Haruskah nyawa anak begitu “murahnya?” //Renungan tentang perilaku agresi anak : Part One

Ujung dari rangkaian tulisan ini berharap kita memiliki pengetahuan bagaimana agar  perilaku agresi dan bullying tak terjadi pada anak kita, pada anak didik kita, pada anak tetangga kita. Ini adalah tulisan kedua. Tulisan pertama adalah https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/05/06/haruskah-nyawa-anak-begitu-murahnya-renungan-tentang-perilaku-agresi-anak-part-zero/.

Dalam tulisan ini, saya akan berbagi mengenai “definisi” dari perilaku agresi, macam-macam perilaku agresi dan bullying. Mengapa harus mulai dari definisi? bukan karena saya seorang akademisi yang harus memulai segala sesuatu dari definisi. Namun karena saya menganggap pengetahuan mengenai definisi ini penting. Kritis malah. Kalau orangtua gak tau bahwa perilaku anaknya termasuk perilaku agresi, dia tidak akan bertindak apa-apa. Bisa jadi perilaku agresi si anak terus berkembang dan mengalami peningkatan. Kalau guru gak tau definisi bullying, maka mereka akan mengatakan “ah, biasa….anak-anak…”. Tak sadar bahwa kalau perilaku bullying dibiarkan, bisa jadi peluang terjadinya kasus Renggo dan Jihan. Anak-anak itu, kalau mereka melakukan hal yang salah, mereka perlu dibantu. Diingatkan. Diarahkan.

Agresi. Agresi adalah perilaku yang dimaksudkan untuk membahayakan orang lain, termasuk upaya  untuk mendominasi orang lain meskipun apa yang dilakukan dan akibatnya tidak membahayakan. Jadi, penekanannya pada perilakunya, bukan pada akibatnya. Ini yang pada umumnya salah dipahami.

Terdapat 3 jenis perilaku agresi, yaitu agresi fisik, verbal dan sosial.

Agresi fisik : menendang, memukul, mendorong, menampar, menjambak, dll. Agresi verbal: mengancam atau mengejek. Agresi sosial : merusak hubungan atau status sosial. Misalnya menyebarkan rumor sehingga teman-teman si “x” menjauhi dan gak main sama dia, menunjukkan bahasa tubuh tertentu saat si “x” lewat….

Agresi fisik dan verbal, tergolong “overt behavior”; yang lebih mudah terlihat. Nah, yang ketiga yaitu agresi sosial, lebih sulit terlihat karena termasuk “covert behavior”, sehingga ortu atau guru harus lebih peka terhadap hal ini. Ketiga bentuk agresi tadi memiliki korelasi yang tinggi. Artinya, anak yang memiliki kecenderungan perilaku agresi, akan melakukan ketiga bentuk agresi diatas, meskipun berbeda dalam frekuensi dan intensitasnya.

Agresi, bisa bersifat reaktif atau proaktif. Agresi reaktif adalah “pembalasan dendam” yang diiringi oleh rasa marah dan frustrasi. Sedangkan Agresi proaktif dilakukan untuk mendapatkan tujuan tertentu.

Ada dua jenis agresi proaktif: agresi instrumental (instrumental agression) dan bullying. Agresi instrumental adalah perilaku agresi yang ditujukan untuk mendapatkan sesuatu. Sifatnya lebih “goal oriented” dibandingkan “person oriented”. Misalnya, anak yang suka malak siapapun yang lewat di jalan tertentu. Sedangkan Bullying adalah agresi proaktif yang dilakukan berulang-ulang dan pelaku memiliki “kekuasaan lebih” dibanding si korban. Jadi, senior yang berulang-ulang nonjokin juniornya untuk mendapatkan “rasa hormat” dari juniornya, jelas-jelas melakukan bullying.

Tidak semua jenis agresi adalah bullying. Agresi menjadi bullying: bila dilakukan berkali-kali, bila ada imbalance power antara si pelaku dengan korban, bila si pelaku berniat untuk menyakiti si korban, dan bila tidak ada penyesalan pada diri si pelaku. Bullying bisa fisik dan bisa psikologis. Di kalangan anak-anak, perilaku bullying yang umum dilakukan adalah “lucu-lucuan” dan menyebarkan rumor. Kini, ada yang namanya cyberbullying, yaitu bullying yang dilakukan melalui kata-kata, foto atau gambar di internet.

Tulisan selanjutnya adalah mengenai Age trends in antisocial behavior, what predicts individual differences in antisocial behavior dan how to reducing bullying and agression.

agresiTapi tidak perlu menunggu sampai akhir untuk “bergerak”. Mari cermati perilaku anak-anak kita, murid kita, anak-anak tetangga kita. Kalau ada yang menunjukkan perilaku agresif atau bullying…..ingat…mereka perlu dibantu. Lakukan sesuatu. Buat aturan tegas di rumah kita, atau untuk para guru di kelas kita. Tidak boleh ada perilaku agresi dalam bentuk apapun. Tidak boleh ada mengejek, “iseng”, ataupun “cuman main-main”. Jelaskan perilaku apa saja yang termasuk agresi. Jelaskan mengapa itu tak boleh dilakukan. Diskusikan konsekuensi bagi yang melakukan. Semoga “langkah kecil” yang kita lakukan, bisa mencegah keburukan yang besar.

Yups, kita harus berdoa“Audzubikalimatillahi-t-tammat min syarri makhalaq” (aku berlindung dengan kalam Allah yang maha sempurna dari kejahatan segala makhluk yang Dia ciptakan); tapi kita juga harus berikhtiar, berusaha. Maksimal.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s