Mother vs Caregiver : Apa yang kritis dibutuhkan oleh anak kita? (part two)

Ini adalah tulisan kedua, sambungan dari https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/05/18/i-am-sam-renungan-mother-vs-caregiver-part-one/.

Di bagian pertama, kita sudah mencoba menanamkan penghayatan bahwa panggilan “ibu” dan “ayah” yang kita sandang, secara hakiki bukanlah hanya sebagai sebuah “sebutan status sosial”. Secara hakiki, kita haruslah berfungsi sebagai caregiver untuk anak. CARE-GIVER. Pemberi perhatian. Itu terjemahan kasarnya.

Pada implikasinya, kita harus paham, bentuk “care” seperti apa yang dibutuhkan oleh anak kita, pada setiap tahap perkembangannya. Karena kebutuhan “care” setiap anak, pada setiap tahap berbeda. Saya akan menggunakan kerangka tahap perkembangan psiko-sosial dari Erikson. Erikson (1902-1904) mengemukakan ada 8 tahap perkembangan psikososial individu dalam rentang kehidupannya, dari lahir sampai wafat. Menurut beliau, dalam setiap tahap perkembangannya, anak mengalami “krisis” yang kalau tidak dibantu oleh lingkungan untuk mengatasinya, “output” krisis tersebut membuatnya tidak bisa “move on” ke tahap selanjutnya.

Karena ini dalam konteks pengasuhan, saya akan uraikan sampai tahap 5 aja ya….Saya akan mengkombinasikan teori Erikson ini dengan pengalaman saya mengasuh 4 anak saya dalam aplikasinya.
Tahap ke-1: Trust vs Mistrust

basic trustTahap ini terjadi pada tahun pertama kehidupan anak. Saat anak benar-benar “tak berdaya” dan 100% tergantung pada lingkungan. Pada tahap ini, anak belajar apakah ia bisa “mempercayai dunia” atau tidak. “Basic trust” akan terbentuk jika figur caregivernya, memenuhi kebutuhannya pada tahap ini. Apakah itu? kenyamanan fisik. Seperti kita ketahui, bayi umur 0-1 tahun, “gak bisa apa-apa”. Dia totally tergantung pada lingkungan. Saat dia lapar, haus, tidak nyaman karena basah….yang bisa ia lakukan hanya satu, menangis. Jika figur caregivernya responsif, segera menghampiri dan “memenuhi kebutuhannya”, maka ia merasa dunia ini “aman dan nyaman”. Kepercayaan inilah yang akan membentuk kepercayaanya selanjutnya pada apapun dan pada siapapun. Sebaliknya, kalau anak udah nangis bermenit-menit, tapi gak ada yang datang juga…sedang ia tak bisa melakukan apapun, anak akan merasa “helpless” dan kepercayaan bahwa dunia ini aman dan nyaman serta melindungi dia, tak akan terbentuk.

Jadi, di usia ini…immediate respons adalah keywordnya. Buat kita para ibu bekerja, maka pastikan orang yang menggantikan pengasuhan anak kita, juga punya karakteristik itu. Kalau cari ART, jangan cari yang pinter atau yang cantik. Tapi yang responsif. Segera menghampiri saat anak menangis, mengecek kebutuhan fisik apa yang anak butuhkan. Apakah ia lapar? haus? atau pipis? pup? ngantuk?

Kalau ibu harus menitipkan anak pada ART, jelaskan perilaku spesifik apa yang harus dilakukannya. Misalnya: “pokoknya kalau ade nangis, lagi ngerjain apapun, tinggalin, cek popoknya…kalau gak basah atau ee, berarti dia haus. Gendong, eyong-eyong, kasih susu. Kalau gak mau juga, eyong-eyong aja”. Cek dan “uji” apakah sop ini diikuti dengan baik, misalnya pas wekend kita ada di rumah.

 

Tahap ke-2: Autonomy vs Shame and Doubt

Tahap kedua ini adalah pada saat anak kita berusia 1 sampai 3 tahun. Secara fisik, anak di usia ini mengalami perkembangan yang amat signifikan. Beragam hal yang tak bisa dilakukan anak di tahun pertamanya, kini “hampir semuanya” bisa dilakukan anak. Di tahun pertama, kalau ia ingin mainan atau makanan, ia tergantung apakah lingkungan mau mengambilkannya atau mengizinkannya enggak. Sekarang? dia bisa berjalan, berlari, memanjat, meraih, memegang, merebut …. dan, dengan perkembangan bahasa yang juga signifikan, ia juga bisa mengungkapkan keiginannya dengan beragam bahasa, bukan hanya dengan cara menangis. Itulah kenapa fase ini dikatakan “autonomi”. Anak menjadi individu yang “otonom” dan “berdaya”.

Lalu, apa peran kita sebagai caregiver? peran kita adalah mendukung tumbuhnya perasaan “berdaya” itu, karena itu menjadi cikal bakal penghayatan “aku bisa” yang menjadi benih kepercayaan dirinya. Beri pujian, sediakan lingkungan yang aman. Menurut saya, itu keyword pengasuhan pada tahap ini. Dalam prakteknya, gak mudah. Karena di tahap ini, perasaan “Aku bisa” yang dirasakan anak, akan tampil dalam perilaku anak yang “sulit untuk diarahkan”. Segala macem maunya sendiri.

Saya menghayati betul fase ini karena si bungsu Azzam berada di tahap ini. “Ama de Azzam….de Azzam bisa”. Itu kata-kata yang selalu ia ucapkan untuk semua aktifitasnya. Kalau gak sadar bahwa sikap kita yang serba melarang dan overprotective akan mengakibatkan dia jadi “shame and doubt”, pengennya sih ngelarang. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Berikan kesempatan ekslporasi, yang disertai pengetahuan akan batasan. Itu kata literatur.

Saya coba praktekkan. Misalnya, Azzam selalu pengen ambil air minum sendiri. Tadinya saya melarang karena takut kena air panas. Tapi karena dia keukeuh sureukeuh suradimeukeuh, maka saya siapkan gelas plastik dan saya ajarkan dia untuk gak menekan tombol dispenser warna merah. Saya jelasin itu airnya panas. Daaan,…melalui beberapa percobaan, akhirnya dia ngerti kalau yang dipencet yang biru aja.

Cuci tangan sendiri, “wudhu” sendiri, makan sendiri, turun dari mobil sendiri, naik motor sendiri, jalan sendiri meskipun di jalan yang becek dan licin, segala macam sendiri….memang cukup merepotkan. Tapi seringkali perasaan kerepotan itu, sirna ketika dengan binar di matanya, dia bilang “Azzam bisa”…atau “Azzam pinter ya bu” 😉 moga2 itu tanda autonomi 😉

Oh ya….satu lagi yang penting katanya….saat anak kita melakukan kesalahan, jangan berikan hukuman. Apalagi bilang “tuh kaaaan….kata ibu juga bla…bla..bla…”. Yang harus kita lakukan adalah mengatakan “it’s oke”, dan ajarkan gimana cara yang benar. Berikan banyak kesempatan anak untuk memilih. Baju yang akan dipakainya, mandinya mau pake shower atau mau “berenang”, mau makan sama telor atau sama ikan…kata teorinya, itu bisa mengembangkan “sense of autonomi” . Buat saya, itu cara jitu juga buat mengatasi ke keukeuhan anak di usia ini 😉

 

Tahap ke-3: Initiative vs. Guilt

Tahap ketiga ini dialami anak usia 3-6 tahun. Di usia ini, perkembangan yang menonjol pada anak adalah bahasa, daya kreatif dan imajinasinya. Ketiga hal ini terlihat secara menonjol dalam permainan anak. Kita bisa lihat betapa amat “liar”nya imajinasi anak usia ini. Hehe…saya lagi punya satu anak yang ada di tahap ini, yaitu Teteh Hana, si TK A.

Kalau gak inget teori ini, ampuuuun deh, rumah gak pernah beres gara-gara anak satu ini. Dan yang paling bikin saya ampun-ampun adalah, dia sering banget ngilangin barang-barang penting, karena sama dia dipake mainan sesuai imajinasinya. Sehari ganti baju bisa 10 kali. Karena dia lagi sueneeeeeeng banget padu-padan baju. Peralatan dapur, peralatan tulis ibu, buku-buku, semua sama dia ”disulap” jadi sesuatu sesuai daya khayalnya. Lipstik saya, sama dia dijadiin “pot”, dan di pot itu ditanam bunga-bunga yang ia tusukkan ke si lipstik, bunga-bunganya dari tusuk gigi dan cuttobn bud 😉 … hadeeeeuh….ups, malah curcol haha…

Nah, kata om Erikson, figur caregiver di tahap ini harus bisa mendorong dan menghargai kemampuan “mengambil keputusan” dan kreatifitas anak. Jika kita menghambat kreatifitas anak dengan memberikan kritik, maka yang akan berkembang adalah “guilt”nya.
Menurut pengalaman saya, penting juga di tahap ini untuk bertoleransi terhadap kesalahan yang dilakukan anak. Terutama jika si anak menunjukkan kepekaan terhadap penilaian sosial. Saya pernah nulis ini di https://fitriariyanti.wordpress.com/2014/04/03/berlebay-ria-pada-si-super-sensi/

 

Tahap ke-4 : Industry vs. Inferiority

Dari usia 6 tahun sampai usia 12 tahun, anak-anak akan mengalami Sekolah Dasar. Ia akan “disibukkan” dengan persoalan yang terkait dengan tuntutan akademik di SD. Di tahap ini, kemampuan anak untuk “produktif” menghasilkan “karya” sesuai dengan tuntutan akademiknya terasah. Membuat tugas-tugas, PR, dll. Banyak kemampuan berpikir dan kemampuan sosial yang akan terasah di usia ini. Kemampuan memecahkan masalah terutama.

Di tahap ini, fungsi caregiver adalah “menemani” anak dalam memenuhi tuntutan akademik dan sosialnya, agar kemampuan-kemampuan berpikir dan sosialnya berkembang secara optimal, sehingga anak tidak merasa “inferior”. Apalagi sekarang banyak issue terkait “Beratnya beban akademik” anak-anak jaman sekarang. Saya pernah menulis tentang “menemani anak belajar” di  https://fitriariyanti.wordpress.com/2013/03/05/anak-anak-uts-emak-emak-ngapain/. Saya sedang struggling “menemani” Umar, si kelas 2 yang sedang berada di tahap ini.

 

Identity vs. Role Confusion

Inilah fase perkembangan yang paling terkenal.”Pencarian jatidiri” anak di usia remaja. Saya belum ngalamin sih, meski “kembang-kembangnya” mah udah kerasa dari perilaku si sulung Azka yang udah 11 tahun. Di usia ini, katanya kita harus membantu anak mengenali kekurangan dan kelebihan dirinya, dan menentukan “tujuan” anak. Cita-citanya, arah hidupnya….

Yang saya rasakan banget, di usia ini yang amat dibutuhkan anak adalah “didengarkan”. Dan yang paling dibenci anak adalah “dinasehatin” dan “diomelin” 😉

Well…jadi saya akan menutup tulisan ini dengan kesimpulan. Sebagai orangtua terutama ibu, kita harus memastikan apakah kita berperan sebagai caregiver bagi anak. Care-giver. Pemberi perhatian. Dalam segala bentuknya. Bagi anak yang masih bayi, bentuk care yang ia butuhkan adalah immediate respons. Bagi anak usia prasekolah, bentuk care yang ia butuhkan adalah bermain dengan pujian dan dorongan untuk bereksplorasi, disertai informasi tentang batasan-batasan yang harus diperhatikan anak. Bagi anak usia SD, bentuk care yang ia butuhkan adalah “ditemani” saat menghadapi beragam persoalan tuntutan sekolah. Bagi anak remaja, bentuk care yang amat ia butuhkan adalah didengarkan tanpa judgement negatif.

Semoga kesadaran, pengetahuan serta upaya kita mempraktekkannya mengundang pertolongan sang Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga anak kita tumbuh menjadi manusia yang kuat. Kuat imannya, kuat pribadinya. Aamiin…

Advertisements

3 Comments (+add yours?)

  1. Trackback: I Am Sam : Renungan Mother vs Caregiver (part one) | Fitri Ariyanti's Blog
  2. Ratri Fadillah S
    May 19, 2014 @ 20:07:47

    Reblogged this on ratrifadillah.

  3. Nia Yulianti
    Jun 30, 2015 @ 23:33:16

    Mbak Fitri, trimakasih atas tulisannya. Lagi lagi menjawab kegelisahan saya selama ini. Ternyata pertanyaan yg benar buat seharusnya sudahkah saya menjadi caregiver buat Alif anak saya.
    Sayang sekali Alif sdg beranjak ke tahap akhir pada tulisan mbak Fitri di atas.. saya harap pengasuhan Alif di masa lalu sdh benar berdasarkan teori teori di atas. Krn saya dulu bekerja saya akui fungsi caregiver saya banyak yg terpaksa saya delegasikan ke orang orang sekeliling saya (pembantu, baby sitter, orang tua… sedih 😦 ). Tapi semoga setelah saya di rumah spt skrg saya dapat mengejar ketertinggalan saya, dan setidaknya mengerti apa yg hrs saya lakukan.
    Tetap menginspirasi ya mbak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s