah…. anak kita tinggal dua ya de…” . Hahaha…..

Yah, waktu…seringkali tak terasa cepat berlalu. Umar si 8 tahun, semalam menangis karena sarung kesayangannya jatuh dan masuk selokan waktu kemaren dia dijemput pake motor. Dengan tersedu-sedu dia memeluk saya dan minta tidur di kasur ibu. Saya peluk dia erat, mumpung masih bisa …. Saya gak mau tiba-tiba menyadari sudah tak bisa memeluknya lagi, sebelum saya puas. Saya juga terkadang, kalau malam suka ke kamar Kaka Azka, memeluk dan menciumnya …. mengenang saat-saat dulu kami masih berdua …setiap ba’da maghrib menunggu suara motor si abah datang di rumah kontrakan di dago…..

I love u all….Kaka Azka, Mas Umar, Teteh Hana, de Azzam…. Semoga kita bisa menikmati setiap detik kebersamaan kita menjadi kenangan indah nanti…

Mengenalkan “KERIPIK” pada anak

Saya masih ingat suatu malam kurang lebih 14 tahun lalu, saat itu saya masih aktif di Karisma Salman ITB, jadi Kadiv SDM. Ada acara presentasi program kerja dari tim-tim di bawah Divisi SDM. Ada duo “senior” yang mempresentasikan proker untuk “Pembinaan Pembina”. Mereka memulai presentasi dengan menyampaikan “motto” tim mereka : KERIPIK SINGKONG. Singkatan dari “Kritis Berpikir Kurangi Omong Kosong” haha….saking kreatipnyah singkatan itu, nempel memorinya ampe 14 tahun.

Jadi, KERIPIK yang saya tulis di judul bukanlah keripik singkong, keripik pisang, dan keripik-keripik lainnya …. tapi, “mengutil” istilah dari duo “senior” saya itu, KERIPIK yang saya maksudkan adalah “keritis berpikir” atau bahasa keyennya “critical thinking skill”.  Kemampuan berpikir kritis ini sudah lama jadi bahasan di psikologi, khususnya psikologi pendidikan. Tapi dalam tulisan ini, saya gak akan membahas sisi yang “akademis dan berat” …. selain saya gak tahu banyak karena bukan bidang penelitian saya, juga sesuai dengan singkatannya, kita bahas ini dari sisi yang ringan sajah.

Saya nemu link aplikatif mengenai mengajarkan kemampuan berpikir kritis pada anak, yaitu http://www.wikihow.com/Teach-Critical-Thinking.

Apa sih kemampuan berpikir kritis/critical thinking skills itu?

Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan yang perlu dipelajari anak maupun orang dewasa untuk bisa menilai dan memecahkan masalah dengan tepat dan akurat. Melibatkan proses “menganalisa” dan “mengevaluasi” informasi yang dibutuhkan melalui pengamatan, pengalaman maupun komunikasi.

The core of  critical thinking is being responsive to information and not just accepting it. Questioning is the most important part of critical thinking. Saya suka deh dua kalimat ini. Suka banget. Banget. Banget.

Nah, setelah mengetahui apakah critical thinking itu, mari kita lanjut ke 6 Cara Mengajarkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Anak menurut link ini :

(1) Ajarkan anak untuk mengamati dan menarik kesimpulan berdasarkan pengamatannya. Ini merupakan kemampuan “observasi ilmiah” yang sangat penting sepanjang kehidupan.

  • Saat anak bisa mengamati suatu benda atau peristiwa dengan detil, maka pada dasarnya mereka sudah bisa diarahkan untuk melakukan penilaian atau pengambilan kesimpulan berdasarkan pengamatan mereka.

Berarti, kita juga mesti mengajarkan anak untuk melakukan pengamatan secara “menyeluruh” terhadap satu objek atau peristiwa. Kalau pengamatan anak gak utuh, maka penilaian dan kesimpulan pun pasti tak akurat bukan?  Mmmhhh….saya jadi inget…Azzam tuh suka ketuker aja antara “kuda nil” ama “banteng”. Mungkin karena ia hanya mengamati “gendutnya” aja. Baiklah….jadi nanti kalau Azzam bilang “banteng ke kuda nil”, tampaknya saya harus mencoba bilang “coba liat ada tanduknya engga?” … “kalau yang ada tanduknya, banteng atau kuda nil ya?” …mmmmh…baiklah…seru kayaknya.

  • Saat anak bertanya “kenapa”, maka kita harus meresponsnya dengan “menurut kamu gimana/kenapa?”. Hal ini bisa mendorong anak untuk membuat kesimpulan sendiri.

Bener nih….saya seringkali merasa “harus menjawab” pertanyaan KENAPA anak. Saya pikir itu lebih baik dibanding bilang “ih, kamu mah cerewet nanya-nanya terus…”. Ternyata ada cara yang jauuuh lebih baik. Mau coba dipraktekin ah poin ini ke Hana si TK A yang lagi segala macem ditanyain sampai emaknya mati gaya.

(2) Lakukan perbandingan antara objek dan topik yang kontras.

  • Cara ini akan mendorong anak untuk menyatakan dengan cara bagaimana ia “mengkategorikan persamaan dan perbedaan”. Cara ini akan menstimulasi kemampuan menganalisa dan mengkategorikan informasi. Salah satu contoh sederhana dari aktifitas ini adalah meminta anak membandingkan apel dan jeruk. Dorong mereka untuk menggambarkan bagaimana cara mereka berpikir “persamaan” dan “perbedaan” keduanya.

Good idea ! siapa bilang harus distimulasi dengan mainan mahal? tinggal buka kulkas, keluarin salah dua sayuran, lalu minta anak gambarin persamaan dan perbedaannya. Mari kita coba!!!!

  • Membandingkan dua cerita  yang kontras adalah cara yang bisa juga dilakukan untuk menstimulasi kemampuan berpikir kritis. Anak akan menganalisa karakter, setting, plot dan bagian-bagian cerita saat mereka membandingkan “persamaan dan perbedaan” dua cerita. 

Kayaknya ini cuman bisa buat anak yang udah besar ya…Tapi menurut saya sih, buat anak dua tahun juga udah mulai bisa. Saya punya buku “Menjadi Besar dan Kecil”. Cerita tentang persahabatan  Gaga si Gajah Besar dan Kelly si Kelinci Kecil. Itu Azzam suka banget. Saya juga suka, tapi karena ilustrasinya yang menarik dan kata-katanya yang sederhana. PAs buat anak dua tahun. Satu halaman besar Ilustrasi, satu kalimat di bawahnya. Tapi kayaknya si penulis buku itu memang bermaksud menstimulasi si kritikal thinking melalui cerita ini. Karena memang setiap kalimatnya mengandung “kontras” tadi.

(3) Mendiskusikan dan menganalisa cerita

  • Minta anak untuk menceritakan kembali cerita yang sudah ia dengar/dibacakan padanya menggunakan bahasanya sendiri. Cara ini akan mendorong mereka untuk mencoba “merangkum” hal-hal penting, dan tak hanya memberikan menjawab pertanyaan tentang fakta saja.
  • Tanyakan pertanyaan yang jawabannya tidak langsung ada di cerita yang disampaikan/dibacakan pada anak. Cara ini akan membuat anak membuat kesimpulan berdasarkan pemahaman mereka akan cerita. Misalnya dengan pertanyaan “menurut kamu, kenapa sih si singa gak jadi makan si tikus?” (hehe, ini mah contoh dari saya aja)
  • Minta anak untuk “menganalisa” tokoh dan setting dalam cerita. Hal ini akan menstimulasi kemampuan anak membandingkan apa yang ada di dalam cerita dan apa yang ada di luar cerita.
  • Arahkan anak untuk menghubungkan cerita dengan kejadian dalam kehidupan nyata mereka. Cara ini mengajarkan kemampuan berpikir kritis yang namanya kemampuan sintesa, yaitu anak menggunakan informasi yang sudah ia miliki untuk diterapkan pada hal yang baru.

Saya suka banget poin ketiga ini. Sebagai emak yang gak kreatif, saya banyak mengandalkan kegiatan “membaca buku”  untuk menstimulasi beragam hal dari anak-anak saya. Jadi poin ini tampaknya akan paling sering saya praktekkan 😉

(4) Mengajarkan kerjasama

  • Memberikan kesempatan pada anak untuk bekerjasama akan membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis saat mereka berbagi gagasan dan saling belajar.
  • Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membaca cerita bersama, dan minta anak saling menyampaikan “penilaiannya” terhadap cerita tadi. Hal ini bisa menstimulasi kemampuan “berdebat secara positif”, karena mereka akan belajar mempertahankan argumen mereka dengan cara yang baik.
  • Berikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi kreatifitas mereka dengan kegiatan bermain menggunakan media yang “bebas” seperti air, pasir atau gelembung. Tanya mereka, apa yang sedang mereka lakukan.

Untuk poin terakhir, kalau buat anak-anak saya, playdough adalah media yang berhasil menstimulasi kreatifitas berpikirnya. Mulai dari si 2 tahun, 5 tahun, 8 tahun sampai si 11 tahun, suka dan enjoy banget main playdough. Buat emaknya juga seneng karena gak terlalu bikin “berantakan” seperti kalau pake media air atau cat (dasar emak gak mau susah hehe).

(5) Menyampaikan cerita “tanpa akhir”

  • Menyampaikan cerita “tanpa akhir” dan meminta anak untuk menyelesaikan cerita tersebut adalah cara untuk menstimulasi kemampuan berpikri kritis yaitu sintesa. Anak harus mengambil informasi dari cerita dan harus mengembangkan daya kreatifitas untuk menyusunnya menjadi akhir cerita. Katanya, bisa juga dengan bertanya ” kira-kira, apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Nah, untuk poin ini…ini mah bagian si abah….bukannya saya gak kreatip “mengarang” cerita baru. Tapi saya gak mau berperan sebagai “gatekeeping” . Saya ingin menstimulasi terjadinya relasi ayah-anak yang berkualitas, karena penelitian menunjukkan efek positif yang signifikan baik untuk ayah maupun untuk anak (haha….ini alesan emak pemalas yang tak kreatip;)

 (6) Mempraktekkan “Metoda Socrates”
  • “Metoda Socrates” ada bertanya terus dan terus sampai ke akarnya. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Pada anak, memang hal ini natural. Sudah tak aneh lagi kalau anak usia prasekolah “tak pernah puas” dengan jawaban kita. Teruuuuus dia kejar sampai dia paham betul. “Mengapa”. Nah, katanya saat anak bertanya “mengapa…mengapa…mengapa” tanya kembali “mengapa” menurut mereka. Ambil posisi “kontra” dengan anak biar anak belajar berargumen.

Di akhir link ini, dikatakan bahwa cara-cara diatas bisa dilakukan juga untuk orang dewasa. Dengan “level yang lebih abstrak”.

Saya setuju bahwa sikeripikapapun kita, berarapun usia kita dan menjadi apapun kita, kemampuan berpikir kritis ini memang harus kita asah. Memang kebutuhan “eksplisit”nya ada di dunia akademis. Mahasiswa  saat membuat skripsi, tesis atau disertasi. Tapi menurut saya sih, dalam beragam konteks, kemampuan ini diperlukan.

Bahkan dalam konteks beragama. Menurut saya, ada orang-orang yang bisa menghayati nilai-nilai keagamaan secara mendalam  dengan cara menerima bahwa “Ini perintah Allah. Laksanakan saja”. Namun ada juga orang-orang yang penghayatan mengenai nilai-nilai keagamaannya akan lebih mendalam dengan cara “berpikir kritis”. Jeffrey Lang misalnya, profesor matematika dari Amerika yang merasa penghayatan keagamaannya semakin mendalam saat “bertanya”. Sampai ia menuliskan 2 buku yang saya suka, “Even the Angel Ask (Bahkan Malaikat pun Bertanya)” dan “Aku Menggugat, Maka Aku Kian Beriman”

Dalam tataran aplikasi, saya setuju dengan pendapat  Ali Syariati dalam bukunya “Haji” yang mengatakan kita harus  selalu “menggugat niat” kita saat kita ingin melakukan satu amalan. Artinya bertanya…terus…terus…terus dan terus, ambil posisi “kontra”. Hal ini dilakukan agar kita bisa menghayati betul apa “motiv” kita dalam melakukan satu amalan. Karena penilaian amal itu, tergantung pada niatnya (tentunya setelah caranya benar). Moga-moga dengan ikhtiar ini, Allah menjaga niat kita dari awal sampai akhir melakukan amalan itu. Fyi, Ali Syariati itu Syiah. Tapi no problemo buat saya. Saya baca bagian yang sreg-nya aja. Bagian yang syiah-syiahnya saya lewat hehe….

Jadi, memang kita harus selalu mengasah kemampuan berpikir kritis kita. Biar bisa mengidentifikasi berita yang cuman mengutip seutil informasi sesuai “kebutuhan” (kampanye) nya. Biar bisa mengidentifikasi mana media yang suka gak “cover both side” kalau memberitakan sesuatu, biar kalau baca berita gak langsung main klik “share” aja, tapi “dianalisa” dulu….darimana sumbernya, si sumber itu selama ini objektif gak, kira-kira apa efeknya kalau saya share berita ini.

Haha…kenapa kesimpulannya jadi kesini yaks….

Jaka Sembung Makan Combro….Gak Nyambung Bro… kkkk

 

 

Prejudice : sebuah renungan dan keresahan

PROLOG :

Saya bukan psikolog sosial. Bukan psikolog klinis dewasa. Bukan psikolog pendidikan. Bukan psikolog industri & organisasi. Tapi di lemari buku saya, buku-buku dengan tema sosial, klinis dewasa, pendidikan, industri & organisasi jumlahnya tak kalah banyak dengan buku psikologi umum dan eksperimen yang saya ajarkan, serta buku-buku psikologi perkembangan dan klinis anak yang saya praktekkan. Saya yakin di lemari teman-teman saya para dosen psikopad terutama yang sebaya saya, juga demikian. Bukan saja karena sebagian dari kami menempuh program profesi yang kurikulumnya menjadikan kami harus mempelajari dan “ahli” di semua bidang kajian psikologi itu dulu. Tapi  juga karena kami yang masuk di jurusan psikologi, memang tertarik dengan psikologi. Dalam beragam aplikasinya. Meskipun pada akhirnya kami memiliki “spesialisasi” masing-masing, namun tak heran kalau kami semua punya hobi yang sama; mengoleksi buku psikologi 😉

Malam ini saya menemukan satu buku yang tak pernah saya gunakan baik untuk mengajar maupun untuk praktek. Social Psychology 8th Edition, karangan David G. Myers. Saya ingin menulis tentang satu bahasan dalam psikologi sosial; yaitu PREJUDICE. Kenapa saya pengen nulis tentang ini? ada deeeeeh … #centil#

……………………………………

PREJUDICE

Saya akan mecoba menyampaikan kembali apa yang om Myers uraikan di buku ini mengenai definisi prejudice, sumber prejudice (sosial, motivasional, kognitif), dan efek dari prejudice. Pastinya di ujung akan saya tutup dengan “penghayatan” saya terhadap prejudice ini.

  • DEFINISI PREJUDICE

Prejudice is a negative prejudgement of a group and its individual members. Prejudice (atau terjemahan bahasa Indonesia-nya adalah prasangka); adalah pra-anggapan terhadap kelompok dan anggota kelompok tersebut. Prejudice adalah sikap. Sikap adalah kombinasi dari perasaan, tendensi perilaku dan belief (keyakinan).

Prejudice berakar dari stereotype. Stereotype is a belief about the personal attributes of a group of people. Stereotypes are sometimes overgeneralized, inaccurate and resistant to new information. Secara sederhana, stereotype adalah “generalisasi” kita terhadap sesuatu. Sebenarnya, “generalisasi” ini mendekati benar sih….cuman, jadi masalah kalau “overgeneralisasi”. Misalnya, mas pernah cerita bodor. Suatu saat katanya ada orang Indonesia bertemu orang Amerika. Orang Amerika itu berkata “kamu pinter main tenis ya…”. Si orang Indonesia yang sumur hidup belum pernah main tenis itu heran….trus nanya kenapa….si Amerika lalu berkata: “Kan Yayuk Basuki  yang hebat main tenisnya itu orang Indonesia. Kamu juga orang Indonesia, berarti kamu pinter main tenis” . Kalau di ujian Filsafat ilmu dan logika waktu saya kuliah dulu, itu namanya “kesesatan berpikir”.

Kalau prejudice ini berupa sikap, maka perilaku yang muncul adalah diskriminasi. Yang artinya adalah unjustifiable negative behavior toward a group or its member.

  • SUMBER PREJUDICE

Sumber prejudice ada 3; yaitu : sumber sosial, sumber motivasional dan sumber kognitif.

(1) Sumber sosial

Sumber sosial terjadinya prejudice adalah adanya “unequal status”. Misalnya saja, dalam sejarah ada dua “unequal status” yang umum, yaitu warna kulit dan gender. Black were inferior, woman were weak. Sumber sosial lainnya adalah sosialisasi. Sosialisasi ini bisa dari orangtua pada anak, dari figur otoritas misalnya guru, pemuka komunitas agama, pemuka masyarakat. Satu lagi sumber sosial adalah “support institusi”. Misalnya sekolah, pemerintah, atau media.

(2) Sumber motivasional

Ada 3 teori yang menjelaskan sumber motivasional dari prejudice ini.

a. Teori Frustrasi-Agresi. Menurut teori ini, saat kita tidak bisa mencapai tujuan kita, kita jadi frustrasi. Naaah…saat kita frustrasi, kita cenderung menjadi agresi. Objek agresi kita, bisa kelompok. Maka terjadilah prejudice. “Prasangka”. Salah satu sumber frustrasi adalah kompetisi yang memperebutkan satu kebutuhan yang sama. Saat dua kelompok berkompetisi, maka “keberhasilan” satu kelompok akan menjadi sumber frustrasi bagi kelompok lain.

b. Teori Social Identity. Bagus dan keyen deh definisinya. Gak akan saya terjemahin saking bagusnya #alesan padahal kemampuan bahasa inggris terbatas haha….# social identity is the “we” aspect of our self concept; the part of aour answer to “who am I?” that comes from our group. Nah, kalau identitas sosial kita merasa “superior”, “lebih baik” dari kelompok sosial lain, maka akan terjadilah prejudice.

c.  Teori Motivation to Avoid Prejudice. Ternyata eh ternyata, katanya penelitian tahun 1989&2000 menunjukkan bahwa orang yang punya prejudice sangat tinggi dan sangat rendah menunjukkan perilaku “prejudice otomatis” yang sama.

(3) Sumber kognitif

Bagian ini berbicara bagaimana “pikiran kita bekerja”, sebagai dasar munculnya stereotyping dan prejudice. Ada tiga sumber kognitif, yaitu:

a. Kategorisasi: bagaimana cara kita “mengelompokkan orang”. Ada kecenderungan dalam “pengelompokkan” ini “membesar-besarkan” persamaan dalam satu kelompok, juga “membesar-besarkan” perbedaan antar kelompok. Ada satu cerita favorit saya dan keempat anak saya dalam buku “Cerita di Waktu Badai”. Judulnya Bibelbin dan Bibelbu. Begini ceritanya:

Dahulu, di negeri yang jauh, dua kerajaan bersebelahan, tetapi dinding lebar dan tinggi memisahkan kedua kerajaan itu. Di satu sisi tinggal Bibelbin dan Bibelbu di sisi lainnya. Mengapa dindingnya setinggi itu, dan siapa pembuatnya, tiada yang tahu. Bertahun-tahun dinding itu memenuhi maksud pembuatnya; Supaya Bibelbin dan Bibelbu tidak saling mengganggu.

Penduduk Bibelbin dan penduduk Bibelbu tak pernah berkenalan, tetapi saling menjelekkan. “Hati-hati terhadap Bibelbu!”, kata penduduk Bibelbin. “Kata orang, mereka tak berbulu dan telinganya berwarna hijau!” “Larilah bila muncul Bibelbin!” Seru penduduk Bibelbu. “Kata orang, jari kakinya berbulu… dan telinganya biru!”

Musim berganti musim, tahun-tahun pun cepat berlalu. Di kedua sisi dinding pemisah rasa takut makin bertambah dan bertumbuh. Dinding itu lebar. Dinding itu tinggi, dan mungkin kini pun masih berdiri, andaikata tidak ada seorang bocah Bibelbu yang bermain-main di dekat dinding itu. Ia membanting-banting bola dan melemparkannya ke udara. Bola itu terpelanting dan jatuh ke seberang dinding. Di balik dinding, secara kebetulan, seorang bocah berpangku tangan. Si bocah Bilbebin melihat bola itu melayang kepadanya dari Bibelbu. Dipungutnya bola itu dan dikembalikannya ke Bibelbu. Bocah Bilbelbu menangkap bolanya, dan lagi-lagi melemparkannya.

Tak terasa waktu cepat berlalu, dengan sedih berpisahlah kedua anak itu. Tetapi mereka akan datang kembali dengan membawa teman satu lagi. Dua Bibelbin dan dua Bibelbu bermain bola pada hari itu. Semua puas dan bersenang hati. Mereka berjanji untuk datang lagi. Esoknya delapan anak Bibelbu dan delapan anak Bibelbin bermain di dekat dinding batu dengan teman dari sisi lain. Segera anak Bibelbin datang semua, dan anak Bibelbu demikian pula. Udara jadi penuh balon, bola, layang-layang dan tawa ria.

“Ada apa ini?” teriak penduduk dewasa. “Mengapa kalian berbuat begini?” “Mengapa bermain dengan mereka yang harus dibenci dan ditakuti?” “Mereka tertawa, kami juga”, jawab anak Bibelbin ceria. “Apa bedanya telinga hijau dan tubuh yang tak berbulu?” “Mirip kita juga anak Bibelbin itu”, kata anak-anak Bibelbu. “Biar saja kaki mereka berbulu, atau telinga mereka biru”.

“ROBOHKAN DINDINGNYA!” Terdengar teriakan dari Bibelbin atau mungkin dari Bibelbu – entah dari mana, tiada yang tahu. Mereka yang kakinya mulus maupun berbulu kini bergotong-royong bersama-sama, menyingkirkan bongkah dan batu bata, sampai dinding itu tiada bekasnya. Dan, pada hari yang penuh tawa ria, permainan layang-layang dan bola, semua bisa melihat betapa kecilnya perbedaan yang ada antara mereka. Di tempat berdirinya dinding itu sekarang penuh ditumbuhui bunga. Dan kini, Bibelbin dan Bibelbu bahkan lebih bahagia.

b. Distinctiveness : Preceiving People Who Stand Out. Fenomena prejudice yang bersumber dari adanya kaum mayoritas dan minoritas.

c. Attribution. Sumber prejudice juga bisa berawal dari sikap kita yang fokus pada orang, bukan pada situasi. Kita fokus pada “siapa dia/mereka” bukan “apa yang dia/mereka lakukan”

  • AKIBAT DARI PREJUDICE

Dalam buku ini, om Myers menjelaskan akibat/konsekuensi dari Prejudice yang intinya adalah:  Kalau kita udah punya stereotype tertentu pada sekelompok orang, maka fakta apapun yang berbeda, tidak akan kita perhatikan. Kalau bahasa si Cepot-nya mah “Ceuk Aing Koneng, Koneng” . Gak peduli faktanya gimana. Kita bisa menciptakan “our own reality”, daaaan juga bisa membuat orang menjadi berperilaku sesuai dengan yang di-prejudice-kan. Misalnya kalau kita punya prejudice bahwa kelompok tersebut “licik”, maka prejudice ini justru akan membuat si kelompok yang sudah menerima prejudice itu menjadi demikian.

EPILOG

Baiklah….demikian pengantar kuliah Psikologi Sosialnya hehe…

Membaca tentang prejudice atau prasangka ini, tentunya kita telah terpapar salah satu, salah dua, salah tiga dst sumber-sumber prejudice. Di usia kita saat ini (usia sayah maksudnya….) tak dapat dipungkiri, prejudice itu ada. Otomatis suka muncul. Namun, intensitasnya bisa berbeda. Menurut saya, ini yang harus kita hayati. Prejudice apa yang kita miliki, kendalikanlah. Karena perilaku yang didasarkan pada prejudice, akan menjadi perilaku yang kebenarannya menjadi dipertanyakan. Menurut saya sih…

Apalagi di Indonesia yang punya “social identity” yang beragam. Sebagai pengamat sosial amatiran, saya melihat….di Indonesia ini, tak hanya ada beragam identitas sosial atau kelompok yang besar: agama, suku bangsa, status sosial, profesi, partai, komunitas agama…tapi juga sampe yang printil-printil….gaya jilbab, warna jilbab, …. kelompok-kelompoknya teh bisa printiiiiiil banget. Tapi prejudicenya sudah nampak. Yang gaya jilbabnya gini mah “pasti bla..bla..bla..”. Jujur saja saya resah dan gelisah …tapi bukan pada semut merah (haha….ketahuan deh remaja jaman Obbi Mesakh). Keresahan dan kegelisahan saya adalah pada banyaknya prejudice yang beredar. SARA, sub-SARA, sub-subnya SARA…. Mudaaaaah banget untuk menyebar kebencian antara satu kelompok dengan kelompok lainnya kalau prejudice sudah terpupuk.

Saya pernah berpikir lama tentang hal ini. Bagaimana “hukum” prejudice dalam agama yang saya anut? Lagi berpikir….merenung, datanglah Hana dari sekolah. Dengan semangat 45 dia menceritakan apa yang dia hafal hari itu di sekolah. “Unzhur maa qoola wa tandzur man qoola”. “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan”.

AHA !!!! itu dia jawabannya ! Implisit, hadist itu mengajarkan kita untuk berpikir dan bertindak objektif. Tanpa prasangka. Tanpa prejudice. Lihatlah faktanya. Tak terhingga banyaknya kisah yang menceritakan keagungan Rasulullah yang bersikap dan berperilaku objektif pada orang lain yang berbeda kelompok dengannya. Gak ada “kesesatan berpikir” kalau partai ini X, maka semua orang dari partai ini juga X. Kalau suku ini Y, orang dari suku ini juga Y. Agama ini Z…. Pasti semua yang beragama ini Z juga. Rasul kita tercinta, begitu “kritis” melihat situasi. Objektif.

prejudiceJadi, menurut saya….sebagai pribadi, sebagai orangtua, sebagai profesional, sebagai bagian dari kelompok tertentu, adanya prasangka dalam diri kita harus kita sadari dan kendalikan.

Jangan ajarkan anak-anak kita prasangka. kebencian. Ajarkan mereka untuk teguh pada apa yang mereka yakini, pada saat yang sama ajarkan mereka untuk menghargai perbedaan. Beri contoh pada mereka untuk bangga dengan “identitas sosial kita”, tanpa harus merendahkan orang lain.

Kasih sayang dan kebersamaan yang harus kita ajarkan dan contohkan, bukan kebencian.

Mother vs Caregiver : Apa yang kritis dibutuhkan oleh anak kita? (part two)

Ini adalah tulisan kedua, sambungan dari https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/05/18/i-am-sam-renungan-mother-vs-caregiver-part-one/.

Di bagian pertama, kita sudah mencoba menanamkan penghayatan bahwa panggilan “ibu” dan “ayah” yang kita sandang, secara hakiki bukanlah hanya sebagai sebuah “sebutan status sosial”. Secara hakiki, kita haruslah berfungsi sebagai caregiver untuk anak. CARE-GIVER. Pemberi perhatian. Itu terjemahan kasarnya.

Pada implikasinya, kita harus paham, bentuk “care” seperti apa yang dibutuhkan oleh anak kita, pada setiap tahap perkembangannya. Karena kebutuhan “care” setiap anak, pada setiap tahap berbeda. Saya akan menggunakan kerangka tahap perkembangan psiko-sosial dari Erikson. Erikson (1902-1904) mengemukakan ada 8 tahap perkembangan psikososial individu dalam rentang kehidupannya, dari lahir sampai wafat. Menurut beliau, dalam setiap tahap perkembangannya, anak mengalami “krisis” yang kalau tidak dibantu oleh lingkungan untuk mengatasinya, “output” krisis tersebut membuatnya tidak bisa “move on” ke tahap selanjutnya.

Karena ini dalam konteks pengasuhan, saya akan uraikan sampai tahap 5 aja ya….Saya akan mengkombinasikan teori Erikson ini dengan pengalaman saya mengasuh 4 anak saya dalam aplikasinya.
Tahap ke-1: Trust vs Mistrust

basic trustTahap ini terjadi pada tahun pertama kehidupan anak. Saat anak benar-benar “tak berdaya” dan 100% tergantung pada lingkungan. Pada tahap ini, anak belajar apakah ia bisa “mempercayai dunia” atau tidak. “Basic trust” akan terbentuk jika figur caregivernya, memenuhi kebutuhannya pada tahap ini. Apakah itu? kenyamanan fisik. Seperti kita ketahui, bayi umur 0-1 tahun, “gak bisa apa-apa”. Dia totally tergantung pada lingkungan. Saat dia lapar, haus, tidak nyaman karena basah….yang bisa ia lakukan hanya satu, menangis. Jika figur caregivernya responsif, segera menghampiri dan “memenuhi kebutuhannya”, maka ia merasa dunia ini “aman dan nyaman”. Kepercayaan inilah yang akan membentuk kepercayaanya selanjutnya pada apapun dan pada siapapun. Sebaliknya, kalau anak udah nangis bermenit-menit, tapi gak ada yang datang juga…sedang ia tak bisa melakukan apapun, anak akan merasa “helpless” dan kepercayaan bahwa dunia ini aman dan nyaman serta melindungi dia, tak akan terbentuk.

Jadi, di usia ini…immediate respons adalah keywordnya. Buat kita para ibu bekerja, maka pastikan orang yang menggantikan pengasuhan anak kita, juga punya karakteristik itu. Kalau cari ART, jangan cari yang pinter atau yang cantik. Tapi yang responsif. Segera menghampiri saat anak menangis, mengecek kebutuhan fisik apa yang anak butuhkan. Apakah ia lapar? haus? atau pipis? pup? ngantuk?

Kalau ibu harus menitipkan anak pada ART, jelaskan perilaku spesifik apa yang harus dilakukannya. Misalnya: “pokoknya kalau ade nangis, lagi ngerjain apapun, tinggalin, cek popoknya…kalau gak basah atau ee, berarti dia haus. Gendong, eyong-eyong, kasih susu. Kalau gak mau juga, eyong-eyong aja”. Cek dan “uji” apakah sop ini diikuti dengan baik, misalnya pas wekend kita ada di rumah.

 

Tahap ke-2: Autonomy vs Shame and Doubt

Tahap kedua ini adalah pada saat anak kita berusia 1 sampai 3 tahun. Secara fisik, anak di usia ini mengalami perkembangan yang amat signifikan. Beragam hal yang tak bisa dilakukan anak di tahun pertamanya, kini “hampir semuanya” bisa dilakukan anak. Di tahun pertama, kalau ia ingin mainan atau makanan, ia tergantung apakah lingkungan mau mengambilkannya atau mengizinkannya enggak. Sekarang? dia bisa berjalan, berlari, memanjat, meraih, memegang, merebut …. dan, dengan perkembangan bahasa yang juga signifikan, ia juga bisa mengungkapkan keiginannya dengan beragam bahasa, bukan hanya dengan cara menangis. Itulah kenapa fase ini dikatakan “autonomi”. Anak menjadi individu yang “otonom” dan “berdaya”.

Lalu, apa peran kita sebagai caregiver? peran kita adalah mendukung tumbuhnya perasaan “berdaya” itu, karena itu menjadi cikal bakal penghayatan “aku bisa” yang menjadi benih kepercayaan dirinya. Beri pujian, sediakan lingkungan yang aman. Menurut saya, itu keyword pengasuhan pada tahap ini. Dalam prakteknya, gak mudah. Karena di tahap ini, perasaan “Aku bisa” yang dirasakan anak, akan tampil dalam perilaku anak yang “sulit untuk diarahkan”. Segala macem maunya sendiri.

Saya menghayati betul fase ini karena si bungsu Azzam berada di tahap ini. “Ama de Azzam….de Azzam bisa”. Itu kata-kata yang selalu ia ucapkan untuk semua aktifitasnya. Kalau gak sadar bahwa sikap kita yang serba melarang dan overprotective akan mengakibatkan dia jadi “shame and doubt”, pengennya sih ngelarang. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Berikan kesempatan ekslporasi, yang disertai pengetahuan akan batasan. Itu kata literatur.

Saya coba praktekkan. Misalnya, Azzam selalu pengen ambil air minum sendiri. Tadinya saya melarang karena takut kena air panas. Tapi karena dia keukeuh sureukeuh suradimeukeuh, maka saya siapkan gelas plastik dan saya ajarkan dia untuk gak menekan tombol dispenser warna merah. Saya jelasin itu airnya panas. Daaan,…melalui beberapa percobaan, akhirnya dia ngerti kalau yang dipencet yang biru aja.

Cuci tangan sendiri, “wudhu” sendiri, makan sendiri, turun dari mobil sendiri, naik motor sendiri, jalan sendiri meskipun di jalan yang becek dan licin, segala macam sendiri….memang cukup merepotkan. Tapi seringkali perasaan kerepotan itu, sirna ketika dengan binar di matanya, dia bilang “Azzam bisa”…atau “Azzam pinter ya bu” 😉 moga2 itu tanda autonomi 😉

Oh ya….satu lagi yang penting katanya….saat anak kita melakukan kesalahan, jangan berikan hukuman. Apalagi bilang “tuh kaaaan….kata ibu juga bla…bla..bla…”. Yang harus kita lakukan adalah mengatakan “it’s oke”, dan ajarkan gimana cara yang benar. Berikan banyak kesempatan anak untuk memilih. Baju yang akan dipakainya, mandinya mau pake shower atau mau “berenang”, mau makan sama telor atau sama ikan…kata teorinya, itu bisa mengembangkan “sense of autonomi” . Buat saya, itu cara jitu juga buat mengatasi ke keukeuhan anak di usia ini 😉

 

Tahap ke-3: Initiative vs. Guilt

Tahap ketiga ini dialami anak usia 3-6 tahun. Di usia ini, perkembangan yang menonjol pada anak adalah bahasa, daya kreatif dan imajinasinya. Ketiga hal ini terlihat secara menonjol dalam permainan anak. Kita bisa lihat betapa amat “liar”nya imajinasi anak usia ini. Hehe…saya lagi punya satu anak yang ada di tahap ini, yaitu Teteh Hana, si TK A.

Kalau gak inget teori ini, ampuuuun deh, rumah gak pernah beres gara-gara anak satu ini. Dan yang paling bikin saya ampun-ampun adalah, dia sering banget ngilangin barang-barang penting, karena sama dia dipake mainan sesuai imajinasinya. Sehari ganti baju bisa 10 kali. Karena dia lagi sueneeeeeeng banget padu-padan baju. Peralatan dapur, peralatan tulis ibu, buku-buku, semua sama dia ”disulap” jadi sesuatu sesuai daya khayalnya. Lipstik saya, sama dia dijadiin “pot”, dan di pot itu ditanam bunga-bunga yang ia tusukkan ke si lipstik, bunga-bunganya dari tusuk gigi dan cuttobn bud 😉 … hadeeeeuh….ups, malah curcol haha…

Nah, kata om Erikson, figur caregiver di tahap ini harus bisa mendorong dan menghargai kemampuan “mengambil keputusan” dan kreatifitas anak. Jika kita menghambat kreatifitas anak dengan memberikan kritik, maka yang akan berkembang adalah “guilt”nya.
Menurut pengalaman saya, penting juga di tahap ini untuk bertoleransi terhadap kesalahan yang dilakukan anak. Terutama jika si anak menunjukkan kepekaan terhadap penilaian sosial. Saya pernah nulis ini di https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/04/03/berlebay-ria-pada-si-super-sensi/

 

Tahap ke-4 : Industry vs. Inferiority

Dari usia 6 tahun sampai usia 12 tahun, anak-anak akan mengalami Sekolah Dasar. Ia akan “disibukkan” dengan persoalan yang terkait dengan tuntutan akademik di SD. Di tahap ini, kemampuan anak untuk “produktif” menghasilkan “karya” sesuai dengan tuntutan akademiknya terasah. Membuat tugas-tugas, PR, dll. Banyak kemampuan berpikir dan kemampuan sosial yang akan terasah di usia ini. Kemampuan memecahkan masalah terutama.

Di tahap ini, fungsi caregiver adalah “menemani” anak dalam memenuhi tuntutan akademik dan sosialnya, agar kemampuan-kemampuan berpikir dan sosialnya berkembang secara optimal, sehingga anak tidak merasa “inferior”. Apalagi sekarang banyak issue terkait “Beratnya beban akademik” anak-anak jaman sekarang. Saya pernah menulis tentang “menemani anak belajar” di  https://fitriariyanti.wordpress.com/2013/03/05/anak-anak-uts-emak-emak-ngapain/. Saya sedang struggling “menemani” Umar, si kelas 2 yang sedang berada di tahap ini.

 

Identity vs. Role Confusion

Inilah fase perkembangan yang paling terkenal.”Pencarian jatidiri” anak di usia remaja. Saya belum ngalamin sih, meski “kembang-kembangnya” mah udah kerasa dari perilaku si sulung Azka yang udah 11 tahun. Di usia ini, katanya kita harus membantu anak mengenali kekurangan dan kelebihan dirinya, dan menentukan “tujuan” anak. Cita-citanya, arah hidupnya….

Yang saya rasakan banget, di usia ini yang amat dibutuhkan anak adalah “didengarkan”. Dan yang paling dibenci anak adalah “dinasehatin” dan “diomelin” 😉

Well…jadi saya akan menutup tulisan ini dengan kesimpulan. Sebagai orangtua terutama ibu, kita harus memastikan apakah kita berperan sebagai caregiver bagi anak. Care-giver. Pemberi perhatian. Dalam segala bentuknya. Bagi anak yang masih bayi, bentuk care yang ia butuhkan adalah immediate respons. Bagi anak usia prasekolah, bentuk care yang ia butuhkan adalah bermain dengan pujian dan dorongan untuk bereksplorasi, disertai informasi tentang batasan-batasan yang harus diperhatikan anak. Bagi anak usia SD, bentuk care yang ia butuhkan adalah “ditemani” saat menghadapi beragam persoalan tuntutan sekolah. Bagi anak remaja, bentuk care yang amat ia butuhkan adalah didengarkan tanpa judgement negatif.

Semoga kesadaran, pengetahuan serta upaya kita mempraktekkannya mengundang pertolongan sang Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga anak kita tumbuh menjadi manusia yang kuat. Kuat imannya, kuat pribadinya. Aamiin…

I Am Sam : Renungan Mother vs Caregiver (part one)

Tak ada yang kebetulan. Saya yakin itu. Allah yang maha sempurna yang mengatur setiap titik kejadian di semesta ini. Minggu lalu, saya mendapatkan pengalaman yang membuat saya ingin berbagi renungan mengenai mother vs caregiver. Tapi belum sempat. Kemarin, tak sengaja di rumah adik saya, saya menonton sebuah film. I Am Sam judulnya. Tentang mother vs caregiver.

i am samSaya mau cerita dulu tentang film ini. Film ini bercerita tentang Sam, seorang ayah yang mengalami ID (Intelectual Disability). Dulu dikenal dengan istilah “keterbelakangan mental”. Kemampuan berpikirnya “hanya” setara dengan kemampuan berpikir anak usia 7 tahun. Tapi ia bekerja dan berpenghasilan, dengan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan berpikirnya yang sederhana: pekerjaan di kedai kopi yang sangat rutin dan repetitif sifatnya.  Ia harus merawat Lucy, puterinya yang ditinggalkan ibunya sejak keluar dari rumah sakit. Dengan keterbatasannya dan support dari seorang tetangga dan teman-temannya sesama ID, ia membesarkan Lucy. Semua “berjalan lancar” sampai Lucy berusia 7 tahun. Ia dipanggil pihak sekolah. Lucy “bermasalah”, ia seperti takut untuk belajar dan berkembang. Pihak sekolah juga mengumpulkan informasi dari dinas sosial mengenai kondisi Sam. Mengingat usia mental Sam hanya 7 tahun, maka mereka sangat mengkhawatirkan bagaimana tumbuh kembang Lucy saat ia berusia lebih dari 7 tahun. Padahal Lucy adalah anak yang sangat cerdas. Singkat kata singkat cerita, dilakukan persidangan, yang akhirnya memutuskan bahwa Sam, dengan kondisinya tidak layak untuk menjadi pengasuh Lucy. Lucy pun dititipkan pada sepasang suami istri yang ingin mengadopsinya, sementara evaluasi terhadap Sam terus dilakukan. Dengan bantuan seorang pengacara terkenal yang tersentuh akan kondisi Sam, Sam akhirnya menyewa rumah dekat dengan rumah pasangan yang akan mengadopsi Lucy tersebut. Daaan…..tiap malam Lucy akan “kabur” ke rumah Sam, Sam mengembalikannya ke rumah “orangtua angkatnya”, demikian terus bermalam-malam. Sampai suatu malam, dimana besoknya dijadwalkan pengadilan kedua untuk putusan hak asuh, si ibu angkat Lucy datang menggendong Lucy. Sambil menangis, ia mengatakan bahwa tadinya, ia menganggap semua fasilitas, kamar yang hangat dan indah…yang ia siapkan untuk Lucy bisa membuat Lucy nyaman. Namun ternyata tidak. Lucy memilih untuk berdingin-dingin ria menemui ayahnya tiap malam. Cinta. Itu yang tak bisa kuberikan pada dia. Dan itu yang kamu punya. Lucy tak butuh hal lain selain itu. Itu yang akan kukatakan pada hakim besok. Kamu layak mengasuhnya.  Begitulah kira-kira yang disampaikan ibu angkat Lucy pada Sam. Akhirnya, Sam pun bisa mengasuh Lucy kembali.

…………………………………..

Dalam literatur-literatur perkembangan dan pengasuhan anak, banyak digunakan istilah  “caregiver” sebagai sosok pengasuh anak. Apakah mother dan caregiver adalah dua hal yang berbeda? secara konseptual, ya. Mother mengacu pada “biological mother”, seorang wanita yang mengandung dan melahirkan anak, atau “mother” dalam konteks peran sosial. Sedangkan “caregiver” mengacu pada seseorang yang mengasuh anak. Care-giver. “Seseorang yang memberikan perhatian”. Caregiver bagi seorang anak, bisa jadi adalah ibunya. Tapi tak pasti ibunya. Tak selalu ibunya. Bisa neneknya. Bisa susternya. Bisa pembantunya. Dalam film Sam, bisa ayahnya.

Bagi kita yang hidupnya “baik-baik saja”, mungkin issue ini tidak penting. Tapi buat saya, ada dua hal yang membuat saya ingin berbagi penghayatan mengenai hal ini. Dua hal itu adalah : (1) renungan buat kita sebagai ibu, (2) implikasi pada persoalan hak asuh anak.

Saya akan mulai dari poin kedua dulu. Dulu, jaman masih suka nonton infotainment, saya pernah menonton seorang selebriti wanita yang tengah “berebut anak” dengan mantan suaminya. Ia mengatakan pada awak media, kurang lebih seperti ini: “Saya ibunya, saya yang mengandungnya 9 bulan, saya yang kesakitan melahirkannya. Maka, saya yang paling berhak mengasuhnya”. Fakta yang disampaikan di kalimat pertama adalah betul. Namun pendapatnya di kalimat kedua, harus kita pikirkan secara kritis.

Di pengadilan, pada saat pasangan suami istri beragama Islam yang sudah memiliki anak bercerai, pertimbangan pada siapa hak asuh anak diberikan akan mengacu pada Kompilasi Hukum Islam Tahun 1991 pasal 105 yaitu :
(1) pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya;
(2) pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada si anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya;
(3) biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.

Mari kita lihat poin 1. Poin 1, menurut saya didasarkan pada asumsi bahwa ibu, berfungsi dan berperan juga sebagai caregiver anak selama ini. Lalu, bagaimana jika selama ini, ibu -karena tidak mampu atau tidak mau- tidak menjalankan peran sebagai caregiver? Dalam kasus demikian, maka pengadilan akan menentukan pada siapa hak asuh lebih baik jauh, berdasarkan pertimbangan kesejahteraan anak. Kesejahteraan ini, mengacu pada kesejahteraan fisik dan psikologis. Sebagai psikolog, tentunya concern saya adalah pada kesejahteraan psikologis. Dengan siapa selama ini kelekatan emosional anak terbentuk? Siapa yang membuat anak merasa aman dan nyaman secara psikologis? dengan dialah ia sebaiknya tinggal. Mengapa? karena, literatur menyatakan bahwa kelekatan emosi adalah dasar bagi anak untuk berkembang, sebagai “seseorang” maupun untuk menjalin hubungan. Hubungan apapun. Pertemanan, persahabatan, kerjasama, pernikahan….. Dan…ada kalanya, sosok caregiver itu adalah bukan ibu si anak.

Poin pertama, adalah renungan buat kita sebagai ibu. Apakah kita “just a mother” buat anak kita, atau kita menjalankan peran sebagai caregiver? Dalam salah satu sesi pengajian yang saya ikuti di Majelis Percikan Iman ustadz Aam Amiruddin, pernah salah satu jamaah bertanya. “Saya tidak punya anak, tapi saya punya dua anak angkat. Apabila mereka berdoa “rabbighfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbayani soghiiro (Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil), apakah doa itu akan sampai pada kami orangtua angkatnya? kan kami bukan orangtua yang melahirkannya”. 

Untuk menjawab pertanyaan ini, Ustadz Aam menjelaskan makna kata dari doa tersebut. Kata beliau, kata  “ayah-ibu” dalam doa tersebut tidak merujuk pada ‘ayah-ibu” secara biologis, namun merujuk pada “ayah-ibu” yang mengasihi dan mengasuh anak. Intinya, saya menangkap…”ayah-ibu” yang dimaksud bukan dalam konteks biologis, namun dalam peran sebagai caregiver. Yang mengurus, memberikan kasih sayang, mengasuh, mendidik. Kalau kata ustadz lainnya, doa anak sholeh yang kekuatannya dahsyat itu, yang bisa melapangkan kubur kita saat kita sudah wafat nanti, yang bisa menyelamatkan kita di hari akhir dan abadi nanti, tidaklah kita dapat secara “gratis”. Doa itu, adalah “buah” dari kesusahpayahan kita menguras pikiran, emosi tenaga dan materi dalam mengasuh anak-anak kita.

Nah…jadi renungan buat kita orangtua adalah…apakah kita hanya sekedar “menyandang status sosial” sebagai “ibu” dan “ayah”? Seorang teman psikolog, suatu saat pernah berdiskusi dengan saya mengenai hal ini. Berdasarkan kasus-kasus yang ia tangani, ia marasa ibu-ibu jaman sekarang kurang menghayati perannya sebagai caregiver. Bahwa saat ia memutuskan untuk memiliki anak dan menjadi seorang ibu, ada “konsekuensi” yang harus ia hadapi. Ia haruslah menjadi seseorang yang  “memberi perhatian” pada anaknya, yang seringkali…membuatnya harus “mengorbankan” sesuatu yang amat berharga baginya.  Semoga  saja itu tak terjadi pada kita. Semoga saat anak-anak kita berdoa “rabbighfirli….waliwalidayya…”, doa itu sampai pada kita. Bukan pada pembantunya, bukan pada susternya….

Jadi, menurut saya….

Anak-anak, sesungguhnya “tak butuh” ibunya sebagai caregiver. Siapa pun, bahkan orang yang tak punya ikatan darah dengannya, it’s oke buat anak, selama ia memberikan “perhatian” yang dibutuhkan anak dalam tahap demi tahap kehidupannya. Yang butuh dan perlu memastikan bahwa sebagai “mother dan father” kita juga adalah sebagai caregiver anak, adalah kita…..mari pastikan itu.

Bentuk “care” seperti apa yang anak-anak kita butuhkan dalam setiap tahap perkembangannya? karena tulisan ini sudah cukup panjang, bersambung aja ya….ke https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/05/19/mother-vs-caregiver-apa-yang-kritis-dibutuhkan-oleh-anak-kita-part-two/

Previous Older Entries