Haruskah nyawa anak begitu “murahnya?” //Renungan tentang perilaku agresi anak : Part Three

Setelah memahami definisi perilaku agresi dan perkembangan perilaku agresi di tulisan sebelumnya, saya berharap kita sudah punya bekal untuk melakukan “deteksi dini” perilaku agresi pada anak kita, anak didik kita, anak tetangga kita. Dengan bekal “deteksi dini” ini, kita berharap kita bisa bantu anak-anak yang potensial melakukan keburukan yang besar jika kita tak membantunya. Agar tak ada lagi Renggo-Renggo dan Jihan-Jihan selanjutnya.

Di tulisan ini saya ingin berbagi mengenai hal yang cukup penting terkait perilaku agresi anak, yaitu Protective Factors dan Risk Factors, dari perilaku antisosial khususnya perilaku agresi.

riskAda tiga faktor yang berpengaruh terhadap perilaku agresi anak: (1) faktor biologis atau genetis, (2) faktor parenting/pengasuhan. (3) kemampuan kognisi-sosial anak.

Untuk faktor pertama, prinsip yang harus kita pegang adalah, bahwa perilaku anak itu merupakan “interaksi” antara nature vs nurture. Oke lah, anak kita punya predisposisi genetik untuk melakukan perilaku agresi. Tapi kita punya  2 faktor lain yang bisa diupayakan agar predisposisi genetik ini tidak muncul menjadi perilaku yang buruk.

Faktor kedua. Parenting/pengasuhan. Penting banget nih !

Ada karakteristik pengasuhan yang bisa “memproteksi” anak dari perilaku agresi. Karakteristik tersebut adalah:

  • Parental Involvement. Keterlibatan orangtua dalam kehidupan dan perkembangan anak. Misalnya adanya pengawasan terhadap gadget yang digunakan anak, pergaulan anak, Orangtua “tertarik” pada pikiran dan perasaan anak (yang diwujudkan dengan adanya kegiatan “ngobrol terbuka anak dengan ortu), dan adanya kegiatan bersama anak dengan orangtua.
  • Parental Warmth. Perilaku orangtua yang “hangat” pada anak. Orangtua yang lembut dan peka, misalnya sangat responsif dalam memenuhi kebutuhan bayi, akan membuat anak tumbuh menjadi tidak afresif.
  • Firm control. Adanya kontrol ynag jelas dan tegas dari orangtua pada anak. Misalnya, ada aturan berapa lama boleh main games, tontonan TV apa saja yang boleh ditonton, perilaku apa yang boleh dan tidak boleh ditunjukkan anak di rumah dan di luar rumah.
  • Religiosity. Value agama yang ditanamkan orangtua pada anak. Nilai – nilai kasih sayang, memaafkan, tidak boleh membalas dendam, adalah nilai-nilai yang jika terinternalisasi dalam diri anak, akan mampu meredam potensi perilaku agresi.

Selain karakteristik pengasuhan yang bisa “memproteksi” anak dari perilaku agresi, ada juga karakteristik pengasuhan yang justru “mendorong” terjadinya perilaku agresi pada anak.

  • Insecure attachment pada setiap tahap perkembangan. “Hubungan emosional” anak dengan pengasuhnya (ibu atau figur lain) yang tidak membuat anak merasa “aman”.
  • Pengasuhan yang “keras” dan cenderung memberikan hukuman. Pola asuh yag “keras” dan cenderung memberikan hukuman tanpa penjelasan pada anak, akan menimbulkan kemarahan dan pembangkangan pada anak. Bahkan jika maksud orangtua adalah “baik”, Misalnya anak yang kalau tidak sholat dipukul pake sapu….
  • Depresi yang dialami ibu. Kondisi keseatan mental ibu akan berpengaruh pada perilaku anak.
  • KDRT

Biasanya, si “risk factor” ini tidak berdiri sendiri, melainkan “berjalinkelindan” … sehingga kalau ada satu faktor yang telah terjadi, segera sadari dan lakukan sesuatu agar tidak “merembet” ke faktor selanjutnya.

Faktor  ketiga, sebenarnya adalah produk pengasuhan juga. Yaitu pemahaman sosial anak. Ajarkan pada anak, perilaku apa yang benar-benar mengandung “bahaya” baginya, mana yang tidak. Ajarkan anak makna “tidak disengaja” dan “disengaja”, dan latih untuk menilainya secara akurat. Kenapa? pernah mendengar cerita ada seorang anak yang tidak sengaja “menabrak” temannya dan si temannya langsung menyerang balik dengan penuh amarah karena merasa si temannya yang “menabrak” dia mengajak berantem? itulah gambarannya jika kita tidak mengenalkan anak pada penilaian sosial yang akurat. Hal ini sangat penting terutama di sekolah inklusi, dimana anak mungkin melihat perilaku yang “tidak biasa” dari teman-temannya yang berkebutuhan khusus.

Well….satu tulisan terakhir, Reducing Bullying and Aggression, nanti dilanjut di kampus ya….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s