Jadi orangtua, (sebaiknya) tidak reaktif ….

self efficacySaya pengeeeen banget meneliti self efficacy orangtua khususnya ibu di jaman ini. Self efficacy adalah konsep yang diutarakan oleh ahli teori social learning om Bandura, yang intinya adalah penilaian postif terhadap kemampuan diri dalam melakukan sesuatu. Intinya mah penghayatan bahwa “Aku bisa” dalam melakukan sesuatu.

Semoga “hipotesis penelitian” saya salah. Bahwa ibu-ibu sekarang, cenderung “tidak pede” dengan kemampuannya mendidik anak.

Yups..yups…saya bisa sangat memahami. Bombardir informasi mengenai betapa anak-anak kita berada dalam situasi BAHAYA yang tidak bisa kita kontrol, bagaimana tidak membuat kita ibu-ibu menjadi panik? sexual abuse. bullying.pornografi, efek  TV. efek internet. efek teknologi……..Memang bukan salah kita siiih….salah media hehe…kenapa dia gak nayangin kabar program-program wokeh yang membuat anak kita berada dalam kondisi yang “positif”. …Ah, tapi  kalau buat media “good news is a bad news” kan ya….lagian mungkin secara tak sadar kita lebih menyukai berita yang “negatif” dibanding berita yang “positif”….

Darimana sih, saya soktau “menduga” self efficacy ibu-ibu jaman sekarang cenderung rendah? secara kualitatif,  dari curhatan teman-teman…apalagi kalau abis ikutan parenting…bukannya semangat, malah down katanya…..”I’m not a good mother…”.DAn makin banyak yang curhat kayak gini.

Sebenarnya, ini bahaya loh…kalau saya punya kesempatan untuk memberikan materi parenting, satu hal utama ingin saya bangun adalah “self efficacy” ibu. We are what we think! Kalau kita yakin kita “berdaya” sebagai orangtua, sebagai ibu, maka pasti itu akan berdampak pada perilaku kita. Tapi kaaaan…”ancaman” pada anak-anak kita di jaman ini begitu dahsyatnya ….. mengepung anak kita dari segala penjuru. Yups, itu tak boleh kita abaikan. Gak boleh kita tutup mata terhadap hal itu. Tapi ingat…ingat… hayati perasaan kita….CEMAS? atau TAKUT?

TAKUT, itu boleh. CEMAS, itu tak boleh. TAKUT itu, ada objeknya. Jelas. Kita TAKUT anak kita terpapar pornografi karena kita kasih dia kesempatan akses internet tanpa parental lock, dan kita pergi pagi sebelum anak bangun dan pulang setelah anak tidur sehingga tak punya kesepatan melakukan kontrol sama anak kita. Kita TAKUT Anak kita jadi korban kekerasan seksual karena si sopir jemputannya udah umur 35 tahunan, tapi gak nikah, dan dekeeet banget sama anak-anak, suka sentuh anak secara fisik. CEMAS, adalah kita takut anak kita terpapar hal-hal negatif dari ini-itu, tanpa bisa kita identifikasi apa, dan tidak kita pertimbangkan “protective factor” yang dimiliki anak-anak kita.

Nah, bahayanya, kecemasan ini bisa membuat ortu terutama ibu, bertindak reaktif. Denger berita anak melakukan tindak kekerasan dari TV? langsung bikin aturan “No TV At Home. Denger berita anak terpapar pornografi dari hape, langsung deh, hape anaknya disita. Gak boleh pegang hape…. Denger berita anak  dianiaya pembantu, langsung brenti kerja !

Sebenarnya sih, yang jadi masalah bukan bentuk keputusannya. Karena, banyak juga teman-teman saya yang memilih mengkondisikan anaknya menjadi STERIL dari teknologi : TV, hape, internet, dan beberapa teman, ibu yang memilih berhenti bekerja untuk anak-anaknya. Tapi mereka, mendasarkan keputusan itu pada pertimbangan yang matang. Dengan memperhitung potensi apa yang mereka miliki vs besarnya “ancaman” yang dialami anak-anak.

Kenapa saya menyoal hal ini? karena teman saya pernah ketemu ibu yang bingung setelah memutuskan berhenti bekerja karena mendengar berita anak yang dianiaya pembantu. Padahal pengasuh anaknya adalah pembantu yang sudah tahunan bersama dia, dan dapat dipercaya. Teman saya juga pernah cerita, setiap anak remajanya les, dia kelimpungan saat menjemput dan anaknya gak ada. Soalnya kan anaknya gak dia kasih hape, jadi gak bisa komunikasi.

Saya sendiri, berpendapat….terkait dengan perkembangan jaman sekarang ini, anak-anak kita sebaiknya tak “dihindarkan” dari teknologi ini. Yang harus diberikan adalah prinsip “imunisasi”. Memberikan paparan teknologi dalam kadar (dalam hal ini konten dan frekuensi) yang terkontrol, lalu biarkan anak membangun “imunitas” terhadap paparan teknologi itu. JElaskan pada anka, bahwa kita adalah SUBJEK, bukan OBJEK. Kita yang memilih, dan kita puya potensi untuk memilih yang baik.

Saya sendiri, menilai teknologi itu … punya dua sisi. Tak hanya negatif, tapi juga positif. TV misalnya. Ya, memang sih…kalau TV Indonesia, saya gak tau gimana sekarang karena sama sekali gak pernah nonton. Tapi channel-channel TV kabel, banyak yang positif buat anak. “Nat Geo Kids” misalnya…atau animal planet for kids…itu oke banget menurut saya. Internet…. banyak sekali pertanyaan anak, yang tak bisa saya jawab, dan jawabannya dengan okeh ada di internet. Tayangan edukatif di yutub buat anak prasekolah, juga banyak. Kalau ada link aneh-aneh gimana? pakailah parental lock. Cek history penelusuran internet anak saata nak gak ada. Tempatkan komputer di ruang keluarga, jangan di kamar pribadi anak.

Hape? dulu Azka waktu kelas 3 nebeng pake hape saya untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Saya intipin aktifitas berhape-nya. Ada wa grup angkatannya, pembicaraannya mengenai bikin surprise untuk ulangtahun gurunya. Lewat wa mereka berbagi tugas: siapa yang ngumpulin uang, siapa yang beli kue tart, bentuknya apa, gimana skenarion di hari h. Wa-an Azka dengan temennya? ada temennya yang curhat karena piaraaannya meninggal, ada curhatan azka karena bingung mau ikut kidsklub apa… dan saya terkagum-kagum betapa interaksi anak-anak itu begitu hangat, begitu dekat, cara mereka memberi dukungan pada temannya… Saya jadi berpikir…dulu, jaman kita kecil, kita gak perlu hape karena kita puya waktu luang yang banyak dan teman sebaya yang banyak di sekitar lingkungan kita untuk saling berinteraksi. Sekarang? teman sebaya di lingkungan perumahan kita tidak selalu mudah untuk didapat. Jadi, di jaman ini mungkin hape, bb, adalah media untuk memfasilitasi attachment anak-anak kita dengan teman-temannya. Bagaimana jika anak kita mendapatkan paparan pornografi dari hape? ya jangan kasih hape yang bisa konek internet.

Jadi, menurut saya kembali lagi, kita harus pede jadi orangtua ! Kita harus punya basic trust bahwa saat Allah menciptakan janin dalam rahim kita, Ia pun membekali kita dengan potensi untuk bisa mendidiknya dengan baik. Tinggal kita mau asah atau engga potensi itu. Asahnya dengan cara apa? penghayatan dan pengetahuan, juga support. Dari pasangan kita, dari komunitas kita.

Apakah kesuksesan, kebahagiaan dan keselamatan anak-anak kita tergantung pada kita? TIDAK ! ada kekuatan sang Maha yang menentukan. Posisi kita, adalah melakukan terbaik yang kita bisa, untuk mengundang pertolongan dan penjagaan Allah.

Nah, dalam melakukan upaya terbaik inilah setiap ibu harus menghayati “reasoning” tindakannya. Bahasa lainnya “menggugat niat” dari apapun tindakan kita pada anak. Pilihan pengasuhan seorang ibu, akan berbeda. Tapi yang pasti, apapun pilihan kita, jangan didasari kecemasan. Karena kalau didasari kecemasan, kita tak akan pernah merasa yakin dan pasti, tindakan kita akan reaktif tapi tetap gak pede.

Dan satu lagi ! emosi itu menular. Kecemasan kita, bisa jadi menular lewat bahasa non verbal kita pada anak- anak kita. Bukannya menumbuhkan kewaspadaan pada anak kita, malah menularkan kecemasan bahwa dunia ini begitu jahat dan tidak aman.

Identifikasi potensi-potensi yang kita  dan lingkungan kita miliki, perbanyak paparan berita – berita positif mengenai anak…bisa melalui kunjungan kita ke sekolah anak kita…mungkin begitu menyentuh dan melambungkan optimisme saat kita melihat anak-anak SD itu, pas istirahat sekolah pada sholat dhuha tanpa disuruh…mungkin kita tak akan begitu pesimis melihat anak-anak kita asik mendiskusikan rencana menengok teman yang sakit di chat fesbuknya…..

Semangat !!!

 

 

 

Advertisements

Haruskah nyawa anak begitu “murahnya?” //Renungan tentang perilaku agresi anak : Part Four

Tulisan ini adalah tulisan terakhir dari rangkaian tulisan mengenai perilaku agresi pada anak. Reducing Bullying and Aggression.
Prinsipnya, untuk menghentikan bullying dan mengurangi perilaku agresi, adalah dengan mengembangkan kompetensi anak. Dalam bidang akademik dan emosional, juga mengembangkan perilaku prososial anak.
Upaya lebih konkrit yang bisa dilakukan adalah:

 

  • • Eliminate hunger and tiredness. Pada anak terutama prasekolah juga anak SD, rasa lapar dan lelah menjadi pemicu utama perilaku agresi.
  • • Avoid using retention. Sebagian sekolah atau guru berpikir kalau anak akan berkembang lebih matang jika diberikan “ekstra waktu” dengan cara membuat anak tidak naik kelas. penelitian menunjukkan bahwa justru, anak agresi yang tidak dinaikkan, akan meningkat perilaku agresinya.
  • • Promote school bonding through warm teacher-students relationship and participation in extracurricular activities. Terkait di tulisan Part Three, masalah ikatan emosional anak yang buruk dengan figur pengasuh di rumah memang menjadi risk factor perilaku agresi anak. Saya pernah membaca jurnal yang isinya bagus banget. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa anak yang kelekatan emosinal dengan pengasuh di rumahnya buruk, bisa “terselamatkan” dengan membangun kelekatan emosi dengan guru di sekolah. Jadi untuk para ibu guru…it’s a great chance ! kita tak akan pernah tahu, upaya “kecil” kita untuk “mendekati” anak-anak “bermasalah”, mungkin bisa “menyelamatkan” kehidupan si anak.
  • • Avoid power assertive discipline. Hal ini berlaku baik di rumah maupun di sekolah. Mendisiplinkan anak dengan memaki, menampar, atau di setting sekolah-tanpa disadari kadang guru menghukum dengan cara “mempermalukan” anak. Perilaku tersebut, hanya menumbuhkan rasa marah pada anak, serta memberi contoh perilaku agresi yang selanjutnya bisa ditiru oleh anak.
  • • Be thoughtul about what behavior you reinforce. Nah, tanpa kita sadari nih kita sebagai guru atau orangtua seringkali kurang menghayati, tindakan kita terhadap anak, justru malah menguatkan perilakunya. Yang paling mendasar adalah, JANGAN PERNAH MEMBERIKAN APA YANG DIINGINKAN ANAK MELALUI PERILAKU AGRESINYA. Jadi, kalau si lima tahun merebut mainan kakaknya, ambil mainan itu dan katakan bahwa ia harus menunggu sampai kakaknya selesai main dan memberi pinjam. Kalau kita kasih mainan yang dia rebut agar ia berhenti memukuli kakaknya, anak akan belajar bahwa cara itu berhasil. Dan, ia akan mempertahankan perilaku agresi tersebut untuk mendapatkan yang ia nginkan
  • • Build academic skill. Penelitian secara konsisten menemukan bahwa perilaku agresi berbanding terbalik dengan prestasi akademik. Jadi, meningkatkan prestasi akademik anak, bisa membantu menurunkan perilaku agresinya.

Ada tambahan lagi khusus untuk guru, mengingat kasus perilaku agresi dan bullying ini banyak terjadi di konteks sekolah. Ini khusus untuk bapak/ibu guru, atau ibu-ibu yang aktif terlibat di komite sekolah, untuk memberikan masukan pada guru.

 

  • • Involve all students in learning. Secara “natural”, guru akan lebih senang berinteraksi dengan anak-anak yang “baik, rajin, gemar menabung dan tidak sombong” hehe. Nah, ini harus disadari dan dikendalikan. Ajak si anak-anak yang berperilakua gresi untuk terlibat di kelas. Kasih kesempatan yang sama dengan anak lain untuk jadi ketua kelompok, pengurus kelas…Hati-hati…jangan sampai guru secara tak sadar memberi contoh perilaku agresi sosial.
  • • Create a school climate that does not accept bullying. Jelaskan dengan konkrit, jelas dan tegas, bahwa “di sekolah ini tidak boleh mengejek, memukul, menendang, mendorong, dll” dengan alasan apapun. Berlakukan dengan konsisten pada siapapun, termasuk guru.
  • • Provide supervision. Salah satu “alasan” pihak sekolah saat terjadi hal yang buruk karena perilaku agresi anak adalah, karena mereka sedang tak ada di sana. Saat jam pelajaran, tak ad aalasan apapun bahwa tanggungjawab supervisi ada di guru. Saat istirahat, sediakan “pengawas” di daerah-daerah yang potensial. Misalnya di halaman atau di kantin.
  • • Screen for behavior problem early. Naaaah poin ini penting banget !!! Sebenarnya, “deteksi dini” perilaku agresi anak itu, bisa mulai dilakukan pada saat anak berusia 3 tahun. Guru TK dan Guru SD kelas 1 dan 2, harus sangat peka apabila ada anak yang menunjukkan rasio perilaku negatif yang lebih besar dibanding dengan perilaku positif anak. Jika menjelang usia 8 tahun anak masih menunjukkan perilaku agresi fisik, maka anak perlu dibantu.

Haruskah nyawa anak begitu “murahnya?” //Renungan tentang perilaku agresi anak : Part Three

Setelah memahami definisi perilaku agresi dan perkembangan perilaku agresi di tulisan sebelumnya, saya berharap kita sudah punya bekal untuk melakukan “deteksi dini” perilaku agresi pada anak kita, anak didik kita, anak tetangga kita. Dengan bekal “deteksi dini” ini, kita berharap kita bisa bantu anak-anak yang potensial melakukan keburukan yang besar jika kita tak membantunya. Agar tak ada lagi Renggo-Renggo dan Jihan-Jihan selanjutnya.

Di tulisan ini saya ingin berbagi mengenai hal yang cukup penting terkait perilaku agresi anak, yaitu Protective Factors dan Risk Factors, dari perilaku antisosial khususnya perilaku agresi.

riskAda tiga faktor yang berpengaruh terhadap perilaku agresi anak: (1) faktor biologis atau genetis, (2) faktor parenting/pengasuhan. (3) kemampuan kognisi-sosial anak.

Untuk faktor pertama, prinsip yang harus kita pegang adalah, bahwa perilaku anak itu merupakan “interaksi” antara nature vs nurture. Oke lah, anak kita punya predisposisi genetik untuk melakukan perilaku agresi. Tapi kita punya  2 faktor lain yang bisa diupayakan agar predisposisi genetik ini tidak muncul menjadi perilaku yang buruk.

Faktor kedua. Parenting/pengasuhan. Penting banget nih !

Ada karakteristik pengasuhan yang bisa “memproteksi” anak dari perilaku agresi. Karakteristik tersebut adalah:

  • Parental Involvement. Keterlibatan orangtua dalam kehidupan dan perkembangan anak. Misalnya adanya pengawasan terhadap gadget yang digunakan anak, pergaulan anak, Orangtua “tertarik” pada pikiran dan perasaan anak (yang diwujudkan dengan adanya kegiatan “ngobrol terbuka anak dengan ortu), dan adanya kegiatan bersama anak dengan orangtua.
  • Parental Warmth. Perilaku orangtua yang “hangat” pada anak. Orangtua yang lembut dan peka, misalnya sangat responsif dalam memenuhi kebutuhan bayi, akan membuat anak tumbuh menjadi tidak afresif.
  • Firm control. Adanya kontrol ynag jelas dan tegas dari orangtua pada anak. Misalnya, ada aturan berapa lama boleh main games, tontonan TV apa saja yang boleh ditonton, perilaku apa yang boleh dan tidak boleh ditunjukkan anak di rumah dan di luar rumah.
  • Religiosity. Value agama yang ditanamkan orangtua pada anak. Nilai – nilai kasih sayang, memaafkan, tidak boleh membalas dendam, adalah nilai-nilai yang jika terinternalisasi dalam diri anak, akan mampu meredam potensi perilaku agresi.

Selain karakteristik pengasuhan yang bisa “memproteksi” anak dari perilaku agresi, ada juga karakteristik pengasuhan yang justru “mendorong” terjadinya perilaku agresi pada anak.

  • Insecure attachment pada setiap tahap perkembangan. “Hubungan emosional” anak dengan pengasuhnya (ibu atau figur lain) yang tidak membuat anak merasa “aman”.
  • Pengasuhan yang “keras” dan cenderung memberikan hukuman. Pola asuh yag “keras” dan cenderung memberikan hukuman tanpa penjelasan pada anak, akan menimbulkan kemarahan dan pembangkangan pada anak. Bahkan jika maksud orangtua adalah “baik”, Misalnya anak yang kalau tidak sholat dipukul pake sapu….
  • Depresi yang dialami ibu. Kondisi keseatan mental ibu akan berpengaruh pada perilaku anak.
  • KDRT

Biasanya, si “risk factor” ini tidak berdiri sendiri, melainkan “berjalinkelindan” … sehingga kalau ada satu faktor yang telah terjadi, segera sadari dan lakukan sesuatu agar tidak “merembet” ke faktor selanjutnya.

Faktor  ketiga, sebenarnya adalah produk pengasuhan juga. Yaitu pemahaman sosial anak. Ajarkan pada anak, perilaku apa yang benar-benar mengandung “bahaya” baginya, mana yang tidak. Ajarkan anak makna “tidak disengaja” dan “disengaja”, dan latih untuk menilainya secara akurat. Kenapa? pernah mendengar cerita ada seorang anak yang tidak sengaja “menabrak” temannya dan si temannya langsung menyerang balik dengan penuh amarah karena merasa si temannya yang “menabrak” dia mengajak berantem? itulah gambarannya jika kita tidak mengenalkan anak pada penilaian sosial yang akurat. Hal ini sangat penting terutama di sekolah inklusi, dimana anak mungkin melihat perilaku yang “tidak biasa” dari teman-temannya yang berkebutuhan khusus.

Well….satu tulisan terakhir, Reducing Bullying and Aggression, nanti dilanjut di kampus ya….

 

Haruskah nyawa anak begitu “murahnya?” //Renungan tentang perilaku agresi anak : Part Two

Di tulisan ini saya akan berbagi mengenai Age Trends in Antisocial Behavior. Tipe dan frekuensi perilaku agresi, berubah sesuai tahap perkembangan anak. Kita harus mengetahui hal ini agar bisa menilai, perilaku apa yang “wajar” di satu tahap usia karena merupakan bagian dari perkembangannya, dan perilaku mana yang “tidak wajar” sehingga anak harus “dibantu”.

Berikut adalah perkembangan perilaku antisosial (termasuk perilaku agresi) pada anak:

Early Childhood (bayi-usia 5 tahun)

Bayi belum memiliki kemampuan untuk melakukan perilaku agresi, namun di usia 4 tahun bayi sudah bisa “marah”. Agresi pada teman atau kakak, biasanya mulai muncul di usia sekitar 1 tahun. Anak di usia 2 tahun, akan sangat sering melakukan “instrumental agression”, yaitu perilaku agresi (biasanya fisik) untuk mendapatkan keinginannya (biasanya mainan). Pada anak usia 2 tahun, melakukan perilaku agresi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan adalah perilaku yang normal. Ada istilah “happy victimizer”, yaitu anak merasa senang setelah melakukan perilaku agresi. Di usia 2 tahun, perilaku ini wajar. Namun hati-hati jika ada anak usia sekolah (mulai kelas 1) masih menujukkan perilaku happy victimizer.

Agresi fisik berkembang mulai anak berusia 1 sampai 2 tahun, puncaknya pada usia 2 tahun, dan menurun di usia 4 tahun. Di usia 2-3 tahun, anak belajar berbicara dan berkomunikasi, biasanya agresi fisik mereka digantikan dengan agresi verbal. Tapi pada umumnya, di usia 4 tahun perilakua gresi anak benar-benar menjadi sangat minim. Kenapa? karena mereka telah memiliki kemampuan komunikasi untuk menyampaikan apa yang mereka inginkan tanpa harus memukul, merebut, atau berteriak.

anak dua tahunSaya, sedang mengalami fase ini. Si bungsu Azzam yang berusia 2 tahun 1 bulan, sedang dalam fase agresi banget. Fisik. Dan saya kaget karena hal ini tidak terjadi di kakak-kakaknya. Seperti kata para ahli, yups…saya setuju itu bagian dari perkembangan. Bagian dari eksplorasinya. Memukul, merebut….Namun dikaitkan dengan pemahaman akan aturan, di usia 2 tahun anak harus mulai dikenalkan pada aturan. Saya terus berusaha konsisten  untuk memberikan umpan balik bahwa yang ia lakukan salah. Kalau ia memukul kakaknya atau saya, akan saya “tangkap” tangannya, saya bilang tak boleh dengan bahasa tubuh saya juga bilang “gak boleh”. Saya minta di aminta maaf ke kakaknya. Saya bacakan buku “alhamdulillah aku punya tangan” yang di dalamnya ada tentang gunanya tangan dan apa yang tidak boleh dilakukan tangan. Kalau lagi “insyaf” sih Azzam suka bilang “ini tangan. engga boeh buat putun” (engga boleh buat pukul). Alhamdulillahnya, anak usia segini rentang perhatiannya masih pendek. Itulah sebabnya teknik mengalihkan, selalu jitu untuk diterapkan pada anak usia ini. Kalau dia merebut mainan yang sedang dipegang kakaknya, memindahkan dia ke ruangan lain dan mengajak main hal lain  selalu bisa menyelesaikan masalah.

 Middle Childhood (6-12 tahun)

Anak anda sudah berusia 8 tahun tapi masih suka tantrum (mengamuk)? membangkang? membantah? sangat mudah marah? itu lampu merah….bisa merupakan tanda dari masalah perilaku yang serius. Anak usia sekolah, seharusnya sudah tak menunjukkan perilaku agresi fisik. Biasanya, yang muncul adalah agresi sosial. Sebagian para ahli berpendapat bahwa agresi fisik, agresi verbal dan agresi sosial merupakan satu kontinuum, dari bentuk yang “tidak matang” Sampai “paling matang”. Jadi kalau pasangan kita masih suka melakukan agresi fisik atau verbal….itu lampu merah bangets…..!!!!

Nah, di usia sekolah ini, anak yang melakukan perilaku agresi biasanya bukan bersifat intrumental atau untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Di usia sekolah ini, biasanya “Self esteem” atau “harga diri” yang menjadi dasar perilaku agresi. Secara teoretis, di usia SD ini perilaku bullying kemungkinannya sangat rendah.

 Adolescence (13-19 tahun)

Di usia ini, seharusnya perilaku agresi benar-benar sudah sangat minim. Perilaku agresi di usia ini, biasanya mengarah ke perilaku kriminal.

……………………………….

Mmmmmhhh…jadi kalau baca perkembangan perilaku agresi pada anak, banyaknya kasus bullying di SD, banyaknya kasus tawuran di SMA, kasus penganiayanan junior di perguruan tinggi, “pembunuhan karakter” oleh para politisi itu, harusnya tidak terjadi ya….berarti kalau terjadi…itu adalah masalah perilaku yang “tidak wajar” dan berarti, untuk mencegahnya, kita harus mundur ke sebelumnya, yaitu…usia prasekolah.

Satu poin yang penting disini menurut saya adalah, si kontinuum jenis agresi tadi. Agresi fisik pada anak usia 2-3 tahun wajar, tapi tak wajar untuk anak usia di atas itu. Ini poin pentingnya. Dan jika anak remaja kita atau pasangan atau rekan kerja kita masih melakukan agresi verbal apalagi fisik, itu tanda dia harus mendapatkan bantuan…urgent !

Haruskah nyawa anak begitu “murahnya?” //Renungan tentang perilaku agresi anak : Part One

Ujung dari rangkaian tulisan ini berharap kita memiliki pengetahuan bagaimana agar  perilaku agresi dan bullying tak terjadi pada anak kita, pada anak didik kita, pada anak tetangga kita. Ini adalah tulisan kedua. Tulisan pertama adalah https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/05/06/haruskah-nyawa-anak-begitu-murahnya-renungan-tentang-perilaku-agresi-anak-part-zero/.

Dalam tulisan ini, saya akan berbagi mengenai “definisi” dari perilaku agresi, macam-macam perilaku agresi dan bullying. Mengapa harus mulai dari definisi? bukan karena saya seorang akademisi yang harus memulai segala sesuatu dari definisi. Namun karena saya menganggap pengetahuan mengenai definisi ini penting. Kritis malah. Kalau orangtua gak tau bahwa perilaku anaknya termasuk perilaku agresi, dia tidak akan bertindak apa-apa. Bisa jadi perilaku agresi si anak terus berkembang dan mengalami peningkatan. Kalau guru gak tau definisi bullying, maka mereka akan mengatakan “ah, biasa….anak-anak…”. Tak sadar bahwa kalau perilaku bullying dibiarkan, bisa jadi peluang terjadinya kasus Renggo dan Jihan. Anak-anak itu, kalau mereka melakukan hal yang salah, mereka perlu dibantu. Diingatkan. Diarahkan.

Agresi. Agresi adalah perilaku yang dimaksudkan untuk membahayakan orang lain, termasuk upaya  untuk mendominasi orang lain meskipun apa yang dilakukan dan akibatnya tidak membahayakan. Jadi, penekanannya pada perilakunya, bukan pada akibatnya. Ini yang pada umumnya salah dipahami.

Terdapat 3 jenis perilaku agresi, yaitu agresi fisik, verbal dan sosial.

Agresi fisik : menendang, memukul, mendorong, menampar, menjambak, dll. Agresi verbal: mengancam atau mengejek. Agresi sosial : merusak hubungan atau status sosial. Misalnya menyebarkan rumor sehingga teman-teman si “x” menjauhi dan gak main sama dia, menunjukkan bahasa tubuh tertentu saat si “x” lewat….

Agresi fisik dan verbal, tergolong “overt behavior”; yang lebih mudah terlihat. Nah, yang ketiga yaitu agresi sosial, lebih sulit terlihat karena termasuk “covert behavior”, sehingga ortu atau guru harus lebih peka terhadap hal ini. Ketiga bentuk agresi tadi memiliki korelasi yang tinggi. Artinya, anak yang memiliki kecenderungan perilaku agresi, akan melakukan ketiga bentuk agresi diatas, meskipun berbeda dalam frekuensi dan intensitasnya.

Agresi, bisa bersifat reaktif atau proaktif. Agresi reaktif adalah “pembalasan dendam” yang diiringi oleh rasa marah dan frustrasi. Sedangkan Agresi proaktif dilakukan untuk mendapatkan tujuan tertentu.

Ada dua jenis agresi proaktif: agresi instrumental (instrumental agression) dan bullying. Agresi instrumental adalah perilaku agresi yang ditujukan untuk mendapatkan sesuatu. Sifatnya lebih “goal oriented” dibandingkan “person oriented”. Misalnya, anak yang suka malak siapapun yang lewat di jalan tertentu. Sedangkan Bullying adalah agresi proaktif yang dilakukan berulang-ulang dan pelaku memiliki “kekuasaan lebih” dibanding si korban. Jadi, senior yang berulang-ulang nonjokin juniornya untuk mendapatkan “rasa hormat” dari juniornya, jelas-jelas melakukan bullying.

Tidak semua jenis agresi adalah bullying. Agresi menjadi bullying: bila dilakukan berkali-kali, bila ada imbalance power antara si pelaku dengan korban, bila si pelaku berniat untuk menyakiti si korban, dan bila tidak ada penyesalan pada diri si pelaku. Bullying bisa fisik dan bisa psikologis. Di kalangan anak-anak, perilaku bullying yang umum dilakukan adalah “lucu-lucuan” dan menyebarkan rumor. Kini, ada yang namanya cyberbullying, yaitu bullying yang dilakukan melalui kata-kata, foto atau gambar di internet.

Tulisan selanjutnya adalah mengenai Age trends in antisocial behavior, what predicts individual differences in antisocial behavior dan how to reducing bullying and agression.

agresiTapi tidak perlu menunggu sampai akhir untuk “bergerak”. Mari cermati perilaku anak-anak kita, murid kita, anak-anak tetangga kita. Kalau ada yang menunjukkan perilaku agresif atau bullying…..ingat…mereka perlu dibantu. Lakukan sesuatu. Buat aturan tegas di rumah kita, atau untuk para guru di kelas kita. Tidak boleh ada perilaku agresi dalam bentuk apapun. Tidak boleh ada mengejek, “iseng”, ataupun “cuman main-main”. Jelaskan perilaku apa saja yang termasuk agresi. Jelaskan mengapa itu tak boleh dilakukan. Diskusikan konsekuensi bagi yang melakukan. Semoga “langkah kecil” yang kita lakukan, bisa mencegah keburukan yang besar.

Yups, kita harus berdoa“Audzubikalimatillahi-t-tammat min syarri makhalaq” (aku berlindung dengan kalam Allah yang maha sempurna dari kejahatan segala makhluk yang Dia ciptakan); tapi kita juga harus berikhtiar, berusaha. Maksimal.