Haruskah nyawa anak begitu “murahnya?” //Renungan tentang perilaku agresi anak : Part Four

Tulisan ini adalah tulisan terakhir dari rangkaian tulisan mengenai perilaku agresi pada anak. Reducing Bullying and Aggression.
Prinsipnya, untuk menghentikan bullying dan mengurangi perilaku agresi, adalah dengan mengembangkan kompetensi anak. Dalam bidang akademik dan emosional, juga mengembangkan perilaku prososial anak.
Upaya lebih konkrit yang bisa dilakukan adalah:

 

  • • Eliminate hunger and tiredness. Pada anak terutama prasekolah juga anak SD, rasa lapar dan lelah menjadi pemicu utama perilaku agresi.
  • • Avoid using retention. Sebagian sekolah atau guru berpikir kalau anak akan berkembang lebih matang jika diberikan “ekstra waktu” dengan cara membuat anak tidak naik kelas. penelitian menunjukkan bahwa justru, anak agresi yang tidak dinaikkan, akan meningkat perilaku agresinya.
  • • Promote school bonding through warm teacher-students relationship and participation in extracurricular activities. Terkait di tulisan Part Three, masalah ikatan emosional anak yang buruk dengan figur pengasuh di rumah memang menjadi risk factor perilaku agresi anak. Saya pernah membaca jurnal yang isinya bagus banget. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa anak yang kelekatan emosinal dengan pengasuh di rumahnya buruk, bisa “terselamatkan” dengan membangun kelekatan emosi dengan guru di sekolah. Jadi untuk para ibu guru…it’s a great chance ! kita tak akan pernah tahu, upaya “kecil” kita untuk “mendekati” anak-anak “bermasalah”, mungkin bisa “menyelamatkan” kehidupan si anak.
  • • Avoid power assertive discipline. Hal ini berlaku baik di rumah maupun di sekolah. Mendisiplinkan anak dengan memaki, menampar, atau di setting sekolah-tanpa disadari kadang guru menghukum dengan cara “mempermalukan” anak. Perilaku tersebut, hanya menumbuhkan rasa marah pada anak, serta memberi contoh perilaku agresi yang selanjutnya bisa ditiru oleh anak.
  • • Be thoughtul about what behavior you reinforce. Nah, tanpa kita sadari nih kita sebagai guru atau orangtua seringkali kurang menghayati, tindakan kita terhadap anak, justru malah menguatkan perilakunya. Yang paling mendasar adalah, JANGAN PERNAH MEMBERIKAN APA YANG DIINGINKAN ANAK MELALUI PERILAKU AGRESINYA. Jadi, kalau si lima tahun merebut mainan kakaknya, ambil mainan itu dan katakan bahwa ia harus menunggu sampai kakaknya selesai main dan memberi pinjam. Kalau kita kasih mainan yang dia rebut agar ia berhenti memukuli kakaknya, anak akan belajar bahwa cara itu berhasil. Dan, ia akan mempertahankan perilaku agresi tersebut untuk mendapatkan yang ia nginkan
  • • Build academic skill. Penelitian secara konsisten menemukan bahwa perilaku agresi berbanding terbalik dengan prestasi akademik. Jadi, meningkatkan prestasi akademik anak, bisa membantu menurunkan perilaku agresinya.

Ada tambahan lagi khusus untuk guru, mengingat kasus perilaku agresi dan bullying ini banyak terjadi di konteks sekolah. Ini khusus untuk bapak/ibu guru, atau ibu-ibu yang aktif terlibat di komite sekolah, untuk memberikan masukan pada guru.

 

  • • Involve all students in learning. Secara “natural”, guru akan lebih senang berinteraksi dengan anak-anak yang “baik, rajin, gemar menabung dan tidak sombong” hehe. Nah, ini harus disadari dan dikendalikan. Ajak si anak-anak yang berperilakua gresi untuk terlibat di kelas. Kasih kesempatan yang sama dengan anak lain untuk jadi ketua kelompok, pengurus kelas…Hati-hati…jangan sampai guru secara tak sadar memberi contoh perilaku agresi sosial.
  • • Create a school climate that does not accept bullying. Jelaskan dengan konkrit, jelas dan tegas, bahwa “di sekolah ini tidak boleh mengejek, memukul, menendang, mendorong, dll” dengan alasan apapun. Berlakukan dengan konsisten pada siapapun, termasuk guru.
  • • Provide supervision. Salah satu “alasan” pihak sekolah saat terjadi hal yang buruk karena perilaku agresi anak adalah, karena mereka sedang tak ada di sana. Saat jam pelajaran, tak ad aalasan apapun bahwa tanggungjawab supervisi ada di guru. Saat istirahat, sediakan “pengawas” di daerah-daerah yang potensial. Misalnya di halaman atau di kantin.
  • • Screen for behavior problem early. Naaaah poin ini penting banget !!! Sebenarnya, “deteksi dini” perilaku agresi anak itu, bisa mulai dilakukan pada saat anak berusia 3 tahun. Guru TK dan Guru SD kelas 1 dan 2, harus sangat peka apabila ada anak yang menunjukkan rasio perilaku negatif yang lebih besar dibanding dengan perilaku positif anak. Jika menjelang usia 8 tahun anak masih menunjukkan perilaku agresi fisik, maka anak perlu dibantu.
Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Lulu Hutaki
    May 07, 2014 @ 11:24:33

    keren mbak fit! lanjut donk… tips2 (selain yang sudah disebutkan) untuk mengatasi dan mereduksi si agresif, dari yang tame sampe yg wild (naon ieu teh….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s